Terorisme Saat Ramadhan, Masif Dan Tidak Terbendung - HWMI.or.id

Tuesday 27 April 2021

Terorisme Saat Ramadhan, Masif Dan Tidak Terbendung

 Terorisme saat Ramadan, Masif dan Tidak Terbendung



Lagi dan lagi, fenomena terorisme masih menjadi pembahasan yang populer ditengah musibah yang terjadi di Indonesia. Ketika duka KRI Nanggala 402 menjadi duka Indonesia dengan gugurnya 53 awal kapal yang sudah berjasa untuk Indonesia, kabar duka yang sama tragisnya yakni gugurnya Kepala BIN Daerah (Kabinda) Papua Brigadir Jenderal (Brigjen) I Gusti Putu (IGP) Danny Karya Nugraha saat melakukan kontak tembak dengan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) yang kemudian dilabeli kelompok Separatis dan Teroris (KST) Papua di Kampung Dambet, Distrik Beoga, Kabupaten Puncak pada Ahad (25/4).

Meski menjadi polemik atas pelabelan KKB sebagai kelompok teroris dan separatis, akan tetapi yang paling penting sebenarnya tragedi kemanusiaan yang terus bergulir dengan beragam cara yang berbeda mengingatkan kita untuk terus waspada dan menyisakan kesedihan yang amat mendalam di tengah momen ramadhan yang seharusnya menjadi bulan yang menentramkan.

Di beberapa ruang yang lain, Densus 88 Anti Teror Mabes Polri menangkap terduga Teroris di Perumahan D ONYX Perumnas Kecamatan Manggala, Minggu 25 April 2021. (suara.com). Berita-berita terorisme selalu menempati ruang yang tidak pernah kosong dari ruang media yang menyajikan informasi kepada khalayak.  Ini justru menjadi catatan penting atas musibah kemanusiaan yang terus mengintai negeri kita dengan aksi-aski separatis dan teroris yang tidak bisa hengkang dari perjalanan Indonesia.

Terorisme di Indonesia semacam memiliki ruang berita tersendiri yang tidak hengkang oleh waktu. Menyepelekan keberadaannya justru sangat tidak masuk akal, sebab eksistensinya jelas dan sangat meresahkan.


Puasa dan Tragedi Kemanusiaan


Memaknai puasa sebagai salah satu perjalanan panjang manusia berinteraksi dengan Tuhan dengan cara menahan segala bentuk hawa nafsu dan segala sifat hewani yang terdapat dalam diri.

Menurtu Habib Nabiel al-Musawa, ramadan seharusnya menjadi momen yang ditunggu oleh umat Islam dengan dengan melihat manusia dari berbagai kategori, diantaranya: jiwa yang tenang dan mampu menjauhi larangan Allah, jiwa yang selalu menyesali perbuatan buruk yang dilakukan, dan ketiga adalah manusia yang tanpa rem melakukan apapun.

Ini berarti kategori-kategori diatas dimiliki oleh manusia, dan kitalah yang tahu termasuk dalam kategori yang mana. Jika menilik dari makna kata, Ramadhan dalam bahasa Arab terdiri atas dua suku kata, yakni al-ardhu (bumi), dan ar-ramdha (membakar).


Artinya, bulan puasa adalah bulan untuk membakar semua dosa-dosa, membakar segala bentuk hawa nafsu yang ada pada dalam diri untuk sennatiasa berikhtiar menjadi manusia yang lebih baik. Akan tetapi pada faktanya, tidak seperti apa yang sebenarnya harus dilakukan. Buktinya, bulan puasa justru tragedi kemanusiaan terus bergulir. Disamping fenomena yang tidak bisa diprediksi oleh manusia terjadi, tragedi kemanusiaan yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan kesengajaan seperti di Papua perlu kita renungkan.


Kesadaran penuh bahwa bulan puasa adalah bulan yang sangat baik untuk berbenah, meningkatkan rasa kemanusiaan dengan peduli, menghargai, menghormati, meniadakaan konflik, justru sebaliknya. Nyawa manusia seakan tidak berharga dan menjadi ladang perjuangan untuk berjihad kepada Tuhan.


Terorisme Tetap Eksis Kapanpun


Mau bulan puasa, tahun hijriah, hari Jumat, minggu ataupun bulan hitungan Jawa. Teroris tidak akan kenal dengan bulan itu, bahkan Ramadhan jika diartikan sebagai bulan membakar seluruh dosa, inilah waktu yang tepat untuk terus beribadah dengan cara yang diyakininya. Bukan lagi ibadah yang dipahami oleh kebanyakan umat Islam, seperti mengaji, sholat taraweh, ataupun yang lain, melainkan sebaliknya. Seperti merencanakan pengeboman bahkan membunuh adalah bentuk aksi yang terpuji yang harus dilakukan di bulan puasa.

Pemahaman semacam itu sebenarnya sudah menjadi rahasia umum di kalangan teroris. Menjadi pelajaran penting bagi kita untuk tidak tergerus dalam arus yang demikian, apalagi bergabung pada sirkel yang mengatasnamakan Islam untuk kesesatan. Kewaspadaan dalam menerima informasi kegamaan, berita berkenaan dengan pemhaman-pemahaman agama menjadi penting untuk dilakukan pada era saat ini.

Kita harus waspada dan mencari tahu sebuah informasi dan pengetahuan sebelum menyebarkannnya kepada orang lain. apalagi ketika dikonsumsi oleh diri sendiri dan menjadi kebenaran yang harus ditegakkan. Ini yang menjadi masalah dan memicu timbulnya pemahaman dualisme yang membahayakan. Wallahu a’lam

(Muallifah/Harakatuna.com)

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda