HWMI.or.id

Wednesday, 28 September 2022

Maulid Nabi Itu Sama Seperti Pengajian Atau Tabligh Akbar

Mengadakan acara maulid Nabi itu tidak wajib. Tapi mengenal Beliau dan cinta pada Beliau hukumnya wajib.

Isi acara dari maulid Nabi itu adalah membaca sejarah Kanjeng Nabi, diselingi dengan pujian dan sholawat kepada Beliau, tujuannya agar kita semakin mengenal dan cinta pada Beliau. 

Jadi, acara maulid Nabi itu adalah salah satu sarana untuk mengenal Beliau kemudian cinta pada Beliau dan bisa meneladani Beliau, kanjeng Nabi Muhammad Saw. 

Sama seperti misalkan ente mengadakan acara untuk mengenal atau mengenang Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab atau Syaikh Albani, misalkan.

Kalau acara maulid Nabi yang merupakan sarana itu dituduh Bid'ah Dholalah maka acara untuk mengenal atau mengenang Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab atau Syaikh Albani misalkan ya Bid'ah Dholalah juga dong, ! Bahkan dauroh tiap minggu itu juga masuk Bid'ah Dholalah.

Sudahlah, apa tidak capai setiap tahun membid'ahkan acara maulid Nabi terus ? cobalah ikut maulidan bersama kami, enak kok, cuma mendengarkan pembacaan diba', makan-makan, pulang dapat berkat.

Kalau masih ngeyel, coba ente baca pendapat syaikh Ibnu Taimiyah yang merupakan ulama' rujukan ente dalam kitab Iqtidho' Shirothil Mustaqim, hal 297:

فَتَعْظِيْمُ الْمَوْلِدِ وَاتِّخَاذُهُ مَوْسِمًا قَدْ يَفْعَلُهُ بَعْضُ النَّاسِ وَيَكُوْنُ لَهُ فِيْهِ أَجْرٌ عَظِيْمٌ لِحُسْنِ قَصْدِهِ وَتَعْظِيْمِهِ لِرَسُوْلِ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ

“Mengagungkan maulid Nabi dan menjadikannya sebagai tradisi musiman telah dilakukan oleh sebagian orang dan mereka mendapat pahala besar atas tradisi tersebut, karena niat baiknya dan karena telah mengagungkan Rasulullah Saw”.

Disini kami juga menampilkan cuplikan dari kitab I'anatut Tholibin sebagai tambahan referensi tentang kebolehan perayaan maulid 

1. https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=353346092752071&id=100042300480812

2. https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=353510086069005&id=100042300480812

3. https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=354135976006416&id=100042300480812

4. https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=354923975927616&id=100042300480812

5. https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=355283562558324&id=100042300480812

6. https://m.facebook.com/photo.php?fbid=575450590541619&id=100042300480812&set=a.100357751384241

- Ra Sholeh -

Monday, 26 September 2022

Maulid Kanjeng Nabi dan Kisah Nenek Penyapu Masjid

MAULID KANJENG NABI

Setiap kali membaca Kitab  Maulid Nabi Muhamad  Saw baik itu Maulid Diba' maulid Burdah dll saya teringat dengan kisah seorang wanita tua renta penyapu masjid. Nenek yang tak pernah diketahui asal-usulnya, tapi di setiap pagi sering terlihat menyapu masjid.

Hingga suatu ketika, para jamaah masjid merasa kasihan terhadap nenek tersebut. Mereka sepakat untuk menyapu bersih pekarangan  masjid sebelum nenek itu tiba.

Singkat cerita, nenek itu, seperti biasanya, tiba di masjid dan menemukan pekarangan telah bersih. Mengejutkan, ia bukan bahagia. Sebaliknya, ia menangis tersedu-sedu. Tangisannya menyayat hati dan membuat para jamaah bertanya kepada sang nenek. Namun nenek itu bungkam.

Hingga ajal menjemput si nenek. Rahasia ia menangis kala itu-pun terkuak. Ia sedih saat mendapati pekarangan masjid telah bersih dari daun-daun. Sebab, setiap ia memunguti helai demi helai daun, di saat itu pula ia ber-shalawat kepada Nabi Muhammad Saww.

____________________________

Ada banyak contoh seperti layaknya nenek itu di sekitar kita. Individu-individu yang tak mengerti dan paham mengenai dalil-dalil shahih Alquran dan Hadis mengenai cinta terhadap Nabi Saww. Namun, mereka mewujudkan kecintaannya dengan cara mereka sendiri. Bagi nenek tua pada kisah di atas, ber-shalawat kepada Nabi adalah bentuk terbaik mewujudkan cinta kepada Nabi Saww.

Sama seperti kisah nenek tua, Nenek saya di kampung juga menunjukkan kecintaannya kepada hadirat Nabi Saw. Setiap hari ia senantiasa membaca  shalawat kepada Nabi muhamad saw dan Istiqomah slalu

Berbeda dengan kita. Iya, kita yang mengaku sebagai umatnya dan cinta terhadapnya. Membaca shalawat dan merayakan Maulid Nabi dikecam sebagai perbuatan Bid'ah. Pelakunya diancam dengan siksa neraka yang paling pedih dan niscaya berkumpul dengan para pelaku syirik  tiduhan itu terus para wahabi lontarkan pada kita

Coba anda tanyakan apa itu Bid'ah kepada nenek saya. Ia akan menggeleng tak mengerti. Ia tak paham bahwa mambaca shalawat dan merayakan Maulid adalah Bid'ah. Ia hanya paham bahwa ketika seseorang jatuh cinta, maka ia harus menunjukkan kecintaannya.

Nenek tua penyapu masjid dan nenek saya telah memahami arti cinta kepada Nabi Saw, meski mereka tak paham dalil-dalil shahihnya. Dengan cara sederhana mereka menunjukkan kecintaan kepada Nabi Muhammad Saww. Bandingkan oleh anda dengan orang-orang yang mengecam mereka dan menyatakan perbuatan itu sebagai Bid'ah.

Nenek tua penyapu masjid tak mengantongi ribuan dalil, namun ia tahu satu dalil yang "dipungutnya" dari majelis-majelis pengajian para Kiai, bahwa "Barang Siapa Mencintaiku (Nabi), maka ia akan bersamku di surga". Nenek tua itu tahu, bahwa "Seorang pecinta akan senantiasa bersama dengan orang yang dicintainya".

Menjelang akhir hayat, nenek saya ingin bersama dengan orang yang paling dirindukan dan dicintainya, yakni Nabi Muhammad Saw. Ia tak tahu Bid'ah. Ia hanya ingin bersama dengan Nabi. Ia hanya ingin menunjukkan kecintaan terhadap Nabi. Dan ia menunjukkan dengan cara yang sederhana, yaitu bershalawat, bergembira serta merayakan atas hari kelahiran Nabi Muhammad Saw :'(

Kita yang hampir stiap hari mendengar membaca hadis tentang keutamaan membaca sholawat ,mendengar membaya hadis" tentang Kanjeng nabi tapi Mulut kita tetep saja membisu sangat jarang mengucapkan Sholawat Pada Kanjeng Nabi Muhamad Saw

Muga " di ampura

Sumber: Santri Online

Asal Usul Penamaan Bulan Rabi’ul Awwal

Asal Usul Penamaan Bulan Rabi’ul Awwal

(Bulan Kelahiran Nabi Muhammad SAW)

Hari ini tanggal 1 Rabi'ul Awwal tahun 1444 H, yang bertepatan dengan tanggal 27 September 2022. Bulan Rabi'ul Awwal sangat masyhur di kalangan umat Islam, karena di dalamnya ada sebuah peristiwa kelahiran sang Nabi akhir zaman.

Rabi’ul Awwal, nama bulan ketiga Hijriyah ini tidak terlalu popular di Indonesia. Masih kalah masyhur dengan Bulan Maulid. Bulan, di mana manusia agung lahir ke muka bumi, Muhammad bin Abdullah.

Apakah penamaan bulan Rabiul Awwal bermula dari kelahiran Nabi Muhammad saw, atau sudah ada sebelumnya, atau ada peristiwa penting sehingga nama itu disebut dengan Rabiul Awwal?, atau hanyalah nama sesuai dengan musim di mana bulan ini berada, Rabi'?.

Rabiul Awwal. Rabi' memiliki banyak arti di antaranya adalah semi, yang menunjuk pada sebuah musim di mana tumbuhan-tumbuhan mulai mekar Kembali dan bunga-bunga mulai berkembang.  

Awwal, bermakna pertama. Rabiul Awwal, bulan semi pertama. Karena setelah bulan ini ada bulan semi kedua yang disebut dengan Rabi'us Tsani. Tetapi, kata awwal (pertama) dan kedua bukan sebagai kata sifat dari Rabi’, tetapi dari Syahr (bulan).

Dalam Al-Ma'rifah nama Rabiul Awwal ini disematkan oleh buyut kelima Nabi Muhammad, Kilab bin Murrah pada tahun 412 M, jauh sebelum Nabi dilahirkan. Nama ini sudah sangat akrab di telinga orang-orang Arab, sehingga keindahan, kebahagiaan, dan berbagai kesenangan dan kesuksesan sering menggunakan kata ini, Rabi'. Seperti, Akala Rabi’, Zahratur Rabi’ dan lainnya.

Banyak riwayat yang menceritakan tentang asal muasal penamaan nama Rabi'ul Awwal ini, sebagaimana dalam Al-Ma'rifah, yaitu lirtiba' Annas wa dawab fihi (manusia dan hewan pada menunggu dan berharap datang bulan ini). 

Bulan ini dulunya disebut dengan musim gugur (kharif) dan orang-orang Arab menyebutnya musim semi (Rabi'), dan Rabi' disebut dengan Shaif (musim panas), dan Shaif disebut dengan  Qaidh (musim panas). Ada pula yang berpendapat, bahwa orang-orang Arab membagi musim dingin (Syita') menjadi dua bagian, bagian pertama dengan Rabi’ al-Ma' (mata air) dan Amthar (hujan), dan yang kedua adalah Rabiun Nabat (musim tumbuhan). 

Masyarakat Arab mengenal dua Rabi', Rabiul Syuhur dan Rabiul Azminah. Rabi' yang pertama menunjuk pada musim semi awal dan kedua, sedangkan Rabi' yang kedua merujuk pada beberapa musim lainnya, seperti musim gugur (kharif).

Ada pula yang berpendapat, asal usul dinamakan Rabi' Awwal, karena pada bulan ini orang-orang Arab memanen (menikmati) hasil rampokannya yang dilakukan pada bulan sebelumnya, shafar. 

Tetapi, ada pula pendapat bahwa Bulan Rabi' adalah bulan yang banyak menelan korban peperangan (kematian yang melimpah) karena peperangan antar kabilah pada bulan sebelumnya sedang berlangsung sengit dan kematian demi kematian banyak terjadi di bulan ini, Rabiul Awwal. 

Ada pula yang menyebutkan Bulan Rabiul Awwal dengan Rabiul Anwar. Karena di dalamnya terbit cahaya terang, nur Muhammad, cahaya ketuhanan yang menerangi semesta, demikian kata Dr. Ali Jum’ah dalam Elbalad. Dan di beberapa negeri Arab pada bulan Rabiul Awwal diadakan perayaan kelahiran Nabi Muhammad setiap hari. 

Demikian juga dengan Indonesia, perayaan kelahiran Nabi Muhammad dirayakan diberbagai tempat, dan sepanjang bulan Rabiul Awwal, walau nama bulan ini lebih akrab adalah bulan Maulid, bulan kelahiran Nabi Muhammad (merujuk pada tempat atau waktu).

Peristiwa penting pada bulan ini adalah kelahiran manusia agung, teladan umat, utusan Allah, Nabi Muhammad, tetapi ada perbedaan dalam menentukan hari antara 8, 10, dan 12 Rabiul Awwal. Namun, para sejarawan menegaskan bahwa kelahiran Nabi Muhamamd terjadi pada hari Senin, 9 Rabi' al-Awwal tahun 53 SM, bertepatan dengan 20 April 571 M (Tahun Gajah).

Rabi’ul Awwal, Rabi’ul Anwar. Maulid.

Allahumma Shalli Ala Sayyidina Muhammad. 

Sunday, 25 September 2022

Jasad Utuh, bagi Pecinta Sholawat

"Yang tidak hafal Al Quran itu banyak. Tetapi kok di dalam kuburnya utuh?

Ternyata apa? Itu orang termasuk ahli sholawat kepada Nabi Muhammad SAW

Sebabnya dari mana? Apakah Ada Nashnya? Ada, tapi Mujmal.

Sebagaimana Sabda Nabi:

Barangsiapa membaca shalawat kepadaku sekali, Allah Ta'ala memberi 10. Barangsiapa membaca shalawat kepadaku sepuluh kali, Allah Ta'ala memberi 100. Barangsiapa membaca shalawat kepadaku seratus kali, Allah Ta'ala memberi rahmat 1000. Barangsiapa membaca shalawat kepadaku seribu kali,

HARAM jasadnya masuk neraka.

Nah, Alam kubur itu kan belum ada apa-apanya dibandingkan neraka. Jadi kalau di dalam kubur jasadnya utuh, Bukanlah hal yang mustahil. Orang-orang tersebut adalah bagian dari orang yang ahli sholawat kepada Kanjeng Nabi SAW."

(Habib Luthfi bin Yahya)

Friday, 23 September 2022

Terbongkar ! HIMANU Catut Nama Mahfud MD, Berikut Klarifikasi Stafsus Menko Polhukam

Foto : Firdaus Oibowo, Wisnu Kurniawan

Terbongkar ! HIMANU Catut Nama Mahfud MD, Berikut Klarifikasi Stafsus Menko Polhukam

Menanggapi viralnya pernyataan pengacara dukun Firdaus Oiwobo yang mengaku sebagai salah satu ketua Himpunan Advokat Nahdlatul Ulama (HIMANU), dan menyebut di dalamnya ada nama Mahfud MD, dibantah Staf Khusus Menko Polhukam Mahfud MD, Imam Marsudi.

"Tidak benar itu, saya pastikan nama pak Mahfud cuma dicatut," ujar Imam Marsudi yang juga Pengurus Besar Nahdlatul Ulama ini pada media, (23/9/22).

Lebih lanjut Imam Marsudi menegaskan, dirinya sudah menkonfirmasi langsung pada Mahfud MD, dan Mahfud MD membantah masuk dalam struktur DPP HIMANU.

"Sudah, sudah saya konfirmasi ke pak Mahfud. Beliau tidak tahu. Intinya mungkin ada yang memasukkan nama pak Mahfud ke dalam struktur HIMANU tanpa konfirmasi terlebih dahulu ke pak Mahfud," papar Imam Marsudi.

Imam yang juga mantan Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) ini menjelaskan, beberapa hari terakhir dirinya banyak ditanya oleh beberapa aktifis Nahdlatul Ulama terkait video viral yang menjelaskan Mahfud MD berada dalam struktur HIMANU.

"Teman-teman di Nahdlatul Ulama juga banyak yang tanya, termasuk beberapa pengurus harian serta Sekjend PBNU juga konfirmasi. Saya jawab bahwa kabar yang beredar itu tidak benar. Saya tegaskan nama pak Mahfud dicatut orang tak bertanggung jawab," pungkas salah satu Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Huda Boyolali ini.

Sumber: Siber.news.com

Thursday, 22 September 2022

Wednesday, 21 September 2022

RMI-NU Sambang TPQ-MADIN Washilah Penguat Lembaga dan Aqidah

Siapa Kita? “NU”, NKRI?, “Harga Mati”, RMI…..NU (di iringi tepuk RMI-NU). Gemuruh semangat para santri dan Asattiz/ah saat Tim melaksanakan giat Sambang TPQ-Madin RMI-NU Kota Malang di TPQ Ainul Karim Jl. MT Haryono Ketawanggede Kota Malang, Rabu (21/09/2022).

Nur Hamidah, Kepala TPQ Ainul Karim merasa sangat senang lembaganya di sambangi RMI-NU Kota Malang. Kegiatan semacam ini perlu dilaksanakan dan akan menjadi penguat bagi TPQ-Madin NU dalam berdakwah ditengah-tengah masyarakat. Apalagi RMI-NU Kota Malang saat sambang TPQ-Madin memberikan sertifikat afiliasi NU sebagai wujud penguatan administratif Lembaga.

Setiap Lembaga yang disambangi RMI-NU masing-masing memiliki kelebihan yang perlu dipertahankan, dikuatkan dan diimbaskan kepada lembaga lain.

Bagi Lembaga yang selama ini dalam proses pengajaranya sudah menanamkan tuntunan Ibadah, amaliyah dan nilai-nilai aqidah Ahulusunnah wal jama’ah pada santrinya, perlu dipertahankan dan dikuatkan dengan diberikan materi-materi tambahan bagi ustadz/ah, Wali santri dan Santri dari RMI-NU Kota Malang.

“sambang TPQ-Madin berikutnya perlu diberikan kegiatan-kegiatan tambahan selain pemberian sertifikat afiliasi, tapi juga diberikan materi-materi berupa mendongeng, ceramah, puisi, pelatihan/Motivasi. Sebagai media penguatan Lembaga dan asatidz/ah”, terang Kyai Zainal Arifin,M.Ag. selaku koordinator Sambang TPQ-Madin PC RMI-NU kota Malang.

Sambang TPQ-MADIN di TPQ Shirathal Jannah Dinoyo Malang

Sebelum sambang TPQ-Madin di TPQ Ainul Karim, RMI-NU telah melaksanakan sambang di TPQ Shirathal Jannah Jl. Gajayana Dinoyo Kota Malang yang memiliki kelebihan dalam hal kurikulum pengajaran di TPQ. 

Para santri diajarkan Aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah dengan bersyi’ir, baik dengan syi’ir jawa maupun arab, sehingga para santri terlihat antusias saat sya’ir dilantunkan Bersama-sama sebelum perpulangan.

Dari berbagai pengetahuan, pengalaman dan temuan kegiatan sambang TPQ-Madin pada masing-masing Lembaga Pendidikan Al-Qur’an (LPQ) nantinya akan menjadi bahan bagi RMI-NU kota Malang dalam memberikan tindak lanjut pembinaan dan pengimbasan pada Lembaga lain agar kedepan, TPQ-TPQ dibawah afiliasi PCNU Kota Malang akan semakin solid dalam berdakwah, ustadz-ahnya mantab dalam mengajarkan tuntunan ibadah dan aqidah Ahlussunnah wal jama’ah, dan lembaganya semakin tertata dengan baik sehingga keberkahanya mampu dirasakan oleh masyarakat sekitar. Amiin.

Inilah Asal Usul Amalan Rebo Wekasan.

Asal Usul Amalan Rebo Wekasan. 

 Bulan Safar adalah nama salah satu bulan dalam kalender Hijriah yang berdasarkan penanggalan Qamariyyah. Bulan ini terletak setelah bulan Muharram dan sebelum bulan Rabi’ al-Awwal. Sebagian orang Arab menyebut bulan Safar dengan sebutan najiz, mereka merasa sial (-tasya’um) dengan bulan tersebut. 

 Oleh karena itulah datang hadits Nabi sebagai bantahan kepada mereka ;

  لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ وَفِرَّ مِنْ الْمَجْذُومِ كَمَا تَفِرُّ مِنْ الْأَسَدِ

 “Tidak ada 'adwa, thiyarah, hamah, shafar, dan menjauhlah dari orang yang kena penyakit kusta (lepra) sebagaimana kamu menjauh dari singa.”(HR Bukhari dan Muslim)

  Adapun hari Rabu, adalah nama salah satu hari dalam seminggu. Para ulama berbeda pendapat tentang awal hari dalam seminggu, namun menurut As-Suyuthi para ulama mutaakhirin dan ashab Syafi’i mengatakan bahwa yang benar permulaan hari dalam seminggu adalah Sabtu sebagaimana dalam Syarah al-Muhadzab, al-Rawdhah, dan al-Minhaj, dengan didasarkan pada Hadits dari Imam Muslim dimana Allah SWT menciptakan tanah pada hari Sabtu dan menciptakan nur pada hari Rabu.

 Banyak orang merasa sial di hari itu dengan berdasar pada firman Allah dalam Surat al-Qamar Ayat 19, dan ini adalah sebuah kesalahan, karena sesungguhnya Allah telah berfirman di Surat Fussilat Ayat 16, bahwa itu adalah delapan hari, dan itu merupakan hari-hari kesialan, hanya saja maksudnya adalah bagi mereka (kaum ‘ad). (Jalaluddin As-Suyuthi, ¬al-Syamarikh fi ‘ilm al-Tarikh, h. 24-25). 

Itulah mengapa para ulama dalam beberapa karyanya senantiasa menyandingkan kata Safar dengan kata al-khair dengan menyebut shafar al-khair (Safar yang baik) sebagai bentuk tafa’ul (berharap kebaikan dan optimis) sehingga menepis anggapan kekhususan kesialan, nahas, atau keburukan yang melekat dengan dzat bulan Safar. 

  Dalam tafsir Ruhul Ma'ani misalnya disebutkan bahwa hari Rabu adalah hari dimana Nabi Yunus dilahirkan, begitu juga dengan Nabi Yusuf, dan pertolongan kepada Nabi Muhammad pada perang Ahzab juga adalah hari Rabu. Tentu banyak Hadits lain yang berkenaan hari Rabu.

    Maka dari itu secara umum tentang waktu adalah sebagaimana Hadits Qudsi berikut:

      يُؤْذِينِي ابْنُ آدَمَ يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ، بِيَدِي الأَمْرُ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ (رواه البخاري و مسلم)

 “Anak Adam menyakiti-Ku karena mencela masa atau waktu. Padahal Aku yang mengatur dan menetapkan waktu. Di tangan-Ku lah segala urusan waktu. Aku yang membolak-balikkan malam dan siang”. (HR. Bukhari dan Muslim) 

Berdasarkan hadits ini manusia diperintahkan untuk tidak mencaci, menghina, dan mencela waktu karena sebab Allah sang pencipta, pengatur, dan penguasa waktu. Hendaklah beriman kepada qadha dan qadar-Nya, baik ataupun buruk, manis ataupun pahit, dan senang maupun dukanya. 

Rabu terakhir bulan Safar ghalib/lumrah di bumi Nusantara disebut dengan istilah rebo wekasan, rebo kasan, rebo pungkasan, atau istilah lain yang merujuk pada maksud yang sama yaitu hari Rabu akhir di bulan Shafar. 

Terdapat amaliyah yang biasa dilaksanakan pada hari tersebut yang mencakup shalat, dzikir, doa, dan tabarruk dengan asma Allah atau ayat-ayat al-Quran yang dikenal dengan ayat Selamat. 

Amaliyah tersebut dilakukan sebagai bentuk permohonan kepada Allah SWT agar terhindar dari segala macam musibah dan cobaan. 

Terdapat beberapa sumber kitab yang menyebutkan tentang rabu terakhir di bulan Shafar berikut amaliyahnya dengan menukil dari para masyayikh sufi, di antaranya: 

1. Kanz al-Najah wa al-Surur karya ‘Abdul Hamid Quds al-Makki (w. 1917), 

2. Mujarrabat al-Dayrabi karya al-Dayrabi (w. 1801 M), 

3. Nihayat al-Zain karya Syekh Nawawi (w.1897 M), 

4. Na’t al-Bidayah karya Muhammad al-Fadhil bin Mamayn (w.1910 M), 

5. al-Jawahir al-Khams karya Muhammad bin Khatir al-Din (w. 1562 M), 

6. Wasilah al-Tahlibin Ila Mahabbati rabb al-Alamin karya murid Hussamuddin (w. 1567 M) yang dikutip dalam kitab ;

7. Majmu’ah Rasa’il al-Laknawi ketika menjelaskan hukum shalat-shalat tertentu, karya ‘Abd al-Hayy al-Laknawi (w. 1886), dan 

8. Kitab-kitab lainnya. 

 Diantara kitab-kitab tersebut, ada beberapa hal yang menjadi pembeda terkait tatacara pelaksanaanya, waktu pelaksanaan, dzikir, dan redaksi doanya. Akan tetapi, secara umum amaliyah yang dilaksanakan pada Rabu akhir bulan Safar telah dikutip dan ditulis lengkap dan apik dalam kitab Kanz al-Najah wa al-Surur, kecuali amaliyah shalat yang dilakukan oleh para murid Hussamuddin Manikpur dimana mereka melaksanakannya Shalat Rabu akhir bulan Safar dengan shalat dua rakaat di waktu dhuha. 

 Dalam rakaat pertama setelah membaca al-Fatihah adalah membaca Al-Qur'an Surat Ali Imran ayat 29-30 satu kali, dan rakaat kedua setelah Surat al-Fatihah membaca Surat al-Isra ayat 110-111 satu kali kemudian setelah salam, membaca shalawat Nabi kemudian berdoa:

  اَللّهُمَّ اصْرِفْ عَنْ شَرِّ هذَا الْيَوْمِ وَ اعْصِمْنِي مِن شُؤمِهِ وَ اجْعَلْهُ عَلَى رَحْمَةٍ وَ بَرَكةٍ وَ جَنِّبْنِي عَمَّا أَخَافُ فِيهِ مِنْ نُحُوْسَاتِه وَ كَرَمَاتِه بِفَضْلِك يَا دَافِعَ الشُّرُور وَ يَا مَالِكَ النُّشُوْرِ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

   Sejauh penelusuran penulis, para murid Hussamuddin Manikpur ini adalah para pengamal Tarikat Jistiyyah Hussamiyyah dengan menisbahkan kepada Syekh Hussamuddin.  

Demikian pula sekilas sumber kitab-kitab di atas adalah merupakan sumber induk pedoman tarekat tertentu yang dikarang oleh para pemuka sufi, wali qutb, ghauts, dan ‘arifin, shalihin, fudhala lainnya. 

Seperti misalnya pengarang kitab Na’t al-Bidayah adalah pemuka tarekat Qadiriyyah Fadhiliyyah dengan dinisbahkan kepada Muhammad al-Fadhil (w. 1910), al-Jawahir al-Khams sebagai pemuka tarekat Syattariyyah yaitu Muhammad bin Khatir al-Din (w. 1562 M). 

Sejauh ini dibanding kitab lainnya, kitab Jawahir al-Khamsah adalah kitab yang paling tua yang berbicara tentang amaliyah Rabu terakhir bulan Safar.

  Dalam kitabnya terkait rebo wekasan, Syekh Ibn Khatir al-Din mengutip perkataan Syekh Farid al-Din dan menyebut nama Syekh Mu’inuddin. Berikut petikan terjemahannya:

 "Dalam kitab al-Jawahir al-Khamsah disebutkan bahwa Syekh Kamil Farid al-Din Kanz al-Syukr berkata, “Aku melihat aurad Syekh Mu’inuddin bahwanya setiap tahun itu 320.000 cobaan diturunkan dan semuanya terjadi pada hari Rabu yang terakhir di bulan Safar, hari itu merupakan hari tersulit di tahun itu. Siapa orang yang shalat di hari itu sebanyak empat rakat dengan membaca tiap-tiap rakatnya Surat al-fatihah, al-Kautsar 17 kali, al-Ikhlas 5 Kali, dan Al-Falaq 1 kali, dan al-Nas 1 kali, kemudian dilanjutkan dengan membaca doa, maka Allah dengan kemurahan-Nya menjaga orang tersebut dari semua bala` dan cobaan yang turun pada hari itu, dan tidak mengitarinya sampai akhir tahun." 

  Demikian lengkap dengan doanya sebagaimana dalam kitab al-Jawahir al-Khamsah. 

Lalu siapa Syekh Farid al-Din Kanz al-Syukr dan Syekh Mu’nuddin al-Jisti? Syekh Fariduddin Mas’ud adalah seorang Muslim Sunni, bermadzhab Hanafi, pemuka sufi, pembesar tarekat Jistiyyah/Chistiyyah/Justiyyah di India, yang wafat tahun 1265 M (7 H). 

Sementara Syekh Mu’inuddin al-Jisti adalah saudara Syekh Abdul Qadir al-Jilani, karena ibu Syekh Mu’inuddin adalah saudara perempuan Syekh Abdul Qadir dari arah paman laki-lakinya. 

Nasab Syekh Mu’inuddin sampai kepada Nabi, dari garis bapaknya adalah melalui Sayyidina Husen, dan garis Ibu melalui Sayyidina Hasan. 

Syekh Mu’inuddin (w. 627 H/w. 1236 M), seorang Muslim Sunni bermadzhab Hanafi, termasuk pembesar tarekat Jistiyyah yang didirikan oleh Syekh Abu Ishaq al-Syami di Herat, Afganistan, Syekh Mu’induddin dianggap pendiri Jistiyyah di India. Beliau Wafat di Ajmir India.

 Ada beberapa sanad tarekat ini yang menyampaikannya kepada Rasulullah SAW melalui jalur Sultan Ibrahim bin Adham, sampai kemudian berikutnya kepada Syaikh Imam Abi Sa’id al-Hasan bin Yasar al-Bashri lalu kemudian kepada Sayyidina Ali r.a. 

   Berdasarkan hal ini bahwa untuk pelacakan awal bahwa sumber amaliyah Rebo wekasan adalah berasal aurad Syekh Mu’inuddin al-Jisti, seorang sufi, waliyullah abad yang hidup sekita abad ke 6-7 H/12-13 M, Sunni bermadzhab Hanafi, pembesar dan pendiri salah satu tarekat mu’tabarah. 

Referensi: 

al-Alusi, Ruh al-Ma’ani, t.tp.: Idarah al-Thiba’ah al-Muniriyyah, Juz. 27 h. 85 al-Dayrabi, Mujarrabat al-Dayrabi al-Kubra, Beirut: Maktabah Tsaqafiyyah, h. 79 al-Zirikli, Qamus `A’lam wa Tarajim, Beirut: Dar al-‘Ilm li al-Malayin, Juz. 3, h. 288 Jalal al-Din al-Suyuthi, al-Samarikh fi ‘Ilm al-Tarikh, Kairo: Maktabah al-Adab, h. 25-26, 28 Ma’ al-‘Ainayn Ibn al-Qutb Syekh Muhammad Fadhil bin Mamayn, Na’t al-Bidayat wa Tawshif al-Nihayat, Beirut: Dar al-‘Ulum al-‘Ilmiyyah, h. 167 Muhammad ‘Abd al-Hayy al-Laknawi, Majmu’ Rasail al-Laknawi, Karachi: Idarah al-Quran wa al-‘Umlum al-Islamiyyah, Juz. 5, h. 94​​​​​​​Muhammad bin Khatir al-Din, al-Jawahir al-Khamsah, t.t: t.p., h. 5, 34 Musthafa Muhy al-Din al-Hudwi al-Malibari, Syekh Mu’in al-Din al-Jisti al-Ajmiri: Hayatuh wa Da’watuh wa Atsaruh, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, h. 14-16​​​​​​​Shafiyy al-Din Ahmad bin Muhammad al-Maqdisi, ¬al-Simth al-Majid fi Ahl al-Tawhid, h. 90-91​​​​​​​Yusuf al-Mar’asli, Natsr al-Durar fi ‘Ulama’  al-Qarn alRabi’ ‘Asyar, Beirut: Dar al-Ma’rifah, Jilid 1. ’Abd al-Hamid Quds al-Makki, Kanz al-Najah wa al-Surur, Beirut: Dar al-Hawi, 2009, h. 90-101 

Oleh: Hikmatul Lutfi. 

(Penulis adalah Nahdliyin kelahiran Cibadak, Kabupaten Sukabumi.)

Sumber : NU Online Jabar 


Lakpesdam PBNU: Menuju Pemilu 2024, NU Berdiri di Atas Semua Partai Politik

Lakpesdam PBNU: Menuju Pemilu 2024, NU Berdiri di Atas Semua Partai Politik

Oleh: Aru Lego Triono  

Dikutip dari NU Online,Menuju Pemilihan Umum (Pemilu) 2024, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) telah menentukan sikap untuk tidak mendukung salah satu partai politik dan calon presiden tertentu dengan menggunakan kendaraan NU sebagai kelembagaan. Namun, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf tetap mengizinkan warga NU atau Nahdliyin untuk bebas memilih partai politik pada Pemilu 2024 mendatang. 

Sikap itu kembali ditegaskan oleh Sekretaris Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) PBNU Hasanuddin Ali. Ia mengatakan, NU sebagai organisasi sosial-keagamaan memang tidak berkaitan langsung dengan politik praktis. 

“Politik NU adalah politik kenegaraan dan kebangsaan. Karena itu, NU harus berdiri di atas semua partai,” ungkap Hasan saat dikonfirmasi NU Online, pada Rabu (21/9/2022).

PBNU di masa kepemimpinan Gus Yahya saat ini juga berikhtiar untuk berdiri di atas semua partai. Hal ini terlihat dari komposisi kepengurusan PBNU masa khidmah 2022-2027 yang memasukkan nama-nama tokoh dari beragam latar belakang partai politik. Hal tersebut bertujuan agar PBNU memiliki jarak yang sama terhadap semua partai politik, sehingga membebaskan warga NU untuk memilih. 

“Tentu PBNU paham bahwa salah satu hak konstitusi warga negara adalah hak untuk memilih dan dipilih, karena itu Nahdliyin akan memilih partai atau kandidat terbaik yang tidak merugikan NU dari mana pun latar belakang partainya,” jelas Hasan.

Preferensi Politik Warga NU

Hasanuddin Ali yang juga Founder Alvara Research Center menjelaskan tentang preferensi atau kecenderungan warga NU terhadap politik, baik saat memilih calon tertentu maupun ketika hendak memilih partai politik. 

Menurut Hasan, terdapat perbedaan kecenderungan politik antara warga NU di daerah perdesaan dan wilayah urban atau perkotaan. Ia menjelaskan, Nahdliyin di desa-desa masih menggantungkan pilihan politik mereka kepada kiai. Sementara warga NU di perkotaan cenderung independen dalam menentukan pilihan.

“Bagi warga NU di rural (perdesaan) yang ikatan komunalnya masih cukup tinggi, dalam politik mereka masih menggunakan preferensi kiai atau tokoh masyarakat di sekitar mereka. Sebaliknya, warga NU yang di urban cenderung rasional dalam berpolitik. Mereka semakin independen dalam menentukan siapa yang mereka pilih,” ungkap Hasan. 

Pedoman Berpolitik Warga NU

NU telah memiliki pedoman berpolitik bagi warganya. Pedoman ini dicetuskan dalam Muktamar NU di Krapyak, Yogyakarta, pada tahun 1989. 

Abdul Munim DZ dalam buku Piagam Perjuangan Kebangsaan (2011) disebutkan, pedoman berpolitik ini diputuskan dengan mempertimbangkan arah pembangunan politik yang dicanangkan dalam Garis Besar Haluan Negara. Lebih dari itu, sebagai usaha untuk membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara berdasarkan Pancasila dan diarahkan untuk lebih memantapkan perwujudan demokrasi Pancasila. 

Pedoman ini diharapkan agar warga NU dapat menggunakan hak-hak politiknya dan ikut mengembangkan budaya politik yang sehat dan bertanggung jawab sehingga dapat menumbuhkan sikap hidup demokratis, konstitusional, serta membangun mekanisme musyawarah-mufakat dalam memecahkan setiap masalah yang dihadapi bersama. 

Sembilan Pedoman Berpolitik Warga NU

Pertama, berpolitik bagi Nahdlatul Ulama mengandung arti keterlibatan warga negara dalam kehidupan berbangsa dan bernegara secara menyeluruh sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945

Kedua, politik bagi Nahdlatul Ulama adalah politik yang berwawasan kebangsaan dan menuju integritas bangsa dengan langkah-langkah yang senantiasa menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan untuk mencapai cita-cita bersama, yaitu terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur lahir dan batin dan dilakukan sebagai amal ibadah menuju kebahagiaan di dunia dan kehidupan di akhirat.

Ketiga, politik bagi Nahdlatul Ulama adalah pengembangan nilai-nilai kemerdekaan yang hakiki dan demokratis, mendidik kedewasaan bangsa untuk menyadari hak, kewajiban, dan tanggung jawab untuk mencapai kemaslahatan bersama.

Keempat, berpolitik bagi Nahdlatul Ulama haruslah dilakukan dengan moral, etika, dan budaya yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, ber-Kemanusiaan yang adil dan beradab, menjunjung tinggi Persatuan Indonesia, ber-Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan dan ber-Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Kelima, berpolitik bagi Nahdlatul Ulama haruslah dilakukan dengan kejujuran nurani dan moral agama, konstitusional, adil, sesuai dengan peraturan dan norma-norma yang disepakati serta dapat mengembangkan mekanisme musyawarah dalam memecahkan masalah bersama.

Keenam, berpolitik bagi Nahdlatul Ulama dilakukan untuk memperkokoh konsensus-konsensus nasional dan dilaksanakan sesuai dengan akhlaq al karimah sebagai pengamalan ajaran Islam Ahlussunah wal Jamaah.

Ketujuh, berpolitik bagi Nahdlatul Ulama, dengan dalih apa pun, tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan kepentingan bersama dan memecah belah persatuan.

Kedelapan, perbedaan pandangan di antara aspirasi-aspirasi politik warga NU harus tetap berjalan dalam suasana persaudaraan, tawadhu dan saling menghargai satu sama lain, sehingga di dalam berpolitik itu tetap terjaga persatuan dan kesatuan di lingkungan Nahdlatul Ulama.

Kesembilan, berpolitik bagi Nahdlatul Ulama menuntut komunikasi kemasyarakatan timbal-balik dalam pembangunan nasional untuk menciptakan iklim yang memungkinkan perkembangan organisasi kemasyarakatan yang lebih mandiri dan mampu melaksanakan fungsinya sebagai sarana masyarakat untuk berserikat, menyatukan aspirasi serta berpartisipasi dalam pembangunan

Sunday, 18 September 2022

Kembali ke Al-Quran dan Sunnah?

Kita mungkin sering mendengar kata² seperti judul di atas, di nasehati untuk kembali ke Al-Qur’an dan sunnah . 

Sekilas nasehat tersebut baik, tentu saja baik karena kita dianjurkan untuk menjadikan al-qur’an dan sunnah sebagai pedoman hidup, tapi kalau direnung lebih dalam kita juga wajib bertanya, apakah semua orang diberi kebebasan untuk menafsirkan al-Qur’an? Kalau anda ada persoalan kemudian buka al-Qur’an dan Hadist kemudian memahami sendiri sesuai terjemahan apakah ini yang dikatakan kembali ke Al quran dan sunnah .

Lalu dimana anda mau letakkan pendapat para ulama yang telah menyusun tafsir dan penjelasan lengkap selama 1400 tahun?

Sejak kapan nabi dan para sahabat memberikan contoh Al quran ada terjemahannya, 

Al quran diterjemahkan sejak pertengahan abad ke-17 M. Syeikh Abdul Ra'uf Fansuri, seorang ulama dari Singkel (sekarang masuk wilayah Aceh)

Hanya di Indonesia, Wahabisme menjadi berkembang biak, bukan berkembang baik. 

Paham itu menginginkan Islam sebagai agama yang dipraktikkan harus sama dan sesuai di zaman Nabi, bahwa apa yang tidak dilakukan oleh Nabi SAW adalah perbuatan bid’ah. 

Bid’ah yang dilontarkan mereka adalah sesat, pengamal bid’ah divonis masuk neraka tanpa proses. 

Risalah Islam yang suci, itu kini tengah dikotori oleh ajaran² dan fatwa² keblinger dari mereka² yang belajar agama melalui hafalan dan terjemahan, satu ayat yang dihafal dianggap senjata untuk menghukumi muslim lainnya yang sudah paham agama. 

Satu hadis yang dihafal, mereka menganggap paling sunnah dari muslim lainnya yang sudah rajin ibadah.

Ketika kami beramal, kalian sebut kami bid’ah..

Ketika kami tunjukan dalil, kalian anggap dalil itu palsu.

Ketika kami buktikan itu shahih, kalian teriak kami sesat. 

Ketika kami menasehatimu, kalian pikir kami mengajak debat. 

Ketika kami ajak membuktikan kebenaran kalian lari, tak berani bersuara.

dan Ketika kami meyakini apa yang kami lakukan sesuai dalil yang ada ehh kalian malah berkata kami bermain bukan dengan dalil tapi dengan perasaan seperti kaum musyrikin jahiliyah. 

Dalam beribadah memang kita dituntut dan diharuskan untuk mengikuti apa yang sudah digariskan oleh Allah swt dalam Al-Quran dan apa yang sudah dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw melalui riwayat²nya .

Ya benar, tidak ada selain itu.

Akan tetapi akan terjadi ketimpangan dan kebingungan kalau hanya langsung kembali ke Al-Quran dan Sunnah Nabi. 

Kapasitas kemampuan orang itu berbeda-beda antara satu dan yang lainnya, tidak bisa disamaratakan. 

Kalau dengan kemampuan pemahaman yang segitu-segitu saja, kemudian ia dipaksa untuk beribadah sesuai Al-Quran dan Sunnah versi pemahamannya, tentu akan terjadi kekacauan syariah.

Ahlussunnah memahami bahwa rujukan muslim adalah:

1. Al Quran

2. Hadits

3. Ijma

4. Qiyas

Maka jika hanya bermodal merujuk langsung Al Quran dan hadits tanpa Ijma ulama yg kapasitas ilmunya mumpuni akan sulit dan rancu.

Contoh: Sholat Boleh Menghadap Kemana Saja

Orang yang melaksanakan sholat dan menghadap bukan ke kiblat, akan tetapi menghadap kearah selain kiblat, sholatnya tetap sah jika diukur dari slogan “Kembali kepada Al-Quran dan Sunnah” itu. Toh memang di Al-Quran disebutkan begitu,

وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, Maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha mengetahui” (Al-Baqarah 115).

Padahal sejatinya sholat punya aturan dan tuntunan yang memang sudah baku, sesuai apa yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw.

Contoh 2: Orang Non-Muslim Najis, Maka Jauhi

Kalau dengan slogan itu juga, maka menjadi benar jika ada seorang muslim yang tidak mau bergaul dan berbaur dengan saudara-saudaranya yang non-muslim, karena memang orang non-muslim itu najis. Sebagaimana firman Allah swt.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ فَلَا يَقْرَبُوا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ بَعْدَ عَامِهِمْ هَذَا

Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, Maka janganlah mereka mendekati Masjidilharam sesudah tahun ini” (At-Taubah 28).

Padahal sama sekali tidak ada satu pun pendapat dari 4 madzhab Fiqih yang mengatakan bahwa orang non-muslim itu najis.

Semua bersepakat bahawa najis yang dimaksud diayat ialah najis secara makna bukan secara zahir.

Dan juga tidak ada dari para Imam tersebut yang mengharamkan kita untuk berbaur, bersalaman, atau bahkan memeluk saudara kita yang non-muslim. 

Dan juga kita dibolehkan berkongsi makan dan minum dengan mereka dalam satu wadah selama itu bukan makanan atau minuman yang diharamkan dalam syariah.

Contoh 3: Buang Air Menghadap Kiblat

Dan pasti seseorang akan kebingungan jika dia langsung kembali kepada Hadits, lalu menemukan hadits yang melarangnya untuk membuang air dengan menghadap atau membelakangi kiblat. Seperti yang dijelaskan oleh Nabi saw dari sahabat Abu Ayyub Al-Anshori:

إِذَا أَتَيْتُمْ الْغَائِطَ فَلَا تَسْتَقْبِلُوا الْقِبْلَةَ بِغَائِطٍ وَلَا بَوْلٍ وَلَا

 تَسْتَدْبِرُوهَا وَلَكِنْ شَرِّقُوا أَوْ غَرِّبُوا

Jika kalian masuk toilet, janganlah kalian menghadap ke kiblat ketika buang air besar atau kecil, dan jangan juga membelakanginya. Akan tetapi menghadaplah ke timur atau ke barat”(HR Tirmidzi)

Loh bagaimana ini? Dilarang menghadap kiblat dan juga dilarang membelakanginya, akan tetapi menghadap barat atau ke timur. 

Bagaimana bisa? Toh di Indonesia kalau kita menghadap timur, itu berarti membelakangi kiblat, kalau ke barat justru kita menghadap kiblat. Lalu menghadapmana mestinya kita jika buang air?

Kalau hanya semangat “Kembali ke Al-Quran dan Sunnah”, itu tidak akan menyelesaikan masalah sama sekali. 

kita akan mentok dan akhirnya bingung sendiri.

Contoh 4: Pojokkan Mereka Ke Jalan Yang Sempit

Saya akan lebih takut jikalau ada seorang yang dengan semangat “Kembali ke Al-Quran dan Sunnah”, kemudian tanpa guru ia membuka kitab hadits, lalu menemukan hadits ini:

لَا تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلَا النَّصَارَى بِالسَّلَامِ فَإِذَا لَقِيتُمْ أَحَدَهُمْ فِي طَرِيقٍفَاضْطَرُّوهُ إِلَى أَضْيَقِهِ

janganlah kalian memulai memberi salam kepada orang yahudi dan Nashrani. Dan jika kalian bertemu mereka di jalan, pojokkan mereka ke jalan yang sempit (jangan beri jalan)” (HR Muslim). 

Haditsnya shahih, riwayat Imam Muslim pula, siapa yang berani mengatakan kalau ini hadits dhoif? Redaksinya jelas, tidak ada bias bahwa kalau bertemu dengan orang Yahudi dan Nashrani di jalan, jangan beri mereka jalan. Pojokkan mereka sampai tidak ada jalan bagi mereka untuk meneruskan jalannya.

Bayangkan bagaimana jika ada orang yang dengan semangat “kembali ke Al-Quran dan Sunnah” yang menggebu-gebu mendapati hadits ini tanpa bimbingan seorang guru? Apa yang sekiranya ia lakukan setelah mendapatkan hadits tersebut? Yang terjadi pasti kekacauan sosial diantara masyarakat.

Ulama Al-Azhar Membongkar Kejahatan Wahabi

Pembahasan dan pencerahan para ulama Ahlussunnah kepada Umat Islam seluruh dunia senantiasa mengingatkan akan bahaya jaran wahabi. 

Setiap negara dan daerah masing-masing senantiasa mengingatkan akan bahayanya, baik secara Aqidah, Pemahaman Syari'atnya dan Gerakan dakwahnya. 

Kenapa para ulama Ahlussunnah begitu Konsisten mengingatkan Bahaya Ajaran Wahabi?. Karena dimana ada wahabi, disana akan timbul kekacauan-kekacauan dan fitnah. 

Diantara bahaya dan Kejahatan Wahabi sudah banyak dibongkar oleh para ulama. Selain menyimpang dalam memahami al-Quran, kelompok Wahabi tidak jarang menyerang personal ulama-ulama Ahlus Sunnah dan memanipulasi kitab-kitab karangan mereka.

Sebagaimana di laman Sanad media, dalam kajianya. Salah satu ulama besar yang tidak luput dari serangan fitnah dan penghinaan dari Wahabi adalah Imam Abu Hanifah.

Sebagian besar penganut Wahabi mencela Abu Hanifah dan menyebutnya Abu Jifah (orang busuk). Kata ejekan ini dapat ditemukan di banyak buku-buku mereka. 

Abu Hanifah mempunyai akidah yang bersanad kepada Rasulullah dan beliau masih termasuk golongan tabi'in. Esensi akidah Abu Hanifah secara argumentatif menolak paham tasybih, dan tajsim. 

Inilah yang menjadi alasan mengapa sang imam menjadi musuh mereka.

Tidak berhenti di sana. Kelompok Wahabi sampai mencetak kitab-kitab Abu Hanifah kemudian melakukan dua hal. 

Pertama, menyelewengkan dan memelintir isinya. 

Kedua, menerbitkan dan memberikan syarah (komentar) yang menyerang Abu Hanifah. "Abu Hanifah telah keliru dan keluar dari Ahlus Sunnah wal Jama'ah," demikian kata-kata mereka dalam mengomentari pendapat-pendapat Abu Hanifah.

Imam Asy'ari juga bernasib tidak jauh berbeda dari Abu Hanifah. 

Kelompok Wahabi mencetak kitab-kitabnya namun dalam versi yang sudah banyak penyelewengan. Tidak aneh bila demikian cara mereka menghadapai lawan. 

Mereka menghalalkan kebohongan untuk menghadapi musuh-musuh mereka.

Sejarah Wahabi sendiri sejak kemunculannya penuh dengan penolakan dan penentangan dari ulama-ulama Ahlus Sunnah. 

Bahkan sampai dikatakan ada peran orang Yahudi di balik kemunculan Wahabi dalam tubuh umat Islam.

Banyak ulama Ahlus Sunnah membongkar kesesatan dan menyimpangan Wahabi dalam akidah dan pemahaman atas al-Quran. 

Salah satu ulama al-Azhar yang berfokus membeberkan kesalahan-kesalahan Wahabi adalah Syekh Ahmad Mahmud asy-Syarif.

Dengan tegas, Syekh Ahmad asy-Syarif menyatakan bahwa Wahabi atau Wahabiyah bukan termasuk Ahlus Sunnah wal Jama'ah dan sejatinya ia merupakan firqah (sekte) anyar yang paham ajarannya berpangkal pada dua firqah klasik, yakni Khawarij dan Hasyawiyah.

Dikutip dalam laman resminya, Syekh Ahmad Mahmud asy-Syarif salah seorang ulama al-Azhar yang berhaluan Maturidi dalam akidah dan bermazhab Hanafi dalam fikih. 

Banyak kajian dan ceramah beliau di Youtube yang mengupas tentang akidah, tasawuf dan membongkar kesesatan Wahabi.

Lihat video selengkapnya disini: https://youtu.be/iTKJwykRCfg