HWMI.or.id

Tuesday, 26 October 2021

Pernyataan menag RI Bahwa Depag Merupakan Hadiah Negara Buat NU, Itu Sudah Tepat

PERNYATAAN MENAG RI BHW DEPAG MERUPAKAN HADIAH NEGARA BUAT NU, ITU SUDAH TEPAT.

Menanggapi pernyataan Menteri Agama RI di sebuah acara HSN beberapa hari lalu bahwa Depag merupakan hadiah negara buat NU haruslah dipandang sebagai bentuk penjelasan sejarah dan peringatan terhadap pihak-pihak lain yang selama ini sinis jika NU berada di Pemerintahan.

Dalam sejarah berdirinya NKRI yang berusia 76 tahun, meskipun NU, kiai-kiai, dan santri-santri ikut mengambil peran penting dalam masa pergerakan, persiapan hingga mempertahankan kemerdekaan, tetapi NU tidak 'kemaruk' kekuasaan dan selalu meletakkan kepentingan negara dan bangsa di atas kepentingan kelompok dan golongan dan NU tidak pernah merasa iri jika ada orang non-NU jadi presiden. 

Bung Karno yang berkuasa lebih dari 22 tahun adalah kader Muhammadiyah. NU tidak pernah mempersoalkan background organisasi Bung Karno. 

Bahkan NU mendukung Bung Karno ketika dalam kesulitan dengan memberinya gelar waliyul amri dloruri bi assyaukah dalam menghadapi pemberontakan PRRI/ Permesta, DI/TII dll.

Presiden Soeharto yang berkuasa lebih dari 30 tahun juga kader Muhammadiyah dan tidak memberikan tempat bagi warga NU duduk di posisi strategis. Tetapi Warga NU tetap loyal terhadap Pemerintah.

KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur sebagai satu-satunya representasi Warga NU yang menduduki posisi presiden dan baru berkuasa beberapa bulan pada akhirnya dijatuhkan dengan cara-cara yang tidak bermartabat. Siapa yang menjatuhkan Gus Dur dari posisi Kepala Pemerintahan?  

Yang menjatuhkan Gus Dur adalah mereka yang "kemaruk" (serakah) terhadap kekuasaan. Yang menjatuhkan Gus Dur adalah mereka yang merasa Indonesia hanya boleh dipegang oleh kelompoknya. 

Artinya, dalam 76 tahun Indonesia berdiri, Warga NU hanya diberikan waktu 20 bulan saja untuk jadi presiden. Pertunjukan unfairness telah diukir dalam sejarah. Sekarang ketika NU mulai diberikan beberapa posisi strategis oleh Pemerintahan Jokowi, ada saja pihak yang nyinyir terhadap portofolio yang diberikan kepada warga NU.

Apa yang disampaikan Gus Yaqut sudah benar bahwa Depag RI merupakan rintisan dari para tokoh-tokoh NU di Pemerintahan. Dan apa yang disampaikan Gus Yaqut seharusnya menjadi bahan instrospeksi pihak-pihak yang selama ini terlalu serakah mengambil posisi di pemerintahan untuk kepentingan-kepentingan kelompok dan jaringan mereka. 

(Rois Syuriah PCINU Tiongkok)

(Hwmi Online)


Ketua PP GP Ansor: Pernyataan Gus Yaqut soal Kemenag untuk Motivasi Kader NU

Ketua PP GP Ansor: Pernyataan Gus Yaqut soal Kemenag untuk Motivasi Kader NU

Ketua PP GP Ansor, Rahmat Hidayat Pulungan, memberikan komentar terkait pernyataan Gus Yaqut yang menyebut Kemenag merupakan hadiah negara untuk NU, bukan umat Islam.

Menurutnya, pernyataan tersebut ditujukan untuk memotivasi NU dan santri. Gus Yaqut, kata dia, bicara di forum webinar yang digelar RMI PBNU dalam peringatan Hari Santri Rabu (20/10). Rahmat mengeklaim santri identik dengan NU.

“Yang namanya santri itu kan identik dengan NU, Menteri Agama yang juga Ketum GP Ansor sudah pasti kader NU. Jadi wajar kalau Menag memberikan motivasi kepada santri dan NU dengan segala kebesarannya harus bisa menjadi penggerak kemajuan dan pemersatu bangsa,” ucap Rahmat dalam rilisnya, Senin (25/10) seperti dikutip dari kumparan.com.

Rahmat menyebut Kemenag selalu identik dengan NU, meski selama orde baru terpinggirkan. Banyak lembaga pendidikan NU tidak diakui oleh negara dalam hal ini Kementerian Agama.

“Tindakan ini kan diskriminatif, padahal kontribusi pesantren kepada bangsa dan negara luar biasa. Maka sepantasnya kalau Menag dari NU harus bisa mengafirmasi apa yang menjadi kebutuhannya dalam konteks meningkatkan kualitas SDM pesantren dan madrasah,” tuturnya.

“Justru saya melihat statement Menag ini menjawab atas permintaan Ketum PBNU kepada pemerintah yang meminta semua jabatan agama di Indonesia diberikan ke NU.” imbuhnya

Dia justru heran pernyataan Gus Yaqut turut dikritik oleh Sekjen PBNU Helmy Faishal Zaini, yang menyebut pernyataan Gus Yaqut tidak pas dan kurang bijak.

“Menag kan bicara begini karena di Forum Hari Santri, yang ngundang pun RMI PBNU. Jadi kalau pernyataan ini diributkan oleh Sekjen PBNU kita malah bingung. Ini kok enggak nyambung antara Ketum dengan Sekjennya,” ujarnya.

“Gus Yaqut ini kan representasi kader NU, selama menjadi Menag banyak mendapatkan apresiasi dari publik dengan segala gagasan dan tindakan. Publik yang tadinya pesimis dengan eksistensi kader NU sekarang malah optimis dan respek kepada kader NU karena dilihat bisa kerja,” klaim Rahmat.

(Hwmi Online)

Gus Nadir: Santri Harus Terlibat Politik, Tapi Tetap Harus Jaga Tradisi Intelektual Pesantren

Gus Nadir: Santri Harus Terlibat Politik, Tapi Tetap Harus Jaga Tradisi Intelektual Pesantren

Dikutip dari dakwahnu.id, Rais Syuriyah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Australia-New Zealand, KH. Nadirsyah Hosen (Gus Nadir) menyatakan bahwa santri harus terlibat politik, dengan tetap menekankan tradisi intelektual di pesantren.

“Tradisi intelektual itu harus dijaga di pesantren. Jadi (santri) pesantren tetap terus melahirkan berbagai kitab (dengan) menulis,” ujar Gus Nadir secara virtual dalam Webinar Internasional Peringatan Hari Santri 2021 yang digelar Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) NU di lantai 8 gedung PBNU Jakarta, Rabu (20/10) kemarin.

Menurut Gus Nadir, tradisi intelektual bisa diwujudkan para santri dalam menyikapi demokrasi. Beliau lantas mengingatkan, jika santri terlibat dalam politik maka tidak boleh melupakan sikap kritis terhadap praktik demokrasi di Indonesia.

Misalnya, Gus Nadir mengkritik sistem pemilihan umum di

Indonesia yang sangat mahal sehingga negeri ini hanya dikuasai oleh kekuatan oligarki. Disebutkan, jika seseorang ingin menjadi anggota DPR maka harus menyiapkan uang dengan jumlah sangat besar.

“Jadi, kalau mau mencalonkan diri sebagai anggota DPR, misalnya, itu kalau tidak punya Rp5 miliar atau Rp10 miliar akan susah untuk terpilih. Belum lagi money politic,” kritiknya.

Belum lagi, lanjutnya, proses pemilihan umum di Indonesia sangat lama dan terlalu banyak tahapan. Hal itu sangat menguras energi, bahkan memicu polarisasi yang terjadi di masyarakat.

Karena itu, tradisi intelektual para santri di pesantren sangat penting untuk diperhatikan. Sikap kritis para ulama juga sangat menjadi kunci untuk membantu mewujudkan kesejahteraan dan kemaslahatan masyarakat.

Kemudian, Gus Nadir menjelaskan bahwa Imam Al-Ghazali menekankan pesan keadilan kepada para penguasa. Al-Ghazali berani mengkritik para para ulama sebagai biang kerusakan rakyat dan penguasaan.

“Tidaklah terjadi kerusakan rakyat itu, kecuali dengan kerusakan penguasa. (Dan) tidaklah rusak para penguasa, kecuali dengan rusaknya para ulama,” kata Gus Nadir mengutip kitab Ihya’ Ulumiddin karya Imam Al Ghazali.

Pada bagian lain, imbuhnya, Al Ghazali juga mengingatkan bahwa rusaknya para ulama karena kecintaan pada harta dan kedudukan. Dengan begitu, ia menekankan agar NU juga harus bisa independen terhadap penguasa dan pengusaha

“Karena jika tidak independen, NU sulit untuk bisa mewujudkan keadilan dan nilai-nilai kesejahteraan sosial yang abstrak itu secara konkret di masyarakat. Perdamaian tanpa keadilan itu hanya sebuah ilusi,” tegas Gus Nadir, mengutip ucapan Gus Dur di akhir kalimat.

Belajar dari Taliban Dikatakan Gus Nadir, kemenangan Taliban dan kekalahan Islam moderat di Afghanistan, disebabkan oleh diamnya para ulama ketika melihat kejahatan dan korupsi yang terjadi di Afghanistan.

“Salah satu alasannya Islam moderat di Afghanistan itu membiarkan negara superpower mengeksploitasi kekayaan alam mereka, kemudian memaksakan demokrasi ala Barat, dan banyak sekali pejabat yang korupsi, serta ulamanya diam terhadap ketidakadilan,” ujarnya.

“Kalau demokrasi di Indonesia tidak bisa mengikis korupsi, tidak bisa mendatangkan keadilan, tidak bisa memberikan kesejahteraan, maka rakyat akan berpaling dan terus mencari alternatif sistem lain,” imbuh Gus Nadir.

Webinar internasional Bertajuk Sudut Pandang Politik, Ekonomi, Budaya, dan Revolusi Teknolog ini dihadiri Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin, Menteri Agama H Yaqut Cholil Qoumas, Ketua RMI PBNU KH Abdul Ghofar Rozin, Rais Syuriah PCINU Amerika Serikat Ahmad Sholahuddin Kafraw, PCINU Australia Eva Fachrunnisa, dan Pengasuh Pesantren Al-Anwar Sarang Abdul Ghofur.

(Hwmi Online)

Sunday, 24 October 2021

Gus Nadirsyah Hosen: PBNU Perlu Rangkul Tiga Pihak, Siapakah Mereka?


PBNU Perlu Rangkul Tiga Pihak

NU saat ini, tokoh-tokohnya sudah tersebar dimana-mana. Ada yang di pemerintahan pusat, ada yang di jalur keilmuan; ada yang cenderung berargumen secara internal, ada yang cenderung berargumen dengan pihak lain, bantah-bantahan soal bid'ah misalnya.

Ada juga yang konsen memilih untuk mengkonsolidasikan serpihan-serpihan pendapat di bahtsul masail, itu dikumpulkan dan disosialisasikan.

Ada yang memilih untuk menjalin hubungan baik antara madzhab dan aliran, kemudian bagaimana bertoleransi dengan aliran-aliran  dan madzhab-madzhab lain. Bahkan ada yang berteman baik dengan kalangan non muslim.

Ada juga pembela utama doktrin ahlu sunnah waljamaah. Ada juga yang tidak mengerti ahlu sunnah wal jamaah secara detil, tapi ikut tahlilannya, ikut istigotsahnya; karena mengabdikan dirinya untuk kepentingan NU. Spektrumnya sangat luas. 

Nah, karena itu dalam kepengurusan ke depan, PBNU harus merangkul tiga pihak. 

Pertama, penjaga gawang aswaja. Mereka itu seperti Gus Baha, KH. Ma'ruf Khozin, yaitu ulama yang menjaga ideologi dan identitas ke-NU-an. Jadi perlu merangkul yang bersifat ideologis. Kita membutuhkan kealiman mereka. 

Kedua, para pemikir yang visioner. Ini bersifat strategis.  Ketum NU sebelum berangkat ke berbagai daerah, perlu ada kajian dari para pemikir NU yang visioner tentang apa yang dibutuhkan di daerah itu secara taktis-strategis.

Jadi nanti Ketum PBNU ke depannya tidak sekadar ceramah. Tapi PBNU bisa siapkan apa kebutuhan masyarakat setempat. Ada kajian yang sudah kita lakukan di daerah setempat. Kemudian dikumpulkan lalu disosialisasikan. Ketum PBNU bergeraknya ke area yang sifatnya strategis. 

Ketiga, para praktisi di berbagai bidang atau kalangan profesional. Kita perlu perbaiki sistem keuangan di PBNU, misalnya. Koin-koin NU di bernagai cabang itu bagus tapi tidak cukup hanya itu. Kita harus punya sistem keuangan yang akuntable tapi juga aksesable.

Jumlah anggota NU sebut saja 80-90 juta, maka kita butuhkan support sejumlah pihak dalam berbagai bidang; ekonomi, politik, sosial, budaya. Olahragawan, IT yang mengelola big data, dan juga kaum milenial perlu dirangkul masuk kepengurusan PBNU.

Dengan demikian nanti yang masuk dalam kabinet PBNU jangan jatah-jatahan karena dia timses, dari partai tertentu, keluarganya, padahal tidak punya kapasitas, gak jelas pengabdiannya tiba-tiba masuk ke PBNU.

Jadi memang tidak sekadar memikirkan sosok ketum PBNU-nya, tapi juga komposisi teamnya. Di masa transisi menuju 2021-2026 ini di Muktamar nanti harus kita jadikan 3G: Muktamar yang Berkualitas, Bermartabat dan Bermanfaat.

Karena itu perlu ada cetak biru (blue print) yang nanti disosialisasikan di Muktamar untuk jadi panduan NU memasuki abad ke-2nya.

Kalau itu tidak kita lakukan di Muktamar nanti, dan kita hanya sibuk pada kontestasi siapa yang jadi pimpinan NU, maka kita akan kehilangan kesempatan untuk mengantisipasi tantangan dan peluang NU di abad ke-2nya.

Itu sebabnya perlu terus didorong Muktamar NU nanti tidak seperti pilpres atau kubu-kubuan, sebab bisa pecah belah karena banyak sekali isu-isu yang sensitif yang akan dimainkan oleh semua pihak di arena Muktamar, baik internal - eksternal, kekuatan lokal maupun global. Ini harus jadi pertimbangan bersama demi menjaga keutuhan dan kebersamaan NU.

Mudah untuk dituliskan, namun butuh kerjasama dan komitmen semua pihak untuk mewujudkannya, bukan? 

Tabik

Sumber: FB Gus Nadirsyah Hosen

(Hwmi Online)


Kenapa Beragama Cuma Berbekal TERJEMAH Bisa Sesat?

Kenapa Beragama Cuma Berbekal TERJEMAH Bisa Sesat ?

Kasus salah terjemah ternyata bukan hanya terjadi di tengah kita yang bukan bangsa Arab. Tapi juga melanda mereka yang kesehariannya sudah berbahasa Arab, namun tidak menguasai ilmunya.

Penyebabnya bisa macam-macam. Salah satunya faktor perubahan zaman yang ikut mengubah penggunaan istilah, meski masih dalam ruang lingkup bahasa Arab yang sama.

Di suatu masa, suatu kata bisa bermakna A, tapi ketika zamannya berubah, makna kata itu berubah jadi B.

Contoh gampang adalah kata sayyarah (سيارة) yang berubah maknanya menjadi mobil di masa kini. Padahal di masa kenabian, maknanya adalah : orang yang bepergian. 

Kalau nggak percaya, coba buka Al-Quran terjemah pada surat Al-Maidah 96.

أُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ الْبَحْرِ وَطَعَامُهُ مَتَاعًا لَكُمْ وَلِلسَّيَّارَةِ

Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan. (QS. Al-Maidah : 96)

Disitulah kamus dan Google Translate ketahuan kelemahannya. Ternyata beda zaman, beda penerapan makna.

Qahwah = Khamar

Kasus yang rada mirip juga terjadi pada saat kita baca kitab-kitab klasik. Salah satu contoh kekeliruan adalah ketika menerjemahkan kata qahwah. 

Disebutkan di kitab klasik bahwa qahwah (قهوة) itu  hukumnya haram lantaran qahwah itu nama salah satu jenis khamar yang dikenal di masanya.

Lucunya ada orang di zaman sekarang malah mengharamkan qahwah. Dia menerjemahkan qahwah sebagai kopi. Itu tidak keliru kalau dikaitkan dengan makna qahwah di zaman sekarang.

Namun qohwah dalam khazanah fiqih klasik khususnya  pertengahan abad ke-8 hijriyah maknanya bukan kopi, tapi maknanya khamar, atau nama salah satu jenis khamar. 

Qahwah yang maksudnya adalah khamar  ini memang diharamkan para ulama selama 400 tahun. Dimana-mana khamar memang haram hukumnya, dengan 'illat memabukkan.

Tapi kopi? Kenapa jadi haram? Apa 'illat keharamannya? 

Ternyata kasusnya gara-gara salah terjemah. Dia kira qahwah itu maksudnya kopi, sebagaimana penggunaan di masa sekarang. 

Ternyata yang dimaksud qahwah itu khamar dan bukan kopi. Namun sudah terlanjur keliru dari awal, akhirnya jadi salah kaprah melarang orang minum kopi.

Al-Muksu = Pajak

Kasus yang serupa ketika ada orang mengharamkan pajak. Gara-gara keliru menerjemahkan al-maksu atau al-muksu (المكس) dengan di masa lalu dengan pajak seperti yang kita kenal hari ini.

Di masa kenabian tentu saja belum dikenal sistem pajak seperti yang kita kenal. Al-Muksu itu jangan pernah dipahami seperti pajak di masa sekarang. Karena di masa itu belum ada kementerian Keuangan, tidak ada Dirjen Pajak, tidak ada Undang-undang Pajak. 

Lalu makna al-Muksu itu apa dong?

Di masa itu, maksudnya tidak lain adalah pungutan liar yang dilakukan para penjarah, begal, pencoleng dan preman. Korbannya para khafilah dagang yang melintas di padang pasir.

Kalau pun mau dikaitkan dengan di masa sekarang, paling jauh adalah pungutan liar yang haram dan tidak resmi dan dilakukan oleh pejabat. 

Sebutannya terdengar akrab di telinga : 

Kalau masih bisa dipersulit, buat apa dipermudah? 

Yah itu namanya pungutan tidak resmi alias pungutan liar. Di zaman serba orang rebutan jabatan seperti sekarang, nampaknya al-muksu memang meraja-lela.

Sedangkan pajak yang resmi berdasarkan undang-undang, jelas tidak bisa dinamakan al-muksu dan tidak bisa diharamkan. Hukumnya malah wajib. 

Kesimpulan :

1. Masalah fatwa dan hukum memang tidak boleh dikeluarkan oleh sembarang orang. Harus mereka yang pakar di bidangnya, bukan sekedar amatiran.

2. Biar tidak salah terjemah, harus belajar cabang ilmu tersebut secara resmi. Tidak cukup berbekal hanya penguasaan ilmu alat macam Nahwu Sharaf dan Balaghah.

3. Setiap cabang ilmu, punya istilah sendiri-sendiri yang khas dan berbeda makna meski sama penyebutan. Maka pelajari ilmunya, tidak cukup hanya bahasa.

(Hwmi Online)

Jamilah Binti Nasir, Ulama Perempuan Korban Kekejaman Khalifah Dinasti Abbasiyah


Jamilah binti Nasir, Ulama Perempuan Korban Kekejaman Khalifah Dinasti Abbasiyah

Penulis: Mohammad Soleh Shofier

 Jamilah Al-Hamdaniah binti Nashir Al-Hasan bin Abdullah bin Hamdan (w. 71 H/980 M) merupakan perempuan yang cantik, pribadi yang indah dengan tingkah lakunya, kedermawanan yang tulus serta bersahaja. Jamilah binti Nasir merupakan salah satu Ulama perempuan di masanya, sebagaimana KH Husen Muhammad menempatkan Jamilah sebagai ulama perempuan dalam bukunya; Para Ulama dan Intelektual yang memilih menjomblo [51].

Dalam kitab Al-Raudhah Al-Faiha fi A’lami Al-Nisa [80/1], Yasin Al-Khatib Al-‘Umriy mengatakan, bahwa Jamilah bin Hamdan termasuk wanita yang paling cantik serta paling cerdik. Jamilah juga memiliki perangai yang Luhur, ia senantiasa memuliakan para ulama dan bersikap takzim terhadap orang-orang yang memiliki keutamaan. Konon, Jamilah binti Nasir merupakan ulama yang hidup menjomblo karena kecerdasan yang dimilikinya membuat para remaja sangat segan dan tidak berani untuk mendekati beliau.

Kesalihahannya dalam melakukan ibadah sudah tidak diragukan lagi, baik ibadah yang berdimensi sosial maupun ibadah yang murni. Saat Jamilah berangkat ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji, beliau memberi sedekah kepada orang fakir miskin sebanyak lima puluh ribu pakaian untuk membantu kehidupan orang-orang yang tidak mampu. Memerdekakan tiga ratus budak laki-laki dan perempuan, memberikan air minum yang dingin kepada semua anggota jamaah hajidan membagikan uang ratusan dinar.

Namun sayang-nya, kekejaman ‘Adhud Daulah yang telah melakukan tindakan kekerasan seksual terhadap ulama perempuan tersebut. ‘Adhud Daulah merupakan gelar dari seorang penguasa pada masa pemerintahan Al-Thai’ salah satu khalifah dinasti Abbasiyah. Nama asli dari ‘Adhud Daulah adalah Fanna Khusraw anak Rakn Daulah dari dinasti Buwaihi yang mengatur pemerintahan Abbasiyah. Namun Fanna Khusraw lebih dikenal dengan nama panggilan-nya ‘Adhud Daulah. Ia naik pangkat dalam tampuk kekuasaan setelah mengalahkan sepupunya bakhtiar ‘Izz Daulah sehingga menjadi sultan yang berkuasa di Baghdad. [Nadirsyah Husen, Islam yes, Khilafah no!: 196/2]. Keganasannya tidak hanya meruntuhkan kekuasaan sepupunya melainkan juga pernah menyiksa dan melakukan kekerasan seksual terhadap salah seorang ulama perempuan di masanya.

Kecantikan dan keramahan Jamilah binti Nasir membuat ‘Adhud Daulah jatuh cinta dan ingin memilikinya. Namun, ketika hendak melamarnya Jamilah dengan tegas menolak lamaran tersebut karena beliau tidak menyukai laki-laki yang keras nan kejam, seperti ‘Adhid Daulah yang telah bertindak sewena-wena. Penolakan Jamilah terhadap lamaran ‘Adhud Daulah itulah yang menjadi cikal-bakal kemurkaan ‘Adhud Daulah disamping juga karena sedang merebutkan kekuasaan antara bani Hamdan yang berkoalisi dengan Bakhtiar ‘Izzu Daulah.

‘Adhud Daulah akhirnya menangkap Jamilah dan dibawa ke Baghdad. Setelah sampai di Baghdad ‘Adhud Daulah melampiaskan sakit hatinya kepada Jamilah yang telah menolak lamarannya. Di hadapan Publik Jamilah disiksa, Tidak tanggung-tanggung ‘Adhud Dulah juga melakukan kekerasan seksual yang keji kepada Jamilah secara rame-rame. Tidak berhenti di situ, dengan penuh amarah layaknya setan, ‘Adhud Daulah terus menyiksanya.

Jamilah pun tidak kuasa menahan penyiksaan dan pelecehan yang dilakukan ‘Adhud Daulah, akhirnya dalam keadaan yang paling sulit beliau memilih untuk melompat ke dalam sungai dari pada menanggung pelecehan yang dilakukan Sultan. [Syamsuddin Adz-Dahabi, Siyar A’lam Al-Nubala’: 433/11]. Sementara menurut riwayat yang lain, dari Yasin Al-Khatib mengatakan bahwa kematian Jamilah binti Nasir bukan meloncat sendiri. Akan tetapi, beliau dilemparkan oleh ‘Adhud Daulah ke dalam sungai Tigris sehingga beliau wafat tenggelam. Demikianlah kisah ulama perempuan hebat yang disiksa oleh ‘Adhud Daulah.

Sumber: Bincangsyariah.com

Nyata, di Buletin HTI 2004, Target HTI Rekrut Perwira Tinggi TNI hingga Polri

Buletin HTI Tahun 2004 Menargetkan Perwira Tinggi hingga Polri. Foto: Dutaislam.com.

Tindakan pemerintah memberangus Hisbut Tahrir Indonesia (HTI) sangat tepat sebelum organisasi tersebut menghacurkan Negara Kesatuan Indonesia (NKRI). Pasalnya, upaya menghacurkan NKRI dan menggantinya dengan khilafah oleh HTI telah dipersiapkan dengan matang.

Di Buletin Dakwah HTI Tahun 2004 silam HTI telah memasang target untuk melancarkan gerakannya. Perwira Tinggi TNI dan Polri menjadi sasaran utama.

“Sesungguhnya penguasa itu memiliki kekuatan dengan cara paksaan; dan mereka menanggalkan hak raykat; dan apa yang dipandangan dalam bentuk visualisasi kebangsaan kebanyakan bukanlah hal yang sebenarnya, dan bagi kita hendaknya kita melakukan apa yang dilakukan oleh Rasul SAW, bahwa sesungguhnya kita wajib untuk melakukan kontak dengan siapa saja yang memiliki pengaruh dan kedudukan di masyarakat untuk membuka pintu di depan orang yang di balik pintu serta mendapatkan jaminan kepemimpinan masyarakat; dan wajib atas kita untuk mencari nushrah dari kalangan ahlul quwwah (pemilik kekuatan) seperti jenderal tentara untuk mengantarkan menuju pemerintahan” demikian bunyi dalam buletin tersebut mengutip Syeikh Ahmad al Mahmud, Ad Dakwah ila Islam hal. 96.

Menanggapi itu, Mantan HTI Ayik Heriyansyah menjelaskan watak seseorang jika sudah masuk HTI. Menurutnya, orang yang sudah masuk HTI akan jadi militan dan keras kepala, susah diajak tukar pikiran. Mereka juga pintar bersilat lidah, berkamuflase dan berbohong.

“Untung NU, Ansor dan baser Sigap, kalau tidak bisa rusak NKRI karena perang saudara. Lihat saja si Prof S. Sedangkan target HTI adalah masuk ke Meliter dengan metode thalabun mushrah,” katanya kepada Dutaislam.com.

Selain di buletin tersebut, Lanjut Ayik, HTI sudah memerinci teknis merekrut dan menghalaqahkan para jenderal hingga siap meraih kekuasaan yang akan diserahkan ke HTI.

“Di Majalah al Al-Waie edisi Mei 2011 ada tulisan Ustadz Siddiq Al Jawi (DPP HTI) yang memrinci teknis merekrut dan menghalaqahkan para jenderal sampai siap meraih kekuasaan,” ujarnya.  [dutaislam.com/pin]

(Hwmi Online)

Friday, 22 October 2021

Ulama Anti Maulid, Yang Berubah Setelah Lihat Rasulullah

Ulama Anti Maulid, Yang Berubah Setelah Lihat Rasulullah 

  Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Bahauddin Nursalim (Gus Baha) menceritakan kisah Syekh Ibnu Hajar al-Haitami yang dikatakan berjumpa dengan Rasulullah saw di majelis maulid. Mulanya, kata Gus Baha, Syekh Ibnu Hajar al-Haitami sangat mengharamkan nasyid (lagu-lagu yang memuji nabi). Ia berkali-kali ingkar kepada beberapa habaib dan ulama pada saat membaca Barzanji ketika sampai tharaban. Suatu ketika, Syekh Ibnu Hajar al-Haitami menghadiri sebuah acara maulid. Spontan, Ibnu Hajar turut menggerakkan badan karena tersentuh asyiknya.

“Lalu, Syekh Ibnu Hajar al-Haitami ditanya: ‘Kenapa Anda ikut bergoyang, padahal Anda mengharamkannya?’ Syekh Ibnu Hajar lalu menjawab: ‘Sekarang saya tidak mengharamkan dan akan ikut. Saya melihat Rasulullah di majelis ini melakukan itu,”

 Lebih lanjut, kendati secara lahiriah Rasulallah saw telah wafat, pada hakikatnya ia tidak pernah meninggalkan umatnya, karena makna dari ruh sendiri adalah kehidupan. “Jika jasad ditinggal ruh itu dinamakan mati, maka ruh ini bisa disifati mati apa tidak? Tidak, sebab ruh itu maknanya kehidupan,” ujar Kiai asal Kragan, Narukan, Rembang itu. Kemudian, hal itu dikuatkan dengan tidak digunakannya dhamir ghaib seperti pada bacaan tahiyat yang diucapkan selama ini, yakni Assalamu’alaika. “Pakainya alaika, padahal nabi sudah tidak ada. Karena tidak adanya beliau itu secara lahir. Hakikatnya, nabi masih di hadapan kita. Sehingga, kita kalau salam mengucapkan assalamu’alaika,”

  Rasulullah saw adalah pemimpin para syuhada. Diketahui bahwa para syuhada tetap hidup sebagaimana termaktub dalam QS Ali ‘Imran ayat 169: Dan jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Sebenarnya mereka tetap hidup di sisi Tuhannya dan mendapatkan rezeki. “Rasulullah saw adalah pemimpin para syuhada. Kalau sekadar mati syahidnya orang biasa saja masih tetap hidup, apalagi Rasulullah sang sayyidus syuhada (pemimpin para syuhada). Tentu Rasulullah itu hidup,”

Sumber : NU Online

Peringati Maulid Nabi, Abi Agus Salim: Nahdliyin Jangan Sampai Berpaling dari Kiai-kiai NU

Peringati Maulid Nabi, Abi Agus Salim: Nahdliyin Jangan Sampai Berpaling dari Kiai-kiai NU

Dikutip dari dakwahnu.id, Ketua Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD PBNU) KH. Agus Salim mengingatkan masyarakat NU agar jangan sampai berpaling dari Kiai-kiai Nahdliyin. Sebab menurut Abi, beliaulah pewaris Nabi Muhammad Saw.

Hal ini disampaikannya dalam sambutan acara Maulid Akbar yang diselenggarakan oleh PBNU di Masjid Istiqlal, Selasa (19/10/21).

“Saya katakan ulama-ulama NU, maka jangan pernah kita berpaling dari Kiai Nahdliyin karena beliau lah pewaris nabi Muhammad Saw. Sekali kita berpaling sulit kita mendapatkan warisan berharga,” ujarnya.

Menurut Abi, sekali kita berpaling, maka akan sulit pula mendapatkan warisan berharga. Sehingga, beliau mengajak Nahdliyin untuk terus memberikan kesetiaan kepada NU dan para Masyayikh sebagai gerbang besar NU, sekaligus sebagai langkah memberikan kesetiaan kepada Baginda Rasulullah.

Abi juga menyampaikan, dengan maulid nabi dapat mendorong masuk manusia untuk lebih mengenal dalam tentang Nabi Muhammad Saw, baik mengenal akhlaknya maupun risalahnya. Sehingga masyarakat bisa semakin yakin mengapa cinta beliau.

“Kelak hubungan sebab inilah yang akan menyatukan kita kepada Baginda Rasulullah di akhir kelak. Di mana di situ ada syafaat Rasulullah sebagai anugerah terbesar bagi kita. Maka agar keterikatan kita dengan nabi maka talinya harus tersambung kuat. Di sinilah kita butuh pembimbing, guru yang sebab keilmuannya itu bersambung pada Rasulullah. Memiliki sanad,” jelas Abi.

“Saya mengucapkan syukron, pada semua pihak yang telah membantu terselenggaranya maulid ini, khususnya ketum dan sekjen, yang tidak pernah jenuh membimbing kami,” imbuhnya. (fbr)

(Hwmi Online)

Ketua KPK: Semangat Santri Diperlukan dalam Perang Badar Melawan Korupsi

Ketua KPK: Semangat Santri Diperlukan dalam Perang Badar Melawan Korupsi

Dikutip dari suaraislam.co, Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Firli Bahuri mengatakan bahwa semangat fisabilillah dan roh santri diperlukan dalam perang badar melawan korupsi.

Hal tersebut disampaikan Firli saat memperingati Hari Santri Nasional yang diperingati setiap 22 Oktober.

Menurut Firli, tema besar peringatan Hari Santri Nasional 2021, yakni “Santri Siaga Jiwa dan Raga” sangat tepat untuk mengingatkan seluruh elemen bangsa, betapa pentingnya menyiagakan selalu jiwa raga seperti lazimnya seorang santri, dalam menjalani hidup dan kehidupan bermasyarakat, berbangsa serta bernegara.

“Saya tekankan, negeri ini membutuhkan anak-anak bangsa yang memiliki jiwa, raga, semangat fisabilillah dan roh seorang santri dalam perang badar melawan korupsi dan perilaku koruptif di negeri ini,” kata Firli dalam keterangannya, Jumat (22/10/2021).

Firli mengungkapkan, bangsa Indonesia pernah mengalami masa sulit di masa kolonial dan menghadapi imperialis. Dikatakan, yang tak kalah jahat dari kolonialisme itu sendiri adalah penanaman sistematis perilaku koruptif yang membudaya dan menjadi norma di nusantara, dan hingga kini masih dicontoh.

“Bagaimana kesetiaan terhadap tuan-tuan tanah dan penguasa-penguasa harus dibuktikan dari pemberian hadiah dan pembagian hasil yang tak adil. Sistem tersebut tentu memiskinkan rakyat, hanya sekelompok orang yang berkomplot dengan kolonial dan imperator yang hidup layak. Perilaku kolonial dan imperator tak berbeda dengan komplotan koruptor yang rakus dan mencuri hak rakyat, sehingga tak peduli pada kehidupan orang lain,” tegasnya.

Untuk itu, bercermin pada tekad bulat, semangat kuat pantang menyerah dalam jihad fisabilillah merebut kemerdekaan dari tangan penjajah di masa lalu, Hari Santri Nasional di masa kini sepatutnya menjadi momentum membangkitkan sekaligus menyempurnakan kepribadian, jiwa raga dan roh serta kepribadian seorang santri dalam diri segenap bangsa Indonesia untuk menumpas habis warisan budaya koruptif ala kolonialisme dan imprerialisme di Indonesia.

“Selamat memperingati dan merayakan Hari Santri Nasional 2021. Dengan semangat antikorupsi, semoga roh, semangat perjuangan para ulama dan santri pendahulu kita untuk merebut kemerdekaan di masa lalu, senantiasa tumbuh dan berkembang dalam setiap jiwa, raga, hati dan pikiran segenap rakyat Indonesia,” ungkapnya.

(Hwmi Online)

Mendikbud Ristek Nadiem Makarim Peringati Hari Santri di Ponpes Lirboyo


Mendikbud Ristek Nadiem Makarim bersilaturahim dengan Pengasuh Ponpes Lirboyo, Kediri. Kedatangannya, menyambut Hari Santri. Nadiem disambut KH Anwar Mansur dan KH Abdullah Kafabih berlanjut bertemu pengasuh di kantor Yayasan PP Lirboyo Kediri.

Dikutip dari suaraislam.co, Dalam sambutannya, Nadiem ingin merayakan Hari Santri bersama Santri Lirboyo Kediri. Dirinya juga meminta doa dan petunjuk rahasia di balik keunggulan santri dan alumni pesantren.

“Saya ingin merayakan Hari Santri bersama santri Lirboyo Kediri, sekaligus meminta doa dan petunjuk dari para pengasuh pondok, apa rahasia keunggulan alumni pesantren,” kata Nadiem Makarim, Kamis (21/10/2021) malam seperti dikutip dari detik.com.
Nadiem juga memberikan motivasi agar santri tekun belajar, karena masa depan akan menjadi harapan bangsa.

Salah satu pengasuh Ponpes Lirboyo Kediri KH Kafabihi Mahrus mengungkapkan keunggulan dan rahasia Ponpes Lirboyo.
“Keunggulan santri adalah karena dididik untuk memiliki akhlaqul karimah di samping pengajaran ilmu agama,” jelasnya.
Kiai Kafah juga berpesan bahwa untuk memajukan Indonesia, di antaranya harus mengikuti kaidah Dar’ul Mafasid Muqaddam a’la Jalbil Mashalih.

“Yakni mencegah keburukan harus didahulukan atas mengupayakan kebaikan. Kalau pingin maju, berantas dulu yang merusak ahlak anak bangsa seperti narkoba, korupsi dan lainnya,” tandasnya.

Sementara di sela kedatangannya Nadiem mengajak ribuan Santri Ponpes Lirboyo Kediri mengucapkan Selamat Hari Santri melalui kamera telepon genggamnya.
“Saya Mendikbud Ristek Nadiem Makarim dari Pondok Pesantren Lirboyo Kediri mengucapkan Selamat Hari Santri 2021,” teriak Nadiem dibarengi para santri di Aula Ponpes Lirboyo Kediri.