HWMI.or.id

Saturday, 28 November 2020

GP Ansor Kutuk Pembantaian Satu Keluarga Oleh Teroris MIT Ali Kalora


GP Anshor Kutuk Pembantaian Satu Keluarga oleh Teroris MIT Ali kalora


"Sapu bersih teroris yang mengatasnamakan agama untuk melegalkan tujuan mereka. Justru agama melarang kita melakukan tindakan bejat, biadab, dan keji seperti itu."

Gereja Bala Keselamatan mengecam aksi penyerangan sekelompok orang teroris Mujahid Indonesia Timur pimpinan Ali Kalora terhadap jemaatnya di Pos Pelayanan Lewonu, Palu, Sulawesi Tengah. [dokumentasi]

Gerakan Pemuda Anshor mengutuk tindakan biadan dan keji kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur alias MIT pimpinan Ali Kalora yang membantai satu keluarga dan membakar rumah di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. 


"Biadab, keji. Saya mengutuk keras. Aparat harus usut tuntas kasus pembunuhan satu keluarga, pembakaran rumah tersebut. Tangkap pelakunya," kata Ketua Pimpinan Pusat GP Anshor Yaqut Cholil Qoumas, Sabtu (28/11/2020).


Menurut Gus Yaqut, tindakan keji dan biadab itu diduga merupakan aksi teroris yang masih dilakukan secara sporadis di wilayah Sulteng, khususnya di Sigi dan Poso.

 

Dia meminta aparat kepolisian agar segera menangkap para teroris yang meresahkan dan mengancam keselamatan masyarakat, serta memulihkan situasi keamanan di daerah itu.


"Sapu bersih teroris yang mengatasnamakan agama untuk melegalkan tujuan mereka. Justru agama melarang kita melakukan tindakan bejat, biadab, dan keji seperti itu," ucap Gus Yaqut.

 

Pihaknya meminta agar kepolisian bisa segera memulihkan situasi dan kondisi di daerah Sigi pascakejadian pembakaran dan pembunuhan tersebut.


Kemudian, Gus Yaqut juga mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan menyerahkan pengusutan kasus tersebut kepada aparat kepolisian.

 

"Negara harus hadir untuk memulihkan rasa aman di masyarakat. Untuk itu polisi harus kerja keras mengusut tuntas kasus ini. Saya imbau masyarakat tetap tenang, jangan terpancing dengan berita apa pun yang beredar, baik di medsos maupun grup-grup WA," ujarnya.(Suara.com)

PBNU Respons Kemunculan Komite Khittah NU 1926

PBNU Respons Kemunculan Komite Khittah NU 1926



Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) merespons munculnya gerakan Komite Khittah NU (KKNU) 1926. Organisasi ini muncul di bawah kepemimpinan Prof Rochmat Wahab dan bersekretariat di Jalan Delta Raya Utara, Waru, Sidoarjo.


Wakil Ketua Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Misbahul Munir Kholil mengatakan, orang-orang yang aktif di organisasi tersebut tidak sah mengatasnamakan pengurus NU.


“Organisasi yang legal dan sah hanya pengurus PBNU yang di Kramat Raya. Hasil muktamar 33 Jombang. Mereka yang menamakan dirinya KKNU tidak sah mengatasnamakan pengurus  NU karena tidak memenuhi AD/ART,” ujar Kiai Misbah saat dihubungi Republika.co.id, Jum’at (27/11).

“Apalagi pengurus yang dicatut oleh KKNU banyak yang menolak namanya dicatut,” imbuhnya.

Seperti diketahui, sebelumnya Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo, KHR Ach Azaim Ibrahimy memang membuat klarifikasi bahwa dirinya tidak termasuk dalam jajaran kelembagaan Pengurus Besar Komite Khittah NU 1926.

Cucu Kiai As’ad tersebut tetap memegang teguh amanah dari almarhum KH Shalahuddin Wahid (Gus Sholah) untuk melakukan gerakan khittah secara kultural, bukan diformalkan sebagai gerakan kelembagaan seperti KKNU 1926.


“Ini merupakan permulaan yang tidak baik dan tentu akan melahirkan perjalanan dan akhir yang tidak baik. Ingat pesan Kiai As’ad Syamsul Arifin. Siapa yang main main dengan NU akan hancur sendiri,” ucap Kiai Misbah.


Dia pun mengingatkan kepada orang-orang yang berada di kepengurusan KKNU 1926 untuk tidak mentradisikan perpecahan. Karena, menurut dia, hal serupa dulu juga sudah pernah ada pada zaman orde baru dengan membuat NU tandingan yang diketuai oleh Abu Hasan cs.


“Nyatanya juga menjadi abu beneran. Fenomena NU tandingan baik bernama NU GL atau KKNU  tidak bisa dibenarkan,” kata Kiai Misbah.


Pakar ajaran Aswaja ini menambahkan, sebagai benteng ajaran Islam Aswaja di Indonesia bahkan di dunia, NU dijaga oleh Allah Swt. Menurut dia, kemurnian ajaran Alquran dan Rasulullah akan selalu dikawal oleh mayoritas umat Islam dan Nabi menjamin bahwa umatnya tidak akan tersesat secara kolektif .

“Umat terbaik dalam hal penjagaan ini adalah NU dan pengurusnya. Hendaknya di internal pengurus NU yang sudah ada lebih solid dan ikhlas mengabdi di NU. Dan suksesi di kalangan NU hendaknya terus dijaga lewat mekanisme Muktamar yang tertunda oleh sebab pandemi,” jelas Kiai Misbah yang juga merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Ilmu Qur’an Al-Misbah Jakarta.(Republika.co.id)

Mudir Aam Jatman : Kegaduhan Masyarakat Bermula Dari Ucapan Kotor

 Mudir Aam Jatman: Kegaduhan Masyarakat Bermula dari Ucapan Kotor



Mulut sebagai salah satu indera yang diberikan Allah SWT kepada manusia berperan besar dalam menciptakan suasana harmonis atau disharmonis dalam  kehidupan masyarakat. Omongan atau ucapan kotor dari mulut bisa menjadi sumber kegaduhan.

Mudir Aam Idarah Aliyah Jamiyah Ahlith Thariqah Al-Mu'tabarah an-Nahdliyah (Jatman) Habib Umar Muthohar mengatakan, secara sederhana berbagai goncangan dan kegaduhan masyarakat yang terjadi selama ini bermula dari ungkapan-ungkapan kotor berlebihan dari mulut manusia yang tidak dikendalikan dengan baik.

"Pesan Nabi Muhammad SAW menyebutkan bicaralah yang baik atau diam, tapi yang diamalkan manusia malah sebaliknya, sehingga banyak terjadi kegaduhan dan goncangan di masyarakat," kata Habib Umar di Demak, Selasa (24/11).

Habib Umar mengatakan hal itu saat menyampaikan taushiyah pada pengajian umum dalam rangka peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Haul Syekh Abdul Qodir Al-Jilani, Haul Habib Ahmad bin Abdullah Al-Jufry, dan Haul Kiai Ahmad Fauzan di halaman Pesantren Asmaul Husna Desa Loireng, Sayung, Demak Jawa Tengah.

Menurutnya, maraknya pemakaian masker yang menutupi mulut di era pandemi Covid-19 seperti sekarang ini selain untuk mencegah penularan corona juga bisa dimaknai sebagai isyarat agar manusia mengendalikan mulutnya. Kalau bicara yang baik-baik saja, jangan bicara jelek dan kotor. 

"Agar tidak bicara jelek mulutnya ditutup saja, ini bisa jadi sinyal dari pada tidak bisa bicara yang baik-baik maka ditutup saja mulutnya. Yang jelas apapun indikasi atau sinyal yang muncul dipermukaan mulut harus dijaga," tegasnya.

Dikatakan, suara yang dikeluarkan dari mulut manusia bisa menjadi obat, tombo loro, dan membahagiakan lawan bicara. Tetapi bisa juga sebaliknya, malah menjadi pemicu malapetaka dan prahara.

"Kegaduhan antarmasyarakat dan  bangsa yang berujung konflik bahkan perang itu bermula dari cara berkomunikasi yang tidak baik dan mengabaikan ajaran nabi bagaimana membangun komunikasi dan berinteraksi dengan lingkungannya," ungkapnya.

Karena itulah ujarnya, bicara yang baik harus selalu dibiasakan agar dari mulut ini tidak mengeluarkan sesuatu yang kotor. Untuk mewujudkan hal itu maka mulut ini harus terus menerus dilatih dan dipaksa untuk berbicara baik. 


"Caranya dengan membiasakan menyebut kalimah-kalimah toyibah. Kalimah toyibah tentang Allah berupa kalimat dzikir,  tentang Nabi Muhammad SAW berupa kalimat shalawat dan tentang dirinya sendiri berupa kalimat istighfar.

Itu semua adalah kalimat-kalimat berbobot yang keluar dari mulut kita, saat didengarkan menimbulkan rasa senang dan bahagia dan besok hari pembalasan akan menambah timbangan amal baik kita," pungkasnya.(NU Online)

Din Syamsuddin Dan Geng 212 Terdepak Dari Kepengurusan MUI

 Din Syamsuddin dan Geng 212 Terdepak dari Kepengurusan MUI

Reuni Akbar 212 di Monas, beberapa waktu lalu. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)


Din Syamsuddin, terdepak dari kepengurusan baru Majelis Ulama Indonesia (MUI) periode 2020-2025. Begitu pula dengan sejumlah tokoh yang kerap berafiliasi dengan aksi 212 seperti Bachtiar Nasir, Yusuf Martak, dan Tengku Zulkarnain.

Din Syamsuddin pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Pertimbangan MUI periode 2015-2020. Saat itu ia berjajar dengan Ma'ruf Amin yang menjabat ketua umum dan Anwar Abbas yang menjabat sekretaris jenderal.

Ia juga pernah menjabat Wakil Ketua MUI pada periode 2005-2010. Bahkan Din pernah didapuk sebagai Ketua Umum MUI pada 2014-2015.


Meski begitu, kini Din tak lagi masuk dalam daftar pimpinan MUI. Namanya tak tercantum dalam daftar pengurus harian ataupun dewan pertimbangan.

Selain Din, ada nama ulama lainnya yang terdepak dari petinggi MUI, yakni Bachtiar Nasir. Bachtiar menjabat Wakil Sekretaris Dewan Pertimbangan MUI periode 2015-2020.

Bachtiar dikenal sebagai ulama yang berseberangan dengan pemerintah. Namanya mulai dikenal publik secara luas saat kasus penodaan agama oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok pada 2016.


Ia saat itu tampil sebagai Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI (GNPF MUI). Kelompok itu jadi salah satu penggerak Aksi 411 dan Aksi 212 yang akhirnya menumbangkan Ahok di Pilkada DKI Jakarta 2017.

Nama selanjutnya adalah Tengku Zulkarnain. Zulkarnain dikenal sebagai pendakwah yang lantang mengkritik kebijakan pemerintah. Ia juga dekat dengan tokoh-tokoh Aksi 212, seperti Rizieq Shihab.

Di MUI, Zulkarnain sempat menjabat sebagai wakil sekjen pada 2015-2020. Namun namanya kini tak ada lagi di jajaran petinggi MUI.

Selain itu, ada pula nama Yusuf Muhammad Martak. Yusuf dikenal publik sebagai Ketua GNPF Ulama, gerakan penerus GNPF MUI Bachtiar Nasir.(CNN Indonesia)

PBNU Rekomendasikan Hukum Mati Untuk Napi Koruptor (Bagian 1)

 PBNU Rekomendasikan Hukum Mati untuk Napi Koruptor (Bagian 1)



PBNU pernah membahas upaya untuk menghentikan tindak korupsi marak dilakukan para pejabat publik. Pembahasan dilakukan pada sidang Komisi A Bidang Diniyyah Waqiiyyah dalam Bahtsul Masail (pembahasan masalah-masalah agama dalam perspektif hukum Islam) di forum Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Kempek, Palimanan, Cirebon 2012.


Pada forum tersebut, para kiai memutuskan bahwa koruptor boleh dan harus dihukum mati jika telah diadili dan pengadilan mempertimbangkan kesalahannya. Syarat untuk diterapkannya hukuman mati ini adalah jika pelaku korupsi telah diberi sanksi, tapi tidak jera. 

Ketua sidang Komisi A, KH Saifuddin Amsir menyatakan, apabila tidak ada cara lain untuk membuat jera koruptor, maka hukuman mati harus diterapkan sebagai satu-satunya metode untuk menghentikan kejahatan luar biasa terhadap kemanusiaan tersebut.  

Para ulama, khususnya peserta sidang Komisi A, sepakat bahwa koruptor merusak sendi-sendi negara dan membunuh rakyat banyak secara sistematis. Jadi hukuman terhadapnya harus tegas dan keras. Namun tetap melalui proses persidangan dan pengadilan yang fair.  

"Korupsi itu sangat merusak. Tidak bisa diatasi selain dengan hukuman mati," tegasnya didampingi ketua tim perumus, KH Arwani, sebagaimana ditulis NU Online dengan judul Koruptor Harus Dihukum Mati.

Dalam musyawarah, para peserta sidang Komisi A sempat berdebat tentang definisi korupsi, berapa nilai batas korupsi yang bisa dihukum mati, dan bagaimana cara menghukumnya. 


Seperti biasa, setiap delegasi yang mewakili propinsi, menyertakan argumennya berdasar dalil Al-Qur'an hadis Nabi maupun ta'bir dari kitab-kitab fiqih.

Editor: Abdullah Alawi


Sumber : NU Online Jabar

Friday, 27 November 2020

Membaca Analisa Pemikiran

Ketika Banser punya masalah dg Bendera HaTeI di Garut, eFPeI bela HaTeI dan menyalahkan Banser. Ketika Banser Bangil memarahi Ust. HaTeI krn menghina Hbb Luthfi, eFPeI bela Ust. HaTeI, menyalahkan Banser. Ketika NU dihina oleh Gus Nur lalu dilaporkan kepolisi, FPI bela Gus Nur. Ketika sekarang ada masalah antara eFPeI vs TNI, lalu didengungkan persatuan antar ormas Islam, bisakah...?! Hehehe. Siapapun kalau selalu dipersalahkan, akan ada perasaan kecewa dihatinya.

Sekarang tantangan sdh jelas dari TNI terhadap eFPeI. Bagi yg punya keyakinan bhw berperang melawan pemerintah itu adlh Jihad fi Sabilillah dan kalau mati akan mati Syahid, berangkat saja utk melawan TNI, tdk perlu mengajak NU. Kan katanya NU sdh banyak Libral dan Munafiqunnya, kenapa hrs dijadikan teman didalam berjihad.!?

Tepatnya, ketika eFPeI Belum terkontaminasi Ide² HaTeI dengan Jargon Khilafah.

Saya Tahu Betul, eFPeI dulu.

FPI menjadi Bringas dan Menyerang Pemerintah, sejak Presiden Jokowi menjabat. Karena sejak Presiden Jokowi menjabat, para Mafia Cendana dan Cikeas diberangus serta para cecunguk²nya tidak diberi jatah oleh Presiden Jokowi.

Sebenarnya puncaknya amarah mereka ketika Presiden Jokowi mengakui keberadaan NU dan memberikan Hadiah Istimewa kepada NU.

Mulai dari Hadiah : Hari Santri Nasional, Tokoh Pahlawan Nasional dan terakhir Menggandeng KH. MA'RUF AMIN menjadi Wakil Presiden.

Kita Tahu, sebelumnya KH. MA'RUF AMIN dibawah kendali mereka ketika masih menjabat MUI.

KH. MA'RUF AMIN dicoba oleh mereka untuk menggerakkan NU, dalam Aksi 411 dan Puncaknya 212 dengan memasang Gambar Beliau dalam Poster Ajakan

 Ormas itu, memang sangat tergantung dengan SEJARAH PEMBENTUKANNYA

Kalau NU terbentuk atas dasar kegelisahan Ulama dan Kiai atas Berlangsungnya Ajaran ASWAJA

Kalau eFPeI terbentuk atas dasar Mempertahankan Kekuasaan Orde Baru, yang sengaja ingin dibenturkan dengan masyarakat (PAMSWAKARSA). "Katanya begitu"

Makanya jangan Terkejut, kalau eFPeI gak pernah menghujat "SOEHARTO dan KRONINYA"

Coba lihat jejak digitalnya, apa eFPeI menghujat SBY. Walaupun HaeReS ditahan Zaman SBY, tapi bukan karena mencaki SBY, tapi karena Menyerang Massa Gus Dur.

Fakta kedua. Pada Rezim Jokowi-Kalla. Apakah eFPeI menyerang Jusuf Kalla, tidak?

Coba sekarang, Pada Masa Jokowi-KH. Ma'ruf Amin. Kedua Tokoh ini, sepertinya sudah kenyang dengan caci-makian eFPeI. 

"WAHAI SAUDARAKU SE-IMAN DAN SE-IDIOLOGI ASWAJA ANNAHDHIYAH"

"POLA STRATEGI SOEHARTO DALAM MERAIH ATAU MELANGGENGKAN KEKUASAAN ITU SELALU MEMAKAI POLA SAMA, YAITU POLA SENSITIF DAN SENTIMEN AGAMA"
Selain itu, "CENDANA" sangat cerdik akan kelemahan NU, dimana "NU itu sangat memuliakan Guru/Ulama dan Durriyah Nabi, baik yang Habaib maupun Bukan"
Makanya dia, ciptakan "Ulama-Ulama Baru" atau Mencari "Ulama/Durriyah Nabi yang bisa di BAYAR"
Maka NU tidak akan berani melawannya, karena kalau melawan pasti akan di cap "ANTI ULAMA/DURRIYAH NABI" atau "KRIMINALISASI ULAMA/DURRIYAH NABI"
Saya tulis di atas cuma agar supaya KITA kuatkan barisan dan jangan sampai terprovokasi media.
Dan itu semua sebagai analisa kejadian yg ada terjadi skrang ini.
CAK MADURENAH : KITA jek lata taonah keng norok buntek.
Jangan terkecoh dengan bungkus (casing).
KITA perlu mendalami untuk memahami jauh kedepan bagaimana kelestarian ajaran ASWAJA dan benteng NKRI tidak terkoyak.
Kurang lebih intinya begitu.
Salam settong dere
Marwan Fatih, Reng Jember
#HubbulWathonMinalIman
Harus pintar memilah mana yang obyektif nan positif ke depan jangka panjangnya.

Mengenal KH. Miftahul Akhyar dan KH. Afifuddin Muhajir (Ketua Umum dan Ketua Dewan Pimpinan MUI Pusat)

KH Miftachul Akhyar
( Ketua Umum MUI Periode 2020 - 2025 )

KH Miftachul Akhyar tentu saja bukan nama baru di kalangan NU. Terutama Nahdliyin dan kalangan pesantren Jawa Timur. Ia lahir dari tradisi dan melakukan pengabdian di NU sejak usia muda. Tak heran kemudian hari ini mengemban puncak kepemimpinan NU, sebagai Penjabat Rais Aam.   

 Kiai Miftah adalah Pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah Surabaya. Ia adalah putra Pengasuh Pondok Pesantren Tahsinul Akhlaq Rangkah KH Abdul Ghoni. Ia lahir tahun 1953, anak kesembilan dari 13 bersaudara.

   Di NU ia pernah menjabat sebagai :

- Rais Syuriyah PCNU Surabaya 2000-2005,

- Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur 2007-2013, 2013-2018 dan

- Wakil Rais Aam PBNU 2015-2020 yang selanjutnya didaulat sebagai

- Pj. Rais Aam PBNU 2018-2020, di Gedung PBNU, Sabtu (22/9). 

 Menurut catatan PW LTNNU Jatim Ahmad Karomi, genealogi keilmuan KH Miftachul Akhyar tidak diragukan lagi. Ia tercatat pernah nyantri di :

 - Pondok Pesantren Tambak Beras,

 - Pondok Pesantren Sidogiri (Jawa Timur),

 - Pondok Pesantren Lasem Jawa Tengah, dan

 - mengikuti Majelis Ta'lim Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Makki Al- Maliki di Malang, tepatnya ketika Sayyid Muhammad masih mengajar di Indonesia.

Masih menurut Karomi, penguasaan ilmu agama KH Miftachul Akhyar ini membuat kagum Syekh Masduki Lasem sehingga ia diambil menantu oleh oleh kiai yang terhitung sebagai mutakharrijin (alumnus) istimewa di Pondok Pesantren Tremas. 

 Kemudian KH Miftachul Akhyar mendirikan Pondok Miftachus Sunnah di Kedung Tarukan mulai dari nol. Awalnya ia hanya berniat mendiami rumah sang kakek, tetapi setelah melihat fenomena pentingnya "nilai religius" di tengah masyarakat setempat, maka mulailah beliau membuka pengajian. Apa sebab? “Konon, kampung Kedung Tarukan terkenal sejak lama menjadi daerah yang tidak ramah pada dakwah para ulama. Namun berkat akhlak dan ketinggian ilmu yang dimiliki KH Miftachul Akhyar, beliau berhasil mengubah kesan negatif itu sehingga kampung yang "gelap" menjadi "terang dan sejuk" seperti saat ini dalam waktu yang relatif singkat,” tulis Karomi.

Kesederhanaan KH. Miftachul Akhyar, menurut Karomi, yang terekam dengan jelas adalah bentuk penghormatan terhadap tamu. Kiai Miftah tidak segan-segan menuangkan wedang dan menyajikan cemilan kepada tamunya.

 “Akhlak ini beliau dapat dari ayahandanya, KH Abdul Ghoni,” lanjut Karomi.

   Karomi mengutip penuturan Gus Tajul Mafakhir, bahwa ayah KH Miftachul Akhyar merupakan karib KH M. Usman al-Ishaqi Sawahpulo saat sama-sama nyantri kepada Kiai Romli di Rejoso, Jombang.

   Terlebih lagi saat sang ayah nyantri kepada Kiai Dahlan Ahyad Kebondalem sang pendiri MIAI dan Taswirul Afkar. “Tepatlah kiranya pepatah mengatakan: "buah jatuh tidak jauh dari pohonnya".

   KH Abd Ghoni dalam pandangan Abah Thoyib Krian merupakan salah satu kiai ampuh yang ditutupi oleh keindahan akhlak. Acapkali KH Abd Ghoni mengadukkan wedang, menyuguhkan dan mempersilahkan kepada tamunya. Nah, "lelaku sae" inilah yang oleh KH Miftachul Akhyar tetap dilestarikan,” tulis Karomi. (Abdullah Alawi)

Sumber: https://www.nu.or.id/post/read/96105/mengenal-rais-aam-pbnu-kh-miftachul-akhyar

Biografi KH. Afifuddin Muhajir

( Ketua Dewan Pimpinan MUI Pusat, Periode 2020 - 2025 )

KELAHIRAN

KH. Afifuddin Muhajir lahir pada tanggal 20 Mei 1955, di Jerengoan Sampang Madura Jawa Timur. Beliau merupakan putra dari pasangan KH. Muhajir dan Nyai Zuhriyah. Beliau dikenal juga sebagai keturunan Bani Ahmad, tokoh Jerengoan Sampang .

PENDIDIKAN

KH. Afifuddin Muhajir memulai pendidikannya dengan belajar di Sukorejo, dari jenjang Madrasah Ibtidaiyah sampai Strata I, Fakultas Syariah di Institut Agama Islam Ibrahimy (IAII), di bawah naungan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo. Menempuh magister di Universitas Islam Malang (Unisma).

Selain itu, KH. Afifuddin Muhajir belajar ke beberapa kiai Jawa Timur. Guru-guru beliau diantaranya:

KH. R. As'ad Syamsul Arifin

KH. Ghazali Ahmadi

KH. Qasdussabil Syukur

MENGASUH PESANTREN

KH. Afifuddin Muhajir adalah wakil pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo Asembagus Situbondo.

KIPRAH DI NU

KH. Afifuddin Muhajir sering diundang menjadi nasumber diskusi ilmiah berskala regional, nasional dan internasional. Dalam forum Bahtsul Masail tingkat PBNU beliau dikenal sebagai muṣhaḥiḥ. Selian itu beliau pernah menjabat sebagai :

- Katib Syuriah PBNU 2010-2015, dan menjadi 

- Rais syuriyah PBNU antar waktu 2019 – 2020.

TELADAN

KH. Afifuddin Muhajir adalah sosok kiai yang berpenampilan sederhana. Suaranya lembut dan terkesan hemat bicara. Intonasinya datar. Pembawaan dirinya tak mengecoh orang untuk segera memperhatikannya. Namun, ketika ia tampil sebagai pembicara di forum-forum seminar, audiens tak bisa mengabaikannya. Ia tampak powerfull.

KARYA-KARYA

- Fungsionalisasi Uṣūl Fiqh dalam Bahtsul Masail NU, Judul buku: Kritik Nalar Fikih NU, Penerbit: Lakpesdam.

- Fikih Anti Korupsi, Judul Buku: Korupsi kaum Beragama, Penerbit: P3M.

- Fikih Menggugat Pemilihan Langsung, Penerbit: Pena Salsabila.

- Kitab Fatḥul Mujīb Al-Qarīb Syaraḥ at-Taqrīb li Abī Syuja’, Penerbit: Maktabah As’adiyah.

- Al-Luqmah As-Sā’igah, Penerbit: Maktabah As’adiyah.

- Metodologi Kajian Fikih, Penerbit: Ibrahimy Press.

- Maslaḥah sebagai Cita Pembentukan Hukum Islam, Penerbit: Ibrahimy Press.

Sumber : laduni.id

#HubbulWathonMinalIman

Dari NU Untuk Indonesia, NU Bersama Indonesia Untuk Indonesia

NU bersama Indonesia untuk Indonesia.

Dari jaman Kolonial hingga Jaman Digital, 

Hinaan dan fitnahan adalah tangga kemuliaan apabila dijalani dengan ikhlas dan sabar serta bijak.

Kemuliaan adalah rahmat ilahiyah apabila diterima dengan tawadhu' dan ta'abbud.

Kami, dengan penuh bangga dan rasa syukur ke hadirat Allah, mengucapkan selamat dan sukses kepada Tiga Ulama kita, Tiga Guru kita, Tiga Tokoh Sentral Nahdlatul Ulama.

Semoga sumbangsih dan peran aktif Nahdlatul Ulama semakin dirasakan manfaatnya bagi Bangsa, Negara dan Agama.

Amin.

By:CB

#HubbulWathonMinalIman

Tidak Benar ! Kabar Donatur Terbesar Berdirinya NU Adalah Keluarga HRS

 Tidak Benar ! Kabar Donatur Terbesar Berdirinya NU adalah Keluarga HRS



Yang benar, donatur utama saat awal berdirinya Nahdlatul Ulama pada 31 Januari 1926 adalah H. HASAN GIPO yang kemudian menjadi Ketua Tanfidziyah NU periode pertama mendampingi Hadratusyaikh KH Hasyim Asy’ari sebagai Ro’is Akbar. H. Hasan Gipo seorang kaya raya yang memiliki puluhan rumah dan toko di Surabaya, sebagian besar tokonya disewa/kontrak oleh para pedagang keturunan Tionghoa.

HAJI HASAN GIPO adalah seorang pengusaha yang di jaman pra Indonesia Merdeka, jaringan usahanya sudah ada di berbagai daerah. Bisa dikatakan Beliau adalah pengusaha besar multi nasional dimasa itu yang bergerak di berbagai bidang usaha. HAJI HASAN GIPO juga merupakan pihak elemen kongsi atas sektor usaha perkapalan baik niaga pangan maupun nelayan disamping pengelolaan bersama perkebunan juga pengelolaan tanah tanah penghasil tembakau baik dari kekerabatan Sumenep hingga Bangkalan.

Haji Hasan Gipo juga memiliki hubungan usaha sangat erat sebagai elemen kongsi dengan pihak korporasi orang-orang Sunda – Makasar dalam hal produksi dan import tembakau dan lalulintas tembakau HAJI HASAN GIPO dengan NV. KALIBARU yg berkedudukan di CIREBON, dgn produksi di sekitar Sukapura (Tasikmalaya dan Garut / Wanareja ).


Juga terdapat hubungan baik antara Haji Hasan Gipo dengan Keluarga Pesantren SUKAMANAH Suka hideung Singaparna Tasikmalaya yang sangat lekat. Dan salah satu Kyai/Ajengan yang memiliki hubungan langsung dengan Haji Hasan Gipo adalah Ajengan Domon ( gugur bersama KH. Zaenal Mustofa saat peristiwa Pesantren Sukamanah diserang tentara Dai Nippon/Jepang).

Bahwa jaringan usaha Haji Hasan Gipo, dibidang peralatan dan perkakas pertanian tidak lepas hubungannya dgn tokoh masyarakat Sunda-Makasar, yang selain menghasilkan pekakas juga berniaga atas komoditas lainnya.

Bahwa hubungan niaga dengan Haji Hasan Gipo tentu memperat juga dengan masyarakat Pekalongan yang berniaga di Pasar Baru Kota Bandung diantaranya erat hubungan dengan haji Masduki dan keluarga Saleh Khatam, dan Haji Andi Mohamad Hasan , Haji Ismail (Cirebon).

Bahwa tentu dari keseluruhan hubungan, aspek yg paling penting adalah kekerabatan warga NAHDLATUL ULAMA yang sangat erat, serat lalulintas penyediaan Al Qur’an dan kitab-kitab kuning , yang kemudian sangat erat dengan keluarga BAHARTAH yang kemudian mendirikan percetakan Al Ma’arif.

Kesimpulannya bahwa benar menguatkan kedudukan HAJI HASAN GIPO selaku DONATUR TETAP di awal NU berdiri, bahwa ada agnia- agnia lain di dalam tubuh kekerabatan warga NU yang menyokong, mungkin saja , tetapi keluarga Bandung yang berniaga dengan HAJI HASAN GIPO sangat tahu betul bahwa logistik untuk NU, adalah Beliau.

Semoga amal baik BAPAK ALMUKAROM HAJI HASAN GIPO , memperoleh balasan yang berlimpah dengan segala kebaikan yang Hak dan Ridlo Allah , serta limpahan Nikmat Kubur Nikmat Akhirat, dan keluarga yang ditinggalkannya, sejahtera penuh Ridlo Allah Azzawajjalla. Aamiin Yaa Robbal’alamiin.

(Tulisan diambil dari Obrolan Kang Zainaldi Zainal dan Kang Raksanagara dalam WA Group Relawan Aswaja. Disusun kembali oleh Kang Macko 


Sumber: LTNU Jabar

Kiai Said : Memahami Strategi Dakwah Rasul Dalam Mempertahankan NKRI

 Kiai Said : Memahami Strategi Dakwah Rasul dalam Mempertahankan NKRI



Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Kiai Said Aqil Siroj, menyampaikan dua hal penting mengenai keterkaitan perjuangan dakwah Rasulullah dan strategi mempertahankan NKRI dalam sebuah acara virtual yang diunggah oleh YouTube NU Channel pada Kamis, 19 November 2020.

Dalam sambutannya, Kiai Said menjelaskan bahwa dahulu Nabi berhasil membangun masyarakat Islam yang modern, maju, kreatif dan produktif di Madinah. Keberhasilan Nabi tersebut tidak lepas dari kecerdasannya memilih strategi dakwah yang sesuai dengan keadaan masyarakat setempat.

“Maka  cara strategi dakwah Nabi Muhammad untuk mereka adalah membangun intelektualitas dan dialog, membangun prinsip-prinsip wasathiyah, prinsip-prinsip moderasi dalam menyampaikan agama Islam, prinsip-prinsip kemanusiaan dalam.menyampaikan dakwah Islam, prinsip-prinsip cinta dalam menyampaikan agama Islam menyampaikan sama sekali tidak berbau doktrin,” jelas Kiai Said.

Lebih lanjut, Kiai Said menjelaskan bahwa bangsa Indonesia harus bisa meniru cara Rasulullah tersebut. Cara bagaimana beliau membangun masyarakat yang mutamaddin, beradab dan mampu hidup dengan perbedaan agama, suku, dan budaya seperti yang terjadi di Madinah dengan sistem wathonah.

“… yang paling terkenal dari pesan nabi Muhammad setiap khutbah Jum’at, Fala ‘udwana Illa ‘aladhdholimin. Tidak boleh ada permusuhan kecuali terhadap yang melanggar hukum, tidak boleh ada permusuhan karena agama, karena beda suku, karena beda budaya. Satu, yang harus kita anggap musuh adalah yang melanggar hukum, dalam bahasa Al quran dzolimin. yang menentang yang melawan hukum,” tegasnya.

Kiai asal Cirebon ini juga menjelaskan alasan kemajuan yang dimiliki oleh masyarakat Islam Arab dahulu. Menurut beliau, kemajuan tersebut dikarenakan masyarakat setempat maju, terbuka, toleran dan tidak ada fanatisme antar agama serta suku.

NKRI harus dipertahankan

Dalam kesempatan tersebut, Kiai Said juga banyak membahas mengenai kewajiban masyarakat untuk menjaga budaya, kepribadian, dan jati diri bangsa dalam rangka mempertahankan eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Maka NU harus punya prinsip terbuka dalam arti mencari dan mengambil kebenaran. Dari sumber yang datangnya dari mana saja asal bermanfaat, berguna bagi kita semua, tapi kita tidak boleh lepas tidak boleh bergeser dari karakter kepribadian jati diri sebagai bangsa Indonesia,” ungkap Kiai Said.

“Alhamdulillah saya, Gus Dur, Gus Mus, Quraish Shihab, sekolah di Arab pulang bawa ilmu bukan bawa budaya Arab,” tambahnya.

Menurut beliau, hal ini perlu ditekankan kepada masyarakat. Ilmu dan teknologi dapat diperoleh dari mana saja, namun tidak boleh bergeser dari kepribadian bangsa demi untuk mengawal keutuhan NKRI.

“Kalau tidak, jangan-jangan NKRI ndak sampai 100 tahun, jangan-jangan tidak sampai tahun 2045. Jangan jangan NKRI  akan bubar kalau budaya karakter jati diri tidak kita pertahankan,” jelasnya memperingatkan.

Kiai Said meminta masyarakat agar dapat mencontoh perjuangan para Kiai dan Ulama terdahulu. Mereka rela meninggalkan perkotaan demi mendirikan pesantren di kampung dan hutan. Hal tersebut tidak lain adalah dalam rangka menyelamatkan jati diri, kepribadian, aqidah, imam, akhlak, budaya dan martabat bangsa.

Selanjutnya, Kiai yang masuk dalam tokoh muslim berpengaruh di dunia ini juga mengajak masyarakat untuk bersama-sama mengawal keutuhan NKRI dengan memperkuat ukhuwah wathoniyah. Jangan sampai NKRI yang dengan susah payah dibangun, dihancurkan oleh kelompok-kelompok tidak bertanggung jawab.

“Ayo kita sekarang sudah dalam era kebebasan era demokrasi maka sosial ekonomi, sosial budaya harus dipertahankan. Mari kita kawal, kita rawat keberadaan keberlangsungan NKRI ini yaitu dengan mengawal empat pilar,” ajaknya.

“Martabat sebuah bangsa tergantung budayanya. Jika budayanya hilang, akhlaknya hilang, karakter jati dirinya hilang, bangsa itu akan hilang pula dari keberadaanya, akan hilang dan bubar,” beliau menambahkan.

Di akhir, Kiai Said menyampaikan bahwa bangsa Indonesia sudah terlepas dari masalah perbedaan agama dan suku. Namun, masih memiliki satu tantangan yaitu dalam perbedaan agama. Untuk itu, beliau berharap dapat merangkul masyarakat untuk pelan-pelan dapat menyelesaikan pekerjaan tersebut agar tidak menjadi ganjalan ukhuwah Islamiyah. (fqh)

Kontributor : Fadhilla Berliannisa (Mahasiswi Univ Diponegoro)

Editor : Faqih Ulwan (dakwahnu)

Thursday, 26 November 2020

Ketua FPI Pekanbaru Tersangka Demo Bubarkan Paksa Tolak HRS Ditahan

Polisi telah menetapkan Ketua FPI Kota Pekanbaru Husni Thamrin dan anggotanya, Nur Fajril, sebagai tersangka pembubaran paksa demo menolak Habib Rizieq Syihab. Keduanya telah ditahan.


"Dua sudah ditetapkan tersangka. Sudah lakukan penahanan. Kini tersangka terus kita kembangkan keterangannya," kata Kapolresta Pekanbaru, Kombes Nandang Mu'min, Kamis (26/11/2020).


Nandang mengatakan ada kemungkinan pihak lain yang diduga terlibat pembubaran paksa demo tersebut. Dia mengatakan pihaknya masih melakukan pengembangan.


"Hasil pemeriksaan kedua tersangka dan saksi-saksi masih kami kembangkan. Dari tersangka dan bukti-bukti penyelidikan, ya tidak menutup kemungkinan ada tersangka lain," katanya.


"Semua masih kami dalami lagi, masih penyelidikan untuk mengungkap selain kedua orang tersangka itu," sambung Nandang.


Husni ditangkap pada Selasa (24/11). Dia diduga membubarkan paksa deklarasi 45 elemen ormas menolak kedatangan Habib Rizieq di Pekanbaru yang digelar di depan kantor Gubernur Riau, Senin (23/11).


"FPI membubarkan secara paksa deklarasi 45 elemen organisasi kemasyarakatan serta tokoh-tokoh masyarakat menolak kedatangan HRS ke Pekanbaru," kata Kombes Nandang, Rabu (25/11).


Demo ormas itu disebut sudah mendapat izin dari Satgas COVID-19 dan sudah memberi tahu pihak kepolisian. Aksi Husni dinilai melanggar undang-undang yang menjamin kebebasan warga berpendapat di muka umum.


"Izin mulai dari rekomendasi Satgas COVID-19, Surat Tanda Pemberitahuan (STP) Deklarasi serta memberi tahu polisi untuk pengamanan kegiatan," ucapnya.


Setelah dilakukan pemeriksaan, polisi menetapkan Husni dan Nur sebagai tersangka. Mereka diduga melanggar Pasal 18 UU Nomor 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum dan/atau Pasal 335 ayat (1) KUHP.


Sumber: Detik.com