HWMI.or.id: NGAJI
Showing posts with label NGAJI. Show all posts
Showing posts with label NGAJI. Show all posts

Sunday, 23 November 2025

Gus Mus: (Jangan) Terlalu Serius Jadi Kiai

Dokumen Istimewa : Gus Mus jjs (jalan-jalan sehat) di alun-alun Rembang

Pagi ini jjs (jalan-jalan sehat) di alun-alun Rembang, mendampingi Gus Mus alias Kiai Mustafa Bisri. Tentu saja Mbak Admin Ienas Tsuroiya ikut serta. Di tengah jalan saya berseloroh, sekedar untuk membuka pembicaraan. 

"Abah ini umurnya sudah delapan puluh tahun lebih, tapi jalannya masih tegap. Sementara banyak kiai yang umurnya di bawah njenengan, sudah harus memakai kursi roda."

Saya diam sejenak, menunggu respon Abah. Lalu, 

"Soalnya beliau-beliau itu terlalu serius jadi kiai sih," kata Gus Mus. 

Saya tertawa sambil merenungkan perkataan yang sederhana tapi maknanya, tentu saja, amat dalam itu. Dari rumah, Gus Mus jalan kaki menempuh jarak kurang lebih satu kilo meter, menuju alun-alun kota Rembang. Setelah itu, beliau akan mengitari alun-alun kira-kira lima kali. Gus Mus masih bisa jalan kaki dengan "pace" atau kecepatan ala anak-anak muda. Luar biasa. Tak ada tanda-tanda "ngos-ngosan" sama sekali. 

Setelah beberapa saat, beliau, masih dalam keadaan jalan kaki dengan cukup cepat, bercerita bahwa Kiai Abdul Hakim Mahfudz, alias Gus Kikin, Ketua PWNU Jatim dan pengasuh Pesantren Tebuireng, dua hari lalu sowan ke "ndalem" beliau (maksudnya Gus Mus) di Leteh, Rembang. Gus Kikin melaporkan "ontran-ontran" yang sekarang tengah berkecamuk dalam tubuh PBNU. Tentu saja Gus Kikin cemas sekali melihat hal ini. 

Apa respon Gus Mus? 

"Sampeyan kan sudah lama di NU, masak ndak tahu. Di NU ribut-ribut itu biasa, namanya orang banyak, kepentingannya juga banyak," seloroh Gus Mus. 

Lalu, "Sampeyan ndak usah cemas. Santai saja. NU itu milik Gusti Allah, sudah ada yang ngurus, ndak usah khawatir," kata beliau. 

Gus Mus memang selalu santai menghadapi keadaan apapun, tidak mudah cemas dan panik. Ini bukan berarti beliau tidak sungguh-sungguh memikirkan NU. Bukan. Hidup beliau sejak muda hingga sepuh saat ini dihabiskan dalam NU. Organisasi ini sudah menjadi bagian dari dirinya. 

Ketika suatu waktu Gus Yahya, Ketua Umum PBNU, melaporkan tentang "ribut-ribut" dalam tubuh organisasi yang ia pimpin itu, Gus Mus juga merespon dengan santai:

"Salahmu sendiri pengen jadi Ketua NU. Wong kamu sendiri yang pengen jadi Ketua NU kok sekarang mengeluh." 

Mungkin gaya santai Gus Mus inilah yang membuatnya tetap segar-bugar hingga usia sepuh saat ini. Jalannya masih tagap. Tak ada pantangan apapun dalam soal makanan. "Tak soal makan apa saja, asal tidak berlebihan, tahu batas," kata beliau suatu saat. 

- Filosofi hidup sederhana ala Gus Mus-

Friday, 25 July 2025

MWC NU Lowokwaru Gelar Konsolidasi Ranting se-Kecamatan dalam Agenda Rutin Jum'at Wekasan

Dokumen Ustadz Asyhar saat ngaji kitab Ta'lim karya hadrotus syaikh
Lowokwaru – Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Lowokwaru menggelar kegiatan konsolidasi seluruh ranting NU se-Kecamatan Lowokwaru dalam rangkaian kegiatan rutin Jum’at Wekasan yang dilaksanakan pada Jumat, 25 Juli 2025.

Kegiatan ini diawali dengan pembacaan dzikir, sholawat, serta pengajian Kitab Ta'limul Muta’allim karya Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Kajian ini menjadi ruh sekaligus pengantar dalam menyatukan niat dan semangat ke-NU-an seluruh peserta yang hadir, baik dari jajaran pengurus MWC, ranting, maupun perwakilan lembaga-lembaga di bawah naungan MWC NU Lowokwaru.
Pengurus MWCNU dan Ranting NU se Lowokwaru 
Setelah kajian keagamaan, acara dilanjutkan dengan sesi rembuk bersama yang membahas berbagai dinamika dan permasalahan yang dihadapi masing-masing ranting NU. Forum ini menjadi ruang terbuka untuk saling bertukar informasi, mencari solusi bersama, serta memperkuat koordinasi antarpengurus.
Pembacaan Maulid: Mahallul Qiyam saat 
Salah satu agenda penting yang menjadi sorotan dalam konsolidasi kali ini adalah program percepatan pengurusan tanah wakaf milik NU yang masih belum bersertifikat. MWCNU Lowokwaru menargetkan penyelesaian sertifikasi tanah-tanah wakaf sebagai bentuk tanggung jawab terhadap amanah wakif (pemberi wakaf) serta upaya memperkuat legalitas aset-aset ke-NU-an di wilayah Lowokwaru.

“Pengurus ranting NU diharapkan dapat turut serta mendampingi proses pengukuran tanah wakaf di wilayah masing-masing. Ini penting sebagai bentuk rasa tanggung jawab kita kepada para wakif, serta untuk menunjukkan rasa memiliki terhadap organisasi NU,” tegas Abah Muarif, pengurus Lembaga Wakaf dan Pertanahan NU MWC Lowokwaru.

Ia juga menekankan pentingnya koordinasi yang kuat antara ranting dan MWC dalam proses pengurusan wakaf ini, mulai dari pendataan, pengukuran, hingga pengajuan sertifikat ke Badan Pertanahan Nasional (BPN). Menurutnya, keberhasilan program ini akan menjadi fondasi penting dalam memperkuat eksistensi NU di tingkat akar rumput.

Dengan semangat kebersamaan dan komitmen dalam memperkuat struktur organisasi hingga tingkat ranting, MWCNU Lowokwaru berharap program ini dapat menjadi model percontohan bagi wilayah-wilayah lain, khususnya dalam pengelolaan aset wakaf yang profesional dan bertanggung jawab. (Zain)

Friday, 14 March 2025

Menemukan Kebahagiaan Sejati Melalui Ilmu-Nya

Dokumen : Silaturahim di Zawiyah Al-Hadi bersama Pengasuh, KH.Saiful Munir Malang
Tidak ada warisan terbaik di dunia dan akhirat selain peninggalan yang mampu memberikan petunjuk menuju kesuksesan sejati—yaitu kebahagiaan hakiki.

Kebahagiaan sejati hanya dapat diraih dengan mempelajari ilmu-Nya. Allah telah menurunkan Al-Qur’an sebagai kitab petunjuk agar manusia tidak salah dalam memilih jalan kebahagiaan. Hidup di dunia menawarkan banyak pilihan: ada yang tergoda oleh kesenangan sesaat dengan mengikuti hawa nafsu, dan ada pula yang istiqamah menempuh jalan ilmu-Nya demi kebahagiaan abadi.

Namun, memahami ilmu-Nya bukan perkara mudah. Diperlukan alat, kaidah, serta bimbingan yang tepat. Meskipun perkembangan teknologi telah mempermudah akses terhadap ilmu, pemahaman yang benar tetap harus didapatkan melalui bimbingan guru.

Ilmu-Nya berbeda dengan ilmu buatan manusia. Al-Qur’an bukan sekadar kitab biasa yang bisa dipahami dengan membaca sepintas lalu. Membacanya harus sesuai dengan kaidah, memahaminya membutuhkan ilmu, dan mengamalkannya memerlukan keikhlasan. Oleh karena itu, belajar Al-Qur’an sebaiknya dilakukan dengan bimbingan guru yang memiliki sanad keilmuan yang jelas.

Dengan bimbingan guru, Al-Qur’an tidak hanya dipahami secara teks, tetapi juga dapat dirasakan pesan-pesan rahasianya. Selain itu, ilmu yang dipelajari dengan niat yang ikhlas akan mengalirkan pahala sepanjang zaman, terutama jika diajarkan kepada orang lain.

Maka, bekal terbaik dalam hidup ini adalah belajar membaca Al-Qur’an, memahami kaidah-kaidahnya agar benar dalam membacanya, serta mengajarkannya kepada orang lain. Jika seseorang mampu memahami makna kandungannya, maka ia telah membuka pintu kesuksesan di dunia dan akhirat.

Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

"Sebaik-baik di antara kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya." (HR. Bukhari).

Wednesday, 12 March 2025

Kajian hadits Bulugul Maram Bab Tayamum (Kajian Hikmah Akademi Ramadhan SMASurba)

Ustadz Fatih Ihsani,M.PdI saat memberikan materi Kajian Hadits Bulughul Maram Bab Tayammum
Hadits ke-1

وَعَنْ عَمَّارِ بْنِ يَاسِرٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: ( بَعَثَنِي اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم فِي حَاجَةٍ فَأَجْنَبْتُ فَلَمْ أَجِدِ اَلْمَاءَ فَتَمَرَّغْتُ فِي اَلصَّعِيدِ كَمَا تَمَرَّغُ اَلدَّابَّةُ ثُمَّ أَتَيْتُ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ: إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيكَ أَنْ تَقُولَ بِيَدَيْكَ هَكَذَا ثُمَّ ضَرَبَ بِيَدَيْهِ اَلْأَرْضَ ضَرْبَةً وَاحِدَةً ثُمَّ مَسَحَ اَلشِّمَالَ عَلَى اَلْيَمِينِ وَظَاهِرَ كَفَّيْهِ وَوَجْهَهُ )  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَاللَّفْظُ لِمُسْلِم ٍ

وَفِي رِوَايَةٍ لِلْبُخَارِيِّ: وَضَرَبَ بِكَفَّيْهِ اَلْأَرْضَ وَنَفَخَ فِيهِمَا ثُمَّ مَسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ وَكَفَّيْه

Artinya :

Ammar Ibnu Yassir Radliyallaahu 'anhu berkata: Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam telah mengutusku untuk suatu keperluan lalu aku junub dan tidak mendapatkan air maka aku bergulingan di atas tanah seperti yang dilakukan binatang kemudian aku mendatangi Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam dan menceritakan hal itu padanya. Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "sesungguhnya engkau cukup degnan kedua belah tanganmu begini." Lalu beliau menepuk tanah sekali kemudian mengusapkan tangan kirinya atas tangan kanannya punggung kedua telapak tangan dan wajahnya. Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut Muslim.

Dalam suatu riwayat Bukhari disebutkan: Beliau menepuk tanah dengan kedua telapak tangannya dan meniupnya lalu mengusap wajah dan kedua telapak tangannya.

 Hadits Ke-2

وَعَنِ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( التَّيَمُّمُ ضَرْبَتَانِ ضَرْبَةٌ لِلْوَجْهِ وَضَرْبَةٌ لِلْيَدَيْنِ إِلَى اَلْمِرْفَقَيْنِ )  رَوَاهُ اَلدَّارَقُطْنِيُّ وَصَحَّحَ اَلْأَئِمَّةُ وَقْفَه  

Artinya :
Ibnu Umar Radliyallaahu 'anhu berkata bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Tayammum itu dengan dua tepukan. Tepukan untuk muka dan tepukan untuk kedua belah tangan hingga siku-siku." Riwayat Daruquthni dan para Imam Hadits menganggapnya mauquf.

Faedah Hadits

Pertama Hadits ini menjadi dalil melaksanakan tayamum jika tidak ditemukan Air, sebagaimana dalam QS An-Nisa : 43

فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا

Artinya :
Kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci).” (QS. An-Nisaa’: 43)
 
Kedua : Saat junub dan air tidak ditemukan, maka cukup diganti dengan tayamum, tidak dengan mengguling-gulingkan seluruh tubuh ke pasir dengan cara mengambil debu/tanah yang suci dan diusapkan pada wajah dan kedua tangan. sebagaimana dalam QS Al-Maidah Ayat 6
 
فَٱمْسَحُوا۟ بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُم مِّنْهُ

Artinya :
Usaplah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu.” Ada kata “minhu”, kata “min” (berarti: dari) menunjukkan makna “tab’idh” (sebagian). 
 
atau didalam QS An-Nisa ayat 43

فَلَمْ تَجِدُوا۟ مَآءً فَتَيَمَّمُوا۟ صَعِيدًا طَيِّبًا فَٱمْسَحُوا۟ بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ

Artinya: 
kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); usaplah mukamu dan tanganmu.” (QS. An-Nisaa’: 43)namun yang membedakan dengan QS Al-Maidah tidak ada lafad “Min”

Ketiga tayamum tidak hanya untuk Hadats Kecil, tapi juga untuk Hadats Besar sebagaimana yang dilakukan oleh Sahabat Ammar Ibnu Yassir Radliyallaahu 'anhu

Keempat tata cara Tayamum Hadats Besar (junub) dengan hadats kecil sama, tidak ada perbedaan. Tata cara keduanya adalah dengan menepuk tanah dengan kedua telapak tangan dengan sekali tepukan, lalu telapak tangan kiri mengusap bagian dalam telapak tangan kanan dan punggung telapak tangan kanan, dilanjutkan mengusap wajah. Atau dengan mendahulukan mengusap wajah kemudian mengusap kedua tangan.

Kelima dari kedua tersebut diatas ada perbedaan redaksi, redaksi pertama mendahulukan mengusap kedua tangan dulu baru kemudia mengusap wajah, pada hadits kedua mengusap wajah kemudian mengusap kedua tangan, pada redaksi yang kedua sebagaimana dalam QS Al-Maidah Ayat 6

فَٱمْسَحُوا۟ بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُم مِّنْهُ

Artinya :
“Usaplah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu.”    
maka cara yang kedua digunakan sebagaimana tata cara bertayamum karena urutan lafadz dalam Al-Quran merupakan urutan sebagaimana ayat yang menjelaskan tentang wudhu.

Keenam, menggunakan debu (suci) yang sedikit diperbolehkan saat menempelkan tangan pada debu kemudian digunakan untuk mengusap wajah satu kali dan mengambil debu dan ditiup untuk diusapkan pada kedua tangan satu kali.

Friday, 14 February 2025

Kajian 3 Hadits Keutamaan Bulan Sya'ban

Sya’ban menjadi bulan yang mulia bagi kaum muslimin sebab keutamaan-keutamaan yang ada pada bulan ini. Bulan Sya’ban juga menjadi istimewa karena ia merupakan bulan penyambut Ramadhan, bahkan Nabi saw tidak meninggalkan puasa di bulan Sya’ban kecuali beberapa hari saja. (Muhammad Ad-Dabisi, Halul Mu’minin fi Sya’ban, [Kairo: Maktabah Muhammad Ad-Dabisi, 2013], halaman 9)

Rasulullah sendiri sebagaimana disebut di atas sangat memuliakan bulan ini. Sehingga kita mendapati riwayat-riwayat Nabi yang menjelaskan keutamaan bulan ini. Berikut hadits-haditsnya:

1. Puasa sunnah di bulan Sya'ban

Ketika Nabi ditanya soal puasa yang beliau lakukan di bulan Sya’ban, Nabi menjawab bahwa Sya’ban adalah bulan antara Rajab dan Ramadan yang banyak orang lalai terhadapnya. Pada bulan Sya’ban amal perbuatan manusia diangkat untuk dihadapkan kepada Tuhan semesta alam.

Nabi menyebut bahwa beliau suka apabila amal perbuatannya dihadapkan kepada Allah sedangkan beliau dalam keadaan sedang melakukan ibadah puasa. Teks hadisnya diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ الْأَيَّامَ يَسْرُدُ حَتَّى يُقَالَ لَا يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ الْأَيَّامَ حَتَّى لَا يَكَادَ أَنْ يَصُومَ إِلَّا يَوْمَيْنِ مِنْ الْجُمُعَةِ إِنْ كَانَا فِي صِيَامِهِ وَإِلَّا صَامَهُمَا وَلَمْ يَكُنْ يَصُومُ مِنْ شَهْرٍ مِنْ الشُّهُورِ مَا يَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّكَ تَصُومُ لَا تَكَادُ أَنْ تُفْطِرَ وَتُفْطِرَ حَتَّى لَا تَكَادَ أَنْ تَصُومَ إِلَّا يَوْمَيْنِ إِنْ دَخَلَا فِي صِيَامِكَ وَإِلَّا صُمْتَهُمَا قَالَ أَيُّ يَوْمَيْنِ قَالَ قُلْتُ يَوْمُ الِاثْنَيْنِ وَيَوْمُ الْخَمِيسِ قَالَ ذَانِكَ يَوْمَانِ تُعْرَضُ فِيهِمَا الْأَعْمَالُ عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ وَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ قَالَ قُلْتُ وَلَمْ أَرَكَ تَصُومُ مِنْ شَهْرٍ مِنْ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ قَالَ ذَاكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ يُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

Artinya, “Rasulullah saw berpuasa beberapa hari berturut-turut, sampai-sampai dikatakan, beliau tidak pernah berbuka. Beliau juga berbuka beberapa hari hingga hampir tidak puasa kecuali dua hari dalam sepekan, yaitu dua hari yang biasa beliau gunakan untuk berpuasa, jika tidak (berpuasa terus menerus), maka beliau akan berpuasa dua hari itu. Tidaklah beliau banyak berpuasa kecuali di bulan Sya'ban, Aku bertanya; 'Wahai Rasulullah, engkau berpuasa seakan-akan engkau tidak pernah berbuka dan engkau berbuka seakan engkau tidak berpuasa kecuali dua hari saja, yaitu Senin dan Kamis." Beliau bersabda: "Itulah dua hari yang amalan seorang hamba ditampakkan di hadapan Rabb semesta alam, aku senang ketika amalanku ditampakkan, diriku sedang berpuasa." Usamah melanjutkan; kataku selanjutnya; "Dan kami tidak melihat engkau banyak berpusa kecuali di bulan Sya'ban?." Beliau bersabda: "Itulah bulan yang orang-orang banyak yang lalai antara bulan Rajab dan Ramadhan, yaitu bulan ditampakkannya amalan-amalan, dan aku suka ketika amalanku diperlihatkan dihadapan Rabbku, sedangkan aku dalam keadaan berpuasa." (HR Ahmad).

Hadits di atas menegaskan tentang puasa sunah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad di bulan Sya’ban. Alasan beliau banyak melakukan puasa di bulan ini adalah karena pada bulan ini amalan manusia diangkat dan diperlihatkan kepada Allah, sehingga kondisi terbaik saat proses pemeriksaan amal adalah dengan beribadah menjalankan puasa sunnah. 

2. Amalan perbuatan dihadapkan pada Allah di malam pertengahan bulan Sya'ban

Malam pertengahan bulan Sya’ban dikenal juga dengan malam Nishfu Sya’ban. Masyarakat muslim Indonesia biasa menjalankan ritual doa bersama pada malam ini dengan harapan agar catatan amal baiknya diterima Allah dan amal buruk diampuni oleh-Nya. Terkait malam Nishfu Sya’ban, Rasulullah saw bersabda:

يطلع الله عز وجل على خلقه ليلة النصف من شعبان فيغفر لجميع خلقه إلا لمشرك أو مشاحن

Artinya, “Allah ‘azza wa jalla melihat (amalan) hamba-Nya pada malam pertengahan bulan Sya’ban, maka Ia mengampuni semua makhluknya kecuali orang yang musyrik dan orang yang bermusuhan.” 

(HR At-Thabrani).

Hadits ini diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir. Terkait status validitas haditsnya, Al-Haitsami mengomentari hadis ini shahih dan terdapat dalam dua karya At-Thabrani. Adapun jalur periwayatannya diisi oleh orang-orang yang kredibel atau tsiqah. (Abu Bakr Al-Haitsami, Majma’ Az-Zawaid, [Beirut, Darul Fikr: 1412], jilid VIII, halaman 126).

Menurut At-Thibi, hadits ini menyatakan kemuliaan malam pertengahan bulan Sya’ban sebab diangkatnya amal perbuatan manusia untuk dihadapkan kepada Allah sekaligus pengampunan amal buruk manusia dengan catatan dirinya bukan orang yang menyekutukan Tuhan dan tidak sedang bermusuhan dengan orang lain. (Al-Husain At-Thibi, Al-Kasyif ’an Haqaiqis Sunan, [Riyadh, Maktabah Al-Mukarramah: 1997], jilid IV, halaman 1329).

3. Rasulullah saw mengisi malam Nishfu Sya'ban dengan ibadah

Malam Nishfu Sya’ban menjadi malam yang mulia bagi umat Islam. Pada malam ini kita diharapkan untuk berdoa dan beribadah kepada Allah dengan harapan dosa-dosa kita diampuni. Teladan untuk mengisi malam ini dengan kegiatan positif telah dicontohkan oleh Nabi dalam sebuah hadits yang dituturkan oleh ‘Aisyah ra, istri Nabi saw, yaitu:

فقدت النبي صلى الله عليه وسلم ذات ليلة. فخرجت أطلبه. فإذا هو بالبقيع رافع رأسه إلى السماء. فقال: يا عائشة أكنت تخافين أن يحيف الله عليك ورسوله؟  قالت: قد قلت: وما بي ذلك. ولكني ظننت أنك أتيت بعض نسائك. فقال: إن الله تعالى ينزل ليلة النصف من شعبان إلى السماء الدنيا فيغفر لأكثر من عدد شعر غنم كلب 

Artinya: “Pada suatu malam hari aku kehilangan Nabi saw, kemudian aku keluar mencari beliau. Ketika itu beliau sedang mengangkat kepala ke langit. Kemudian beliau berkata: Wahai Aisyah! Apakah engkau takut Allah dan Rasul-Nya menelantarkan engkau. Aku berkata: Aku menyangka bahwa engkau mendatangi sebagian istri-istri engkau. Kemudian beliau berkata: Sesungguhnya Allah ‘turun’ pada malam Nishfu Sya’ban ke langit dunia. Lalu, Dia mengampuni lebih banyak dari jumlah bulu kambing milik kabilah Bani Kalb (salah satu kabilah yang banyak memiliki kambing).” (HR Ibnu Majah). 

Hadits ini menegaskan bahwa pada malam pertengahan bulan Sya’ban, Rasulullah mengisinya dengan ibadah dan memperbanyak doa kepada Allah. Pada malam itu, ampunan Allah banyak dikucurkan kepada para hamba-Nya sebagai bentuk rahmat dan kasih sayang bagi mereka. (Muhammad Al-Amin Al-Harari, Mursyid Dzawil Hija wal Hajah ila Sunan Ibn Majah, [Jeddah, Darul Minhaj: 2018], jilid VIII, halaman 364).

Demikianlah hadits-hadits terkait kemuliaan bulan Sya’ban sekaligus keutamaan malam Nishfu Sya’ban atau malam pertengahan bulan Sya’ban. Semoga kita semua dapat menjalankan ibadah pada malam tersebut, sehingga dosa-dosa kita akan diampuni oleh Allah swt.

Wednesday, 12 February 2025

Siswa Kelas Akhir SMA Surya Buana Malang Ikuti Daurah Al-Qur'an di PPTQ Nurul Qur'an

Kegiatan Daurah Bersama KH. Muslimin Pengasuh PPTQ Nurul Quran
Malang – Siswa-siswi kelas akhir SMA Surya Buana Malang mengikuti Daurah Al-Qur'an intensif di Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an (PPTQ) Nurul Qur'an, Malang, pada 10-18 Februari 2025. Kegiatan ini merupakan hasil kerja sama antara SMA Surya Buana Malang dan PPTQ Nurul Qur'an melalui program sertifikasi Pengajar Al-Qur'an Metode Al-Bayan Lil Muslimin Bir Rosm Utsmani, sebuah metode standar Madinah (Rosm Utsmani).

Daurah yang berlangsung selama tujuh hari ini diikuti oleh seluruh siswa kelas akhir. Para peserta berkesempatan belajar langsung dari penulis (muallif) Metode Al-Bayan Lil Muslimin, yang kemudian dilanjutkan dengan pendampingan praktik lapangan.

"Praktik lapangan ini bertujuan agar siswa-siswi memiliki pengalaman langsung dalam mengajarkan Al-Qur’an serta dapat mengabdikan ilmunya kepada masyarakat," ujar Ustadz Fatih, salah satu tim pengajar program Al-Qur'an (BTQ) di SMA Surya Buana Malang.

Menurutnya, selama belajar di SMA Surya Buana Malang, para siswa telah mendapatkan pembelajaran Al-Qur'an melalui program Takhosus maupun reguler. Oleh karena itu, melalui program ini, mereka diharapkan mampu mengimplementasikan ilmu yang telah diperoleh dalam pengajaran Al-Qur'an.

Siswi SMASurba serius mengikuti Daurah Al-Quran

Sebelum keberangkatan ke pesantren pada Senin (10/2), Ustadz Fatih memberikan pembekalan khusus kepada para siswa. Ia menekankan pentingnya menjaga adab selama berada di pesantren, dalam perjalanan, serta selama mengikuti Daurah Al-Qur'an.

"Adab itu lebih penting daripada ilmu. Oleh karena itu, jagalah adab kalian selama berada di pesantren," pesannya.

Program Daurah Al-Qur'an ini merupakan bagian dari upaya SMA Surya Buana Malang dalam mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter Qurani dan siap berkontribusi bagi masyarakat.

Tuesday, 12 March 2024

Jumlah Roka’at Tarawih Menurut 4 Madzhab

Ada beberapa pendapat mengenai bilangan rakaat yang dilakukan kaum muslimin pada bulan Ramadhan sebagai berikut:

1. Madzhab Hanafi Sebagaimana dikatakan Imam Hanafi dalam kitab Fathul Qadir bahwa Disunnahkan kaum muslimin berkumpul pada bulan Ramadhan sesudah Isya’, lalu mereka shalat bersama imamnya lima Tarawih (istirahat), setiap istirahat dua salam, atau dua istirahat mereka duduk sepanjang istirahat, kemudian mereka witir (ganjil).

Walhasil, bahwa bilangan rakaatnya 20 rakaat selain witir jumlahnya 5 istirahat dan setiap istirahat dua salam dan setiap salam dua rakaat = 2 x 2 x 5 = 20 rakaat. 

2. Madzhab Maliki Dalam kitab Al-Mudawwanah al Kubro, Imam Malik berkata, Amir Mukminin mengutus utusan kepadaku dan dia ingin mengurangi Qiyam Ramadhan yang dilakukan umat di Madinah. 

Lalu Ibnu Qasim (perawi madzhab Malik) berkata “Tarawih itu 39 rakaat termasuk witir, 36 rakaat tarawih dan 3 rakaat witir” lalu Imam Malik berkata “Maka saya melarangnya mengurangi dari itu sedikitpun”.

Aku berkata kepadanya, “inilah yang kudapati orang-orang melakukannya”, yaitu perkara lama yang masih dilakukan umat.

Dari kitab Al-muwaththa’, dari Muhammad bin Yusuf dari al-Saib bin Yazid bahwa Imam Malik berkata, “Umar bin Khattab memerintahkan Ubay bin Ka’ab dan Tamim al-Dari untuk shalat bersama umat 11 rakaat”. 

Dia berkata “bacaan surahnya panjang-panjang” sehingga kita terpaksa berpegangan tongkat karena lama-nya berdiri dan kita baru selesai menjelang fajar menyingsing. Melalui Yazid bin Ruman dia berkata, “Orang-orang melakukan shalat pada masa Umar bin al-Khattab di bulan Ramadhan 23 rakaat”.

Imam Malik meriwayatkan juga melalui Yazid bin Khasifah dari al-Saib bin Yazid ialah 20 rakaat. Ini dilaksanakan tanpa wiitr. Juga diriwayatkan dari Imam Malik 46 rakaat 3 witir. Inilah yang masyhur dari Imam Malik.

3. Madzhab as-Syafi’i Imam Syafi’i menjelaskan dalam kitabnya Al-Umm, “bahwa shalat malam bulan Ramadhan itu, secara sendirian itu lebih aku sukai, dan saya melihat umat di madinah melaksanakan 39 rakaat, tetapi saya lebih suka 20 rakaat, karena itu diriwayatkan dari Umar bin al-Khattab.

Demikian pula umat melakukannya di makkah dan mereka witir 3 rakaat. Lalu beliau menjelaskan dalam Syarah al-Manhaj yang menjadi pegangan pengikut Syafi’iyah di Al-Azhar al-Syarif, Kairo Mesir bahwa shalat Tarawih dilakukan 20 rakaat dengan 10 salam dan witir 3 rakaat di setiap malam Ramadhan.

4. Madzhab Hanbali Imam Hanbali menjelaskan dalam Al-Mughni  suatu masalah, ia berkata, “shalat malam Ramadhan itu 20 rakaat, yakni shalat Tarawih”, sampai mengatakan, “yang terpilih bagi Abu Abdillah (Ahmad Muhammad bin Hanbal) mengenai Tarawih adalah 20 rakaat”. 

Menurut Imam Hanbali bahwa Khalifah Umar ra, setelah kaum muslimin dikumpulkan (berjamaah) bersama Ubay bin Ka’ab, dia shalat bersama mereka 20 rakaat.

Dan al-Hasan bercerita bahwa Umar mengumpulkan kaum muslimin melalui Ubay bin Ka’ab, lalu dia shalat bersama mereka 20 rakaat dan tidak memanjangkan shalat bersama mereka kecuali pada separo sisanya. 

Maka 10 hari terakhir Ubay tertinggal lalu shalat dirumahnya maka mereka mengatakan, “Ubay lari”, diriwayatkan oleh Abu Dawud dan as-Saib bin Yazid.

Kesimpulan Dari apa yang kami sebutkan itu kita tahu bahwa para ulama’ dalam empat madzhab sepakat bahwa bilangan Tarawih 20 rakaat. Kecuali Imam Malik karena ia mengutamakan bilangan rakaatnya 36 rakaat atau 46 rakaat. 

Tetapi ini khusus untuk penduduk Madinah. Adapun selain penduduk Madinah, maka ia setuju dengan mereka juga bilangan rakaatnya 20 rakaat.

Para ulama ini beralasan bahwa shahabat melakukan shalat pada masa khalifah Umar bin al-Khattab ra di bulan Ramadhan 20 rakaat atas perintah beliau. 

Juga diriwayatkan oleh al-Baihaqi dengan sanad yang shahih dan lain-lainnya, dan disetujui oleh para shahabat serta terdengar diantara  mereka ada yang menolak. 

Karenanya hal itu menjadi ijma’, dan ijma’ shahabat itu menjadi hujjah (alasan) yang pasti sebagaimana ditetapkan dalam Ushul al-Fiqh.

Penulis: KH Muhaimin Zen Ketua Umum Pengurus Pusat Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffadz (JQH) NU

Saturday, 24 February 2024

Hadits-hadits Berkenaan Keutamaan Malam Nisfu Sya’ban

Berdasarkan hadits-hadits yang telah dibentangkan, maka kita dapat membuat rumusan bahwa hadits-hadits terkait keutamaan malam Nisfu Sya’ban telah diriwayatkan melalui jalur lima belas (15) sahabat Rasulullah صلى الله عليه وسلم termasuk isteri Baginda صلى الله عليه وسلم yaitu :

1. Sayidina Abu Bakar al-Siddiq رضي الله عنه

2. Sayidina ‘Ali Bin Abu Talib رضي الله عنه

3. Sayidatina ‘A’ishah رضي الله عنها (isteri Rasulullah صلى الله عليه وسلم)

4. Sayidina Mu’adz bin Jabal رضي الله عنه

5. Sayidina Abu Hurayrah رضي الله عنه

6. Sayidina ʿAbdullah Ibnu ‘Amr رضي الله عنهما

7. Sayidina Ubay bin Ka’b رضي الله عنه

8. Sayidina Abu Thaʿlabah al-Khushani رضي الله عنه

9. Sayidina Abu al-Darda’ (‘Uwaymir bin Malik) رضي الله عنه

10. Sayidina Anas bin Malik رضي الله عنه

11. Sayidina Abu Umamah al-Bahili رضي الله عنه

12. Sayidina ʿUtsman bin Abu al-‘As رضي الله عنه

13. Sayidina ‘Auf bin Malik رضي الله عنه

14. Sayidina Abu Musa al-Asy’ari (‘Abdullah bin Qays) رضي الله عنه

15. Sayidina Yazid bin Jariyah al-Anshari رضي الله عنه

Hadits-hadits ini datang dengan pelbagai status sanad dan lafaz termasuk shahih. Ada juga sahabat yang disebut dengan secara mubham seperti riwayat di dalam kitab Faḍā’il Syahr Ramaḍān oleh al-Imām Ibnu Abī al-Dunyā (w.281H). Sebahagian riwayat lagi datang secara mursal. 

Tanpa syak lagi hadits-hadits yang banyak ini saling mendukung dalam kekuatannya sehingga hadits-haditsnya yang dha’if bisa mencapai ḥasan li ghairih atau ṣhaḥīḥ li ghairih. 

Allah Maha Mengetahui dan Ilmu-Nya Maha Sempurna.

- Dr. Ustadz Abdullaah Jalil -

Monday, 22 January 2024

Kehinaan yang di Cintai Allah SWT

Syech Ibnu Athoillah dawuh :

 ٩٢- مَعْصِيَةٌ اَوْرَثَتْ ذُلاًّ وَافْتِقَارًا خَيْرٌ مِنْ طَاعَةٍ اَوْرَثَتْ عِزًّا وَاسْتِكْبَارًا

“Kemaksiatan yang menyebabkan hina dan butuh kepada Allah itu lebih baik daripada ketaatan yang menyebabkan merasa agung dan sombong”

--------+++++++

Sayyid Abdul Abbas Almursi  menghormati manusia sesuai kedudukannya di sisi Allah. Terkadang datang kepada beliau orang yang taat namun tidak diperhatikan, tapi terkadang datang kepada beliau orang yang durhaka, namun beliau justru memuliakannya. 

Ternyata orang taat tadi adalah orang yang selalu menyombongkan amalnya, sementara orang yang durhaka tadi datang dengan segenap dosa-dosanya namun ia merasa hina dihadapan Allah.

Dikisahkan dari Ubban bin ‘Iyas, ia bekata suatu hari aku keluar menuju Basroh lalu aku melihat jenazah yang di angkat empat orang dan tidak ada orang lain yang menyertainya. 

Aku sangat heran sekali kenapa di dekat pasar sebesar Basroh ini jenazah seorang muslim tidak ada yang mengiringi sama sekali, maka kemudian aku memutuskan untuk bergabung dengan mereka, 

ketika mereka hendak mensalatkan jenazah tadi mereka berkata kepadaku, “tuan majulah untuk menjadi imam kerena posisi kami berempat ini sama.” 

Lantas akupun maju untuk menjadi imam. Setelah salat aku bertanya pada mereka. “sebenarnya apa yang terjadi?”

Mereka menjawab, “kita ini disewa oleh perempuan itu untuk mengurus jenazah ini.” Setelah penguburan selesai, perempuan tadi pergi sambil tertawa. 

Dengan perasaan heran, aku kemudian berkata kepada perempuan tadi, “kabarkanlah kepadaku, apa sebenarnya yang terjadi?” 

Dia kemudian bercerita, “sebenarnya jenazah ini adalah anakku yang selalu berbuat maksiat, dalam tiga hari ini ia sakit dan berpesan kepadaku: 

Wahai ibu kalau nanti aku mati tolong jangan sebar berita kematianku kerana orang pasti tidak mau mendatangi jenazahku, tapi tulislah diatas cincinku ini kalimat               لا اله الا الله محمد رسول الله   dan masukkanlah dalam kain kafanku semoga Allah mau memberi kasih sayangNya. Kemudian injaklah pipiku dengan kakimu serta katakankah ini balasan bagi orang yang durhaka kepada Allah. Aku ridho atas anakku ya Allah, maka ridhoilah dia,” tutur sang ibu.

“Setelah anakku mati, aku laksanakan semua wasiatnya, ketika menengadahkan tangan ke langit, aku mendengar suara anakku dengan lisan yang fasih: kembalilah wahai ibuku kerena aku telah bertemu tuhanku dan dia sama sekali tidak membenciku. Atas kejadian ini, akupun tersenyum dan bahagia tiada tara,” kata sang ibu.

Dari kisah diatas dapat kita ambil ibroh bahwasanya ketika seseorang melakukan ketaatan jangan kemudian menyombong diri, karena ketaatan yang kita lakukan merupakan pertolongan dari Allah, sementara ketika seseorang melakukan kemaksiatan janganlah berputus asa, namun tetaplah mengharap ampunan Allah dan merasa hina dihadapaNya.

والله أعلم

Tuesday, 12 December 2023

Menghilangkan Rasa Dengki di Hati

Menghilangkan Rasa Dengki di Hati

Penyakit yang tampak (dhohir) misal sakit kepala, sakit gigi, dan lain sebagaianya seringkali menjadi perhatian utama bagi setiap orang, karena rasa sakit yang dialami bisa dirasakan secara langsung. sedangkan penyakit bathin yang sesunggunya lebih berbahaya dari penyakit dhohir, banyak yang mengaggap remeh dan membiarkanya sampai parah (merusak diri), karena bisa jadi mereka tidak sadar bahwa ia telah menderita penyakit yang merusak tubuhnya. salah satu penyakit itu adalah penyakit dengki atau iri hati (hasad).
Hasad yang ditimbulkan dari dalam hati mampu mengganggu kesehatan fisik (dhohir) seseorang, bahkan penyakit ini mampu merusak amal ibadah orang yang dengki dengan berkurangnya pahala dan pahalanya akan diberikan secara cuma-cuma kepada orang yang ia dengki.
Penyakit hasad ini timbul dari berbagai sebab, diantaranya berawal kurang rasa syukur terhadap rizki yang ia peroleh. padahal sejatinya rizki yang sudah Allah tentukan pada seseorang sudah ada ukuranya, dan ukuran itu tidak akan berlebih dan tidak akan berkurang sedikitpun. artinya, bahwa rizki yang Allah tentukan itu akan membawa kebaikan pada setiap  orang.
Misal seseorang diberikan rizki yang banyak sehingga ia menjadi kaya, maka dengan kekayaan yang dimiliki jika disyukuri akan menjadikan ia semakin dermawan sehingga dengan hartanya itu ia gunakan untuk medekatkan diri kepada Allah. jika seseorang diberikan rizki yang pas-pasan atau kurang sehingga ia dikenal menjadi orang miskin, bisa jadi dengan kemiskinan yang ia alami bisa membuat ia dekat dengan Allah swt atas kesabaranya dan lebih dicintai oleh Allah jika ia mampu merasakan kenikmatan atas ketetapan Allah swt. Sebagaimana Allah swt berfirman,


وَهُوَ ٱلَّذِي جَعَلَكُمۡ خَلَٰٓئِفَ ٱلۡأَرۡضِ وَرَفَعَ بَعۡضَكُمۡ فَوۡقَ بَعۡضٖ دَرَجَٰتٖ لِّيَبۡلُوَكُمۡ فِي مَآ ءَاتَىٰكُمۡۗ إِنَّ رَبَّكَ سَرِيعُ ٱلۡعِقَابِ وَإِنَّهُۥ لَغَفُورٞ رَّحِيمُۢ

"Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-An’am, 06:165).


Masing-masing manusia memperoleh takdir yang berbeda dari Allah SWT, sebagian dari mereka diberikan kelebihan dari sebagian lainnya.


وَٱللَّهُ فَضَّلَ بَعۡضَكُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ فِي ٱلرِّزۡقِۚ فَمَا ٱلَّذِينَ فُضِّلُواْ بِرَآدِّي رِزۡقِهِمۡ عَلَىٰ مَا مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُهُمۡ فَهُمۡ فِيهِ سَوَآءٌۚ أَفَبِنِعۡمَةِ ٱللَّهِ يَجۡحَدُونَ


"Dan Allah melebihkan sebahagian kamu dari sebagian yang lain dalam hal rezeki, tetapi orang-orang yang dilebihkan (rezekinya itu) tidak mau memberikan rezeki mereka kepada budak-budak yang mereka miliki, agar mereka sama (merasakan) rezeki itu. Maka mengapa mereka mengingkari nikmat Allah?. (QS. Al-Nahl, 16:71).


Cara yang terbaik yang bisa dilakukan adalah menerima dengan ikhlas apa yang menjadi ketetapan Allah swt. Berapapun rizki yang diberikan Allah swt., disyukuri. kenikmatan sekecil apapun yang Allah swt anugrahkan, di nikmati. Dan sebesar apapun kepahitan yang dialami, disabari. InsyAllah akan meredam rasa dengki yang ada dalam diri sendiri. karena apa yang sudah Allah tetapkan itulah yang terbaik, sebagaimana firman Allah swt.


۞وَلَوۡ بَسَطَ ٱللَّهُ ٱلرِّزۡقَ لِعِبَادِهِۦ لَبَغَوۡاْ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَٰكِن يُنَزِّلُ بِقَدَرٖ مَّا يَشَآءُۚ إِنَّهُۥ بِعِبَادِهِۦ خَبِيرُۢ بَصِيرٞ


"Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat. (QS. Al-Shura, 42:27).


Dengan meredamnya rasa dengki atau iri dalam diri insyaallah akan tampak dalam diri seseorang rasa bahagia, dengan orang lain selalu berfikir berpositif (husnud dhon), ramah dan akan bersabar dalam menghadapi situasi apapun, Allahu A'lam.

Wednesday, 12 July 2023

Hakikat Keselarasan Ikhtiar dan Tawakkal. Habib Luthfi bin Yahya

Tawakkal atau pasrah, dalam kitab Jami’ul Ushul al-Auliya’ terbagi menjadi tiga, yaitu tawakkalnya orang awam, tawakkalnya orang khawash dan tawakkalnya orang yang khawashil khawash. Tentu ketiganya memiliki perbedaan.


Pertama, tingkatan tawakkalnya orang awam itu mengharapkan pertolongan Allah Swt. Berbeda dengan tawakkalnya orang khawash yang senantiasa pasrah kepada Allah Swt. bukan hanya ketika ada keperluan saja. Karena pada hakikatnya penggunaan kalimat tawakkal jika kita tidak paham tauhid serta keyakinan kita sendiri tidak tertata, maka khawatir mendekati kesyirikan.


Contohnya jika kita mengatakan kalimat, “kalau tidak ikhtiar ya mati” atau “kalau tidak ikhtiar ya tidak makan.”


Lalu apakah yang memberi makan dan memberi kesembuhan itu karena ikhtiar kita?


Sejatinya, ikhtiar adalah mentaati perintahnya Allah. Demikian pula, ikhtiar bukanlah Tuhan. Ikhtiar hanyalah untuk menunjukkan kelemahan kita. Bahwa apa yang kita miliki dan yang tidak kita miliki adalah milik Allah Swt.


KH. Yahya Cholil Staquf

Karena ini adalah NU, apapun juga adalah organisasi yang mengikuti ajaran-ajaran ulama. Maka satu-satunya yang layak untuk diperjuangkan oleh NU ini adalah kemuliaan, masa depan umat manusia.


KH. Yahya  Cholil Staquf (Ketua Umum PBNU) 



KH Marzuki Mustamar

 Jangan kecewa, jangan menangis, jangan marah dengan peristiwa yang terkadang tidak enak dirasakan, maka ambillah itu sebagai hikmah-Nya mungkin membuat kita mengenal lebih dekat kepada Allah SWT. 


KH Marzuki Mustamar


Keutamaan sholawat kepada Nabi ﷺ


 Keutamaan sholawat kepada Nabi ﷺ

قال ﷺ : (كل الأعمال منها المقبول و المردود إلا الصلاة علي فإنها مقبول فير مردود )

Rasulullah ﷺ bersabda: (Setiap amal ada yg di terima dan ada yg di tolak, kecuali bershalawat kepadaku. Maka sholawat tersebut di terima tanpa di tolak)


Jangan lupa Shalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ. 


يالله بالتوفيق حتى نفيق ونلحق الفريق⁣

Mudah-mudahan kita mendapat taufiq sehingga kita bisa di golongkan dengan orang-orang sholeh.

Aamiin.



Gus Yahya, (Ketum PBNU)

 "NU ini harus kita pahami dengan akurat, seluruhnya, fungsinya , dan kedudukannya di tengah-tengah umat dan masyarakat harus menjadi solusi,” 

Gus Yahya, (Ketum PBNU) 




Gus Iqdam


"Kita itu harus memiliki semangat yg luar biasa ketika kita masih dipercaya orang, kalau suara kita masih didengarkan orang, kita harus tetap berusaha untuk bermanfaat, karena konsep hidup itu Khoirunnas anfa’uhum linnas (sebaik baiknya orang itu bermanfaat bagi lainnya."  ~ Gus Iqdam Muhammad
Pengasuh Majelis Sabilu Taubah
 
#hubbuWathonminalIman #nahdlatululama #islamnusantara #mediadakwahonline #ulamanusantara #rindu #pbnu #habibluthfi #gusyahya #gusyusuf #sufi #gusbaha #guskautsar #ngajigusbaha #gusiqdam #sabilutaubah #santri #cinta #viral #kontendakwah #rindu  #sholawat #elingpusat #nderekpusat

Monday, 26 September 2022

Maulid Kanjeng Nabi dan Kisah Nenek Penyapu Masjid

MAULID KANJENG NABI

Setiap kali membaca Kitab  Maulid Nabi Muhamad  Saw baik itu Maulid Diba' maulid Burdah dll saya teringat dengan kisah seorang wanita tua renta penyapu masjid. Nenek yang tak pernah diketahui asal-usulnya, tapi di setiap pagi sering terlihat menyapu masjid.

Hingga suatu ketika, para jamaah masjid merasa kasihan terhadap nenek tersebut. Mereka sepakat untuk menyapu bersih pekarangan  masjid sebelum nenek itu tiba.

Singkat cerita, nenek itu, seperti biasanya, tiba di masjid dan menemukan pekarangan telah bersih. Mengejutkan, ia bukan bahagia. Sebaliknya, ia menangis tersedu-sedu. Tangisannya menyayat hati dan membuat para jamaah bertanya kepada sang nenek. Namun nenek itu bungkam.

Hingga ajal menjemput si nenek. Rahasia ia menangis kala itu-pun terkuak. Ia sedih saat mendapati pekarangan masjid telah bersih dari daun-daun. Sebab, setiap ia memunguti helai demi helai daun, di saat itu pula ia ber-shalawat kepada Nabi Muhammad Saww.

____________________________

Ada banyak contoh seperti layaknya nenek itu di sekitar kita. Individu-individu yang tak mengerti dan paham mengenai dalil-dalil shahih Alquran dan Hadis mengenai cinta terhadap Nabi Saww. Namun, mereka mewujudkan kecintaannya dengan cara mereka sendiri. Bagi nenek tua pada kisah di atas, ber-shalawat kepada Nabi adalah bentuk terbaik mewujudkan cinta kepada Nabi Saww.

Sama seperti kisah nenek tua, Nenek saya di kampung juga menunjukkan kecintaannya kepada hadirat Nabi Saw. Setiap hari ia senantiasa membaca  shalawat kepada Nabi muhamad saw dan Istiqomah slalu

Berbeda dengan kita. Iya, kita yang mengaku sebagai umatnya dan cinta terhadapnya. Membaca shalawat dan merayakan Maulid Nabi dikecam sebagai perbuatan Bid'ah. Pelakunya diancam dengan siksa neraka yang paling pedih dan niscaya berkumpul dengan para pelaku syirik  tiduhan itu terus para wahabi lontarkan pada kita

Coba anda tanyakan apa itu Bid'ah kepada nenek saya. Ia akan menggeleng tak mengerti. Ia tak paham bahwa mambaca shalawat dan merayakan Maulid adalah Bid'ah. Ia hanya paham bahwa ketika seseorang jatuh cinta, maka ia harus menunjukkan kecintaannya.

Nenek tua penyapu masjid dan nenek saya telah memahami arti cinta kepada Nabi Saw, meski mereka tak paham dalil-dalil shahihnya. Dengan cara sederhana mereka menunjukkan kecintaan kepada Nabi Muhammad Saww. Bandingkan oleh anda dengan orang-orang yang mengecam mereka dan menyatakan perbuatan itu sebagai Bid'ah.

Nenek tua penyapu masjid tak mengantongi ribuan dalil, namun ia tahu satu dalil yang "dipungutnya" dari majelis-majelis pengajian para Kiai, bahwa "Barang Siapa Mencintaiku (Nabi), maka ia akan bersamku di surga". Nenek tua itu tahu, bahwa "Seorang pecinta akan senantiasa bersama dengan orang yang dicintainya".

Menjelang akhir hayat, nenek saya ingin bersama dengan orang yang paling dirindukan dan dicintainya, yakni Nabi Muhammad Saw. Ia tak tahu Bid'ah. Ia hanya ingin bersama dengan Nabi. Ia hanya ingin menunjukkan kecintaan terhadap Nabi. Dan ia menunjukkan dengan cara yang sederhana, yaitu bershalawat, bergembira serta merayakan atas hari kelahiran Nabi Muhammad Saw :'(

Kita yang hampir stiap hari mendengar membaca hadis tentang keutamaan membaca sholawat ,mendengar membaya hadis" tentang Kanjeng nabi tapi Mulut kita tetep saja membisu sangat jarang mengucapkan Sholawat Pada Kanjeng Nabi Muhamad Saw

Muga " di ampura

Sumber: Santri Online

Wednesday, 21 September 2022

Inilah Asal Usul Amalan Rebo Wekasan.

Asal Usul Amalan Rebo Wekasan. 

 Bulan Safar adalah nama salah satu bulan dalam kalender Hijriah yang berdasarkan penanggalan Qamariyyah. Bulan ini terletak setelah bulan Muharram dan sebelum bulan Rabi’ al-Awwal. Sebagian orang Arab menyebut bulan Safar dengan sebutan najiz, mereka merasa sial (-tasya’um) dengan bulan tersebut. 

 Oleh karena itulah datang hadits Nabi sebagai bantahan kepada mereka ;

  لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ وَفِرَّ مِنْ الْمَجْذُومِ كَمَا تَفِرُّ مِنْ الْأَسَدِ

 “Tidak ada 'adwa, thiyarah, hamah, shafar, dan menjauhlah dari orang yang kena penyakit kusta (lepra) sebagaimana kamu menjauh dari singa.”(HR Bukhari dan Muslim)

  Adapun hari Rabu, adalah nama salah satu hari dalam seminggu. Para ulama berbeda pendapat tentang awal hari dalam seminggu, namun menurut As-Suyuthi para ulama mutaakhirin dan ashab Syafi’i mengatakan bahwa yang benar permulaan hari dalam seminggu adalah Sabtu sebagaimana dalam Syarah al-Muhadzab, al-Rawdhah, dan al-Minhaj, dengan didasarkan pada Hadits dari Imam Muslim dimana Allah SWT menciptakan tanah pada hari Sabtu dan menciptakan nur pada hari Rabu.

 Banyak orang merasa sial di hari itu dengan berdasar pada firman Allah dalam Surat al-Qamar Ayat 19, dan ini adalah sebuah kesalahan, karena sesungguhnya Allah telah berfirman di Surat Fussilat Ayat 16, bahwa itu adalah delapan hari, dan itu merupakan hari-hari kesialan, hanya saja maksudnya adalah bagi mereka (kaum ‘ad). (Jalaluddin As-Suyuthi, ¬al-Syamarikh fi ‘ilm al-Tarikh, h. 24-25). 

Itulah mengapa para ulama dalam beberapa karyanya senantiasa menyandingkan kata Safar dengan kata al-khair dengan menyebut shafar al-khair (Safar yang baik) sebagai bentuk tafa’ul (berharap kebaikan dan optimis) sehingga menepis anggapan kekhususan kesialan, nahas, atau keburukan yang melekat dengan dzat bulan Safar. 

  Dalam tafsir Ruhul Ma'ani misalnya disebutkan bahwa hari Rabu adalah hari dimana Nabi Yunus dilahirkan, begitu juga dengan Nabi Yusuf, dan pertolongan kepada Nabi Muhammad pada perang Ahzab juga adalah hari Rabu. Tentu banyak Hadits lain yang berkenaan hari Rabu.

    Maka dari itu secara umum tentang waktu adalah sebagaimana Hadits Qudsi berikut:

      يُؤْذِينِي ابْنُ آدَمَ يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ، بِيَدِي الأَمْرُ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ (رواه البخاري و مسلم)

 “Anak Adam menyakiti-Ku karena mencela masa atau waktu. Padahal Aku yang mengatur dan menetapkan waktu. Di tangan-Ku lah segala urusan waktu. Aku yang membolak-balikkan malam dan siang”. (HR. Bukhari dan Muslim) 

Berdasarkan hadits ini manusia diperintahkan untuk tidak mencaci, menghina, dan mencela waktu karena sebab Allah sang pencipta, pengatur, dan penguasa waktu. Hendaklah beriman kepada qadha dan qadar-Nya, baik ataupun buruk, manis ataupun pahit, dan senang maupun dukanya. 

Rabu terakhir bulan Safar ghalib/lumrah di bumi Nusantara disebut dengan istilah rebo wekasan, rebo kasan, rebo pungkasan, atau istilah lain yang merujuk pada maksud yang sama yaitu hari Rabu akhir di bulan Shafar. 

Terdapat amaliyah yang biasa dilaksanakan pada hari tersebut yang mencakup shalat, dzikir, doa, dan tabarruk dengan asma Allah atau ayat-ayat al-Quran yang dikenal dengan ayat Selamat. 

Amaliyah tersebut dilakukan sebagai bentuk permohonan kepada Allah SWT agar terhindar dari segala macam musibah dan cobaan. 

Terdapat beberapa sumber kitab yang menyebutkan tentang rabu terakhir di bulan Shafar berikut amaliyahnya dengan menukil dari para masyayikh sufi, di antaranya: 

1. Kanz al-Najah wa al-Surur karya ‘Abdul Hamid Quds al-Makki (w. 1917), 

2. Mujarrabat al-Dayrabi karya al-Dayrabi (w. 1801 M), 

3. Nihayat al-Zain karya Syekh Nawawi (w.1897 M), 

4. Na’t al-Bidayah karya Muhammad al-Fadhil bin Mamayn (w.1910 M), 

5. al-Jawahir al-Khams karya Muhammad bin Khatir al-Din (w. 1562 M), 

6. Wasilah al-Tahlibin Ila Mahabbati rabb al-Alamin karya murid Hussamuddin (w. 1567 M) yang dikutip dalam kitab ;

7. Majmu’ah Rasa’il al-Laknawi ketika menjelaskan hukum shalat-shalat tertentu, karya ‘Abd al-Hayy al-Laknawi (w. 1886), dan 

8. Kitab-kitab lainnya. 

 Diantara kitab-kitab tersebut, ada beberapa hal yang menjadi pembeda terkait tatacara pelaksanaanya, waktu pelaksanaan, dzikir, dan redaksi doanya. Akan tetapi, secara umum amaliyah yang dilaksanakan pada Rabu akhir bulan Safar telah dikutip dan ditulis lengkap dan apik dalam kitab Kanz al-Najah wa al-Surur, kecuali amaliyah shalat yang dilakukan oleh para murid Hussamuddin Manikpur dimana mereka melaksanakannya Shalat Rabu akhir bulan Safar dengan shalat dua rakaat di waktu dhuha. 

 Dalam rakaat pertama setelah membaca al-Fatihah adalah membaca Al-Qur'an Surat Ali Imran ayat 29-30 satu kali, dan rakaat kedua setelah Surat al-Fatihah membaca Surat al-Isra ayat 110-111 satu kali kemudian setelah salam, membaca shalawat Nabi kemudian berdoa:

  اَللّهُمَّ اصْرِفْ عَنْ شَرِّ هذَا الْيَوْمِ وَ اعْصِمْنِي مِن شُؤمِهِ وَ اجْعَلْهُ عَلَى رَحْمَةٍ وَ بَرَكةٍ وَ جَنِّبْنِي عَمَّا أَخَافُ فِيهِ مِنْ نُحُوْسَاتِه وَ كَرَمَاتِه بِفَضْلِك يَا دَافِعَ الشُّرُور وَ يَا مَالِكَ النُّشُوْرِ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

   Sejauh penelusuran penulis, para murid Hussamuddin Manikpur ini adalah para pengamal Tarikat Jistiyyah Hussamiyyah dengan menisbahkan kepada Syekh Hussamuddin.  

Demikian pula sekilas sumber kitab-kitab di atas adalah merupakan sumber induk pedoman tarekat tertentu yang dikarang oleh para pemuka sufi, wali qutb, ghauts, dan ‘arifin, shalihin, fudhala lainnya. 

Seperti misalnya pengarang kitab Na’t al-Bidayah adalah pemuka tarekat Qadiriyyah Fadhiliyyah dengan dinisbahkan kepada Muhammad al-Fadhil (w. 1910), al-Jawahir al-Khams sebagai pemuka tarekat Syattariyyah yaitu Muhammad bin Khatir al-Din (w. 1562 M). 

Sejauh ini dibanding kitab lainnya, kitab Jawahir al-Khamsah adalah kitab yang paling tua yang berbicara tentang amaliyah Rabu terakhir bulan Safar.

  Dalam kitabnya terkait rebo wekasan, Syekh Ibn Khatir al-Din mengutip perkataan Syekh Farid al-Din dan menyebut nama Syekh Mu’inuddin. Berikut petikan terjemahannya:

 "Dalam kitab al-Jawahir al-Khamsah disebutkan bahwa Syekh Kamil Farid al-Din Kanz al-Syukr berkata, “Aku melihat aurad Syekh Mu’inuddin bahwanya setiap tahun itu 320.000 cobaan diturunkan dan semuanya terjadi pada hari Rabu yang terakhir di bulan Safar, hari itu merupakan hari tersulit di tahun itu. Siapa orang yang shalat di hari itu sebanyak empat rakat dengan membaca tiap-tiap rakatnya Surat al-fatihah, al-Kautsar 17 kali, al-Ikhlas 5 Kali, dan Al-Falaq 1 kali, dan al-Nas 1 kali, kemudian dilanjutkan dengan membaca doa, maka Allah dengan kemurahan-Nya menjaga orang tersebut dari semua bala` dan cobaan yang turun pada hari itu, dan tidak mengitarinya sampai akhir tahun." 

  Demikian lengkap dengan doanya sebagaimana dalam kitab al-Jawahir al-Khamsah. 

Lalu siapa Syekh Farid al-Din Kanz al-Syukr dan Syekh Mu’nuddin al-Jisti? Syekh Fariduddin Mas’ud adalah seorang Muslim Sunni, bermadzhab Hanafi, pemuka sufi, pembesar tarekat Jistiyyah/Chistiyyah/Justiyyah di India, yang wafat tahun 1265 M (7 H). 

Sementara Syekh Mu’inuddin al-Jisti adalah saudara Syekh Abdul Qadir al-Jilani, karena ibu Syekh Mu’inuddin adalah saudara perempuan Syekh Abdul Qadir dari arah paman laki-lakinya. 

Nasab Syekh Mu’inuddin sampai kepada Nabi, dari garis bapaknya adalah melalui Sayyidina Husen, dan garis Ibu melalui Sayyidina Hasan. 

Syekh Mu’inuddin (w. 627 H/w. 1236 M), seorang Muslim Sunni bermadzhab Hanafi, termasuk pembesar tarekat Jistiyyah yang didirikan oleh Syekh Abu Ishaq al-Syami di Herat, Afganistan, Syekh Mu’induddin dianggap pendiri Jistiyyah di India. Beliau Wafat di Ajmir India.

 Ada beberapa sanad tarekat ini yang menyampaikannya kepada Rasulullah SAW melalui jalur Sultan Ibrahim bin Adham, sampai kemudian berikutnya kepada Syaikh Imam Abi Sa’id al-Hasan bin Yasar al-Bashri lalu kemudian kepada Sayyidina Ali r.a. 

   Berdasarkan hal ini bahwa untuk pelacakan awal bahwa sumber amaliyah Rebo wekasan adalah berasal aurad Syekh Mu’inuddin al-Jisti, seorang sufi, waliyullah abad yang hidup sekita abad ke 6-7 H/12-13 M, Sunni bermadzhab Hanafi, pembesar dan pendiri salah satu tarekat mu’tabarah. 

Referensi: 

al-Alusi, Ruh al-Ma’ani, t.tp.: Idarah al-Thiba’ah al-Muniriyyah, Juz. 27 h. 85 al-Dayrabi, Mujarrabat al-Dayrabi al-Kubra, Beirut: Maktabah Tsaqafiyyah, h. 79 al-Zirikli, Qamus `A’lam wa Tarajim, Beirut: Dar al-‘Ilm li al-Malayin, Juz. 3, h. 288 Jalal al-Din al-Suyuthi, al-Samarikh fi ‘Ilm al-Tarikh, Kairo: Maktabah al-Adab, h. 25-26, 28 Ma’ al-‘Ainayn Ibn al-Qutb Syekh Muhammad Fadhil bin Mamayn, Na’t al-Bidayat wa Tawshif al-Nihayat, Beirut: Dar al-‘Ulum al-‘Ilmiyyah, h. 167 Muhammad ‘Abd al-Hayy al-Laknawi, Majmu’ Rasail al-Laknawi, Karachi: Idarah al-Quran wa al-‘Umlum al-Islamiyyah, Juz. 5, h. 94​​​​​​​Muhammad bin Khatir al-Din, al-Jawahir al-Khamsah, t.t: t.p., h. 5, 34 Musthafa Muhy al-Din al-Hudwi al-Malibari, Syekh Mu’in al-Din al-Jisti al-Ajmiri: Hayatuh wa Da’watuh wa Atsaruh, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, h. 14-16​​​​​​​Shafiyy al-Din Ahmad bin Muhammad al-Maqdisi, ¬al-Simth al-Majid fi Ahl al-Tawhid, h. 90-91​​​​​​​Yusuf al-Mar’asli, Natsr al-Durar fi ‘Ulama’  al-Qarn alRabi’ ‘Asyar, Beirut: Dar al-Ma’rifah, Jilid 1. ’Abd al-Hamid Quds al-Makki, Kanz al-Najah wa al-Surur, Beirut: Dar al-Hawi, 2009, h. 90-101 

Oleh: Hikmatul Lutfi. 

(Penulis adalah Nahdliyin kelahiran Cibadak, Kabupaten Sukabumi.)

Sumber : NU Online Jabar 


Friday, 16 September 2022

Sudah Saatnya LPQ-Madin NU Berbenah

Alhamdulillah, kegiatan RMI-NU Sambang TPQ-MADIN dan pemberian sertifikat Afiliasi pada perwakilan TPQ INDONESIA ustadz Khoirul Fatihin terlaksana pada Jumat (16/09/2022). 

TPQ Indonesia yang beralamat di Jl. Joyogrand Perum Uniga Merjosari Malang ini mendapatkan sertifikat Afiliasi sebagai bagian dari lembaga binaan PC RMI-NU Kota Malang yang diberikan langsung oleh koordinator Bidang Penguatan TPQ-Madin Kyai Zainal Arifin, M. Ag. 

Kyai Zainal Arifin, Pengasuh Pesantren Waqiah Indonesia berpesan agar TPQ-MADIN yang tergabung dalam RMI-NU mulai berbenah, menata manajemen dan kualitas pengajian. 

TPQ-Madin merupakan titik awal penanaman nilai-nilai aqidah dan Syari'at Islam, maka sudah saatnya Lembaga-lembaga ini mulai berbenah agar kebaikan berupa pengajian yang sudah dibiasakan di lembaga semakin dirasakan manfaatnya sampai kapanpun, walau kebathilan dan fitnah akhir zaman semakin merajalela. 

Sebagaimana sebuah ungkapan dari sayyidina Ali Karramallahu Wajjah,

 "الحق بلا نظام يغلبه الباطل بالنظام"

Sebuah Perkara yang Haq (benar) jika tidak tertata (manaj) dengan baik, maka akan (mudah) dikalahkan oleh Kebhatilan yg tertata dengan baik.

Program RMI-NU Sambang TPQ-MADIN merupakan upaya yang dilakukan oleh pengurus PC RMI-NU dalam melakukan penguatan lembaga-lembaga yang selama ini mengajarkan Aqidah Ahlussunnah Wal jamaah (Aswaja) berupa pemberian sertifikat afiliasi, pembinaan kelembagaan bagi lembaga yang belum berbadan hukum sekaligus sebagai wahana Shilaturohim pengurus PC RMI-NU Kota Malang.