![]() |
| KH Nurul Huda Jazuli, Pengasuh Utama Pondok Al-Falah Ploso, Kediri, mengkhatamkan Shohih-Bukhari di Makam Imam Bukhori, Uzbeksitan. |
Dunia pesantren kembali disuguhi pemandangan yang menggetarkan hati. Baru-baru ini, jagat media sosial diramaikan oleh dokumentasi alumni Pondok Ploso yang memperlihatkan KH Nurul Huda Jazuli, Pengasuh Utama Pondok Al-Falah Ploso, Kediri, melakukan kunjungan resmi ke Uzbekistan.
Kunjungan ini bukan sekadar perjalanan biasa, melainkan sebuah simpul pertemuan antara pengabdi ilmu dan sang pemilik ilmu. Di balik sambutan hangat Kedutaan Besar RI dan pimpinan wilayah Uzbekistan, terselip sebuah catatan spiritual yang luar biasa: 50 tahun istikamah mengasuh umat.
Setengah Abad Berkhidmat untuk Umat
Sepeninggal sang ayah, KH Jazuli Utsman pada tahun 1976, kepengasuhan Pondok Ploso dijalankan melalui Majelis Keluarga. Kiai Nurul Huda Jazuli (ayahanda Gus Kautsar) memegang peran sebagai pengasuh utama. Jika dihitung hingga tahun 2026 ini, tepat sudah 50 tahun beliau mendedikasikan hidupnya untuk mendidik santri dan menjaga tradisi keilmuan Islam.
Satu hal yang menjadi ciri khas kemuliaan beliau adalah kedisiplinan dalam "wiridan" kitab-kitab induk. Bagi Mbah Yai Huda, mengaji bukan sekadar transfer ilmu, melainkan napas kehidupan. Dua kitab yang tak pernah putus beliau bacakan adalah:
- Sahih Bukhari, yang dikaji setiap selesai salat Ashar.
- Tafsir Jalalain, yang dikaji setiap selesai salat Magrib.
Ketekunan beliau mengkhatamkan Sahih Bukhari secara berulang selama puluhan tahun menjadikan momen kehadirannya di depan makam Imam al-Bukhari di Samarkand terasa sangat emosional.
Keajaiban di Sisi Makam Imam al-Bukhari
Momen khataman dan doa yang dilantunkan Mbah Yai Huda langsung di depan pusara Imam al-Bukhari membangkitkan ingatan pada sebuah peristiwa besar yang dicatat oleh Al-Hafidz Adz-Dzahabi dalam kitab Siyar A'lam An-Nubala.
Pada tahun 464 H, Samarkand dilanda kekeringan hebat. Shalat Istisqo telah dilaksanakan berkali-kali namun hujan tak kunjung turun. Atas saran seorang saleh, hakim dan seluruh penduduk Samarkand berangkat menuju makam Imam al-Bukhari di kawasan Hartang.
Di sana, mereka menangis dan berdoa dengan bertawasul kepada kesalehan sang pemilik makam. Tak lama kemudian, Allah menurunkan hujan yang begitu deras hingga penduduk tertahan di sana selama tujuh hari karena debit air yang melimpah.
Sejarah ini membuktikan bahwa tempat-tempat yang di dalamnya bersemayam para kekasih Allah memiliki keberkahan tersendiri sebagai tempat mustajab untuk mengetuk pintu langit.
Indonesia dan Makam Sang Penulis Hadis
Ada kebanggaan tersendiri bagi kita sebagai warga Indonesia saat berkunjung ke kompleks makam ini. Sejarah mencatat peran besar Presiden Soekarno dalam pemugaran makam ini.
Dikisahkan bahwa dahulu makam Imam al-Bukhari sempat terbengkalai di bawah rezim Uni Soviet. Saat Bung Karno akan berkunjung ke Soviet, beliau mengajukan syarat: makam Imam al-Bukhari harus ditemukan dan dibangun. Berkat diplomasi sang Proklamator, makam tersebut kini berdiri megah dengan masjid dan madrasah di sekitarnya. Tak heran jika hingga kini, peziarah asal Indonesia sering kali mendapatkan penghormatan khusus dari para penjaga makam di sana.
Doa untuk Sang Guru
Melihat Mbah Yai Huda bersimpuh di depan makam Imam yang hadis-hadisnya beliau baca selama setengah abad adalah sebuah pemandangan yang melampaui logika duniawi. Ini adalah pertemuan antara ketulusan pembaca dan kemuliaan penulis.
Teriring doa tulus untuk beliau:
أبقاه الله بالسلامة والعافية والبركة وأفاض علينا من بركاته
(Semoga Allah senantiasa menjaga beliau dalam keselamatan, afiat, dan keberkahan, serta melimpahkan keberkahannya kepada kita semua).
