HWMI.or.id

Monday, 19 April 2021

Gus Sahal Minta Yahya Waloni Ditangkap: Jozeph Paul Zhang Versi Mualaf!

 Gus Sahal Minta Yahya Waloni Ditangkap: Jozeph Paul Zhang Versi Mualaf!

 


Pengurus Cabang Istimewa Nadhlatul Ulama (NU) Amerika, Gus Sahal, mendesak Yahya Waloni dan Jozeph Paul Zhang ditangkap lantaran telah menistakan agama. Jozeph Paul Zhang menghina Nabi Muhammad cabul. Sementara ceramah Ustadz Yahya Waloni banyak menghina Kristen.


Hal itu dikatakan Gus Sahal dalam cuitannya di Twitter. Dia mengaku setuju apabila Jozeph Paul Zhang dan Yahya Waloni ditangkap. Menurutnya, Yahya Waloni adalah Jozeph Paul Zhang versi mualaf.


Kedua orang tersebut kerap melontarkan pernyataan kontroversial yang dinilainya telah menistakan agama.


Menurutnya, Jozeph Paul Zhang telah menistakan agama Islam. Sementara Yahya Waloni, hobi menistakan agama Kristen.

 

Jozeph Paul Zhang baru-baru ini menuai sorotan publik lantaran dinilai telah menistakan agama dengan mengaku bahwa dirinya adalah nabi ke-26 dan menyebut Nabi Muhammad SAW cabul.


Sementara Yahya Waloni, dikenal publik sebagai pendakwah yang dalam ceramahnya kerap menyinggung agama Kristen.


Bahkan, Yahya dalam sejumlah video ceramahnya yang beredar di publik sering kali melontarkan pernyataan yang dinilai telah menghina Yesus.


(Suara Islam)

Kemenag Nilai Larangan Restoran Buka Selama Ramadhan Diskriminatif

 Kemenag Nilai Larangan Restoran Buka Selama Ramadan Diskriminatif

 


Kementerian Agama (Kemenag) menilai kebijakan Pemerintah Kota Serang, Banten, yang melarang restoran, rumah makan, warung nasi, dan kafe berjualan di siang hari selama Ramadan berlebihan dan diskriminatif.


Tak hanya melarang, rumah makan yang bersangkutan juga bisa dikenakan sanksi sebesar Rp50 juta. Hal ini tertuang dalam Himbauan Bersama Nomor 451.13/335-Kesra/2021.


Menurutnya, hal ini jelas membatasi akses sosial masyarakat dalam bekerja atau berusaha. Apalagi keberadaan rumah makan di siang hari juga dibutuhkan bagi umat yang tidak berkewajiban menjalankan puasa.


“Kebijakan ini tidak sesuai dengan prinsip moderasi dalam mengamalkan ajaran agama secara adil dan seimbang, dan cenderung berlebih-lebihan,” kata Juru Bicara Kemenag, Abdul Rochman melalui keterangan tertulisnya, Kamis (15/4/2021).

 

Dia menegaskan, larangan berjualan yang tertuang dalam kebijakan tersebut juga melanggar hak asasi manusia, terutama bagi orang atau umat yang tidak berkewajiban menjalankan puasa Ramadan, aktivitas pekerjaan jual beli, dan berusaha.


Secara hukum, kata Adung, Himbauan Bersama tersebut juga bertentangan dengan peraturan di atasnya, yaitu bertentangan dengan UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.


(Suara Islam)

[Ngeri] Ini Alasan Inggris Melindungi HT, IM Dan Ahmadiyah

 [Ngeri] Ini Alasan Inggris Melindungi HT, IM dan Ahmadiyah

Bendera Negara Kerajaan Inggris


 Tidak banyak yang tahu kalau pusat gerakan Hizbut Tahrir dunia ada di negara Inggris, negara yang jelas tidak memakai sistem khilafah, alias kafir kepet. Selain HT, pusat pergerakan Ikhwanul Muslimin (IM) dan Ahmadiyah juga ada di London, Inggris. Mengapa begitu?


Pengamat gerakan Islam radikal, Ayik Heriyansyah mengungkap alasan-alasan Inggris melindungi gerakan-gerakan radikal Islam yang di negeri asal lahirnya saja ditolak habis. Menurut Ayik, Inggris memiliki kepentingan untuk membuat gerakan yang selama ini dilindungi sebagai cara untuk dijadikan kekuatan penyeimbang, oposisi, atau pengacau bagi dominasi dan kepentingan rival utamanya, yakni Amerika.


"Inggris saudara tua Amerika yang pernah menjadi negara Super Power. Inggris menyimpan ambisi untuk mengembalikan supremasi Pax Britanica. Namun kehalang Amerika. Tapi Inggris tidak menunjukkan secara terbuka rivalitasnya kepada Amerika. Inilah alasan HT, Ahmadiyah dan IM punya markaz di London," kata Ayik yang juga mantan Ketua HTI Provinsi Babel, Ahad (18/11/2018) siang.


Untuk kepentingan itulah, Inggris mau menfasilitasi gerakan atau organisasi Islam dengan mengizinkan London menjadi markas. "Inggris memandang gerakan/organisasi tersebut bisa dijadikan proxi," lanjut Ayik. [dutaislam.com/ab]

Sunday, 18 April 2021

Radikalisme Dalam Pusaran Jihad Agama




 Radikalisme dalam Pusaran Jihad Agama

By: Tgk. Helmi Abu Bakar El-Lamkawi

Judul Buku: Radikalisme Keagamaan & Perubahan Sosial, Penulis: Zainuddin Fananie, Atiqa Sabardila, Dwi Purwanto, Penerbit: Surakarta: Muhammadiyah University Press dan The Asia Foundation, Tebal: 245+vii halaman, ISBN 979-95622-3-6.

Era milenial saat ini beragam aliran dan kelompok muncul dalam eksistensinya. Bahkan sebelumnya mereka telah ada, salah satunya kelompok yang mengusung paham radikal di negeri tercinta ini. Membuka lembaran sejarah keberadaan kelompok radikalisme keagamaan di Indonesia yang sudah muncul sejak masa kolonial Hindia Belanda. Inti perjuangannya adalah gerakan anti-kolonial, seperti Perang Padri dan Perang Diponegoro.

Sejarah telah mencatat bahwa di masa kemerdekaan kelompok radikal ini antara lain gerakan Darul Islam [hlm. 14].  Pada masa kolonial Hindia Belanda, Surakarta merupakan gudang aktivis pergerakan, mulai dari basis gerakan Islam seperti Sarekat Islam, maupun gerakan komunis setelah muncul propaganda PKI/SI Merah Misbach.

Salah satu kelompok radikal yang menjadi pembahasan dalam buku ini adalah Kelompok Radikal Keagamaan (KRK) di Surakarta yang menjadi sampel dalam pembahasan ini adalah Majelis Ta’lim Al-Ishlah, Front Pembela Islam Surakarta (FPIS), Barisan Bismillah, Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Brigade Hizbullah.

Belum lagi gerakan Pemuda Ka’bah (GPK), Laskar Hizbullah Sunan Bonang, Laskar Jundullah, dan Laskar Jihad Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Tidak terdapat alasan yang jelas mengenai pemilihan sampel KRK tersebut, selain karena kelompok-kelompok tersebutlah yang tampak menonjol.

Terhadap persoalan politik nasional, perhatian KRK antara lain ditujukan pada masalah konflik Ambon dan Poso yang dianggap tidak diselesaikan secara tegas dan cepat oleh pemerintah. Krisis ekonomi dan politik juga menjadi momentum untuk menjadikan syariat Islam sebagai alternatif menyelesaikan krisis.

Perihal pemerintah Abdurrahman Wahid yang sedang menghadapi kasus Buloggate ketika itu (2001), beberapa BRK seperti Majelis Ta’lim Al-Ishlah, FPIS, Brigade Hizbullah, GPK, Barisan Bismillah, dan Laskar Hizbullah Sunan Bonang tidak mempersoalkan.

Laskar Jihad, sebagaimana FKAM/Jundullah, hanya menjadi penonton antara pendukung Gus Dur (Pasukan Berani Mati) dengan yang menolak Gus Dur (Jundullah Ikhwanul Muslimin) untuk bertahan sebagai presiden setelah Memorandum II DPR atas kasus Buloggate. Sedangkan, KAMMI mendukung Gus Duruntuk mundur dari jabatan sebagai presiden.

Jihad yang diusung kelompok yang menamnakan dirinya KRK tidak sedikit, di antaranya problem dan persoalan moral sampai dengan politik nasional dan internasional. Salah satu fokus dalam problema moral, misalnya, maraknya bentuk penyakit sosial. Seperti judi, prostitusi dan sejenisnya  dianggap menjadi tempat murka Allah Swt dan iniajang kemaksiatan, telah menjadi perhatian bersama.

Kasus sweeping terhadap tempat-tempat hiburan dan kafe-kafe, adalah contoh lainnya untuk menghapus kemaksiatan. Tindakan tidak tegas pihak aparat kepolisian menangani persoalan kemaksiatan, membuat mereka melakukan tindakan sendiri, sehingga pada taraf tertentu menimbulkan perasaan takut dan cemas pada kelompok masyarakat lainnya.


Selanjutnya dalam reaksi terhadap pemboman Afghanistan oleh angkatan perang AS pada bulan Ramadhan, menyusul peristiwa serangan 11 September 2001 atas WTC New York dan Pentagon dilakukan FPIS. FPIS —juga gerakan Islam di kota lainnya terutama Jakarta— melakukan konvoi berkeliling kota Surakarta untuk menyerukan sikap anti Amerika, di samping mengingatkan para pemilik tempat hiburan agar mereka tidak menyelenggarakan acara yang berbau maksiat selama bulan Ramadhan.


Kebencian dalam perspektif global terlihat dimana sikap anti AS lainnya ditampilkan Laskar Jihad, yang menyebut Amerika adalah sebagai Zionis, sedangkan Zionis adalah musuh Islam. Keburukan pemerintah AS adalah standar ganda yang mereka terapkan terhadap Muslimin. Ini dibuktikan di forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), di mana lebih dari 400 resolusi PBB yang menentang pendudukan Israel atas Palestina diveto oleh AS.

Demikian pula perlakuan AS terhadap rakyat Irak yang dibiarkan kelaparan dengan sejumlah embargo ekonomi. Pengaruh AS, menurut Laskar Jihad telah merasuk ke Indonesia terutama saat krisis ekonomi dengan menghembuskan angin disintegrasi. Menurut Laskar Jihad, konflik Maluku adalah contoh yang terang atasiketerlibatan AS sehingga diberlakukan darurat sipil di sana.

Berdasarkan kupasan buku ini, penulis masih mepertahankan kategorisasi antara Muslim santri modernis dan tradisional dengan KRK tersebut. Menurut Muslim santri modernis ada kesamaan antara mereka dengan KRK dalam beberapa hal: (1) penolakan terhadap hermeneutika teks Al-Qur’an dan hadis Nabi dan karena itu memahami apa adanya.

(2) penolakan terhadap pluralisme, karena umat Islam adalah satu {ummatan wahidah); (3) konsekuensi logis dari (1) dan (2) adalah penolakan terhadap historisitas dan sosiologis, yang benar dan hak menurut mereka adalah kaum salaf; (4) oposisionalisme terhadap ancaman yang dapat  menggoyang eksistensi agama, termasuk simbol-simbol agama

Sementara itu dalam perspektif kaum sarungan santri tradisional, aktivitas yang dilakukan oleh KRK dinilai tidak sesuai dengan prinsip dakwah yang bijaksana. Masyarakat muslim santri tradisionalis berpendirian bahwa untuk mengajak kebenaran melalui tiga cara, yaitu (a) dakwah yang bijaksana, (b) pengajian dan pengkajian, dan (c) diskusi ilmiah. Dari ketiga cara itu, KRK tidak sejalan dengan ketiga cara di atas, sehingga aktivitas KRK dapat menyebabkan orang “menjauh” dari Islam.

Melihat fenomena yang terjadi, lahirnya radikalisme sebagai sebuah ekspresi pemahaman dan keyakinan terhadap suatu ide sering terdengar dengan sebutan-sebutan seperti fundamentalisme dan ekstremisme.

Sebutan radikalisme tersebut pada gilirannya melahirkan stigma-stigma yang melekat di dalamnya, seperti fanatik, ekstrem, tertutup dan pada tahap tertentu memilih jalan kekerasan untuk mengekspresikan cita-citanya. Secara umum keberadaan buku ini layak untuk dimiliki menambah referensi berkaitan fenomena sejarah dan penyebaran paham radikal di Indonesia.

(Harakatuna.com)

Menag Apresiasi Aparat Proaktif Proses Tindakan Penista Agama

 Menag Apresiasi Aparat Proaktif Proses Tindakan Penistaan Agama 



 Dugaan penistaan agama kembali terjadi dan menjadi perbincangan publik pekan ini. Ada dua peristiwa yang muncul, video Jozeph Paul Zhang yang diduga menghina Islam dan Desak Made Darmawati yang diduga melakukan penistaan agama Hindu.   


 Desak Made sudah menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada umat Hindu, meski proses hukum yang berjalan tetap harus dihormati. Sementara itu, aparat juga sudah menindaklanjuti laporan terkait Joseph Paul Zhang.  

 "Saya mengapresiasi langkah proaktif aparat dalam menindaklanjuti dan mengambil tindakan atas laporan ujaran yang mengandung penistaan dan menimbulkan keresahan," terang Menag setibanya di Jakarta, Ahad (18/4), usai bertemu beberapa tokoh agama Kalimantan Utara.  

 "Saya minta masyarakat untuk tetap tenang, mengedepankan kebersamaan dan toleransi di tengah upaya berbagai pihak mengadu dan memecah persatuan dan kesatuan bangsa," sambungnya.   

Menurut Menag, tindakan menistakan agama memang tidak dibenarkan atas alasan apapun. Karenanya, menjadi tugas aparat untuk melakukan tindakan tegas pada setiap bentuk penistaan agama, siapa pun pelakunya. 


 "Saya mendorong aparat untuk menindak setiap pelaku ujaran atau pun perbuatan yang mengarah pada penistaan agama.Tidak hanya terkait kasus Joseph Paul Zhang dan Desak Made, tapi siapapun pelakunya," tegas Menag.   

Ditegaskan Menag, setiap umat beragama memang harus meyakini kebenaran keyakinan agamanya. Namun, hal itu tidak boleh diikuti dengan sikap merendahkan atau menyalah-nyalahkan ajaran atau keyakinan agama lainnya.   


"Kedepankan toleransi. Mari yakini kebenaran agama masing-masing dengan tetap menghormati dan menghargai saudara sebangsa yang berbeda keyakinan," tandasnya.   


Kendi Setiawan/NU Online

PBNU Kecam Keras Dan Minta Polisi Tangkap Joseph Paul Zhang

 PBNU Kecam Keras dan Minta Polisi Tangkap Joseph Paul Zhang 



Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H A Helmy Faishal Zaini mengecam keras pernyataan oknum yang bernama Joseph Paul Zhang dalam sebuah video viral yang menghina dan menciderai kayakinan dan ajaran umat Islam. 

PBNU menyebut pernyataan yang dikeluarkan tersebut masuk ke dalam penghinaan terhadap keyakinan umat Islam.

 Namun ia mengajak kepada umat Islam untuk tetap tenang dan tidak terprovokasi dan melakukan hal-hal di luar koridor hukum yang berlaku. Kesucian bulan Ramadhan harus senantiasa dijaga dengan cara-cara yang arif dan bijaksana, yang salah satunya, saling menghargai dan menghormati keyakinan umat beragama. 


PBNU pun meminta aparat kepolisian untuk segara melakukan langkah nyata untuk menyelesaikan pernyataan yang meresahkan ini. “Meminta aparat keamanan, dalam hal ini Polri, untuk segera melalukan langkah kongkret mengusut dan menangkap Joseph Paul Zhang atas perbuatannya tersebut,” katanya dalam pernyataan sikap PBNU terkait hal ini, Ahad (18/4). 

Senada dengan Helmy, Ketua PBNU Robikin Emhas memberikan apresiasi kepada aparat kepolisian yang dengan sigap melakukan penyelidikan melalui koordinasi dengan instansi terkait untuk mengetahui secara pasti keberadaan Joseph Paul Zhang . 


Robikin berharap, jika nantinya sudah cukup bukti-bukti penyelidikan untuk segera dilakukan penyidikan. Terkait hal ini, PBNU mempercayakan semua kepada kepolisian. Ia percaya kepolisian bisa membawa yang bersangkutan ke meja pengadilan untuk dimintai pertanggungjawaban. 

Pernyataan dalam video viral tersebut lanjut Robikin, sangat meresahkan masyarakat dan sangat melukai umat Islam. Bukan hanya umat Islam di Indonesia tapi juga umat Islam di seluruh dunia. “Maka yang demikian tidak boleh dibiarkan,” tegasnya. 

Robikin mengajak umat Islam untuk tidak menunjukkan sikap yang dapat memperkeruh suasana dengan membalas atau melakukan hal-hal lain yang merugikan umat Islam sendiri. 

Ia melihat bahwa oknum yang melakukan tindakan tersebut sangat sadar terhadap apa yang dikatakan dan dilakukan. Sehingga tindakan provokatif itu sangat mungkin disengaja. “Jangan menari di atas genderang orang lain. Jadi kita tetap mempercayakan ini semuanya kepada kepolisian,” pungkasnya. 


Sebelumnya oknum bernama Jozeph Paul Zhang tersebut mendadak viral di media sosial karena membuat sayembara dengan menantang warga untuk melaporkannya ke polisi karena mengaku sebagai Nabi ke-26. 


 "Gua kasih sayembara. Gua udah bikin video. Saya udah bikin video tantangan. Yang bisa laporin gua ke polisi gua kasih uang yang bisa laporin gua ke polisi penistaan agama, nih gua nih nabi ke-26, Jozeph Paul Zhang. Meluruskan kesesatan ajaran nabi ke-25 dan kecabulannya yang maha cabulullah," katanya. 


Muhammad Faizin/Kendi Setiawan/NU Online

Mengenal Syaikh Ibnu 'Athoillah As-Sakandari : Pengantar Ngaos Kitab Tajul 'Arus

Pengantar

Pengarang kitab Tajul ‘Arus adalah Syaikah Imam Tajuddin (makhkota agama), Tarjumanul Arifin (Waliyullah), Abu Fadl Ahmad bin Muhammad Bin Abdul Karim Bin Abdur Rahman Bin Abdullah Bin Ahmad Bin ‘Isa Bin Alhusain Bin ‘Athoillah, Nenek moyang beliau dari bangsa Judam, Bermadhhab Imam Malik dalam bidang fiqh, Kota Iskandariyah tempat kelahiran beliau, Qorofi tempat beliau diziarohi, beliau seorang sufi yang sangat masyhur, berthoriqat syadziliyah, Ibnu Atha’illah dikenal sebagai sosok yang dikagumi dan bersih, beliau wafat pada tahun 709 H, keterangan ini sebagaimana yang disampaikan oleh Syaikh Zaruq. 

Dalam Kitab Ad-Dibajil Madzhab disebutkan, bahwa Syaikh Ibnu ‘Athoillah menguasai berbagai bidang ilmu, diantaranya Ilmu Tafsir, Hadits, Fiqh, Nahwu, Ushul dan bidang lainya. Ibnu ‘Athoilah menjadi panutan bagi banyak orang yang meniti jalan menuju Tuhan. Menjadi teladan bagi orang-orang yang ikhlas, dan imam bagi para juru nasihat. Semoga kita semua mendapatkan manfaat dari hamba Allah yang luar bisa ini, dan mampu mengikuti jalan (thoriqah) yang beliau tempuh.

Ibnu Atho’illah menceritakan dalam kitabnya “Lathoiful Minan”: Syaikh Al-Mursi menyampaikan kepadaku “ menetaplah (bergurulah/Mondoklah), demi Allah jika engkau menetap disini (mondok/Berguru pada Syaikh Abul Abbas Al-Mursi) engkau akan menjafi mufti dua madzhab, yakni Madzhab Ahli Syari’ah (Ilmu Dhohir) dan Madzhab Ahli Haqiqat (Ahli Ilmu Bathin). Syaikh Abul ‘Abbas Al-Mursi juga menyampaikan, “Demi Allah, kelak engkau akan menjadi orang besar, Demi Allah, kelak engkau akan menjadi orang besar”, apa yang disampaikan oleh guru beliau ini benar-benar terjadi.

Kitab-Kitab yang dikarang oleh Ibnu ‘Athoillah dalam kitab Tajul ‘Arus disebutkan ada 5 : Lathoiful minan, Al-Tanwir fi Isqath al-Tadbir,Tajul 'Arus, ‘Unwan at-Taufiq fi’dab al-Thariq, Miftah al-Falah dan al-Qaul al-Mujarrad fil al-Ism al-Mufrad.

Adapun Inti dari pembahasan kitab Tajul ‘Arus : Ahwal dan Maqamat, Adzwaq dan Munazalat, Tahapan-tahapan bagi pemula dalam menggapai jalan orang-orang ma’rifat (‘Arifin), dan masih banyak lagi berbagai macam pembahasanya agar menggapai kemulyaan. (Azf)

Pria Mengaku Nabi, PBNU: Ini Membahayakan

 Pria Mengaku Nabi, PBNU: Ini Membahayakan

 


Reaksi keras disampaikan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) terhadap pria yang mengaku dirinya sebagai nabi. Sejumlah tindakan harus dilakukan pemerintah agar apa yang dilakukan tidak mengganggu suasana Ramadlan, termasuk menimbulkan keresahan.

 

Secara khusus, Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H Helmy Faishal Zaini meminta pemerintah dalam hal ini Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) untuk menonaktifkan akun media sosial Jozeph Paul Zhang. Pria itu diduga telah melakukan penistaan agama.


"Kita minta pemerintah untuk segera menghentikan akunnya karena ini sudah kategori membahayakan. Apalagi, di tengah situasi Ramadlan menghina orang puasa, sudah kategori menghina dengan mengatakan Tuhan dikerangkeng dalam Ka'bah," ujarnya, Sabtu (17/04/2021) malam.

 

Pihaknya mengecam keras aksi yang dilakukan Jozeph Paul Zhang. Seharusnya, sebagai umat beragama bisa saling menghormati terhadap sejumlah perbedaan.

"Apa yang dilakukan yang bersangkutan sudah jelas melakukan penghinaan terhadap agama seseorang," tuturnya.


Di sisi lain, Helmy meminta kepolisian untuk melakukan tindakan dengan menangkap pria tersebut, karena video yang dibuatnya menyebarkan kebencian. Dan hal itu sudah masuk kategori penghinaan terhadap agama Islam.

 

Sebelumnya, viral video seorang pria bernama Jozeph Paul Zhang di media sosial. Pria yang mengaku sebagai nabi ke-26 itu membuat sayembara bagi siapa pun yang bisa melaporkannya melakukan penistaan agama.

Ia membuat video dalam forum diskusi zoom. Kemudian, menggunggahnya ke akun channel Youtube miliknya, Jozeph Paul Zhang dengan tema ‘Puasa Lalim Islam’ yang berdurasi 3 jam 2 menit.

 

"Yang bisa laporin gua ke polisi, gua kasih uang lo. Yang bisa laporin gua penistaan agama, nih gua nih nabi ke-26, Josep Fauzan, meluruskan kesesatan ajaran nabi ke-25 dan kecabulannya yang maha cabullah. Kalo anda bisa laporan atas penistaan agama, Gua kasih loh satu laporan Rp1 juta, maksimum 5 laporan supaya jangan bilang gua ngibul kan. jadi kan 5 juta, di wilayah polres berbeda," ujarnya


Syaifullah/NU Online Jatim

Saturday, 17 April 2021

Pemuda Adat Papua Dukung Pemerintah Masukkan KKB Sebagai Teroris

 Pemuda Adat Papua Dukung Pemerintah Masukkan KKB Sebagai Teroris



Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Papua tidak hanya melakukan kejahatan biasa tetapi sudah melampaui batas prikemanusiaan. Oleh karena itu, KKB tersebut sudah termasuk dalam kegiatan teroris. Terakhir, KKB membunuh dua orang guru dan seorang pengemudi ojek di Papua.

“Tindakan yang dilakukan KKB sudah layak disebut sebagai teroris,” ujar Ketua Umum Pemuda Adat Papua Jan Arebo usai bertemu Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Dr. Boy Rafli Amar di Jakarta, Kamis (15/4/2021).

Karena itu, Jan Areb merekomendasikan dan mendukung BNPT untuk menetapan KKB sebagai organisasi teroris lokal.

“Kami memberikan dukungan penuh kepada BNPT untuk menetapkan status KKB sebagai teroris lokal. Kenapa demikian? Karena mereka selalu melakukan teror, pembunuhan,” tegas Jan Arebo.

Jan mengungkapkan jika KKB terus melakukan aksi maka akan menjadi ancaman bagi negara. Sebab, di penghujung tahun 2021 mendatang tepatnya di bulan Oktober akan ada event besar yakni Pekan Olahraga Nasional (PON) di Papua.

Menurut Jan, aksi KKB ini akan membuat kontingen di luar Papua jadi ketakutan. Nah, kalau mereka ketakutan berarti kan PON tidak ada yang ikut event.

“Ini yang harus kita pikirkan bersama. Kalau kita mau sukseskan PON berarti kita juga harus menciptakan suasana yang aman dan kondusif,” ujar Jan.

Jan menjelaskan kedatangannya di BNPT untuk memberikan dukungan agar KKB ditetapkan sebagai teroris lokal.

Menurutnya, Kepala BNPT menyambut usulan Pemuda Adat Papua. Bahkan, nantinya perwakilan Pemuda Adat Papua akan dilibatkan dalam rapat bersama dengan Komnas HAM terkait status KKB menjadi teroris tersebut.

“Karena KKB ini kan mau dinaikkan statusnya jadi teroris tetapi dari Komnas HAM masih ada pertimbangan terkait dengan pelanggaran HAM dan sebagainya,” kata Jan.

BNPT, kata Jan Arebo, juga akan mengundang pimpinan daerah di Papua bersama Komnas HAM untuk rapat bersama menyikapi situasi di Papua dan terkait status KKB menjadi teroris.

Selain menemui dan berkoordinasi dengan BNPT, perwakilan Pemuda Adat Papua juga berkesempatan bertemu dengan Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Fadjar Prasetyo.

“Saya dan pengurus bertemu KSAU untuk menyampaikan terima kasih atas sumbangsih dan atensinya mengirimkan Pasukan Khas (Paskhas) ke Papua untuk membantu menjaga keamanan, menjaga bandara-bandara yang ada di beberapa wilayah di Jayapura, Wamena, Oksibil dan Boven Digul,” ungkap Jan.

Wali Songo Buat Nyaman Warga Nusantara Dengan Sentuhan Kebudayaan

 Wali Songo Buat Nyaman Warga Nusantara dengan Sentuhan Kebudayaan



Dalam tempo kurang dari 50 tahun, Wali Songo sukses menyebarkan dakwah Islam di Bumi Nusantara. Masyarakat pribumi menerimanya dengan penuh suka cita, tanpa ada satu tempat ibadah agama sebelumnya yang rusak. Hal itu tidak lain karena mereka dapat membuat nyaman warga Nusantara dengan sentuhannya tepat pada hati melalui revolusi kebudayaan yang diusung sebagai strategi dakwahnya.

 “Wali Songo memang sesuatu yang monumental, unik, karena Wali Songo ini menyebarkan mengajarkan dan memahami Islam dalam konteks konstruksi budaya setempat. Islam sebagai ajaran universal diekspresikan dengan memanfaatkan konstruksi tradisi sistem nilai dan budaya yang ada di masyarakat itu,” kata Ngatawi al-Zastrouw, pengajar Fakultas Islam Nusantara Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) dalam sebuah perbincangan bersama Pemimpin Redaksi Historia.id Bonny Triana pada Jumat (17/4). 


Setidaknya, Zastrouw melihat tiga revolusi kebudayaan yang diusung sebagai sebuah strategi dakwah Wali Songo, yakni cara mengajarkan, memahami, dan mengamalkan ajaran Islam yang universal itu berbeda sehingga menjadi spesifik dan khas Nusantara.  

“Akhirnya Islam warnanya, ekspresinya itu menjadi berbeda dan spesifik. Kalau ajarannya tetap sama, tetapi ekspresi keislamannya menjadi berbeda,” ujarnya. 

Pengajaran Islam ala Wali Songo merupakan sebuah koreksi atas dakwah yang pernah dilakukan sebelumnya. Sebagaimana diketahui, Islam masuk ke Nusantara sejak akhir abad 7 atau awal abad 8. Namun, perkembangan pesatnya terjadi saat era Wali Songo di abad ke-15. 

Hal itu terjadi karena strategi dakwah sebelum Wali Songo tidak cocok dengan Nusantara. Contoh kecil saja, jelasnya, penyebar dakwah sebelumnya hanyalah pedagang, sementara konstruksi kebudayaan Nusantara dipengaruhi Hindu Buddha yang berkasta itu. Penyebar agama, menurut kepercayaan tersebut, ada di tangan Brahmana, sementara penyebar agamanya merupakan pedagang yang berkasta Waisa. 


“Wali Songo melakukan koreksi sehingga menggunakan kebudayaan sebagai cara untuk menyebarkan agama,” terang Kepala Makara Art Center Universitas Indonesia itu. 


Lebih lanjut, Zastrouw menjelaskan bahwa kitab-kitab pendidikan lama seperti Silakrama tetap digunakan dan dipadukan dengan kitab-kitab Islam yang bicara tentang Pendidikan Islam, seperti Ta'limul Muta'alim, Adabud Dunia wad Din.

 “Nilai-nilai yang sama. Misalnya, penghormatan terhadap guru, akhlak guru kepada murid, tanggung jawab guru kepada siswa, itu yang sama, tidak dilakukan perubahan. Dia mengambil etik-etik di silakrama itu dikolaborasikan dengan Ta'limul Muta'alim dan sebagainya,” katanya. 

Perangkat kebudayaan yang digunakan sebagai media dakwah ini, menurutnya, menyentuh hati masyarakat Nusantara. Dari hal itu, ia menegaskan bahwa Wali Songo melakukan sentuhan afektif lebih dahulu, bukan aspek kognitifnya. 

“Maka yang diberikan kepada masyarakat Jawa, terutama itu terkait etik, moral, terus spiritualitas, sementara hal-hal syariah yang sifatnya simbolik, ibadah mahdhoh, itu belum diberikan dulu, Mas. Itu belakangan. Yang penting hatinya diambil dulu, dibikin rasa senang, rasa enjoy, rasa tidak terancam, rasa tidak terpinggirkan dengan ajaran-ajaran baru ini,” pungkas 


Muhammad Syakir/NU Online

Friday, 16 April 2021

PBNU Kecam Ketua TP3 Klaim Pertemuan Di Istana Seperti Musa Datangi Fir'aun

 PBNU Kecam Ketua TP3 Klaim Pertemuan di Istana Seperti Musa Datangi Firaun



Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengkritik keras ucapan Ketua Tim Pengawal Peristiwa Pembunuhan (TP3) laskar FPI, Abdullah Hehamahua. Hehamahua menyebut pertemuan dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana beberapa waktu lalu ibarat Nabi Musa mendatangi Firaun.

Pernyataan Ketua TP3 tersebut mendapat respon dari Ketua PBNU Robikin Emhas. Robikin mengatakan Indonesia berdiri atas kesepakatan bersama. Kesepakatan itu, katanya, berasal dari lintas agama hingga suku.

“NKRI dirikan oleh para pendiri bangsa berdasarkan kesepakatan. Itulah mengapa Indonesia disebut juga sebagai negara kesepakatan (darul ‘ahdi). Siapa yang bersepakat? Seluruh komponen bangsa. Lintas etnis dan suku, juga budaya dan bahasa,” kata Robikin kepada wartawan, Rabu (14/4/2021).


Kesepakatan tersebut, menurut Robikin, harus dijalankan secara bersama. Kesepakatan hidup bersama itu tak hanya berhenti pada generasi saat ini, namun ke depan.

“Kesepakatan merupakan janji. Dan janji dalam pandangan Islam adalah utang yang mesti dibayar. Oleh karena itu, kita sebagai generasi penerus harus memegang kesepakatan para pendiri bangsa sebagai bentuk penunaikan janji,” ujarnya.

Robikin menjelaskan status pemerintahan Indonesia adalah sah secara Islam. Pemerintah yang dipilih melalui pemilihan ini, menurut Robikin, sah dalam pandangan Islam.

“Lalu bagaimana status NKRI menurut pandangan Islam? Jawabannya jelas, sah. Dan karena status NKRI sah menurut pandangan Islam, maka pemerintahan yang dibentuk melalui mekanisme pemilihan yang sah juga sah,” ucapnya.


Robikin pun mengkritik keras jika TP3 menganggap pertemuan dengan Jokowi bak bertemu dengan Firaun. Menurut Robikin, TP3 tak boleh menyamakan Presiden dengan Firaun.

“Nah, karena Presiden terpilih secara sah maka keliru kalau mengalogikan pertemuan dimaksud seperti bertemu Firaun. Perlu ditegaskan, sebagai negara bangsa (nation state) Indonesia bukan negara kafir (darul kuffar).

Demikian halnya, presiden dan pemerintah yang ada juga bukan thoghut. Karena itu tidak boleh mengasosikannya sebagai Firaun,” ujarnya.

Sebelumnya, Abdullah Hehamahua menyebut pertemuan dengan Jokowi di Istana beberapa waktu lalu ibarat Nabi Musa mendatangi Firaun. Pernyataan Abdullah Hehamahua itu disampaikan dalam channel YouTube Ustadz Demokrasi seperti dilihat, Rabu (14/4).

“Kemudian tanggal 8 ada telepon dari Istana ke Sekretaris TP3 Pak Marwan Batubara bahwa Istana siap menerima besoknya tanggal 9 jam 10. Disebutkan 10 orang kemudian harus antigen dan antigen itu harus di rumah sakit yang ditetapkan yaitu di rumah sakit bunda di daerah Menteng,” kata Abdullah Hehamahua.


Pertemuan TP3 dan Jokowi pun akhirnya berlangsung. Abdullah Hehamahua menyebut pertemuan itu seperti Musa mendatangi Firaun.

“Singkatnya besoknya kami datang, kami sepakat bahwa kita datang seperti Musa datang kepada Firaun,” ujar Abdullah Hehamahua.

(Suara Islam)