MWC NU Lowokwaru Istiqamah NGAJI Sunan At-Tirmidzi, Merawat Tradisi Keilmuan Para Ulama - HWMI.or.id

Friday, 6 November 2026

MWC NU Lowokwaru Istiqamah NGAJI Sunan At-Tirmidzi, Merawat Tradisi Keilmuan Para Ulama

MALANG – Tradisi mengaji kitab merupakan salah satu warisan intelektual yang telah lama tumbuh dan mengakar di lingkungan pesantren serta masyarakat Nahdlatul Ulama (NU). Tradisi ini bukan sekadar aktivitas belajar agama, melainkan bagian dari ikhtiar menjaga kesinambungan ilmu para ulama dalam membimbing umat agar memahami ajaran Islam secara mendalam, utuh, dan bertanggung jawab.

Sejak berdiri pada 31 Januari 1926, Nahdlatul Ulama tumbuh sebagai organisasi yang memiliki perhatian besar terhadap pendidikan dan pengembangan pemahaman keagamaan umat. Salah satu karakter kuat yang melekat dalam tradisi Nahdliyin adalah budaya ngaji kitab, yakni proses belajar agama melalui karya-karya ulama terdahulu dengan bimbingan langsung seorang kiai atau guru.

Dalam tradisi ini, jamaah tidak sekadar mendengarkan ceramah atau memperoleh penjelasan keagamaan secara umum. Mereka diajak membaca, menelaah, memahami makna setiap kata, mencermati maksud penulis kitab, serta menggali kandungan ilmu yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, di tengah perkembangan zaman dan perubahan pola masyarakat dalam memperoleh pengetahuan agama, tradisi ngaji kitab menghadapi tantangan tersendiri. Kemudahan mengakses ceramah dan informasi keagamaan melalui media digital belum tentu diikuti dengan tumbuhnya kebiasaan membaca, mengkaji, dan mendalami sumber-sumber keilmuan Islam secara sistematis.

Padahal, memahami agama membutuhkan proses belajar yang berkesinambungan, kedalaman referensi, serta bimbingan guru yang memiliki kompetensi keilmuan.

MWC NU Lowokwaru Istiqamah Menjaga Tradisi Ngaji

Semangat menjaga warisan keilmuan para ulama itulah yang terus diupayakan oleh Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Lowokwaru Kota Malang. Melalui pengajian rutin setiap Jumat malam ba'da Isya', MWC NU Lowokwaru berusaha menghidupkan kembali tradisi belajar khas pesantren di tengah kehidupan masyarakat perkotaan.

Pengajian tersebut menghadirkan Prof. KH. Mujab Mashudi, Ph.D. sebagai pengampu kajian dengan kitab Sunan At-Tirmidzi sebagai materi pembelajaran.

Kitab Sunan At-Tirmidzi merupakan salah satu karya monumental Imam Abu Isa Muhammad bin Isa At-Tirmidzi (209–279 H), yang termasuk dalam jajaran Al-Kutub As-Sittah, enam kitab hadis utama dalam tradisi keilmuan Islam Sunni.

Kitab ini memiliki kedudukan penting dalam studi hadis. Selain menghimpun hadis-hadis Rasulullah SAW, Imam At-Tirmidzi juga memberikan perhatian terhadap kualitas hadis, pandangan para ulama, serta keterkaitan hadis dengan berbagai persoalan fikih dan praktik keagamaan.

Melalui kajian kitab tersebut, para Nahdliyin diajak untuk tidak hanya memahami hadis berdasarkan terjemahannya, tetapi juga menelaah kandungan, konteks, dan kedalaman pesan yang disampaikan. Proses pembelajaran dilakukan melalui penjelasan dan pengkajian teks secara langsung, sehingga jamaah dapat mengikuti bagaimana suatu ilmu dipahami melalui referensi yang menjadi rujukan para ulama.

Model pembelajaran seperti ini menjadi bagian penting dari tradisi pesantren. Ilmu tidak hanya ditransfer melalui penjelasan, tetapi juga ditanamkan melalui proses membaca, mendengar, memahami, bertanya, dan berdiskusi bersama guru.

Dari Ngaji Kitab Menuju Tradisi Intelektual Bahtsul Masail

Ada nilai lebih dalam pengajian bersama Prof. KH. Mujab Mashudi, Ph.D. Selain membahas kandungan kitab, beliau juga berbagi ilmu, pengalaman, dan wawasan yang diperoleh dari keterlibatannya dalam berbagai kegiatan keilmuan bersama para kiai, khususnya forum Bahtsul Masail di sejumlah daerah.

Sebagai salah satu anggota tim ahli perumus yang terlibat dalam pembahasan berbagai persoalan keumatan dan diniyah, beliau memiliki pengalaman dalam proses pengkajian dan perumusan jawaban atas persoalan keagamaan yang berkembang di masyarakat.

Pengalaman tersebut menjadi tambahan wawasan yang berharga bagi para jamaah. Mereka tidak hanya mendapatkan pemahaman terhadap kandungan kitab, tetapi juga memperoleh gambaran bagaimana para ulama bekerja melalui proses musyawarah, pendalaman referensi, pertimbangan pendapat, dan pengkajian secara metodologis sebelum merumuskan suatu keputusan keagamaan.

Dalam tradisi Nahdlatul Ulama, Bahtsul Masail merupakan salah satu ruang penting bagi pengembangan pemikiran keislaman. Forum ini mempertemukan para ulama dan ahli untuk membahas berbagai persoalan aktual dengan merujuk pada khazanah keilmuan Islam, khususnya kitab-kitab mu'tabarah serta metodologi pengambilan hukum yang telah diwariskan para ulama.

Dengan demikian, tradisi ngaji kitab dan Bahtsul Masail memiliki hubungan yang saling menguatkan. Ngaji menjadi salah satu fondasi untuk membangun penguasaan literatur dan kedalaman pemahaman agama, sedangkan Bahtsul Masail menjadi ruang penerapan dan pengembangan keilmuan dalam menjawab persoalan kehidupan umat.

Di sinilah pentingnya menjaga budaya ngaji. Sebab, kemampuan memahami persoalan keagamaan tidak lahir secara instan, tetapi melalui proses panjang dalam menuntut ilmu, menguasai referensi, dan berdialog dengan khazanah pemikiran para ulama.

Menjaga Tradisi, Menguatkan Jati Diri Nahdliyin

Apa yang dilakukan MWC NU Lowokwaru bukan sekadar mempertahankan kegiatan pengajian rutin. Lebih dari itu, terdapat ikhtiar untuk menjaga identitas keilmuan Nahdlatul Ulama agar tetap hidup dan berkembang di tengah perubahan zaman.

Tradisi ngaji mengajarkan bahwa memahami agama tidak cukup hanya dengan mendengar potongan penjelasan atau membaca informasi yang beredar. Diperlukan kesungguhan belajar, keterhubungan dengan guru, penguasaan referensi, serta sikap tawadhu dalam menuntut ilmu.

Di tengah masyarakat yang semakin akrab dengan teknologi digital dan informasi serba cepat, budaya ngaji kitab justru perlu mendapatkan ruang yang lebih luas. Teknologi dapat menjadi sarana penyebaran ilmu, tetapi kedalaman pemahaman, keteladanan guru, dan tradisi belajar secara langsung tetap memiliki kedudukan penting dalam pendidikan keagamaan.

Ikhtiar MWC NU Lowokwaru ini sekaligus menjadi pengingat bahwa warisan para ulama tidak cukup hanya diperingati melalui kegiatan seremonial atau dikenang dalam sejarah. Warisan tersebut harus terus dihidupkan melalui kegiatan nyata, salah satunya dengan membuka kembali kitab-kitab yang telah menjadi rujukan keilmuan umat Islam.

Harapannya, pengajian rutin setiap Jumat malam ini tidak hanya menjadi ruang menambah pengetahuan agama bagi jamaah yang hadir, tetapi juga menumbuhkan kecintaan terhadap ilmu, tradisi pesantren, dan perjuangan para ulama dalam mendidik umat.

Sebab, menjaga tradisi bukan berarti menolak perubahan zaman. Justru dengan memiliki akar keilmuan yang kuat, Nahdliyin dapat menghadapi perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri dan pijakan keagamaannya.

Ngaji bukan sekadar mendengarkan ceramah. Ngaji adalah proses belajar memahami, menelaah, dan menghidupkan ilmu. Sebab, tradisi para ulama tidak cukup hanya dikenang, tetapi harus terus dipelajari, diamalkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya. (Zain)

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda