HWMI.or.id

Tuesday, 27 July 2021

Sesalkan Provokasi Agenda Politik, Ketum PBNU: Saatnya Bergandengan Tangan

Sesalkan Provokasi Agenda Politik, Ketum PBNU: Saatnya Bergandengan Tangan

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Said Aqil Siroj menyesalkan provokasi dan upaya sekelompok orang yang memiliki agenda politik di saat negara sedang kesulitan menghadapi pandemi. Karena itu, PBNU mendukung pemerintah untuk terus mengatasi pandemi Covid 19 dengan segala daya dan upaya.

Demikian ditegaskan Kiai Said dalam dialog bersama Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD.

“Sekarang saatnya bergandengan tangan, partai pendukung, oposisi, masyarakat manapun, harus bergandengan tangan. Jangan sampai malah ini dibikin kesempatan untuk tujuan target politik. Tidak etis, tidak berakhlak, tidak bermoral orang yang melakukan agenda politik di saat gawat seperti ini” ujar Kiai Said pada sesi dialog dalam pertemuan virtual Menko Polhukam dengan PBNU Senin sore (26/7/2021).

Di lansir dari dakwahnu.id, Pertemuan silaturahmi ini diselenggarakan oleh Kemenko Polhukam untuk membahas kesepahaman dan kerja sama dengan ormas dalam penanganan pandemi Covid-19. Kiai Said juga mengajak masayarakat untuk satu barisan menolong masyarakat yang terdampak Covid.

“Dalam Islam dikatakan ada Hifdzun-Nafs, ada Hifdzun Maal. Yaitu bagaimana menyelamatkan jiwa dulu, baru ekonomi. Yang paling penting jiwa dulu. Nyawa dulu, Kesehatan dulu. Dengan sekuat tenaga” ujar Kiai Said.

Hadir dalam pertemuan online tersebut, Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siradj, Sekretaris Jenderal PBNU, Helmy Faishal Zaini dan jajaran pengurus. Sementara dari Kemenko Polhukam, Menko Mahfud hadir beserta Sesmenko, para Deputi, para Staf Ahli dan para Staf Khusus. (red)

(Hwmi Online)

Bom Lontong Milik Anggota MIT Yang Tewas Berdaya Ledak Tinggi

Bom Lontong Milik Anggota MIT Yang Tewas Berdaya Ledak Tinggi

Polisi menyebut bom lontong milik terduga teroris kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) bernama Budirman alias Abu Alim alias Hanif alias Ambo memiliki daya ledak tinggi. Hal itu diketahui dari pengujian kekuatan bahan ledak yang dilakukan oleh Detasemen Gegana Satbrimobda Polda Sulteng pada Sabtu (24/7/2021).

“Serbuk yang ditemukan dalam bom lontong adalah bahan peledak dengan jenis high eksplosif atau berdaya ledak tinggi, di mana dalam radius 30 meter apabila paku atau gotri tersebut mengenai orang bisa mematikan dan radius 50 meter dapat melukai orang,” kata Wakasatgas Humas Madago Raya AKBP Bronto Budiyono.

Sebelum dilakukan pengujian, kata Bronto, tim gegana lebih dulu mengurai bom lontong tersebut dan ditemukan sejumlah bahan peledak.

Unsur bahan peledak dan material didalam bom lontong itu berupa detonator, serbuk warna coklat yang diduga bahan peledak, 29 biji paku panjang 4 cm kondisi berkarat, serta 60 butir gotri serta lakban.

Disampaikan Bronto, selain untuk mengetahui daya ledak bom lontong, pengujian itu dilakukan sebagai salah satu proses dari rangkaian penyelidikan.

“Untuk melengkapi langkah-langkah penyelidikan atau penyidikan dalam rangka penegakan hukum tindak pidana terorisme,” ujarnya.

Diketahui, pada Sabtu (17/7/2021) lalu, Satgas Madago Raya menembak mati seorang anggota kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Qatar alias Farel alias Anas.

Dari hasil identifikasi, identitas terduga teroris itu adalah Budirman alias Abu Alim alias Hanif alias Ambo. Ia diketahui telah masuk dalam Daftar Pencarian Orang Detasemen Khusus 88 Antiteror sejak 2015.

Abu Alim juga disebut telah menjadi anggota Jamaah Ansharut Tauhid sejak 2012. Ia juga diketahui pernah mengajak Na’e alias Galuh untuk ke Poso bergabung dengan asykari yang dipimpin oleh Santoso alias Waluyo alias Abu Wardah.

Sementara Na’e diduga terlibat dengan peledakan bom di Pondok Pesantren Umar Bin Khattab, Desa Sanolo, Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima 11 Juli 2011

(Hwmi Online)

3 Anggapan Muslim Abad Pertengahan Tentang Wabah Black Death, Termasuk Berasal dari Jin

3 Anggapan Muslim Abad Pertengahan Tentang Wabah Black Death, Termasuk Berasal dari Jin

Oleh: Rudy Fachruddin

Abad pertengahan merupakan salah satu sejarah kelam. Masa-masa itu pernah terjadi wabah Black Death dan belum ada epidemiologi yang akurat untuk mencegah dan mengobatinya. Presepsi masyarakat yang muncul malah bermacam-macam.

Mengutip dari islami.co Yuval Noah Harari (dalam bagian awal bukunya Homo Deus: Masa Depan Umat manusia) menyebut Wabah penyakit sebagai satu dari tiga faktor yang berada di puncak mimpi buruk umat manusia, di samping perang dan kelaparan. Lain halnya dengan dua faktor lain, yang telah lebih dapat dikendalikan dan dicegah, wabah penyakit adalah tragedi yang paling sulit diatasi, bahkan untuk sekedar dipahami dan diprediksi.

Satu dari pandemi wabah paling dahsyat yang pernah terjadi di muka bumi adalah wabah Black Death atau maut hitam. Wabah sampar ini menyeruak pertama kali di Eropa, membunuh hingga 200 juta orang. Wabah ini begitu mengerikan, sesuai namanya, ia membuat kulit-kulit di bagian tubuh penderitanya menghitam akibat jaringan-jaringan di bawahnya mati.

Wabah ini juga menyebar ke beberapa kawasan Islam khususnya wilayah Afrika Utara dan Asia Barat. Selain dipandang dari efeknya yang dahsyat, wabah tersebut juga dihadapi manusia dengan bekal yang begitu terbatas. Pemahaman mereka terhadap wabah dan epidemiologi masih amat dangkal. Akhirnya respon terhadap wabah Black Death, baik di Eropa maupun di Asia, menjadi isu yang penting. Bagaimana ia menjadi pelajaran untuk menghadapi pandemi yang sedang dan akan terus terjadi.


Pemahaman Masyarakat tentang Hakikat Wabah

Joseph A. Legan (dalam sebuah jurnal yang diterbitkan oleh James Madison University: The Medical Responses to The Black Death, hlm. 36), menyatakan ada tiga cara pandang yang dominan di kalangan masyarakat islam kala itu, dalam melihat kemunculan wabah yaitu: (1) wabah merupakan proses penghapus dosa dan penyebab kesyahidan (meninggal dalam keadaan mulia), (2) seseorang tidak boleh keluar-masuk dari area yang menjadi penyebaran wabah, (3) dan tidak ada penularan dari penyakit karena ia semata-mata datang dari Allah.

Tiga prinsip yang menjadi arus utama ini merupakan pengaruh dari pemahaman hadis-hadis Nabi Muhammad SAW. Lihat Bukhari, No.3473 dan 2221.

Cara pandang terhadap merebaknya wabah dalam bingkai teks-teks keagamaan memang sangat dominan. Arus pemahaman semacam ini dapat disaksikan dalam karya tulis Ibn Hajar Al-‘Asqalani berjudul Bazlul Mal’un fi fadhli Tha’un. Al-‘Asqalani merupakan salah seorang ulama besar yang hidup dan menyaksikan tragedi tersebut saat di Mesir. Dalam bukunya, Al-‘Asqalani turut membahas hakikat wabah sebagai hukuman kepada orang kafir dan keterlibatan jin dan setan dalam penyebarannya.

Tiga sudut pandang ini begitu mempengaruhi opini dan sikap umat islam terhadap peristiwa wabah tersebut. pandangan bahwa wabah sebagai bentuk hukuman bagi orang kafir, dan kasih sayang (di tambah pemberian status syahid bagi korban meninggal) untuk orang beriman memberi suatu efek ketenangan bagi masyarakat, dalam menghadapi bencana mengerikan (yang juga hanya dapat disikapi dengan cara yang mengerikan pula).

Larangan bepergian dari dan menuju kawasan yang telah dihinggapi wabah black death juga turut memberikan peran, meski larangan ini tidak ditaati sepenuhnya. Ada banyak bukti yang menunjukkan arus perpindahan penduduk cukup tinggi selama masa wabah, khususnya arus urbanisasi. Banyak orang di pedesaan yang kemudian lari menuju kota-kota besar.


Hal ini dipengaruhi oleh banyak sebab. Pertama, ketersediaan dan akses terhadap makanan dan gaji (setelah wabah berlangsung bertahun-tahun dan menyebabkan guncangan ekonomi), di daerah perkotaan yang lebih bisa diharapkan. Kedua, daerah perkotaan memiliki bangunan masjid-mesjid besar, yang diyakini sebagai tempat suci, dan juga mengadakan acara seremonial keagamaan yang dipercaya dapat memberikan proteksi yang lebih “menjanjikan” dari wabah. (lihat: Michael W. Dols: The Comparative Communal Responses to The Black Death in Muslim and Christian Societies, hlm.9).

Prinsip ketiga bahwa wabah penyakit tidak menular dari satu orang ke orang lain, juga menimbulkan efek yang sangat reaktif. (sama halnya dengan prinsip pertama) ia memberi sedikit rasa ketenangan bagi masyarakat. Namun, sebagian Intelektual Muslim juga menolak keras hal ini. Mereka secara tegas menyatakan transmisi wabah justru berasal dari penularan dari satu orang ke orang lain. Hal ini sekaligus menjadi kritik terhadap bentuk interpretasi hadis-hadis yang berkaitan dengan masalah ini.

Di antara penolakan bahwa wabah penyakit, termasuk black death tidak menular berasal dari Lisanuddin Ibnul Khathib (1313-1374) seorang penyair, penulis, ahli hukum, dokter di Andalusia. Beliau menulis satu kitab berjudul Muqni’at As-Sai’l ‘An Al-Mardh Al-Hai’l yang berarti “berbagai pertanyaan terkait penyakit yang mengerikan”. Dalam bukunya, beliau mengkritik banyak keyakinan tentang wabah yang diyakini umat Islam, berbagai anggapan yang berbasis dari ajaran agama, atau setidaknya interpretasi terhadap teks-teks agama.

Sayangnya apa yang dilakukan oleh Ibnul Khathib di masa itu justru berakibat buruk terhadap dirinya sendiri. Ia mengalami banyak persekusi, tuduhan-tuduhan anti agama hingga ateis. Ibnul Khathib sendiri kemudian tewas terbunuh. Pembunuhan beliau dilatarbelakangi oleh banyak motif kebencian yang sudah menumpuk pada diri beliau, mulai diri motif politik, hingga kebencian kaum radikal. (lihat Az-Zirikli, Al-A’lam VI:hlm.235. Ibn Khalliqan, Syazaratuz Zahab I:hlm 69. Ibn Khaldun, Tarikhul Barbar, hlm 70).

(Hwmi Online)

PBNU: Presiden Tidak Bisa Dijatuhkan Karena Alasan Penanganan Covid-19

PBNU: Presiden Tidak Bisa Dijatuhkan Karena Alasan Penanganan Covid-19

Menyusul munculnya provokasi di media sosial yang menggalang aksi demo memprotes kepemimpinan Jokowi, Ketua Umum PBNU menegaskan Presiden Jokowi tidak bisa dijatuhkan karena alasan penanganan Covid 19. Alasannya, Presiden tidak melakukan pelanggaran hukum dan terbukti justru berusaha keras mengatasi pandemi covid-19.

"Kami warga NU sudah punya pengalaman sangat pahit, ketika punya presiden Gus Dur, dilengserkan di tengah jalan tanpa kesalahan pelanggaran hukum yang jelas” ujar Ketua Umum PBNU, KH. Said Aqil Siradj saat menghadiri dialog virtual bersama Menko Polhukam, Mahfud MD terkait penanganan Covid-19, Senin (26/7).


KH. Said Aqil Siradj menegaskan, warga NU tidak akan melengserkan pemerintahan di tengah jalan tanpa kesalahan pelanggaran hukum yang jelas.

“Pelengseran Gus Dur itu jadi catatan yang sangat pahit bagi warga NU yang tidak mungkin warga NU akan melakukan itu. Itu pelajaran bagi kita, kita tidak akan melakukan seperti itu, kecuali kalau ada pelanggaran jelas melanggar Pancasila dan sebagainya," ujar Kyai Said, sapaan akrab Ketua Umum PBNU ini.

Menurutnya, saat ini sudah mulai muncul gerakan politik yang tergetnya mengganggu keberlangsungan pemerintahan pak Jokowi dan menteri-menterinya.

"Sekarang ini sudah mulai ada Gerakan yang berbau politis, targetnya minimal merecoki, ganggu, keberlangsungan pemerintahan pak Jokowi dan Menteri-menterinya, yang sebenarnya mereka tahu tidak mudah karena kita system presidensial bukan parlementer, tapi minimal mereka bikin repot supaya gagal program-programnya," tegas Kyai Said.

Menanggapi hal itu, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD, membenarkan bahwa Presiden Jokowi tidak bisa dijatukan karena alasan Covid 19 karena tidak ada pelanggaran hukum yang dilakukan.

"Sama, pemerintah juga punya keyakinan, kalau pemerintah insyaallah sekarang ini tidak bisa dijatukan karena alasan covid 19, karena tidak ada pelanggaran hukum yang dilakukan. Dan ternyata NU juga berpandangan demikian," papar Mahfud.

Dalam dialog yang berlangsung khidmat ini, Kyai Said menambahkan, kasus korupsi bantuan sosial Covid-19 yang sempat menerpa salah satu menteri Presiden Jokowi beberapa waktu lalu, harus diakui berdampak terhadap memudarnya kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.

"Betapa berat beban pemerintah, saya ngerti, saya tahu, tapi betapa sakitnya rakyat juga Ketika Bansos di korupsi. Ketika seorang Menteri tega-teganya korupsi Bansos wabah ini, masyaallah ini merupakan tamparan yang sangat menyakitkan sekali. Yang sebenarnya pemerintah harus peduli bagaimana meringankan beban masyarakat yang sedang terpapar Covid, malah bansos di korupsi," keluh Kyai Said.

Dalam situasi pandemi Covid 19 ini, Menko Polhukam mengajak seluruh tokoh-tokoh agama dan ormas keagamaan, terutama PBNU bersama-sama memberikan kesadaran kepada umat, bahwa covid adalah nyata dan perlu dihadapi dengan menjalankan protokol kesehatan yang ketat, serta mengikuti vaksinasi.

"Alhamdulillah PBNU sudah membentuk Satgas Covid, intelektualnya sudah ikut berbicara dan berkiprah. Nanti kita akan perkuat ini. Akan Diusahakan untuk bisa Herd Immunity sehingga mencapai 70 persen. Mari kita hitung sama-sama. Usulan-usulannya sudah kami catat," ujar Mahfud MD.

Hadir dalam dialog virtual ini, Menko Polhukam Mahfud MD didampingi seluruh pejabat eselon yakni para deputi, staf ahli dan staf khusus. Sementara Ketum PBNU didampingi Sekjen Helmy Faishal, Wakil Sekjen, dan Ketua PBNU, Robikin Emhas

Sumber: Okezone.com

(Hwmi Online)

Monday, 26 July 2021

Kisah Seorang Gus Dur: Orde Baru Tumbang, Tapi Negeri Ini sakit Keras

KISAH SEORANG BERNAMA GUS DUR 

Oleh : Nurcholish

Di akhir tahun 1998 Gus Dur rawuh (datang) di Wonosobo. Saat itu sedang ramainya era reformasi, beberapa bulan setelah Pak Harto jatuh. Dan ini terjadi beberapa bulan sebelum Gus Dur menjadi orang nomer satu di Negeri ini. Beliau masih menjabat sebagai Ketua PBNU.

Bertempat di Gedung PCNU Wonosobo, Gus Dur mengadakan pertemuan dengan pengurus NU dari Wonosobo, Banjarnegara, Pubalingga, Kebumen, Temanggung dan Magelang. Tentu saja semua kiai ingin tahu pendapat Gus Dur tentang situasi politik terbaru. Penulis hadir di situ walaupun bukan kiai, dan duduk persis di depan Gus Dur. Penulis lah yang menuntun Gus Dur menaiki Lantai 2 PCNU Wonosobo.

“Pripun Gus situasi politik terbaru?” tanya seorang kiai.

“Orde Baru tumbang, tapi Negeri ini sakit keras.” kata Gus Dur.

“Kok bisa Gus?”


“Ya bisa, wong yang menumbangkan Orde Baru pakainya emosi dan ambisi tanpa perencanaan yang jelas. Setelah tumbang mereka bingung mau apa, sehingga arah reformasi gak genah. Bahkan Negeri ini di ambang kehancuran, di ambang perang saudara. Arah politik Negeri ini sedang menggiring Negeri ini ke pinggir jurang kehancuran dan separatisme. Lihat saja, baru berapa bulan Orde Reformasi berjalan, kita sudah kehilangan propinsi ke-27 kita, yaitu Timor Timur.” kata Gus Dur.

Kiai tersebut sebagaimana biasa, kalau belum mulai bicara. Pak Habibi, kita semua akan merasa kasihan dengan sikap Gus Dur yang datar dan seperti capek sekali dan seperti aras-arasen bicara. Tapi kalau sudah mulai, luar biasa memikat dan ruangan jadi sepi kayak kuburan, tak ada bunyi apapun selain pangendikan Gus Dur.

Seorang kiai penasaran dengan calon presiden devinitif pengganti Pak Habibi yang hanya menjabat sementara sampai sidang MPR. Ia bertanya: “Gus, terus siapa yang paling pas jadi Presiden nanti Gus?”

“Ya saya, hehehe…” kata Gus Dur datar.

Semua orang kaget dan menyangka Gus Dur guyon seperti biasanya yang memang suka guyon.

“Yang bisa jadi presiden di masa seperti ini ya hanya saya kalau Indonesia gak pingin hancur. Dan saya sudah dikabari kalau-kalau saya mau jadi presidan walau sebentar hehehe...” kata Gus Dur mantab.

“Siapa yang ngabari dan yang nyuruh Gus?” tanya seorang kiai.

“Gak usah tahu. Orang NU tugasnya yakin saja bahwa nanti presidennya pasti dari NU,” kata Gus Dur masih datar seperti guyon.


Orang yang hadir di ruangan itu bingung antara yakin dan tidak yakin mengingat kondisi fisik Gus Dur yang demikian. Ditambah lagi masih ada stok orang yang secara fisik lebih sehat dan berambisi jadi presiden, yaitu Amin Rais dan Megawati. Tapi tidak ada yang berani mengejar pertanyaan tentang presiden RI.

Kemudian Gus Dur menyambung: “Indonesia dalam masa menuju kehancuran. Separatisme sangat membahayakan. Bukan separatismenya yang membahayakan, tapi yang memback up di belakangnya. Negara-negara Barat ingin Indonesia hancur menjadi Indonesia Serikat, maka mereka melatih para pemberontak, membiayai untuk kemudian meminta merdeka seperti Timor Timur yang dimotori Australia.”

Sejenak sang Kiai tertegun. Dan sambil membenarkan letak kacamatanya ia melanjutkan: “Tidak ada orang kita yang sadar bahaya ini. Mereka hanya pada ingin menguasai Negeri ini saja tanpa perduli apakah Negeri ini cerai-berai atau tidak. Maka saya harus jadi presiden, agar bisa memutus mata rantai konspirasi pecah-belah Indonesia. Saya tahu betul mata rantai konspirasi itu. RMS dibantu berapa Negara, Irian Barat siapa yang back up, GAM siapa yang ngojok-ojoki, dan saya dengar beberapa propinsi sudah siap mengajukan memorandum. Ini sangat berbahaya.”

Kemudiaan ia menarik nafas panjang dan melanjutkan: “Saya mau jadi presiden. Tetapi peran saya bukan sebagai pemadam api. Saya akan jadi pencegah kebakaran dan bukan pemadam kebakaran. Kalau saya jadi pemadam setelah api membakar Negeri ini, maka pasti sudah banyak korban. Akan makin sulit. Tapi kalau jadi pencegah kebakaran, hampir pasti gak akan ada orang yang menghargainya. Maka, mungkin kalaupun jadi presiden saya gak akan lama, karena mereka akan salah memahami langakah saya.”


Seakan mengerti raut wajah bingung para kiai yang menyimak, Gus Dur pun kembali selorohkan pemikirannya. “Jelasnya begini, tak kasih gambaran,” kata Gus Dur menegaskan setelah melihat semua hadirin tidak mudeng dan agak bingung dengan tamsil Gus Dur.

“Begini, suara langit mengatakan bahwa sebuah rumah akan terbakar. Ada dua pilihan, kalau mau jadi pahlawan maka biarkan rumah ini terbakar dulu lalu datang membawa pemadam. Maka semua orang akan menganggap kita pahlawan. Tapi sayang sudah terlanjur gosong dan mungkin banyak yang mati, juga rumahnya sudah jadi jelek. Kita jadi pahlawan pemyelamat yang dielu-elukan.”

Kemudian lanjutnya: “Kedua, preventif. Suara langit sama, rumah itu mau terbakar. Penyebabnya tentu saja api. Ndilalah jam sekian akan ada orang naruh jerigen bensin di sebuah tempat. Ndilalah angin membawa sampah dan ranggas ke tempat itu. Ndilallah pada jam tertentu akan ada orang lewat situ. Ndilalah dia rokoknya habis pas dekat rumah itu. Ndilalalah dia tangan kanannya yang lega. Terus membuang puntung rokok ke arah kanan dimana ada tumpukan sampah kering.”

Lalu ia sedikit memajukan duduknya, sambil menukas: “Lalu ceritanya kalau dirangkai jadi begini; ada orang lewat dekat rumah, lalu membuang puntung rokok, puntung rokok kena angin sehingga menyalakan sampah kering, api di sampah kering membesar lalu menyambar jerigen bensin yang baru tadi ditaruh di situ dan terbakarlah rumah itu.”

“Suara langit ini hampir bisa dibilang pasti, tapi semua ada sebab-musabab. Kalau sebab di cegah maka musabab tidak akan terjadi. Kalau seseorang melihat rumah terbakar lalu ambil ember dan air lalu disiram sehingga tidak meluas maka dia akan jadi pahlawan. Tapi kalau seorang yang waskito, yang tahu akan sebab-musabab, dia akan menghadang orang yang mau menaruh jerigen bensin, atau menghadang orang yang merokok agar tidak lewat situ, atau gak buang puntung rokok di situ sehingga sababun kebakaran tidak terjadi.”


Sejenak semua jamaah mangguk-mangguk. Kemudian Gus Dur melanjutkan: “Tapi nanti yang terjadi adalah, orang yang membawa jerigen akan marah ketika kita cegah dia naruh jerigen bensin di situ: “Apa urusan kamu, ini rumahku, bebas dong aku naruh di mana?” Pasti itu yang akan dikatakan orang itu.”

“Lalu misal ia memilih menghadang orang yang mau buang puntung rokok agar gak usah lewat situ, Kita bilang: “Mas, tolong jangan lewat sini dan jangan merokok. Karena nanti Panjenengan akan menjadi penyebab kebakaran rumah itu.” Apa kata dia: “Dasar orang gila, apa hubungannya aku merokok dengan rumah terbakar? Lagian mana rumah terbakar?! Ada-ada saja orang gila ini. Minggir! saya mau lewat.”

Kini makin jelas arah pembicaraannya dan semua yang hadir makin khusyuk menyimak. “Nah, ini peran yang harus diambil NU saat ini. Suara langit sudah jelas, Negeri ini atau rumah ini akan terbakar dan harus dicegah penyebabnya. Tapi resikonya kita tidak akan popular, tapi rumah itu selamat. Tak ada selain NU yang berpikir ke sana. Mereka lebih memilih: “Biar saja rumah terbakar asal aku jadi penguasanya, biar rumah besar itu tinggal sedikit asal nanti aku jadi pahlawan maka masyarakat akan memilihku jadi presiden.”

“Poro Kiai ingkang kinormatan.” kata Gus Dur kemudian. “Kita yang akan jadi presiden, itu kata suara langit. Kita gak usah mikir bagaimana caranya. Percaya saja, titik. Dan tugas kita adalah mencegah orang buang puntung rokok dan mencegah orang yang kan menaruh bensin. Padahal itu banyak sekali dan ada di banyak negara. Dan pekerjaan itu secara dzahir sangat tidak popular, seperti ndingini kerso. Tapi harus kita ambil. Waktu yang singkat dalam masa itu nanti, kita gak akan ngurusi dalam Negeri.”


“Kita harus memutus mata rantai pemberontakan Gerakan Aceh Merdeka di Swiss, kita harus temui Hasan Tiro. Tak cukup Hasan Tiro, presiden dan pimpinan-pimpinan negara yang simpati padanya harus didekati. Butuh waktu lama,” lanjut Gus Dur.

“Belum lagi separatis RMS (Republik Maluku Sarani) yang bermarkas di Belanda, harus ada loby ke negara itu agar tak mendukung RMS. Juga negara lain yang punya kepentingan di Maluku,” kata Gus Dur kemudian.

“Juga separatis Irian Barat Papua Merdeka, yang saya tahu binaan Amerika. Saya tahu anggota senat yang jadi penyokong Papua Merdeka, mereka membiayai gerakan separatis itu. Asal tahu saja, yang menyerang warga Amerika dan Australia di sana adalah desain mereka sendiri.”

Kemudian Gus Dur menarik nafas berat, sebelum melanjutkan perkataan berikutnya. “Ini yang paling sulit, karena pusatnya di Israel. Maka, selain Amerika saya harus masuk Israel juga. Padahal waktu saya sangat singkat. Jadi mohon para kiai dan santri banyak istighatsah nanti agar tugas kita ini bisa tercapai. Jangan tangisi apapun yang terjadi nanti, karena kita memilih jadi pencegah yang tidak populer. Yang dalam Negeri akan diantemi sana-sini.”


Sekonyong beliau berdiri, lalu menegaskan perkataan terakhirnya: “NKRI bagi NU adalah Harga Mati!”

“Saya harus pamit karena saya ditunggu pertemuan dengan para pendeta di Jakarta, untuk membicarakan masa depan negara ini. Wasalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh...” tutup Gus Dur.

Tanpa memperpanjang dialog, Gus Dur langsung pamit. Kita bubar dengan benak yang campur-aduk, antara percaya dan tidak percaya dengan visi Gus Dur. Antara realitas dan idealitas, bahwa Gus Dur dengan sangat tegas di hadapan banyak kiai bahwa dialah yang akan jadi presiden. Terngiang-ngiang di telinga kami dengan seribu tanda tanya.

Menghitung peta politik, rasanya gak mungkin. Yang terkuat saat itu adalah PDIP yang punya calon mencorong Megawati putri presiden pertama RI yang menemukan momentnya. Kedua, masih ada Partai Golkar yang juga Akbar Tanjung siap jadi presiden. Di kelompok Islam modern ada Amien Rais yang juga layak jadi presiden, dan dia dianggap sebagian orang sebagai pelopor Reformasi.


Maka kami hanya berpikir bahwa, rasional gak rasional, percoyo gak percoyo ya percoyo aja apa yang disampaikan Gus Dur tadi. Juga tentang tamsil rumah tebakar tadi. Sebagian besar hadirin agak bingung walau mantuk-mantuk karena gak melihat korelasinya NU dengan jaringan luar negeri.

Sekitar 3 bulan kemudian, Subhanallah… safari ke luar ternyata Gus Dur benar-benar jadi Presiden. Dan Gus Dur juga benar-benar bersafari ke luar negeri seakan maniak plesiran. Semua negara yang disebutkan di PCNU Wonosobo itu benar-benar dikunjungi. Dan reaksi dalam negeri juga persis dugaan Gus Dur saat itu bahwa Gus Dur dianggap foya-foya, menghamburkan duit negara untuk plesiran. Yang dalam jangka waktu beberapa bulan sampai 170 kali lawatan. Luar biasa dengan fisik yang (maaf) begitu, demi untuk sebuah keutuhan NKRI.

Pernah suatu ketika Gus Dur lawatan ke Paris (kalau kami tahu maksudnya kenapa ke Paris). Dalam negeri, para pengamat politik dan politikus mengatakan kalau Gus Dur memakai aji mumpung. Mumpung jadi presiden pelesiran menikmati tempat-tempat indah dunia dengan fasilitas negara.

Apa jawab Gus Dur: “Biar saja, wong namanya wong ora mudeng atau ora seneng. Bagaimana bisa dibilang plesiran wong di Paris dan di Jakarta sama saja, gelap gak lihat apa-apa, koq dibilang plesiran. Biar saja, gitu aja koq repot!”


Masih sangat teringat bahwa pengamat politik yang paling miring mengomentrai lawatan Gus Dur sampai masa Gus Dur lengser adalah Alfian Andi Malarangeng, mantan Menpora. Tentu warga NU gak akan lupa sakit hatinya mendengar ulasan dia. Sekarang terimalah balasan dari Tuhan.

Satu-satunya pengamat politik yang fair melihat sikap Gus Dur, ini sekaligus sebagai apresiasi kami warga NU, adalah Hermawan Sulistyo, atau sering dipanggil Mas Kiki. terimakasih Mas Kiki.

Kembali ke topik. Ternyata orang yang paling mengenal sepak terjang Gus Dur adalah justru dari luar Islam sendiri. Kristen, Tionghoa, Hindu, Budha dll. mereka tahu apa yang akan dilakukan Gus Dur untuk NKRI ini. Negeri ini tetap utuh minus Timor Timur karena jasa Gus Dur. Beliau tanpa memikirkan kesehatan diri, tanpa memikirkan popularitas, berkejaran dengan sang waktu untuk mencegah kebakaran rumah besar Indonesia.

Dengan resiko dimusuhi dalam negeri, dihujat oleh separatis Islam dan golongan Islam lainnya, Gus Dur tidak perduli apapun demi NKRI tetap utuh. Diturunkan dari kursi presiden juga gak masalah bagi beliau walau dengan tuduhan yang dibuat-buat. Silakan dikroscek data ini. Lihat kembali keadaan beberapa tahun silam era reformasi baru berjalan, beliau sama sekali gak butuh gelar “Pahlawan".

***

Keterangan Foto :

Dari kiri; Gus Dur, KH.  Abdullah Faqih Langitan- Tuban, KH.  Muhaiminan Gunardo Parakan- Temanggung.

Lahumul Fatihah...

(Hwmi Online)

Seekor Lebah Bersholawat Kepada Nabi SAW.

 


Suatu saat Rasulullah Saw sedang duduk bersama Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA di swtu kebun.

Di atas kepala mereka ada lebah yang mengeluarkan suara khasnya, Mendengarnya Rasul tersenyum & bertanya pada Sayyidina Ali :

“Wahai Ali, tahukah engkau apa yang dikatakan lebah ini?”

Ali : “Tidak, wahai Rasulullah.”

Sang Lebah berkata kepadaku : “Wahai Rasulullah, aku telah sisipkan sedikit madu untukmu. Aku ingin hari ini engkau menjadi tamuku. Perintahkan Ali untuk mengambil madu itu ditempatnya.”

Rasulullah : “Wahai Ali, ambillah madu itu, lebah ini ingin kita menjadi tamunya hari ini.”

Kemudian Rasulullah bertanya pada lebah : “Kau menghinggapi bermacam bunga, tapi mengapa madu yang kau hasilkan begitu manis dan berkhasiat”

Lebah itu menjawab : “Ya Rasulullah, setiap kami mendekati bunga, Allah SWT mengilhamkan pada kami untuk bersholawat kepadamu. Dan karena sholawat itu, terjadilah apa yg terjadi pada madu yang kami keluarkan (menjadi manis dan berkhasiat).”

Subhanallah....

ﺍَﻟﻠﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠَﻰ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻝِ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ

Arwah Mengenali Kita

 


Tiap saya memberi pelatihan perawatan jenazah di Kota Surabaya selalu saya ingatkan kepada para Modin agar mengajak keluarga almarhum saat memandikan, mengafani hingga menguburkan, kecuali jika keluarga tersebut tidak ada yang bisa sama sekali. Pengecualian juga bila jenazah mengidap penyakit menular, maka hendaknya ditangani oleh petugas dan ada keluarga yang ikut serta agar tidak salah paham.

Saat umi saya wafatpun, Alhamdulillah, anak-anaknya dan menantunya yang memulasari jenazahnya. Termasuk saat memasukkan ke liang lahat, di bawah ada saya, kakak dan adik saya.

ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﺳﻌﻴﺪ اﻟﺨﺪﺭﻱ: ﺃﻥ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ: " ﺇﻥ اﻟﻤﻴﺖ ﻳﻌﺮﻑ ﻣﻦ ﻳﺤﻤﻠﻪ ﻭﻣﻦ ﻳﻐﺴﻠﻪ، ﻭﻣﻦ ﻳﺪﻟﻴﻪ ﻓﻲ ﻗﺒﺮﻩ " 

Dari Abu Sa'id Al Khudri bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: "Sungguh mayit tahu orang yang memikulnya, yang memandikan dan memasukkannya ke dalam kuburnya" (HR Ahmad, Thabrani dan Ibnu Abi Dunya).

Hadis ini dinilai dhaif oleh para Al-Hafidz di bidang hadis. Tapi menurut Syekh As-Sindi ada hadis Sahih yang menjadi Syahid (penguat eksternal), yaitu:

 ﻛﺎﻥ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻳﻘﻮﻝ: " ﺇﺫا ﻭﺿﻌﺖ اﻟﺠﻨﺎﺯﺓ، ﻓﺎﺣﺘﻤﻠﻬﺎ اﻟﺮﺟﺎﻝ ﻋﻠﻰ ﺃﻋﻨﺎﻗﻬﻢ، ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻧﺖ ﺻﺎﻟﺤﺔ ﻗﺎﻟﺖ: ﻗﺪﻣﻮﻧﻲ، ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻧﺖ ﻏﻴﺮ ﺻﺎﻟﺤﺔ ﻗﺎﻟﺖ ﻷﻫﻠﻬﺎ: ﻳﺎ ﻭﻳﻠﻬﺎ ﺃﻳﻦ ﻳﺬﻫﺒﻮﻥ ﺑﻬﺎ "

Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda: "bila jenazah sudah diletakkan lalu digotong oleh para lelaki, jika dia jenazah yang baik maka dia berkata: "Segeralah hantar aku". Bila jenazah tidak baik dia berkata kepada KELUARGANYA: "Celaka, mereka bawa kemana jenazahku" (HR Bukhari)

Juga ada atsar / riwayat dari Tabiin:

ﻗﺎﻝ ﻣﺠﺎﻫﺪ «ﺇﺫا ﻣﺎﺕ اﻟﻤﻴﺖ ﻓﻤﻠﻚ ﻗﺎﺑﺾ ﻧﻔﺴﻪ ﻓﻤﺎ ﻣﻦ ﺷﻲء ﺇﻻ ﻭﻫﻮ ﻳﺮاﻩ ﻋﻨﺪ ﻏﺴﻠﻪ ﻭﻋﻨﺪ ﺣﻤﻠﻪ ﺣﺘﻰ ﻳﺼﻴﺮ ﺇﻟﻰ ﻗﺒﺮﻩ»

Mujahid berkata: "Jika ada orang wafat maka malaikat memegang ruhnya. Ruh tersebut dapat melihat apapun saat dimandikan, dipikul hingga sampai ke kuburnya" (Ibnu Abi Dunya)

Saat Ziarah

Setelah dimakamkan para arwah di alam kubur juga masih mengenali para peziarah. Al-Hafidz As-Suyuthi mengutip dari murid Syekh Ibnu Taimiyah:

ﻭﻗﺎﻝ ﺇﺑﻦ اﻟﻘﻴﻢ اﻷﺣﺎﺩﻳﺚ ﻭاﻵﺛﺎﺭ ﺗﺪﻝ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ اﻟﺰاﺋﺮ ﻣﺘﻰ ﺟﺎء ﻋﻠﻢ ﺑﻪ اﻟﻤﺰﻭﺭ ﻭﺳﻤﻊ ﻛﻼﻣﻪ ﻭﺃﻧﺲ ﺑﻪ ﻭﺭﺩ ﺳﻼﻣﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﻫﺬا ﻋﺎﻡ ﻓﻲ ﺣﻖ اﻟﺸﻬﺪاء ﻭﻏﻴﺮﻫﻢ 

Ibnu Qayyim berkata: Dalil-dalil hadis atau atsar riwayat Sabahat dan Tabiin menunjukkan bahwa peziarah saat datang ke kubur, maka arwah dapat mengetahui, mendengar ucapannya, senang atas kedatangannya dan menjawab salamnya. Ini berlaku untuk orang yang mati syahid dan lainnya (Syarah Ash-Shudur, 1/221)


KH. Ma'ruf Khozin

#HubbuWathonMinalIman


Nahdlatul Ulama Mendunia (Jepang)

 NU Mendunia (Jepang)

Seperti dalam lambang NU yang ada peta dunia memiliki makna tersirat bahwa ajaran Islam yang diikuti oleh NU dapat diterima di negara manapun, Aswaja Rahmatan Lil Alamin.

Kita lihat contoh dari perkembangan NU di Jepang. Sejak awal 2000 sudah muncul organisasi NU, Prof Dr Agus Zainal Arifin pernah menjadi Rais Syuriah Pengurus Cabang Istimewa NU Jepang. Dilanjutkan oleh Gus Dr Muhammad Abdillah , dan sekarang Gus Dr. Miftakhul Huda , Mas Lutfi Saepul Aziz dan kawan-kawan, telah mendirikan Masjid NU At Taqwa di Highazi Yamata, Kota Koga, Provinsi Ibaraki (Foto di bawah).

Kegiatan di Masjid ini tidak hanya Salat Jumat dan jamaah 5 waktu, ada Yasinan di malam Jumat, Salawatan pakai terbangan hingga menuntun syahadat bagi warga Jepang yang hendak memeluk Islam.

Sumber: KH.Ma'ruf Khozin

(Hwmi Online)


Dua Provokator Demo Tolak PPKM Terancam Dua Tahun Penjara

Dua Provokator Demo Tolak PPKM Terancam Dua Tahun Penjara

Dua terduga provokator demo menolak PPKM yang diamankan Polda Jateng, N dan B, terancam hukuman dua tahun penjara.

Mereka adalah B, seorang laki-laki yang merupakan tukang ojek dan N, seorang perempuan yang di KTP berstatus sebagai mahasiswa. Kedua orang tersebut ditangkap petugas Cyber Crime Polda Jateng di dua tempat yang berbeda di Kota Semarang.

Dikutip dari suaramerdeka-wawasan.com Kabid Humas Polda Jateng, Kombes Pol M Iqbal Alqudusy menyatakan, dua tersangka akan dijerat pasal 15 UU No.1 tahun 1946.

Dimana dalam pasal itu disebutkan barang siapa menyebarkan kabar yang tidak pasti dan kabar tersebut akan dapat memunculkan keonaran di kalangan masyarakat, dapat dihukum penjara selama-lamanya dua tahun.

Untuk diketahui, Polda Jateng mengamankan dua terduga provokator aksi demo menolak PPKM di sejumlah wilayah pada 24 Juli 2021.

Bersama dua tersangka, polisi mengamankan barang bukti handphone dan screenshoot pesan ajakan demo yang berada di grup WA. Selain itu, juga disita rekaman zoom meeting dengan beberapa orang untuk membahas pelaksanaan demo yang akan berlamngsung di sejumlah daerah di Jawa Tengah.

Menurut M Iqbal Alqudusy mereka merencanakan demo di Semarang, Solo, Sukoharjo, Brebes dan Kudus. Bahkan, mereka yang melakukan rapat dalam zoom meeting juga perah bertemu secara darling, untuk menentang kebijakan pemerintah dalam penanganan penyebaran Covid-19.

(Hwmi Online)

Sunday, 25 July 2021

Lupa Kepada Dia Yang Tak Pernah Ada Anonim

 


Sekarang ini banyak akun anonim yang  gemar mencaci-maki. Akun anonim merasa bebas pula memelintir fakta, menggoreng isu dan menebar hoax.  Keluar dari akhlak. 

Mungkin mereka mengira,  melakukan itu karena merasa tak bakal ketahuan. Lupakah mereka  bahwa di mata Tuhan, tak ada yg anonim. Semua tak luput dari catatanNya.

Berbeda itu tidak harus dan tidak boleh menjadi awal permusuhan. Tidak harus berantem, dan tidak harus mencaci. Berbeda itu bisa jadi awal kemenangan bersama. Maka kemudian ada yang disebut win win solution. Jikapun tidak, perbedaan tidak harus berakhir dengan menang-menangan. Otot-ototan. Apalagi kalau jelas salah. Dan anonim pula.

Jika perbedaan melahirkan pertentangan yang keras, biasanya yang lahir dari perkataan dan sikap serta tindakan adalah hal yang menyakitkan bagi lawannya. 

Fenomena sekarang, perbedaan hampir selalu mengabaikan akhlak. Padahal akhlak itu harus di kedepankan pada semua perbedaan, baik perbedaan pendapat, perbedaan madzhab, dan juga perbedaan pilihan politik. 

Rasul mengajarkan bahwa seorang mukmin itu adalah mereka yang selamat dari lisannya (jempolnya). 

Agama sangat mengedepankan akhlak atau adab. Bahkan Rasulullah menyebut bahwa Beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak. 

Daripada terus berantem karena perbedaan, lebih baik kita membiarkan perbedaan itu hal yang wajar dan siap dikritisi dengan tanpa meninggalkan akhlak sekaligis  berusaha memberi kontribusi yang baik pada sesama lewat prestasi dan kreatifitas masing-masing. Jangan memuaskan diri pada caci maki.

Sudah selayaknya kita menciptakan narasi bahwa kita bisa maju bersama dengan menumbuhkan budaya literasi. Adem dan berakhlak kan kalau begitu. Dan kita tetap pada anjuran Nabi. 

Mengenang Wafatnya Hadratusyech KH. Hasyim Asy'ari yang Wafat pada Tanggal 25 Juli 1947


MENGENANG WAFATNYA HADRATUSYECH KH. HASYIM ASY’ARI YANG WAFAT PADA TANGGAL 25 JULI 1947.

Hadratusyech yang artinya “Maha Guru” menjadi gelar yang diberikan khususnya untuk orang yang benar-benar pantas mendapatkannya. Gelar ini berarti satu tingkat  di atas gelar Syeikh

Gelar hadratussyekh tersebut disandang beliau sejak dari Mekkah. Karena selain KH. Hasyim Asyari selain menguasai berbagai disiplin keilmuan Islam secara mendalam, juga hafal kitab-kitab babon hadits dari Kutubus Sittah yang meliputi Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Bukhori Muslim, Sunan Abu Dawud, Turmudzi, Nasa’i, Ibnu Majah.

Dalam hal bermadzhab, beliau memandang sebagai masalah yang fundamental, guna memahami maksud sebenarnya yang terkandung di dalam Al-Qur’an dan Hadits. Sebab tanpa mempelajari berbagai pendapat dari kalangan ulama-ulama besar khususnya Empat Imam Madzhab, yaitu Maliki, Syafi’i, Hanafi, dan Hanbali, maka hanya akan menghasilkan pemutarbalikan pengertian dari ajaran Islam itu sendiri.

Hadratussyekh wafat dengan warisan jasa yang luar biasa besar. Kelak amal jariyah perjuangan yang belum ia tuntaskan itu berlanjut dengan pergerakan nasional di mana-mana. Para kiai dan kader mudanya tidak surut memperjuangkan kemerdekaan tanah air yang amat mereka cintai. Dalam semangat Islam, mereka berkorban untuk Bumi Pertiwi.

KH. Hasyim Ay’ari wafat, tapi tetap mewariskan darah juang kepada putra-putranya, yaitu KH. Wahid Hasyim, salah seorang perumus Pancasila dan Menteri Agama RI tiga kali. KH. Choliq Hasyim menjadi Daidanco (Komandan Batalyon Pembela Tanah Air, PETA,) KH. Yusuf Hasyim aktif di Laskar Hizbullah sebagai Komandan Kompi II. Salah seorang cucunya menjadi pejuang kemanusiaan dan demokrasi terdepan serta Presiden Indonesia, KH. Abdurahman Wahid.

Dan kita sebagai santri dan penerus perjuangan beliau, sudah sepatutnya untuk menjaga, mengamalkan dan menyebarkan seluruh nilai, ajaran dan keteladanan KH. Hasyim Ay’ari. (*)

MUDAHA-MUDAHAN ALLAH MENEMPATKAN KEDUDUKAN MULIA KEPADA BELIAU DAN KITA MUDAH-MUDAHAN DIAKUI SEBAGAI SANTRINYA. AAMIN. 

AL FATIHAH....

(Hwmi Online)