HWMI.or.id: NGAJI
Showing posts with label NGAJI. Show all posts
Showing posts with label NGAJI. Show all posts

Sunday, 23 November 2025

Gus Mus: (Jangan) Terlalu Serius Jadi Kiai

Dokumen Istimewa : Gus Mus jjs (jalan-jalan sehat) di alun-alun Rembang

Pagi ini jjs (jalan-jalan sehat) di alun-alun Rembang, mendampingi Gus Mus alias Kiai Mustafa Bisri. Tentu saja Mbak Admin Ienas Tsuroiya ikut serta. Di tengah jalan saya berseloroh, sekedar untuk membuka pembicaraan. 

"Abah ini umurnya sudah delapan puluh tahun lebih, tapi jalannya masih tegap. Sementara banyak kiai yang umurnya di bawah njenengan, sudah harus memakai kursi roda."

Saya diam sejenak, menunggu respon Abah. Lalu, 

"Soalnya beliau-beliau itu terlalu serius jadi kiai sih," kata Gus Mus. 

Saya tertawa sambil merenungkan perkataan yang sederhana tapi maknanya, tentu saja, amat dalam itu. Dari rumah, Gus Mus jalan kaki menempuh jarak kurang lebih satu kilo meter, menuju alun-alun kota Rembang. Setelah itu, beliau akan mengitari alun-alun kira-kira lima kali. Gus Mus masih bisa jalan kaki dengan "pace" atau kecepatan ala anak-anak muda. Luar biasa. Tak ada tanda-tanda "ngos-ngosan" sama sekali. 

Setelah beberapa saat, beliau, masih dalam keadaan jalan kaki dengan cukup cepat, bercerita bahwa Kiai Abdul Hakim Mahfudz, alias Gus Kikin, Ketua PWNU Jatim dan pengasuh Pesantren Tebuireng, dua hari lalu sowan ke "ndalem" beliau (maksudnya Gus Mus) di Leteh, Rembang. Gus Kikin melaporkan "ontran-ontran" yang sekarang tengah berkecamuk dalam tubuh PBNU. Tentu saja Gus Kikin cemas sekali melihat hal ini. 

Apa respon Gus Mus? 

"Sampeyan kan sudah lama di NU, masak ndak tahu. Di NU ribut-ribut itu biasa, namanya orang banyak, kepentingannya juga banyak," seloroh Gus Mus. 

Lalu, "Sampeyan ndak usah cemas. Santai saja. NU itu milik Gusti Allah, sudah ada yang ngurus, ndak usah khawatir," kata beliau. 

Gus Mus memang selalu santai menghadapi keadaan apapun, tidak mudah cemas dan panik. Ini bukan berarti beliau tidak sungguh-sungguh memikirkan NU. Bukan. Hidup beliau sejak muda hingga sepuh saat ini dihabiskan dalam NU. Organisasi ini sudah menjadi bagian dari dirinya. 

Ketika suatu waktu Gus Yahya, Ketua Umum PBNU, melaporkan tentang "ribut-ribut" dalam tubuh organisasi yang ia pimpin itu, Gus Mus juga merespon dengan santai:

"Salahmu sendiri pengen jadi Ketua NU. Wong kamu sendiri yang pengen jadi Ketua NU kok sekarang mengeluh." 

Mungkin gaya santai Gus Mus inilah yang membuatnya tetap segar-bugar hingga usia sepuh saat ini. Jalannya masih tagap. Tak ada pantangan apapun dalam soal makanan. "Tak soal makan apa saja, asal tidak berlebihan, tahu batas," kata beliau suatu saat. 

- Filosofi hidup sederhana ala Gus Mus-

Friday, 25 July 2025

MWC NU Lowokwaru Gelar Konsolidasi Ranting se-Kecamatan dalam Agenda Rutin Jum'at Wekasan

Dokumen Ustadz Asyhar saat ngaji kitab Ta'lim karya hadrotus syaikh
Lowokwaru – Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Lowokwaru menggelar kegiatan konsolidasi seluruh ranting NU se-Kecamatan Lowokwaru dalam rangkaian kegiatan rutin Jum’at Wekasan yang dilaksanakan pada Jumat, 25 Juli 2025.

Kegiatan ini diawali dengan pembacaan dzikir, sholawat, serta pengajian Kitab Ta'limul Muta’allim karya Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Kajian ini menjadi ruh sekaligus pengantar dalam menyatukan niat dan semangat ke-NU-an seluruh peserta yang hadir, baik dari jajaran pengurus MWC, ranting, maupun perwakilan lembaga-lembaga di bawah naungan MWC NU Lowokwaru.
Pengurus MWCNU dan Ranting NU se Lowokwaru 
Setelah kajian keagamaan, acara dilanjutkan dengan sesi rembuk bersama yang membahas berbagai dinamika dan permasalahan yang dihadapi masing-masing ranting NU. Forum ini menjadi ruang terbuka untuk saling bertukar informasi, mencari solusi bersama, serta memperkuat koordinasi antarpengurus.
Pembacaan Maulid: Mahallul Qiyam saat 
Salah satu agenda penting yang menjadi sorotan dalam konsolidasi kali ini adalah program percepatan pengurusan tanah wakaf milik NU yang masih belum bersertifikat. MWCNU Lowokwaru menargetkan penyelesaian sertifikasi tanah-tanah wakaf sebagai bentuk tanggung jawab terhadap amanah wakif (pemberi wakaf) serta upaya memperkuat legalitas aset-aset ke-NU-an di wilayah Lowokwaru.

“Pengurus ranting NU diharapkan dapat turut serta mendampingi proses pengukuran tanah wakaf di wilayah masing-masing. Ini penting sebagai bentuk rasa tanggung jawab kita kepada para wakif, serta untuk menunjukkan rasa memiliki terhadap organisasi NU,” tegas Abah Muarif, pengurus Lembaga Wakaf dan Pertanahan NU MWC Lowokwaru.

Ia juga menekankan pentingnya koordinasi yang kuat antara ranting dan MWC dalam proses pengurusan wakaf ini, mulai dari pendataan, pengukuran, hingga pengajuan sertifikat ke Badan Pertanahan Nasional (BPN). Menurutnya, keberhasilan program ini akan menjadi fondasi penting dalam memperkuat eksistensi NU di tingkat akar rumput.

Dengan semangat kebersamaan dan komitmen dalam memperkuat struktur organisasi hingga tingkat ranting, MWCNU Lowokwaru berharap program ini dapat menjadi model percontohan bagi wilayah-wilayah lain, khususnya dalam pengelolaan aset wakaf yang profesional dan bertanggung jawab. (Zain)

Friday, 14 March 2025

Menemukan Kebahagiaan Sejati Melalui Ilmu-Nya

Dokumen : Silaturahim di Zawiyah Al-Hadi bersama Pengasuh, KH.Saiful Munir Malang
Tidak ada warisan terbaik di dunia dan akhirat selain peninggalan yang mampu memberikan petunjuk menuju kesuksesan sejati—yaitu kebahagiaan hakiki.

Kebahagiaan sejati hanya dapat diraih dengan mempelajari ilmu-Nya. Allah telah menurunkan Al-Qur’an sebagai kitab petunjuk agar manusia tidak salah dalam memilih jalan kebahagiaan. Hidup di dunia menawarkan banyak pilihan: ada yang tergoda oleh kesenangan sesaat dengan mengikuti hawa nafsu, dan ada pula yang istiqamah menempuh jalan ilmu-Nya demi kebahagiaan abadi.

Namun, memahami ilmu-Nya bukan perkara mudah. Diperlukan alat, kaidah, serta bimbingan yang tepat. Meskipun perkembangan teknologi telah mempermudah akses terhadap ilmu, pemahaman yang benar tetap harus didapatkan melalui bimbingan guru.

Ilmu-Nya berbeda dengan ilmu buatan manusia. Al-Qur’an bukan sekadar kitab biasa yang bisa dipahami dengan membaca sepintas lalu. Membacanya harus sesuai dengan kaidah, memahaminya membutuhkan ilmu, dan mengamalkannya memerlukan keikhlasan. Oleh karena itu, belajar Al-Qur’an sebaiknya dilakukan dengan bimbingan guru yang memiliki sanad keilmuan yang jelas.

Dengan bimbingan guru, Al-Qur’an tidak hanya dipahami secara teks, tetapi juga dapat dirasakan pesan-pesan rahasianya. Selain itu, ilmu yang dipelajari dengan niat yang ikhlas akan mengalirkan pahala sepanjang zaman, terutama jika diajarkan kepada orang lain.

Maka, bekal terbaik dalam hidup ini adalah belajar membaca Al-Qur’an, memahami kaidah-kaidahnya agar benar dalam membacanya, serta mengajarkannya kepada orang lain. Jika seseorang mampu memahami makna kandungannya, maka ia telah membuka pintu kesuksesan di dunia dan akhirat.

Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

"Sebaik-baik di antara kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya." (HR. Bukhari).

Wednesday, 12 March 2025

Kajian hadits Bulugul Maram Bab Tayamum (Kajian Hikmah Akademi Ramadhan SMASurba)

Ustadz Fatih Ihsani,M.PdI saat memberikan materi Kajian Hadits Bulughul Maram Bab Tayammum
Hadits ke-1

وَعَنْ عَمَّارِ بْنِ يَاسِرٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: ( بَعَثَنِي اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم فِي حَاجَةٍ فَأَجْنَبْتُ فَلَمْ أَجِدِ اَلْمَاءَ فَتَمَرَّغْتُ فِي اَلصَّعِيدِ كَمَا تَمَرَّغُ اَلدَّابَّةُ ثُمَّ أَتَيْتُ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ: إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيكَ أَنْ تَقُولَ بِيَدَيْكَ هَكَذَا ثُمَّ ضَرَبَ بِيَدَيْهِ اَلْأَرْضَ ضَرْبَةً وَاحِدَةً ثُمَّ مَسَحَ اَلشِّمَالَ عَلَى اَلْيَمِينِ وَظَاهِرَ كَفَّيْهِ وَوَجْهَهُ )  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَاللَّفْظُ لِمُسْلِم ٍ

وَفِي رِوَايَةٍ لِلْبُخَارِيِّ: وَضَرَبَ بِكَفَّيْهِ اَلْأَرْضَ وَنَفَخَ فِيهِمَا ثُمَّ مَسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ وَكَفَّيْه

Artinya :

Ammar Ibnu Yassir Radliyallaahu 'anhu berkata: Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam telah mengutusku untuk suatu keperluan lalu aku junub dan tidak mendapatkan air maka aku bergulingan di atas tanah seperti yang dilakukan binatang kemudian aku mendatangi Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam dan menceritakan hal itu padanya. Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "sesungguhnya engkau cukup degnan kedua belah tanganmu begini." Lalu beliau menepuk tanah sekali kemudian mengusapkan tangan kirinya atas tangan kanannya punggung kedua telapak tangan dan wajahnya. Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut Muslim.

Dalam suatu riwayat Bukhari disebutkan: Beliau menepuk tanah dengan kedua telapak tangannya dan meniupnya lalu mengusap wajah dan kedua telapak tangannya.

 Hadits Ke-2

وَعَنِ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( التَّيَمُّمُ ضَرْبَتَانِ ضَرْبَةٌ لِلْوَجْهِ وَضَرْبَةٌ لِلْيَدَيْنِ إِلَى اَلْمِرْفَقَيْنِ )  رَوَاهُ اَلدَّارَقُطْنِيُّ وَصَحَّحَ اَلْأَئِمَّةُ وَقْفَه  

Artinya :
Ibnu Umar Radliyallaahu 'anhu berkata bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Tayammum itu dengan dua tepukan. Tepukan untuk muka dan tepukan untuk kedua belah tangan hingga siku-siku." Riwayat Daruquthni dan para Imam Hadits menganggapnya mauquf.

Faedah Hadits

Pertama Hadits ini menjadi dalil melaksanakan tayamum jika tidak ditemukan Air, sebagaimana dalam QS An-Nisa : 43

فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا

Artinya :
Kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci).” (QS. An-Nisaa’: 43)
 
Kedua : Saat junub dan air tidak ditemukan, maka cukup diganti dengan tayamum, tidak dengan mengguling-gulingkan seluruh tubuh ke pasir dengan cara mengambil debu/tanah yang suci dan diusapkan pada wajah dan kedua tangan. sebagaimana dalam QS Al-Maidah Ayat 6
 
فَٱمْسَحُوا۟ بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُم مِّنْهُ

Artinya :
Usaplah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu.” Ada kata “minhu”, kata “min” (berarti: dari) menunjukkan makna “tab’idh” (sebagian). 
 
atau didalam QS An-Nisa ayat 43

فَلَمْ تَجِدُوا۟ مَآءً فَتَيَمَّمُوا۟ صَعِيدًا طَيِّبًا فَٱمْسَحُوا۟ بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ

Artinya: 
kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); usaplah mukamu dan tanganmu.” (QS. An-Nisaa’: 43)namun yang membedakan dengan QS Al-Maidah tidak ada lafad “Min”

Ketiga tayamum tidak hanya untuk Hadats Kecil, tapi juga untuk Hadats Besar sebagaimana yang dilakukan oleh Sahabat Ammar Ibnu Yassir Radliyallaahu 'anhu

Keempat tata cara Tayamum Hadats Besar (junub) dengan hadats kecil sama, tidak ada perbedaan. Tata cara keduanya adalah dengan menepuk tanah dengan kedua telapak tangan dengan sekali tepukan, lalu telapak tangan kiri mengusap bagian dalam telapak tangan kanan dan punggung telapak tangan kanan, dilanjutkan mengusap wajah. Atau dengan mendahulukan mengusap wajah kemudian mengusap kedua tangan.

Kelima dari kedua tersebut diatas ada perbedaan redaksi, redaksi pertama mendahulukan mengusap kedua tangan dulu baru kemudia mengusap wajah, pada hadits kedua mengusap wajah kemudian mengusap kedua tangan, pada redaksi yang kedua sebagaimana dalam QS Al-Maidah Ayat 6

فَٱمْسَحُوا۟ بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُم مِّنْهُ

Artinya :
“Usaplah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu.”    
maka cara yang kedua digunakan sebagaimana tata cara bertayamum karena urutan lafadz dalam Al-Quran merupakan urutan sebagaimana ayat yang menjelaskan tentang wudhu.

Keenam, menggunakan debu (suci) yang sedikit diperbolehkan saat menempelkan tangan pada debu kemudian digunakan untuk mengusap wajah satu kali dan mengambil debu dan ditiup untuk diusapkan pada kedua tangan satu kali.

Friday, 14 February 2025

Kajian 3 Hadits Keutamaan Bulan Sya'ban

Sya’ban menjadi bulan yang mulia bagi kaum muslimin sebab keutamaan-keutamaan yang ada pada bulan ini. Bulan Sya’ban juga menjadi istimewa karena ia merupakan bulan penyambut Ramadhan, bahkan Nabi saw tidak meninggalkan puasa di bulan Sya’ban kecuali beberapa hari saja. (Muhammad Ad-Dabisi, Halul Mu’minin fi Sya’ban, [Kairo: Maktabah Muhammad Ad-Dabisi, 2013], halaman 9)

Rasulullah sendiri sebagaimana disebut di atas sangat memuliakan bulan ini. Sehingga kita mendapati riwayat-riwayat Nabi yang menjelaskan keutamaan bulan ini. Berikut hadits-haditsnya:

1. Puasa sunnah di bulan Sya'ban

Ketika Nabi ditanya soal puasa yang beliau lakukan di bulan Sya’ban, Nabi menjawab bahwa Sya’ban adalah bulan antara Rajab dan Ramadan yang banyak orang lalai terhadapnya. Pada bulan Sya’ban amal perbuatan manusia diangkat untuk dihadapkan kepada Tuhan semesta alam.

Nabi menyebut bahwa beliau suka apabila amal perbuatannya dihadapkan kepada Allah sedangkan beliau dalam keadaan sedang melakukan ibadah puasa. Teks hadisnya diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ الْأَيَّامَ يَسْرُدُ حَتَّى يُقَالَ لَا يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ الْأَيَّامَ حَتَّى لَا يَكَادَ أَنْ يَصُومَ إِلَّا يَوْمَيْنِ مِنْ الْجُمُعَةِ إِنْ كَانَا فِي صِيَامِهِ وَإِلَّا صَامَهُمَا وَلَمْ يَكُنْ يَصُومُ مِنْ شَهْرٍ مِنْ الشُّهُورِ مَا يَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّكَ تَصُومُ لَا تَكَادُ أَنْ تُفْطِرَ وَتُفْطِرَ حَتَّى لَا تَكَادَ أَنْ تَصُومَ إِلَّا يَوْمَيْنِ إِنْ دَخَلَا فِي صِيَامِكَ وَإِلَّا صُمْتَهُمَا قَالَ أَيُّ يَوْمَيْنِ قَالَ قُلْتُ يَوْمُ الِاثْنَيْنِ وَيَوْمُ الْخَمِيسِ قَالَ ذَانِكَ يَوْمَانِ تُعْرَضُ فِيهِمَا الْأَعْمَالُ عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ وَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ قَالَ قُلْتُ وَلَمْ أَرَكَ تَصُومُ مِنْ شَهْرٍ مِنْ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ قَالَ ذَاكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ يُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

Artinya, “Rasulullah saw berpuasa beberapa hari berturut-turut, sampai-sampai dikatakan, beliau tidak pernah berbuka. Beliau juga berbuka beberapa hari hingga hampir tidak puasa kecuali dua hari dalam sepekan, yaitu dua hari yang biasa beliau gunakan untuk berpuasa, jika tidak (berpuasa terus menerus), maka beliau akan berpuasa dua hari itu. Tidaklah beliau banyak berpuasa kecuali di bulan Sya'ban, Aku bertanya; 'Wahai Rasulullah, engkau berpuasa seakan-akan engkau tidak pernah berbuka dan engkau berbuka seakan engkau tidak berpuasa kecuali dua hari saja, yaitu Senin dan Kamis." Beliau bersabda: "Itulah dua hari yang amalan seorang hamba ditampakkan di hadapan Rabb semesta alam, aku senang ketika amalanku ditampakkan, diriku sedang berpuasa." Usamah melanjutkan; kataku selanjutnya; "Dan kami tidak melihat engkau banyak berpusa kecuali di bulan Sya'ban?." Beliau bersabda: "Itulah bulan yang orang-orang banyak yang lalai antara bulan Rajab dan Ramadhan, yaitu bulan ditampakkannya amalan-amalan, dan aku suka ketika amalanku diperlihatkan dihadapan Rabbku, sedangkan aku dalam keadaan berpuasa." (HR Ahmad).

Hadits di atas menegaskan tentang puasa sunah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad di bulan Sya’ban. Alasan beliau banyak melakukan puasa di bulan ini adalah karena pada bulan ini amalan manusia diangkat dan diperlihatkan kepada Allah, sehingga kondisi terbaik saat proses pemeriksaan amal adalah dengan beribadah menjalankan puasa sunnah. 

2. Amalan perbuatan dihadapkan pada Allah di malam pertengahan bulan Sya'ban

Malam pertengahan bulan Sya’ban dikenal juga dengan malam Nishfu Sya’ban. Masyarakat muslim Indonesia biasa menjalankan ritual doa bersama pada malam ini dengan harapan agar catatan amal baiknya diterima Allah dan amal buruk diampuni oleh-Nya. Terkait malam Nishfu Sya’ban, Rasulullah saw bersabda:

يطلع الله عز وجل على خلقه ليلة النصف من شعبان فيغفر لجميع خلقه إلا لمشرك أو مشاحن

Artinya, “Allah ‘azza wa jalla melihat (amalan) hamba-Nya pada malam pertengahan bulan Sya’ban, maka Ia mengampuni semua makhluknya kecuali orang yang musyrik dan orang yang bermusuhan.” 

(HR At-Thabrani).

Hadits ini diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir. Terkait status validitas haditsnya, Al-Haitsami mengomentari hadis ini shahih dan terdapat dalam dua karya At-Thabrani. Adapun jalur periwayatannya diisi oleh orang-orang yang kredibel atau tsiqah. (Abu Bakr Al-Haitsami, Majma’ Az-Zawaid, [Beirut, Darul Fikr: 1412], jilid VIII, halaman 126).

Menurut At-Thibi, hadits ini menyatakan kemuliaan malam pertengahan bulan Sya’ban sebab diangkatnya amal perbuatan manusia untuk dihadapkan kepada Allah sekaligus pengampunan amal buruk manusia dengan catatan dirinya bukan orang yang menyekutukan Tuhan dan tidak sedang bermusuhan dengan orang lain. (Al-Husain At-Thibi, Al-Kasyif ’an Haqaiqis Sunan, [Riyadh, Maktabah Al-Mukarramah: 1997], jilid IV, halaman 1329).

3. Rasulullah saw mengisi malam Nishfu Sya'ban dengan ibadah

Malam Nishfu Sya’ban menjadi malam yang mulia bagi umat Islam. Pada malam ini kita diharapkan untuk berdoa dan beribadah kepada Allah dengan harapan dosa-dosa kita diampuni. Teladan untuk mengisi malam ini dengan kegiatan positif telah dicontohkan oleh Nabi dalam sebuah hadits yang dituturkan oleh ‘Aisyah ra, istri Nabi saw, yaitu:

فقدت النبي صلى الله عليه وسلم ذات ليلة. فخرجت أطلبه. فإذا هو بالبقيع رافع رأسه إلى السماء. فقال: يا عائشة أكنت تخافين أن يحيف الله عليك ورسوله؟  قالت: قد قلت: وما بي ذلك. ولكني ظننت أنك أتيت بعض نسائك. فقال: إن الله تعالى ينزل ليلة النصف من شعبان إلى السماء الدنيا فيغفر لأكثر من عدد شعر غنم كلب 

Artinya: “Pada suatu malam hari aku kehilangan Nabi saw, kemudian aku keluar mencari beliau. Ketika itu beliau sedang mengangkat kepala ke langit. Kemudian beliau berkata: Wahai Aisyah! Apakah engkau takut Allah dan Rasul-Nya menelantarkan engkau. Aku berkata: Aku menyangka bahwa engkau mendatangi sebagian istri-istri engkau. Kemudian beliau berkata: Sesungguhnya Allah ‘turun’ pada malam Nishfu Sya’ban ke langit dunia. Lalu, Dia mengampuni lebih banyak dari jumlah bulu kambing milik kabilah Bani Kalb (salah satu kabilah yang banyak memiliki kambing).” (HR Ibnu Majah). 

Hadits ini menegaskan bahwa pada malam pertengahan bulan Sya’ban, Rasulullah mengisinya dengan ibadah dan memperbanyak doa kepada Allah. Pada malam itu, ampunan Allah banyak dikucurkan kepada para hamba-Nya sebagai bentuk rahmat dan kasih sayang bagi mereka. (Muhammad Al-Amin Al-Harari, Mursyid Dzawil Hija wal Hajah ila Sunan Ibn Majah, [Jeddah, Darul Minhaj: 2018], jilid VIII, halaman 364).

Demikianlah hadits-hadits terkait kemuliaan bulan Sya’ban sekaligus keutamaan malam Nishfu Sya’ban atau malam pertengahan bulan Sya’ban. Semoga kita semua dapat menjalankan ibadah pada malam tersebut, sehingga dosa-dosa kita akan diampuni oleh Allah swt.

Wednesday, 12 February 2025

Siswa Kelas Akhir SMA Surya Buana Malang Ikuti Daurah Al-Qur'an di PPTQ Nurul Qur'an

Kegiatan Daurah Bersama KH. Muslimin Pengasuh PPTQ Nurul Quran
Malang – Siswa-siswi kelas akhir SMA Surya Buana Malang mengikuti Daurah Al-Qur'an intensif di Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an (PPTQ) Nurul Qur'an, Malang, pada 10-18 Februari 2025. Kegiatan ini merupakan hasil kerja sama antara SMA Surya Buana Malang dan PPTQ Nurul Qur'an melalui program sertifikasi Pengajar Al-Qur'an Metode Al-Bayan Lil Muslimin Bir Rosm Utsmani, sebuah metode standar Madinah (Rosm Utsmani).

Daurah yang berlangsung selama tujuh hari ini diikuti oleh seluruh siswa kelas akhir. Para peserta berkesempatan belajar langsung dari penulis (muallif) Metode Al-Bayan Lil Muslimin, yang kemudian dilanjutkan dengan pendampingan praktik lapangan.

"Praktik lapangan ini bertujuan agar siswa-siswi memiliki pengalaman langsung dalam mengajarkan Al-Qur’an serta dapat mengabdikan ilmunya kepada masyarakat," ujar Ustadz Fatih, salah satu tim pengajar program Al-Qur'an (BTQ) di SMA Surya Buana Malang.

Menurutnya, selama belajar di SMA Surya Buana Malang, para siswa telah mendapatkan pembelajaran Al-Qur'an melalui program Takhosus maupun reguler. Oleh karena itu, melalui program ini, mereka diharapkan mampu mengimplementasikan ilmu yang telah diperoleh dalam pengajaran Al-Qur'an.

Siswi SMASurba serius mengikuti Daurah Al-Quran

Sebelum keberangkatan ke pesantren pada Senin (10/2), Ustadz Fatih memberikan pembekalan khusus kepada para siswa. Ia menekankan pentingnya menjaga adab selama berada di pesantren, dalam perjalanan, serta selama mengikuti Daurah Al-Qur'an.

"Adab itu lebih penting daripada ilmu. Oleh karena itu, jagalah adab kalian selama berada di pesantren," pesannya.

Program Daurah Al-Qur'an ini merupakan bagian dari upaya SMA Surya Buana Malang dalam mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter Qurani dan siap berkontribusi bagi masyarakat.

Tuesday, 12 March 2024

Jumlah Roka’at Tarawih Menurut 4 Madzhab

Ada beberapa pendapat mengenai bilangan rakaat yang dilakukan kaum muslimin pada bulan Ramadhan sebagai berikut:

1. Madzhab Hanafi Sebagaimana dikatakan Imam Hanafi dalam kitab Fathul Qadir bahwa Disunnahkan kaum muslimin berkumpul pada bulan Ramadhan sesudah Isya’, lalu mereka shalat bersama imamnya lima Tarawih (istirahat), setiap istirahat dua salam, atau dua istirahat mereka duduk sepanjang istirahat, kemudian mereka witir (ganjil).

Walhasil, bahwa bilangan rakaatnya 20 rakaat selain witir jumlahnya 5 istirahat dan setiap istirahat dua salam dan setiap salam dua rakaat = 2 x 2 x 5 = 20 rakaat. 

2. Madzhab Maliki Dalam kitab Al-Mudawwanah al Kubro, Imam Malik berkata, Amir Mukminin mengutus utusan kepadaku dan dia ingin mengurangi Qiyam Ramadhan yang dilakukan umat di Madinah. 

Lalu Ibnu Qasim (perawi madzhab Malik) berkata “Tarawih itu 39 rakaat termasuk witir, 36 rakaat tarawih dan 3 rakaat witir” lalu Imam Malik berkata “Maka saya melarangnya mengurangi dari itu sedikitpun”.

Aku berkata kepadanya, “inilah yang kudapati orang-orang melakukannya”, yaitu perkara lama yang masih dilakukan umat.

Dari kitab Al-muwaththa’, dari Muhammad bin Yusuf dari al-Saib bin Yazid bahwa Imam Malik berkata, “Umar bin Khattab memerintahkan Ubay bin Ka’ab dan Tamim al-Dari untuk shalat bersama umat 11 rakaat”. 

Dia berkata “bacaan surahnya panjang-panjang” sehingga kita terpaksa berpegangan tongkat karena lama-nya berdiri dan kita baru selesai menjelang fajar menyingsing. Melalui Yazid bin Ruman dia berkata, “Orang-orang melakukan shalat pada masa Umar bin al-Khattab di bulan Ramadhan 23 rakaat”.

Imam Malik meriwayatkan juga melalui Yazid bin Khasifah dari al-Saib bin Yazid ialah 20 rakaat. Ini dilaksanakan tanpa wiitr. Juga diriwayatkan dari Imam Malik 46 rakaat 3 witir. Inilah yang masyhur dari Imam Malik.

3. Madzhab as-Syafi’i Imam Syafi’i menjelaskan dalam kitabnya Al-Umm, “bahwa shalat malam bulan Ramadhan itu, secara sendirian itu lebih aku sukai, dan saya melihat umat di madinah melaksanakan 39 rakaat, tetapi saya lebih suka 20 rakaat, karena itu diriwayatkan dari Umar bin al-Khattab.

Demikian pula umat melakukannya di makkah dan mereka witir 3 rakaat. Lalu beliau menjelaskan dalam Syarah al-Manhaj yang menjadi pegangan pengikut Syafi’iyah di Al-Azhar al-Syarif, Kairo Mesir bahwa shalat Tarawih dilakukan 20 rakaat dengan 10 salam dan witir 3 rakaat di setiap malam Ramadhan.

4. Madzhab Hanbali Imam Hanbali menjelaskan dalam Al-Mughni  suatu masalah, ia berkata, “shalat malam Ramadhan itu 20 rakaat, yakni shalat Tarawih”, sampai mengatakan, “yang terpilih bagi Abu Abdillah (Ahmad Muhammad bin Hanbal) mengenai Tarawih adalah 20 rakaat”. 

Menurut Imam Hanbali bahwa Khalifah Umar ra, setelah kaum muslimin dikumpulkan (berjamaah) bersama Ubay bin Ka’ab, dia shalat bersama mereka 20 rakaat.

Dan al-Hasan bercerita bahwa Umar mengumpulkan kaum muslimin melalui Ubay bin Ka’ab, lalu dia shalat bersama mereka 20 rakaat dan tidak memanjangkan shalat bersama mereka kecuali pada separo sisanya. 

Maka 10 hari terakhir Ubay tertinggal lalu shalat dirumahnya maka mereka mengatakan, “Ubay lari”, diriwayatkan oleh Abu Dawud dan as-Saib bin Yazid.

Kesimpulan Dari apa yang kami sebutkan itu kita tahu bahwa para ulama’ dalam empat madzhab sepakat bahwa bilangan Tarawih 20 rakaat. Kecuali Imam Malik karena ia mengutamakan bilangan rakaatnya 36 rakaat atau 46 rakaat. 

Tetapi ini khusus untuk penduduk Madinah. Adapun selain penduduk Madinah, maka ia setuju dengan mereka juga bilangan rakaatnya 20 rakaat.

Para ulama ini beralasan bahwa shahabat melakukan shalat pada masa khalifah Umar bin al-Khattab ra di bulan Ramadhan 20 rakaat atas perintah beliau. 

Juga diriwayatkan oleh al-Baihaqi dengan sanad yang shahih dan lain-lainnya, dan disetujui oleh para shahabat serta terdengar diantara  mereka ada yang menolak. 

Karenanya hal itu menjadi ijma’, dan ijma’ shahabat itu menjadi hujjah (alasan) yang pasti sebagaimana ditetapkan dalam Ushul al-Fiqh.

Penulis: KH Muhaimin Zen Ketua Umum Pengurus Pusat Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffadz (JQH) NU

Saturday, 24 February 2024

Hadits-hadits Berkenaan Keutamaan Malam Nisfu Sya’ban

Berdasarkan hadits-hadits yang telah dibentangkan, maka kita dapat membuat rumusan bahwa hadits-hadits terkait keutamaan malam Nisfu Sya’ban telah diriwayatkan melalui jalur lima belas (15) sahabat Rasulullah صلى الله عليه وسلم termasuk isteri Baginda صلى الله عليه وسلم yaitu :

1. Sayidina Abu Bakar al-Siddiq رضي الله عنه

2. Sayidina ‘Ali Bin Abu Talib رضي الله عنه

3. Sayidatina ‘A’ishah رضي الله عنها (isteri Rasulullah صلى الله عليه وسلم)

4. Sayidina Mu’adz bin Jabal رضي الله عنه

5. Sayidina Abu Hurayrah رضي الله عنه

6. Sayidina ʿAbdullah Ibnu ‘Amr رضي الله عنهما

7. Sayidina Ubay bin Ka’b رضي الله عنه

8. Sayidina Abu Thaʿlabah al-Khushani رضي الله عنه

9. Sayidina Abu al-Darda’ (‘Uwaymir bin Malik) رضي الله عنه

10. Sayidina Anas bin Malik رضي الله عنه

11. Sayidina Abu Umamah al-Bahili رضي الله عنه

12. Sayidina ʿUtsman bin Abu al-‘As رضي الله عنه

13. Sayidina ‘Auf bin Malik رضي الله عنه

14. Sayidina Abu Musa al-Asy’ari (‘Abdullah bin Qays) رضي الله عنه

15. Sayidina Yazid bin Jariyah al-Anshari رضي الله عنه

Hadits-hadits ini datang dengan pelbagai status sanad dan lafaz termasuk shahih. Ada juga sahabat yang disebut dengan secara mubham seperti riwayat di dalam kitab Faḍā’il Syahr Ramaḍān oleh al-Imām Ibnu Abī al-Dunyā (w.281H). Sebahagian riwayat lagi datang secara mursal. 

Tanpa syak lagi hadits-hadits yang banyak ini saling mendukung dalam kekuatannya sehingga hadits-haditsnya yang dha’if bisa mencapai ḥasan li ghairih atau ṣhaḥīḥ li ghairih. 

Allah Maha Mengetahui dan Ilmu-Nya Maha Sempurna.

- Dr. Ustadz Abdullaah Jalil -