HWMI.or.id

Tuesday, 21 April 2026

Dari Gelap Menuju Terang, Dari Rumah untuk Peradaban

(Refleksi Hari Kartini 21 April 2026: Membaca Ulang “Habis Gelap Terbitlah Terang” dalam Nalar Aswaja dan Realitas Perempuan Nahdliyin)

Oleh: Akhmad Fauzi, S.Ag., M.Pd.I

Pendahuluan: Menggugat Terang yang Kosong Makna

Satu abad lebih setelah R.A. Kartini menulis Door Duisternis tot Licht, kata “terang” telah menjadi jargon. Semua orang mengklaimnya: industri kosmetik menjual “terang” pada kulit, platform digital menjanjikan “terang” pada karier, negara memamerkan “terang” pada statistik APK perempuan. 

Pertanyaan kritis 2026 bukan lagi “apakah perempuan sudah keluar dari gelap?”, tetapi “terang macam apa yang kini kita rayakan?” Sebab gelap tidak selalu buta huruf. Gelap bisa berwujud sarjana yang kehilangan arah, influencer yang kehilangan malu, dan rumah tangga yang kehilangan waktu untuk Al-Qur’an.

Bagi nalar Nahdlatul Ulama, tema “Dari Gelap Menuju Terang, Dari Rumah untuk Peradaban” adalah koreksi terhadap emansipasi yang kebablasan dan domestifikasi yang memasung. Ia menawarkan jalan _tawassuth_: terang yang berangkat dari rumah, dijaga syariat, dan bermuara pada maslahat umat. Perempuan NU tidak sekadar keluar dari gelap. Ia ditakdirkan menjadi pelita.

1. Terangnya Ilmu, Terangnya Negeri: Dari Statistik Menuju Kualitas Peradaban 

Diagnosis Gelap Lama vs Gelap Baru

Kartini 1900 melawan gelap bernama _pingitan dan buta aksara_. Kartini 2026 menghadapi gelap bernama _banjir informasi tanpa sanad dan krisis keteladanan_. Data BPS 2025 mencatat APK perempuan SMA 89,4%, PT 41,2%, melampaui laki-laki. Namun Survei Literasi Al-Qur’an Kemenag 2025 mengungkap hanya 34% Muslimah usia 15-30 tahun yang mampu membaca Al-Qur’an tartil. Terang secara akademik, gelap secara spiritual.

Di sinilah Aswaja menawarkan diferensiasi. Dalam _ta’lim muta’allim_, ilmu dibagi dua: ilmu hal yang wajib untuk keselamatan individu, dan ilmu kifayah untuk kemaslahatan kolektif. Bagi perempuan, ilmu hal pertamanya adalah fikih nisa’, akidah, dan Al-Qur’an. Tanpa itu, gelar magister sekalipun tidak mencegah gelapnya sebuah rumah tangga.  

Rumah sebagai Laboratorium Peradaban 

Kaidah al-ummu madrasatul ula bukan slogan. Ia teori infrastruktur. Satu ibu yang khatam mengajar Iqra’ berarti satu TPQ gratis di ruang tamu. Satu santri putri yang hafal Juz 30 berarti satu imam salat Tarawih cadangan untuk kampung. Jika 1 juta rumah nahdliyin menyalakan “lampu ngaji” jam 18.00-19.00, maka kita punya 1 juta madrasah yang tidak butuh APBN.

Maka indikator “Terangnya Negeri” harus direvisi. Bukan hanya IPM, tetapi _Indeks Cahaya Rumah_: berapa rumah yang dalam 24 jam terdengar bacaan Al-Qur’an, berapa ibu yang mengajar anaknya wudu sebelum sekolah, berapa ayah yang ridha anak perempuannya mondok. Negeri terang adalah akumulasi rumah yang tidak gelap. Mercusuar tidak bisa menyala jika gardu-gardu di kampung padam.

2. Perempuan Penggerak Jam’iyah: Membongkar Mitos Domestik vs Publik  

Ekonomi Politik Pengabdian  

Tesis sekuler: kontribusi diukur dari PDB dan jabatan publik. Tesis nahdliyin: kontribusi diukur dari _istimroriyah amal_. Jam’iyah NU bertahan 100 tahun bukan karena kantor PBNU, tetapi karena dapur-dapur Muslimat yang tidak pernah padam kompornya saat haul, istighotsah, dan santunan. 

Mari audit secara jujur: siapa yang mengisi kas kotak amal mingguan? Ibu-ibu. Siapa yang memastikan 40 anak TPQ dapat takjil tiap Ramadan? Ustadzah tanpa SK. Siapa yang merawat data jamaah tahlil, arisan yasin, dan jadwal rebana? Kader Fatayat. Ini bukan kerja domestik. Ini manajemen peradaban level akar rumput yang tidak tercatat di SAKERNAS. 

Dari Rumah untuk Jam’iyah: Teori Sentripetal Peradaban  

Gerakan perempuan NU bekerja secara sentripetal, bukan sentrifugal. Energi tidak dilempar ke luar rumah, tetapi ditarik ke dalam rumah besar bernama jam’iyah, lalu dipantulkan kembali ke umat. Contoh: TPQ Nurul Huda RT 6 RW 5 Tasikmadu. Berdiri di teras rumah ustadzah, muridnya 60 anak, biayanya Rp10.000/bulan, gurunya 4 orang ikhlas. Output: 12 khataman Iqra’ per tahun, 5 wisuda Juz 30, 0 anak putus ngaji. Multiply ini dengan 10.000 TPQ se-Malang Raya. Itulah pembangunan tanpa utang luar negeri.

Jadi, menjadi Ketua Ranting Muslimat yang menghidupkan madrasah diniyah adalah pekerjaan peradaban. Menjadi bendahara arisan yang jujur adalah pekerjaan peradaban. “Terang” tidak harus di panggung. Lampu teplok di langgar juga mengusir gelap.

3. Emansipasi dalam Bingkai Syariat: Melawan Dua Ekstrem Sekaligus 

Ekstrem Pertama: Feodalisme Berbungkus Agama 

Masih ada yang membaca kodrat sebagai kurungan. Perempuan dilarang sekolah tinggi, dipaksa menikah dini, dijauhkan dari organisasi dengan dalil “fitnah”. Ini adalah gelap yang dipasangi bingkai kaligrafi. Islam tidak mengenal itu. Khadijah adalah CEO, Aisyah adalah profesor hadis, Nafisah adalah guru Imam Syafi’i. 

Ekstrem Kedua: Liberalisme Berbungkus HAM  

Di sisi lain, ada terang yang menyilaukan sampai membutakan: kampanye childfree sebagai puncak kemandirian, relativisme keluarga, hingga komodifikasi aurat atas nama ekspresi. Ini bukan emansipasi. Ini de-humanisasi yang dijual dengan diskon progresivitas. 

Tawassuth sebagai Jalan Terang

Aswaja menawarkan _emansipasi kaffah_: bebas dari kebodohan, bebas dari kemiskinan, bebas dari maksiat. Syariat bukan pagar penjara, melainkan pagar tol: agar laju pergerakan perempuan cepat, aman, dan tidak keluar jalur sampai celaka.

Parameternya jelas dalam  Maqashid Syariah:  

1. Hifzhud Din: Perempuan boleh berkarier, asal salat dan ngajinya terjaga.  

2. Hifzhun Nafs: Boleh berorganisasi, asal keselamatan dan kehormatannya terjaga.  

3. Hifzhul ‘Aql: Boleh berpendapat, asal akalnya disinar wahyu, bukan hawa nafsu.  

4. Hifzhun Nasl : Boleh menunda nikah untuk sekolah, tapi tidak mengharamkan institusi keluarga.  

5. Hifzhul Mal : Boleh kaya raya, tapi hartanya wasilah sedekah, bukan flexing.  

Inilah kesetaraan versi Aswaja: bukan 50:50 membagi peran, tetapi 100:100 menunaikan taklif. Laki-laki dan perempuan bukan saingan, melainkan sekutu dalam proyek besar bernama ‘imaratul ardh.



4. Kartini Mengaji, Kartini Mengabdi: 

Epistemologi Keberdayaan Nahdliyin  

Kritik atas Keberdayaan Kosong  

Paradigma pembangunan global mengukur keberdayaan perempuan dengan GDI dan GEM: berapa persen di parlemen, berapa persen CEO. Ukuran ini penting, tetapi parsial. Ia tidak bisa menjelaskan mengapa angka depresi perempuan karier di kota besar naik 27% pasca pandemi, atau mengapa burnout ibu muda menjadi epidemi diam-diam.  


Aswaja mendiagnosis: itu _gelap pasca-terang_. Terang karena berdaya secara ekonomi, gelap karena kering secara ruhani. Manusia bukan hanya _homo economicus_, tetapi _homo religiosus_.  


*Ngaji sebagai Teknologi Produksi Makna*  

Dalam tradisi pesantren, _ngaji_ adalah metode produksi ilmu sekaligus produksi akhlak. Sorogan melatih intelektualitas, bandongan melatih kesabaran, lalaran melatih konsistensi, khidmah melatih keikhlasan. Satu paket.  


Maka rumus keberdayaan NU berbeda: *Ngaji → Sadar → Berdaya → Mengabdi*.  

1. *Ngaji* membuat perempuan sadar posisi di hadapan Allah, bukan di hadapan algoritma.  

2. *Sadar* melahirkan visi hidup yang transenden: hidup bukan untuk FYP, tetapi untuk ridha-Nya.  

3. *Berdaya* menjadi wasilah, bukan tujuan. Daya digunakan untuk melayani, bukan menaklukkan.  

4. *Mengabdi* menjadi puncak aktualisasi: _khairunnas anfa’uhum linnas_.  


Para ustadzah TPQ, guru madin, dan pengasuh pesantren putri adalah prototipe “Kartini Mengaji”. Mereka mengubah gelap buta huruf hijaiyah menjadi terang tartil. Mereka mengubah gelap buta akhlak menjadi terang birrul walidain. Tanpa mereka, 2045 Indonesia Emas hanya akan jadi Indonesia Cemas: cerdas tapi culas, kaya tapi durhaka.



*Penutup: Membangun Mercusuar dari Sumbu di Rumah*  

“Dari Gelap Menuju Terang, Dari Rumah untuk Peradaban” adalah antitesis terhadap dua jalan sesat: _pertama_, menyuruh perempuan kembali ke sumur domestik; _kedua_, menyeret perempuan ke pasar bebas nilai.

Jalan nahdliyin adalah menyalakan sumbu di rumah, lalu membiarkan cahayanya memancar lewat jendela jam’iyah hingga menerangi jalan peradaban. Ketika 1 rumah menyala, 1 RT aman. Ketika 1 RT menyala, 1 kampung tentram. Ketika kampung-kampung NU menyala, Indonesia punya cadangan cahaya saat pemadaman global melanda. 

Kartini 2026 tidak perlu kapal ke Belanda untuk mengirim surat. Ia cukup mengirim pesan WA ke grup wali santri: “Malam ini khataman bin-nadhar Juz 1, yang berhalangan izin”. Dari notifikasi itulah peradaban dikabarkan: bahwa di Lowokwaru, gelap tidak lagi punya tempat, karena ibu-ibunya memilih menyalakan lampu ngaji daripada mengutuk kegelapan.

Hari ini aku khatam Iqra’ 6.  

Hari ini aku khatam Al-Qur’an.  

Hari ini aku mulai mengajar.  

Tiga kalimat. Satu peradaban.

Monday, 6 April 2026

LP. Ma'arif NU Kota Malang menggelar acara Halal Bihalal

Dokumen : Panitia Halal Bi Halal 1447 H LP Ma'arif NU Kota Malang
Pada Ahad, 5 April 2026, di MTs Ma'arif NU Kota Malang. Acara ini diawali dengan Khataman Al Qur'an dan Istighosah, yang diikuti oleh para guru, tenaga kependidikan, dan siswa.

Dalam sambutannya, Ketua LP. Ma'arif NU Kota Malang, Prof. Drs. Nur Ali, mengajak para guru dan tenaga kependidikan untuk tetap semangat mengabdi dan mencerdaskan anak bangsa. Beliau menekankan pentingnya meningkatkan kualitas diri dan layanan terbaik untuk anak bangsa.

"Para guru dan tenaga kependidikan harus menjadi contoh bagi siswa dalam berakhlak mulia dan berprestasi," ujarnya.

Acara dilanjutkan dengan ceramah agama yang disampaikan oleh KH. Muh. Yahya, MA. P.Hd. Beliau menyampaikan pentingnya nilai-nilai Ramadhan diterjemahkan di luar Ramadhan, seperti membangun kedekatan diri kepada Allah Swt., merasa cemas terhadap ibadah yang dilakukan, dan menjadi pribadi yang dermawan dan pemaaf.

Acara diakhiri dengan doa bersama, yang dipimpin oleh KH. Muh. Yahya, MA. P.Hd. Para hadirin kemudian bersalaman sebagai simbol kebersamaan dan keharmonisan.

Monday, 30 March 2026

Halalbihalal dan Komitmen Memajukan MTs Ma'arif NU Kota Malang Dengan Semangat Berprestasi dan Berakhlak Karimah

Dokumen: Halal bi Halal 1447 H MTs Ma'arif NU Kota Malang 

MTs Ma'arif NU Kota Malang mengadakan acara Halal Bihalal pada 28 Maret 2024 di aula MTs Ma'arif NU Kota Malang dengan tema "Indahnya Kebersamaan dan Menguatkan Cinta kepada MTs Ma'arif NU Kota Malang". Acara ini dihadiri oleh seluruh siswa, guru, dan pegawai MTs Ma'arif NU Kota Malang.

Dalam sambutannya, Kepala Madrasah MTs Ma'arif NU Kota Malang mengajak seluruh warga madrasah untuk meningkatkan semangat berprestasi dan memperkuat kebersamaan. "Kita harus terus berprestasi dan meningkatkan kualitas diri kita untuk menjadi generasi yang unggul dan berakhlak mulia," ujarnya.

Acara dilanjutkan dengan doa bersama dan bersalaman seluruh siswa, guru, dan pegawai sebagai simbol kebersamaan dan keharmonisan. "Halal Bihalal ini menjadi momentum untuk memperkuat ukhuwah dan kebersamaan di antara kita," kata salah satu guru.

Acara ini juga menjadi kesempatan bagi MTs Ma'arif NU Kota Malang untuk menunjukkan komitmennya dalam membangun generasi yang berakhlak mulia, berprestasi, dan memiliki jiwa kepemimpinan. (Fauzi)

Monday, 16 March 2026

Tadabbur QS Muhammad Ayat 38 : Ibrah dari Perang Iran vs Amerika dan Israel

Sumber gambar : Ig @alekgerung
Peristiwa besar yang terjadi di dunia pada setiap zaman sering menjadi pengingat bagi manusia tentang rapuhnya kekuatan dunia dan pentingnya kembali kepada nilai-nilai keimanan. Konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, Israel, serta dinamika politik di kawasan Teluk Arab telah menjadi salah satu peristiwa besar yang mempengaruhi situasi global saat ini. Peperangan, serangan militer, serta jatuhnya korban jiwa tidak hanya mengguncang kawasan Timur Tengah, tetapi juga menarik perhatian dunia dan menjadi bahan renungan bagi banyak orang beriman.

Dalam pandangan keimanan, setiap peristiwa besar dapat menjadi sarana untuk mengambil ibrah (pelajaran). Al-Qur’an sebagai kitab petunjuk sering memberikan peringatan dan gambaran tentang bagaimana manusia seharusnya bersikap dalam menghadapi ujian zaman. Salah satu ayat yang sering dijadikan bahan refleksi adalah firman Allah SWT dalam Surah Muhammad ayat 38;

هَٰٓأَنتُمْ هَٰٓؤُلَاءِ تُدْعَوْنَ لِتُنفِقُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ فَمِنكُم مَّن يَبْخَلُ ۖ وَمَن يَبْخَلْ فَإِنَّمَا يَبْخَلُ عَن نَّفْسِهِۦ ۚ وَٱللَّهُ ٱلْغَنِىُّ وَأَنتُمُ ٱلْفُقَرَآءُ ۚ وَإِن تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُونُوٓا۟ أَمْثَٰلَكُمْ

Artinya:

“Dan inilah kamu, orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) di jalan Allah. Maka di antara kamu ada yang kikir, dan siapa yang kikir maka sesungguhnya dia kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah Yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang membutuhkan-Nya. Dan jika kamu berpaling, niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain; kemudian mereka tidak akan seperti kamu.”

(QS Muhammad: 38)

Ayat ini mengandung peringatan yang sangat kuat. Allah SWT mengingatkan bahwa apabila suatu kaum berpaling dari tanggung jawabnya dalam menegakkan kebenaran dan nilai-nilai keimanan, maka Allah tidak bergantung kepada mereka. Allah dapat menggantikan mereka dengan kaum lain yang lebih siap menjalankan amanah tersebut.

Makna ayat ini semakin diperjelas melalui penjelasan Nabi Muhammad ﷺ dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah. Dalam hadits tersebut digambarkan dialog Rasulullah ﷺ dengan para sahabat ketika ayat ini dibacakan;

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: تَلَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ هَذِهِ الآيَةَ

وَإِنْ تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُونُوا أَمْثَالَكُمْ

قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَنْ هَؤُلَاءِ الَّذِينَ إِنْ تَوَلَّيْنَا اسْتُبْدِلُوا بِنَا؟

فَضَرَبَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَلَى مَنْكِبِ سَلْمَانَ، ثُمَّ قَالَ:

هَذَا وَقَوْمُهُ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ كَانَ الْإِيمَانُ مُعَلَّقًا بِالثُّرَيَّا لَنَالَهُ رِجَالٌ مِنْ فَارِسَ

Dari Abu Hurairah ia berkata: Rasulullah ﷺ membaca ayat:

“Jika kalian berpaling, Allah akan mengganti kalian dengan kaum yang lain dan mereka tidak akan seperti kalian.”

Para sahabat bertanya:

“Wahai Rasulullah, siapa kaum yang akan menggantikan kami itu jika kami berpaling?”

Lalu Rasulullah ﷺ menepuk pundak Salman Al-Farisi dan bersabda:

“Orang ini dan kaumnya. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya iman itu berada di bintang Tsurayya, niscaya akan dicapai oleh orang-orang dari Persia.”

Para ulama memahami hadits ini sebagai isyarat bahwa bangsa Persia (Iran) memiliki potensi besar dalam menerima dan mengembangkan Islam. Sejarah Islam kemudian menunjukkan bahwa wilayah Persia melahirkan banyak tokoh besar dalam ilmu pengetahuan, pemikiran, dan peradaban Islam.

Ketika melihat berbagai peristiwa besar yang terjadi pada zaman modern, sebagian umat berusaha mengambil pelajaran dari ayat dan hadits tersebut. Konflik, peperangan, dan ketegangan global sering dipandang sebagai ujian besar bagi umat manusia. Dalam perspektif keimanan, peristiwa seperti ini seharusnya mendorong manusia untuk melakukan refleksi, memperbaiki diri, dan kembali kepada nilai-nilai kebenaran.

Al-Qur’an juga mengingatkan bahwa sebelum datangnya ujian besar atau azab, Allah selalu memberikan tanda dan peringatan kepada manusia. Peringatan tersebut dapat datang melalui wahyu, nasihat para ulama, maupun tanda-tanda alam (ayat kauniyah) yang menunjukkan kebesaran Allah SWT kepada manusia.

Pada akhirnya, setiap peristiwa besar dalam sejarah bukan hanya sekadar kejadian politik atau konflik antarnegara, tetapi juga dapat menjadi sarana untuk mengambil pelajaran bagi orang-orang yang beriman. Al-Qur’an mengajak manusia untuk melihat peristiwa dunia dengan hati yang terbuka, mengambil ibrah dari sejarah, serta memperkuat keimanan dalam menghadapi berbagai ujian zaman.

Dengan demikian, pesan utama dari QS Muhammad ayat 38 adalah pengingat bahwa kekuatan sejati umat tidak terletak pada kekuasaan dunia semata, tetapi pada keteguhan iman, keadilan, dan kesediaan untuk menegakkan nilai-nilai kebenaran. Siapa pun yang menjaga nilai-nilai tersebut akan memiliki peran penting dalam perjalanan sejarah umat manusia. Allohu A'lam

Saturday, 14 March 2026

Penutupan Akademi Ramadhan MTs Ma’arif NU Kota Malang: Meneguhkan Istiqamah dan Semangat Berprestasi

 

Dokumen: Kegiatan Akademi Ramadhan 1447 H LP Ma'arif NU Lowokwaru bersama MTs Ma'arif NU Lowokwaru Kota Malang

Kegiatan Akademi Ramadhan di MTs Ma'arif NU Kota Malang resmi ditutup pada Ahad, 15 Maret 2026. Penutupan kegiatan berlangsung dengan penuh khidmat dan kebersamaan, menandai berakhirnya rangkaian program pembinaan spiritual dan penguatan karakter yang diikuti para siswa selama bulan suci Ramadhan.

Kepala madrasah Denik Indah Sulistyowati, S.Sos., M.Pd.Gr., dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur serta ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam menyukseskan kegiatan tersebut. Apresiasi disampaikan kepada seluruh peserta didik yang telah mengikuti kegiatan dengan penuh kedisiplinan dan semangat, para Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) yang dengan sabar membimbing siswa, serta kepada Ketua LP Ma'arif MWC NU Lowokwaru, Akhmad Fauzi, S.Ag., M.Pd.I yang telah mengawal dan mendampingi jalannya kegiatan sejak awal hingga akhir.

Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada para donatur yang telah memberikan dukungan dalam berbagai bentuk demi kelancaran program Akademi Ramadhan. Dalam kesempatan tersebut, pihak madrasah menyampaikan doa dan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dengan ungkapan “Jazakumullah khairan katsira”, sebagai bentuk penghargaan atas kontribusi yang diberikan.

Dalam amanatnya kepada para siswa, Denik Indah Sulistyowati berpesan agar nilai-nilai yang telah dipelajari selama Akademi Ramadhan tidak berhenti ketika kegiatan selesai. Para siswa diharapkan mampu menjaga istiqamah dalam beribadah (ubudiyah), meningkatkan semangat belajar, serta menampilkan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, siswa juga diingatkan untuk selalu menjaga nama baik madrasah sebagai bagian dari keluarga besar pendidikan yang menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman dan karakter.

Sementara itu, Ketua LP Ma'arif MWC NU Lowokwaru, Akhmad Fauzi, menambahkan bahwa untuk mewujudkan MTs Ma'arif NU Kota Malang sebagai madrasah yang maju diperlukan komitmen bersama dari seluruh elemen, baik guru, tenaga kependidikan, siswa, maupun tim pengembang madrasah. Menurutnya, mental juara dan semangat untuk terus berinovasi menjadi kunci dalam meningkatkan kualitas pendidikan.

Ia juga menegaskan pentingnya kolaborasi dan dukungan dari berbagai pihak, termasuk para donatur dan masyarakat yang memiliki komitmen memajukan pendidikan generasi muda. Dengan kerja sama yang berkelanjutan, diharapkan madrasah mampu melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul dalam prestasi akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat dan berakhlakul karimah.

Sebagai informasi, kegiatan Akademi Ramadhan merupakan program pembinaan yang banyak dilaksanakan di madrasah selama bulan suci Ramadhan. Program ini biasanya diisi dengan berbagai kegiatan seperti pendalaman ilmu agama, pembiasaan ibadah, kajian akhlak, hingga kegiatan sosial yang bertujuan membentuk generasi muda yang berilmu, beriman, dan berkarakter.

Dengan berakhirnya kegiatan ini, diharapkan semangat Ramadhan tetap terjaga dalam kehidupan para siswa. Akademi Ramadhan bukan sekadar agenda tahunan, tetapi menjadi momentum penting dalam membangun karakter pelajar yang religius, disiplin, serta siap menghadapi tantangan masa depan.

Kemenag Kota Malang Luncurkan Program Bina Rohani Sekolah Rakyat (Bisara) untuk Dukung Siswa Rentan Putus Sekolah

Dokumen: Kepala Kantor Kementrian Agama Kota Malang, Gus Shampton saat sosialisasi program Bisara dan Mauidhah
Kementerian Agama Kota Malang menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan pelayanan pembinaan rohani masyarakat, khususnya di bidang pendidikan. Komitmen tersebut diwujudkan melalui program inovatif Bina Rohani Sekolah Rakyat (Bisara) yang dilaksanakan di lingkungan Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) Kota Malang.

Program Bisara dirancang sebagai bentuk dukungan terhadap pembinaan peserta didik yang berasal dari kelompok rentan, seperti siswa yang berpotensi putus sekolah, masyarakat termarjinalkan, maupun keluarga kurang mampu di wilayah perkotaan yang selama ini memiliki keterbatasan akses terhadap layanan pendidikan yang memadai.

Kepala Kementerian Agama Kota Malang, Gus Sampton, dalam sambutannya menyampaikan bahwa program ini merupakan salah satu prioritas lembaga dalam upaya membangun generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara spiritual dan berakhlak mulia.

“Program ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi peserta didik di SRMP. Pendanaan program ini murni berasal dari donasi bersama seluruh pegawai Kemenag Kota Malang agar manfaatnya semakin luas dan maslahat bagi masyarakat,” ungkap Gus Sampton.

Pelaksanaan program Bisara dilakukan melalui kerja sama berbagai pihak, di antaranya unsur PAIS (Pendidikan Agama Islam), para guru PAI, serta tim dari Forum Komunikasi Pendidikan Al-Qur'an (FKPQ) Kota Malang yang turut terlibat langsung dalam proses pembinaan.

Melalui kolaborasi tersebut, para siswa mendapatkan pendampingan rohani yang berfokus pada pembinaan baca tulis Al-Qur’an, penguatan nilai-nilai adab, serta pembentukan karakter religius. Program ini juga menjadi bagian dari dukungan terhadap program pemerintah pusat dalam pemerataan layanan pendidikan, khususnya pendidikan berbasis asrama bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.

“Program ini semata-mata untuk membantu upaya pemerintah dalam pemerataan pelayanan pendidikan. Harapannya, para siswa dapat tumbuh menjadi generasi yang berakhlak mulia, sholih dan sholihah, serta mampu membanggakan orang tua dan masyarakat,” tegas Gus Sampton di hadapan para wali murid SRMP.

Ia juga menekankan bahwa keberhasilan pembinaan karakter tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Diperlukan sinergi antara orang tua, guru, pemerintah, dan masyarakat, termasuk peran aktif FKPQ yang melakukan pendampingan langsung kepada siswa dalam program Bina Baca Tulis Al-Qur’an dan pembinaan adab.

Dalam kegiatan yang berlangsung di SRMP Kota Malang pada Sabtu (14/3/2026) tersebut, selain sosialisasi program Bisara, pihak Kemenag Kota Malang juga menyalurkan sedekah kepada para wali murid yang hadir untuk menjemput putra-putri mereka selama masa liburan sekolah.

Kegiatan tersebut juga dirangkaikan dengan program parenting yang diselenggarakan oleh pihak sekolah. Melalui kegiatan ini, para orang tua mendapatkan penguatan terkait peran keluarga dalam mendampingi pendidikan dan pembentukan karakter anak, sehingga tercipta lingkungan pendidikan yang selaras antara rumah dan sekolah.

Dengan hadirnya program Bina Rohani Sekolah Rakyat (Bisara), Kementerian Agama Kota Malang berharap dapat memperkuat pembinaan spiritual sekaligus membuka peluang pendidikan yang lebih luas bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu, sehingga mereka tetap dapat meraih masa depan yang lebih baik.

Friday, 13 March 2026

Pembukaan Akademi Ramadhan 1447 H MTs Ma’arif NU Kota Malang Berlangsung Khidmat dan Penuh Semangat

Dokumen : Peserta Akademi Ramadhan 1447 H di MTs Ma'arif NU Lowokwaru Kota Malang 
Malang — MTs Ma’arif NU Kota Malang resmi membuka kegiatan Akademi Ramadhan 1447 H pada Jumat (13/3/2026) di Aula MTs Ma’arif NU Kota Malang. Kegiatan ini menjadi salah satu program pembinaan keagamaan yang diselenggarakan setiap bulan suci Ramadhan untuk memperkuat pemahaman keislaman sekaligus membentuk karakter peserta didik yang berakhlak mulia.

Acara pembukaan berlangsung khidmat dan penuh antusiasme. Sebanyak 40 peserta mengikuti kegiatan ini yang juga dihadiri oleh para ustadz dan ustadzah, guru, serta pegawai MTs Ma’arif NU Kota Malang. Kehadiran para pendidik tersebut menjadi bentuk dukungan penuh terhadap penguatan pendidikan karakter dan spiritual siswa selama bulan Ramadhan.

Kegiatan Akademi Ramadhan secara resmi dibuka oleh Ketua LP Ma’arif MWC NU Lowokwaru, Akhmad Fauzi, S.Ag., M.Pd.I. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan pesan penting kepada seluruh peserta agar mengikuti rangkaian kegiatan dengan penuh kesungguhan, fokus, dan tetap menjaga adab selama proses pembelajaran berlangsung.

“Melalui Akademi Ramadhan ini diharapkan para peserta dapat lebih mendalami ilmu agama, memperkuat akhlak, serta terlatih dalam berbagai bentuk pembinaan keislaman. Gunakan kesempatan ini untuk menambah ilmu, memperbaiki diri, dan memperkuat karakter sebagai generasi muslim yang berakhlakul karimah,” ujar beliau.

Program Akademi Ramadhan sendiri merupakan kegiatan pembinaan yang biasanya berisi berbagai materi keagamaan seperti pendalaman Al-Qur’an, praktik ibadah, kajian akhlak, serta penguatan nilai-nilai ke-NU-an. Selain itu, kegiatan ini juga dirancang untuk menumbuhkan semangat kebersamaan, kedisiplinan, dan kepemimpinan di kalangan siswa.

Momentum Ramadhan menjadi waktu yang tepat untuk meningkatkan kualitas iman dan takwa. Oleh karena itu, kegiatan seperti Akademi Ramadhan diharapkan mampu menjadi wadah pembelajaran yang tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga membentuk kebiasaan baik dalam kehidupan sehari-hari.

Suasana pembukaan semakin semarak ketika seluruh peserta bersama-sama mengumandangkan yel-yel penyemangat kegiatan dengan penuh semangat:

“Akademi Ramadhan: Semangat, Santun, Berakhlak Karimah!”

Yel-yel tersebut menjadi simbol komitmen bersama untuk menjalankan seluruh rangkaian kegiatan dengan penuh semangat, menjaga kesantunan, serta menumbuhkan akhlak yang mulia.

Dengan terselenggaranya Akademi Ramadhan 1447 H ini, MTs Ma’arif NU Kota Malang berharap para peserta dapat memperoleh pengalaman spiritual dan pembelajaran yang bermakna, sehingga mampu menjadi generasi muda yang berilmu, berakhlak, dan berkontribusi positif bagi masyarakat.

Wujudkan DIKTI SAINTEK BERDAMPAK, UPZIS Polinema Salurkan 122 Paket Zakat Fitrah dan Santunan Yatim Piatu

Dokumen: Penyaluran Zakat Fitrah dan Santunan Yatim Piatu UPZIS Masjid Raya An-Nur (MRA) Polinema
Tagline DIKTI SAINTEK BERDAMPAK tidak boleh hanya sebatas jargon belaka, ia harus dapat diwujudkan dalam aksi nyata di masyarakat. Termasuk oleh Politeknik Negeri Malang (Polinema) sebagai Perguruan Tinggi Negeri dibawah naungan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemdiktisaintek) tidak boleh menjadi menara gading, kebermanfaatannya harus benar-benar dirasakan oleh masyarakat sekitar.

Salah satu ikhtiar kebermanfaatan itu adalah dengan adanya program/kegiatan Penyaluran Zakat Fitrah dan Santunan Yatim Piatu yang dilaksanakan oleh Unit Pengumpul Zakat, Infak dan Sedekah (UPZIS) dibawah naungan Masjid Raya An-Nur (MRA) Polinema, yang dilaksanakan pada Jum’at, 13 Maret 2026 bertempat di Masjid Nurul Huda, Jl. Kembang Kerta, Jatimulyo, Lowokwaru, Kota Malang.

Hadir mewakili warga, Ketua RW. IV Jatimulyo, Bapak Arif Subandi menyampaikan, "kami warga RW IV mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada MRA Polinema, karena telah menyalurkan zakat fitrah dan paket santunan yatim piatu dari Bapak/Ibu Dosen/Pegawai kepada warga kami. Kurang lebih 122 bingkisan untuk warga kami," ungkapnya.
Ketua Takmir MRA Polinema, Bapak Vinan Viyus saat menyampaikan sambutan.

Selanjutnya secara khusus, Ketua Takmir MRA Polinema, Bapak Vinan Viyus menyampaikan, "Civitas akademika Polinema, termasuk pengurus UPZIS dan Takmir MRA adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dari Masyarakat RW IV Jatimulyo. Kegiatan Ini adalah wujud ikhtiar agar keberadaan Polinema benar-benar dirasakan manfaatnya oleh warga." Ungkapnya

Kegiatan berikutnya penyaluran zakat fitrah dan dilanjutkan santunan yatim piatu, serta foto bersama. Sebagai penutup, pembacaan doa dipimpin oleh Bapak Mohammad Syaifuddin Sekretaris Takmir Masjid Nurul Huda.

Membina Karakter Remaja Melalui Akademi Ramadhan 1447 H di MTs Ma’arif NU Kota Malang

Dokumen: Pembukaan Akademi Ramadhan 1447 H
Malang – Dalam rangka mengisi bulan suci Ramadhan dengan kegiatan yang edukatif dan bermakna, MTs Ma’arif NU Kota Malang menyelenggarakan kegiatan Akademi Ramadhan 1447 H yang dilaksanakan selama tiga hari, mulai Jum’at hingga Ahad, 13–15 Maret 2026 di lingkungan madrasah.

Kegiatan ini dirancang sebagai program pembinaan karakter bagi para siswa, dengan tujuan memperkuat wawasan keislaman, kedisiplinan ibadah, serta kemampuan pengembangan diri remaja. 

Melalui Akademi Ramadhan ini, para peserta tidak hanya mendapatkan pendalaman materi agama, tetapi juga pembiasaan praktik ibadah dalam kehidupan sehari-hari.

Penguatan Wawasan Keislaman

Dalam kegiatan tersebut, para siswa mengikuti berbagai kajian keilmuan Islam yang bersumber dari kitab-kitab klasik yang telah lama menjadi rujukan pendidikan pesantren. 

Beberapa materi utama yang dipelajari antara lain:

  1. Pendalaman Tauhid melalui kitab Aqidatul Awam
  2. Pendalaman Akhlak melalui kitab Ta’limul Muta’allim dan Taisirul Khallaq
  3. Pendalaman Fikih melalui kitab Mabadi’ dan Safinatun Najah
  4. Pendalaman Tarikh Islam melalui kitab Khulasah Nurul Yaqin
  5. Bimbingan membaca Kitab Kuning
  6. Tahsin Al-Qur’an untuk meningkatkan kualitas bacaan Al-Qur’an

Selain kajian kitab, kegiatan ini juga dilengkapi dengan pembiasaan praktik ibadah yang menjadi bagian penting dari pembentukan karakter religius siswa. 

Para peserta mengikuti berbagai kegiatan ibadah secara berjamaah, seperti:

  1. Sholat lima waktu berjamaah
  2. Sholat Dhuha dan Rawatib
  3. Dzikir dan membaca Al-Qur’an
  4. Sholat Tarawih dan Witir
  5. Sholat Tahajud, Hajat, dan Taubat
  6. Pembelajaran doa-doa harian serta praktik ibadah lainnya
Membangun Self Management dan Self Branding Remaja

Tidak hanya fokus pada aspek spiritual, Akademi Ramadhan juga memberikan wawasan kepada para siswa tentang pentingnya kemampuan “Self Management” dan “Self Branding” di kalangan remaja.

Melalui materi ini, siswa diajak untuk belajar mengelola waktu, membangun karakter positif, serta menumbuhkan kepercayaan diri agar mampu menjadi generasi yang berkualitas secara keilmuan, berprestasi, dan berakhlak mulia.

Program ini diharapkan mampu membentuk generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki integritas, kemandirian, dan tanggung jawab sosial.

Apresiasi atas Dukungan Berbagai Pihak

Panitia pelaksana menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan, baik berupa dukungan moral, tenaga, maupun dana, sehingga kegiatan Akademi Ramadhan dapat terselenggara dengan baik.

Dukungan dari berbagai pihak tersebut diharapkan terus berlanjut demi kesuksesan program-program pembinaan generasi muda di MTs Ma’arif NU Kota Malang pada masa mendatang.

Dengan adanya kegiatan Akademi Ramadhan 1447 H, diharapkan para siswa mampu menjadikan bulan suci Ramadhan sebagai momentum untuk meningkatkan kualitas iman, ilmu, dan akhlak, serta mempersiapkan diri menjadi generasi penerus bangsa yang berkarakter kuat dan berakhlak mulia.

Wednesday, 11 March 2026

Mengenal Pemimpin Tertinggi Ketiga Iran : Ayatollah Ali Khamenei

Tepat ketika musuh mengira mereka telah berhasil dipenggal pimpinan puncak Iran, kebangkitan baru terjadi di balik tirai besi.

Media internasional saat ini sedang hangat berbicara tentang salah satu pergeseran kekuatan geopolitis paling bersejarah dalam dekade ini.

Dewan Ahli Pimpinan Republik Islam telah mengadakan rapat darurat di bawah puncak perang, dan mereka telah mencapai keputusan akhir.

Mereka secara resmi menunjuk Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi (Pemimpin Tertinggi) ketiga dalam sejarah negara.

Sosok yang mengambil alih kekuasaan ini, yaitu Mojtaba Khamenei, bukanlah individu.

Lahir pada tahun 1969 ia adalah putra kedua dari mendiang mantan Pemimpin Tertinggi, Ayatollah Ali Khamenei, yang meninggal akibat serangan udara Isbiol dan Amerika Serikat baru-baru ini.

Di panggung internasional dan laporan badan intelijen Barat, Mojtaba sering disebut sebagai 'Pangeran Bayangan' atau 'Pangeran Bayangan'.

Gelar itu diberikan karena selama puluhan tahun, ia bergerak diam-diam dan diam-diam di kantor ayahnya tanpa memegang jabatan politik resmi yang dipilih rakyat.

Meski bergerak dalam bayang-bayang, genggamannya pada pertahanan dan keamanan negara benar-benar mutlak.

Sebuah laporan intelijen mengungkapkan bahwa pengangkatan Mojtaba didukung penuh dan didukung kuat oleh pasukan elit Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Mereka sangat percaya bahwa hanya Mojtaba yang memiliki kualifikasi dan ketegasan yang diperlukan untuk mengarahkan negara keluar dari krisis perang berdarah ini.

Untuk rezim Z yang dipimpin Setan di Tololviv, pengangkatan ini bukanlah berita ucapan selamat.

Mojtaba dikenal sebagai pemimpin 'hardliner' atau sayap kanan jauh yang sangat anti barat dan berpegang teguh pada ideologi perlawanan radikal.

Meskipun demikian, di sini, kita perlu meletakkan garis merah yang sangat jelas dalam mengevaluasi konflik geopolitis ini agar tidak muncul fitnah.

Sebagai umat muslim yang patuh pada akidah Ahli Sunnah Wal Jamaah, kami tidak mendukung, mengizinkan, atau berkompromi dengan pemahaman apapun tentang akidah Syiah.

Dukungan kami untuk Iran hari ini bukan atas dasar kesetaraan sektarian, tetapi dukungan taktis untuk poros perlawanan mereka terhadap kekejaman dan arogansi rezim Z.

Sementara negara Arab lainnya yang ngaku Ahli Sunnah hanya mampu diam, tunduk pada ketakutan, dan menjadi pakur Barat, mereka adalah satu-satunya kekuatan di wilayah yang berani membalas dan mengangkat senjata di hadapan Isbiol.

Subhanallah. Jika kita mengamati roda sejarah ini, upaya musuh untuk merusak kepemimpinan suatu bangsa seringkali akan menghasilkan penerus yang jauh lebih tangguh dan tidak mau berkompromi.

Tuan-tuan, selama kedzaliman masih merajalela di muka bumi ini, poros perlawanan akan terus menghasilkan garis kepemimpinan baru yang siap merespon semua serangan musuh dengan bahasa senjata terlepas dari perbedaannya.

Saturday, 7 March 2026

Safari Ramadhan DPC FKPQ Kota Malang: Menguatkan Silaturahmi Guru Al-Qur’an dan Mendorong Digitalisasi LPQ

Dokumen: Kepala Kantor Kementrian Agama, Gus Shampton beserta Kasi PD Pontren, Pengurus DPC FKPQ Kota Malang dan Peserta safari Ramadhan di PP Dzinnuha

Malang – Dewan Pimpinan Cabang Forum Komunikasi Pendidikan Al-Qur’an (DPC FKPQ) Kota Malang kembali menggelar kegiatan Safari Ramadhan di lembaga pendidikan Al-Qur’an (LPQ). Kegiatan yang menjadi agenda rutin tersebut dilaksanakan pada Sabtu, 7 Maret 2026 di Pesantren Dzinnuha, Sawojajar, Kedungkandang, Kota Malang.

Safari Ramadhan ini merupakan bagian dari program khidmat guru Al-Qur’an yang diinisiasi oleh DPC FKPQ Kota Malang. Kegiatan tersebut bertujuan mempererat silaturahmi antar lembaga pendidikan Al-Qur’an sekaligus memperkuat sinergi para pejuang Al-Qur’an yang selama ini mengabdikan diri dalam mendidik generasi muslim.

Selain menjadi ajang silaturahmi, kegiatan ini juga diisi dengan kajian manajemen pengelolaan lembaga berbasis digital. Tema ini menjadi penting mengingat perkembangan teknologi saat ini menuntut setiap lembaga pendidikan untuk mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.

Lembaga Pendidikan Al-Qur’an (LPQ) sebagai basis dakwah Islam yang berfokus pada pembelajaran Al-Qur’an memiliki peran strategis dalam membentuk karakter dan akhlak generasi muslim. Oleh karena itu, keberadaan LPQ tidak hanya harus bertahan, tetapi juga terus berkembang mengikuti dinamika masyarakat dan kemajuan teknologi.

Era digital saat ini bahkan dapat dikatakan “memaksa” para ustadz dan ustadzah pengajar Al-Qur’an untuk terus belajar. Adaptasi terhadap teknologi, mulai dari sistem administrasi digital hingga metode pembelajaran modern, menjadi langkah penting agar lembaga pendidikan Al-Qur’an tetap relevan dan diminati generasi muda.

Dalam kesempatan tersebut, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Malang, Gus Sampton, memberikan mauidhah hasanah kepada para guru Al-Qur’an yang hadir. Ia menyampaikan pesan tentang makna kesabaran yang sesungguhnya dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Menurutnya, seorang hamba yang sabar bukanlah mereka yang hanya pasif menerima keadaan, melainkan mereka yang tetap berusaha dan bergerak aktif. Ia mencontohkan ketika seseorang diuji dengan sakit, maka ia harus berikhtiar mencari pengobatan. Soal sembuh atau tidak, itu menjadi kehendak Allah SWT.

“Jika seseorang sakit lalu hanya berdiam diri tanpa berusaha mencari pengobatan dengan alasan sabar, maka itu bukan kesabaran, melainkan bentuk keputusasaan,” ujarnya di hadapan para guru Al-Qur’an.

Pesan tersebut juga relevan dengan tantangan yang dihadapi lembaga pendidikan Al-Qur’an di era digital saat ini. Berbagai perubahan dan kebijakan terkait digitalisasi lembaga menuntut para guru Al-Qur’an untuk terus belajar dengan sabar dan bersungguh-sungguh dalam beradaptasi dengan perkembangan zaman. Sikap pasif tanpa upaya untuk belajar dan berbenah justru dapat mengarah pada sikap putus asa.

Motivasi tersebut semakin menguatkan semangat para pejuang Al-Qur’an, terlebih Rasulullah SAW sendiri menyebut para pembelajar dan pengajar Al-Qur’an sebagai manusia terbaik sebagaimana dalam sabdanya:

“Khoirukum man ta’allamal Qur’ana wa ‘allamahu,” yang berarti sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.

Sementara itu, Ketua DPC FKPQ Kota Malang, Ustadz Zain Fuad, menegaskan bahwa tantangan terbesar LPQ saat ini adalah perkembangan teknologi dan tuntutan profesionalisme dalam pengelolaan lembaga pendidikan.

Ia menjelaskan bahwa dunia pendidikan saat ini menuntut setiap lembaga untuk tertib administrasi, profesional, serta mampu beradaptasi dengan berbagai perubahan yang terjadi. Jika lembaga pendidikan Al-Qur’an tidak dikelola dengan baik, maka dikhawatirkan lambat laun akan ditinggalkan oleh generasi muda.

“Bukan karena mereka meninggalkan Al-Qur’annya, tetapi karena mereka meninggalkan lembaga yang memfasilitasi pendidikan Al-Qur’an,” jelasnya.

Menurutnya, generasi muda saat ini memiliki banyak pilihan dalam belajar, termasuk melalui lembaga formal maupun berbagai platform teknologi yang menyediakan pembelajaran Al-Qur’an secara digital. Namun, jika pembelajaran hanya mengandalkan teknologi tanpa bimbingan guru, maka ada nilai penting yang bisa hilang, yaitu pendidikan adab dan keteladanan.

Padahal dalam tradisi pendidikan Islam, guru bukan hanya menyampaikan ilmu, tetapi juga menjadi uswah hasanah atau teladan bagi para santri dalam membentuk akhlak dan perilaku sehari-hari.

Melalui kegiatan Safari Ramadhan ini, DPC FKPQ Kota Malang berharap para guru Al-Qur’an dapat terus meningkatkan kapasitas diri, memperkuat manajemen lembaga, serta memanfaatkan teknologi secara bijak untuk memperluas dakwah pendidikan Al-Qur’an di tengah masyarakat.

Kegiatan berlangsung dengan penuh khidmat dan semangat kebersamaan, menjadi momentum penguatan peran LPQ sebagai pilar penting dalam menjaga dan membangun generasi Qur’ani di era modern.