HWMI.or.id: Pemikiran
Showing posts with label Pemikiran. Show all posts
Showing posts with label Pemikiran. Show all posts

Tuesday, 21 April 2026

Dari Gelap Menuju Terang, Dari Rumah untuk Peradaban

(Refleksi Hari Kartini 21 April 2026: Membaca Ulang “Habis Gelap Terbitlah Terang” dalam Nalar Aswaja dan Realitas Perempuan Nahdliyin)

Oleh: Akhmad Fauzi, S.Ag., M.Pd.I

Pendahuluan: Menggugat Terang yang Kosong Makna

Satu abad lebih setelah R.A. Kartini menulis Door Duisternis tot Licht, kata “terang” telah menjadi jargon. Semua orang mengklaimnya: industri kosmetik menjual “terang” pada kulit, platform digital menjanjikan “terang” pada karier, negara memamerkan “terang” pada statistik APK perempuan. 

Pertanyaan kritis 2026 bukan lagi “apakah perempuan sudah keluar dari gelap?”, tetapi “terang macam apa yang kini kita rayakan?” Sebab gelap tidak selalu buta huruf. Gelap bisa berwujud sarjana yang kehilangan arah, influencer yang kehilangan malu, dan rumah tangga yang kehilangan waktu untuk Al-Qur’an.

Bagi nalar Nahdlatul Ulama, tema “Dari Gelap Menuju Terang, Dari Rumah untuk Peradaban” adalah koreksi terhadap emansipasi yang kebablasan dan domestifikasi yang memasung. Ia menawarkan jalan _tawassuth_: terang yang berangkat dari rumah, dijaga syariat, dan bermuara pada maslahat umat. Perempuan NU tidak sekadar keluar dari gelap. Ia ditakdirkan menjadi pelita.

1. Terangnya Ilmu, Terangnya Negeri: Dari Statistik Menuju Kualitas Peradaban 

Diagnosis Gelap Lama vs Gelap Baru

Kartini 1900 melawan gelap bernama _pingitan dan buta aksara_. Kartini 2026 menghadapi gelap bernama _banjir informasi tanpa sanad dan krisis keteladanan_. Data BPS 2025 mencatat APK perempuan SMA 89,4%, PT 41,2%, melampaui laki-laki. Namun Survei Literasi Al-Qur’an Kemenag 2025 mengungkap hanya 34% Muslimah usia 15-30 tahun yang mampu membaca Al-Qur’an tartil. Terang secara akademik, gelap secara spiritual.

Di sinilah Aswaja menawarkan diferensiasi. Dalam _ta’lim muta’allim_, ilmu dibagi dua: ilmu hal yang wajib untuk keselamatan individu, dan ilmu kifayah untuk kemaslahatan kolektif. Bagi perempuan, ilmu hal pertamanya adalah fikih nisa’, akidah, dan Al-Qur’an. Tanpa itu, gelar magister sekalipun tidak mencegah gelapnya sebuah rumah tangga.  

Rumah sebagai Laboratorium Peradaban 

Kaidah al-ummu madrasatul ula bukan slogan. Ia teori infrastruktur. Satu ibu yang khatam mengajar Iqra’ berarti satu TPQ gratis di ruang tamu. Satu santri putri yang hafal Juz 30 berarti satu imam salat Tarawih cadangan untuk kampung. Jika 1 juta rumah nahdliyin menyalakan “lampu ngaji” jam 18.00-19.00, maka kita punya 1 juta madrasah yang tidak butuh APBN.

Maka indikator “Terangnya Negeri” harus direvisi. Bukan hanya IPM, tetapi _Indeks Cahaya Rumah_: berapa rumah yang dalam 24 jam terdengar bacaan Al-Qur’an, berapa ibu yang mengajar anaknya wudu sebelum sekolah, berapa ayah yang ridha anak perempuannya mondok. Negeri terang adalah akumulasi rumah yang tidak gelap. Mercusuar tidak bisa menyala jika gardu-gardu di kampung padam.

2. Perempuan Penggerak Jam’iyah: Membongkar Mitos Domestik vs Publik  

Ekonomi Politik Pengabdian  

Tesis sekuler: kontribusi diukur dari PDB dan jabatan publik. Tesis nahdliyin: kontribusi diukur dari _istimroriyah amal_. Jam’iyah NU bertahan 100 tahun bukan karena kantor PBNU, tetapi karena dapur-dapur Muslimat yang tidak pernah padam kompornya saat haul, istighotsah, dan santunan. 

Mari audit secara jujur: siapa yang mengisi kas kotak amal mingguan? Ibu-ibu. Siapa yang memastikan 40 anak TPQ dapat takjil tiap Ramadan? Ustadzah tanpa SK. Siapa yang merawat data jamaah tahlil, arisan yasin, dan jadwal rebana? Kader Fatayat. Ini bukan kerja domestik. Ini manajemen peradaban level akar rumput yang tidak tercatat di SAKERNAS. 

Dari Rumah untuk Jam’iyah: Teori Sentripetal Peradaban  

Gerakan perempuan NU bekerja secara sentripetal, bukan sentrifugal. Energi tidak dilempar ke luar rumah, tetapi ditarik ke dalam rumah besar bernama jam’iyah, lalu dipantulkan kembali ke umat. Contoh: TPQ Nurul Huda RT 6 RW 5 Tasikmadu. Berdiri di teras rumah ustadzah, muridnya 60 anak, biayanya Rp10.000/bulan, gurunya 4 orang ikhlas. Output: 12 khataman Iqra’ per tahun, 5 wisuda Juz 30, 0 anak putus ngaji. Multiply ini dengan 10.000 TPQ se-Malang Raya. Itulah pembangunan tanpa utang luar negeri.

Jadi, menjadi Ketua Ranting Muslimat yang menghidupkan madrasah diniyah adalah pekerjaan peradaban. Menjadi bendahara arisan yang jujur adalah pekerjaan peradaban. “Terang” tidak harus di panggung. Lampu teplok di langgar juga mengusir gelap.

3. Emansipasi dalam Bingkai Syariat: Melawan Dua Ekstrem Sekaligus 

Ekstrem Pertama: Feodalisme Berbungkus Agama 

Masih ada yang membaca kodrat sebagai kurungan. Perempuan dilarang sekolah tinggi, dipaksa menikah dini, dijauhkan dari organisasi dengan dalil “fitnah”. Ini adalah gelap yang dipasangi bingkai kaligrafi. Islam tidak mengenal itu. Khadijah adalah CEO, Aisyah adalah profesor hadis, Nafisah adalah guru Imam Syafi’i. 

Ekstrem Kedua: Liberalisme Berbungkus HAM  

Di sisi lain, ada terang yang menyilaukan sampai membutakan: kampanye childfree sebagai puncak kemandirian, relativisme keluarga, hingga komodifikasi aurat atas nama ekspresi. Ini bukan emansipasi. Ini de-humanisasi yang dijual dengan diskon progresivitas. 

Tawassuth sebagai Jalan Terang

Aswaja menawarkan _emansipasi kaffah_: bebas dari kebodohan, bebas dari kemiskinan, bebas dari maksiat. Syariat bukan pagar penjara, melainkan pagar tol: agar laju pergerakan perempuan cepat, aman, dan tidak keluar jalur sampai celaka.

Parameternya jelas dalam  Maqashid Syariah:  

1. Hifzhud Din: Perempuan boleh berkarier, asal salat dan ngajinya terjaga.  

2. Hifzhun Nafs: Boleh berorganisasi, asal keselamatan dan kehormatannya terjaga.  

3. Hifzhul ‘Aql: Boleh berpendapat, asal akalnya disinar wahyu, bukan hawa nafsu.  

4. Hifzhun Nasl : Boleh menunda nikah untuk sekolah, tapi tidak mengharamkan institusi keluarga.  

5. Hifzhul Mal : Boleh kaya raya, tapi hartanya wasilah sedekah, bukan flexing.  

Inilah kesetaraan versi Aswaja: bukan 50:50 membagi peran, tetapi 100:100 menunaikan taklif. Laki-laki dan perempuan bukan saingan, melainkan sekutu dalam proyek besar bernama ‘imaratul ardh.



4. Kartini Mengaji, Kartini Mengabdi: 

Epistemologi Keberdayaan Nahdliyin  

Kritik atas Keberdayaan Kosong  

Paradigma pembangunan global mengukur keberdayaan perempuan dengan GDI dan GEM: berapa persen di parlemen, berapa persen CEO. Ukuran ini penting, tetapi parsial. Ia tidak bisa menjelaskan mengapa angka depresi perempuan karier di kota besar naik 27% pasca pandemi, atau mengapa burnout ibu muda menjadi epidemi diam-diam.  


Aswaja mendiagnosis: itu _gelap pasca-terang_. Terang karena berdaya secara ekonomi, gelap karena kering secara ruhani. Manusia bukan hanya _homo economicus_, tetapi _homo religiosus_.  


*Ngaji sebagai Teknologi Produksi Makna*  

Dalam tradisi pesantren, _ngaji_ adalah metode produksi ilmu sekaligus produksi akhlak. Sorogan melatih intelektualitas, bandongan melatih kesabaran, lalaran melatih konsistensi, khidmah melatih keikhlasan. Satu paket.  


Maka rumus keberdayaan NU berbeda: *Ngaji → Sadar → Berdaya → Mengabdi*.  

1. *Ngaji* membuat perempuan sadar posisi di hadapan Allah, bukan di hadapan algoritma.  

2. *Sadar* melahirkan visi hidup yang transenden: hidup bukan untuk FYP, tetapi untuk ridha-Nya.  

3. *Berdaya* menjadi wasilah, bukan tujuan. Daya digunakan untuk melayani, bukan menaklukkan.  

4. *Mengabdi* menjadi puncak aktualisasi: _khairunnas anfa’uhum linnas_.  


Para ustadzah TPQ, guru madin, dan pengasuh pesantren putri adalah prototipe “Kartini Mengaji”. Mereka mengubah gelap buta huruf hijaiyah menjadi terang tartil. Mereka mengubah gelap buta akhlak menjadi terang birrul walidain. Tanpa mereka, 2045 Indonesia Emas hanya akan jadi Indonesia Cemas: cerdas tapi culas, kaya tapi durhaka.



*Penutup: Membangun Mercusuar dari Sumbu di Rumah*  

“Dari Gelap Menuju Terang, Dari Rumah untuk Peradaban” adalah antitesis terhadap dua jalan sesat: _pertama_, menyuruh perempuan kembali ke sumur domestik; _kedua_, menyeret perempuan ke pasar bebas nilai.

Jalan nahdliyin adalah menyalakan sumbu di rumah, lalu membiarkan cahayanya memancar lewat jendela jam’iyah hingga menerangi jalan peradaban. Ketika 1 rumah menyala, 1 RT aman. Ketika 1 RT menyala, 1 kampung tentram. Ketika kampung-kampung NU menyala, Indonesia punya cadangan cahaya saat pemadaman global melanda. 

Kartini 2026 tidak perlu kapal ke Belanda untuk mengirim surat. Ia cukup mengirim pesan WA ke grup wali santri: “Malam ini khataman bin-nadhar Juz 1, yang berhalangan izin”. Dari notifikasi itulah peradaban dikabarkan: bahwa di Lowokwaru, gelap tidak lagi punya tempat, karena ibu-ibunya memilih menyalakan lampu ngaji daripada mengutuk kegelapan.

Hari ini aku khatam Iqra’ 6.  

Hari ini aku khatam Al-Qur’an.  

Hari ini aku mulai mengajar.  

Tiga kalimat. Satu peradaban.

Monday, 16 March 2026

Tadabbur QS Muhammad Ayat 38 : Ibrah dari Perang Iran vs Amerika dan Israel

Sumber gambar : Ig @alekgerung
Peristiwa besar yang terjadi di dunia pada setiap zaman sering menjadi pengingat bagi manusia tentang rapuhnya kekuatan dunia dan pentingnya kembali kepada nilai-nilai keimanan. Konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, Israel, serta dinamika politik di kawasan Teluk Arab telah menjadi salah satu peristiwa besar yang mempengaruhi situasi global saat ini. Peperangan, serangan militer, serta jatuhnya korban jiwa tidak hanya mengguncang kawasan Timur Tengah, tetapi juga menarik perhatian dunia dan menjadi bahan renungan bagi banyak orang beriman.

Dalam pandangan keimanan, setiap peristiwa besar dapat menjadi sarana untuk mengambil ibrah (pelajaran). Al-Qur’an sebagai kitab petunjuk sering memberikan peringatan dan gambaran tentang bagaimana manusia seharusnya bersikap dalam menghadapi ujian zaman. Salah satu ayat yang sering dijadikan bahan refleksi adalah firman Allah SWT dalam Surah Muhammad ayat 38;

هَٰٓأَنتُمْ هَٰٓؤُلَاءِ تُدْعَوْنَ لِتُنفِقُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ فَمِنكُم مَّن يَبْخَلُ ۖ وَمَن يَبْخَلْ فَإِنَّمَا يَبْخَلُ عَن نَّفْسِهِۦ ۚ وَٱللَّهُ ٱلْغَنِىُّ وَأَنتُمُ ٱلْفُقَرَآءُ ۚ وَإِن تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُونُوٓا۟ أَمْثَٰلَكُمْ

Artinya:

“Dan inilah kamu, orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) di jalan Allah. Maka di antara kamu ada yang kikir, dan siapa yang kikir maka sesungguhnya dia kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah Yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang membutuhkan-Nya. Dan jika kamu berpaling, niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain; kemudian mereka tidak akan seperti kamu.”

(QS Muhammad: 38)

Ayat ini mengandung peringatan yang sangat kuat. Allah SWT mengingatkan bahwa apabila suatu kaum berpaling dari tanggung jawabnya dalam menegakkan kebenaran dan nilai-nilai keimanan, maka Allah tidak bergantung kepada mereka. Allah dapat menggantikan mereka dengan kaum lain yang lebih siap menjalankan amanah tersebut.

Makna ayat ini semakin diperjelas melalui penjelasan Nabi Muhammad ﷺ dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah. Dalam hadits tersebut digambarkan dialog Rasulullah ﷺ dengan para sahabat ketika ayat ini dibacakan;

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: تَلَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ هَذِهِ الآيَةَ

وَإِنْ تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُونُوا أَمْثَالَكُمْ

قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَنْ هَؤُلَاءِ الَّذِينَ إِنْ تَوَلَّيْنَا اسْتُبْدِلُوا بِنَا؟

فَضَرَبَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَلَى مَنْكِبِ سَلْمَانَ، ثُمَّ قَالَ:

هَذَا وَقَوْمُهُ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ كَانَ الْإِيمَانُ مُعَلَّقًا بِالثُّرَيَّا لَنَالَهُ رِجَالٌ مِنْ فَارِسَ

Dari Abu Hurairah ia berkata: Rasulullah ﷺ membaca ayat:

“Jika kalian berpaling, Allah akan mengganti kalian dengan kaum yang lain dan mereka tidak akan seperti kalian.”

Para sahabat bertanya:

“Wahai Rasulullah, siapa kaum yang akan menggantikan kami itu jika kami berpaling?”

Lalu Rasulullah ﷺ menepuk pundak Salman Al-Farisi dan bersabda:

“Orang ini dan kaumnya. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya iman itu berada di bintang Tsurayya, niscaya akan dicapai oleh orang-orang dari Persia.”

Para ulama memahami hadits ini sebagai isyarat bahwa bangsa Persia (Iran) memiliki potensi besar dalam menerima dan mengembangkan Islam. Sejarah Islam kemudian menunjukkan bahwa wilayah Persia melahirkan banyak tokoh besar dalam ilmu pengetahuan, pemikiran, dan peradaban Islam.

Ketika melihat berbagai peristiwa besar yang terjadi pada zaman modern, sebagian umat berusaha mengambil pelajaran dari ayat dan hadits tersebut. Konflik, peperangan, dan ketegangan global sering dipandang sebagai ujian besar bagi umat manusia. Dalam perspektif keimanan, peristiwa seperti ini seharusnya mendorong manusia untuk melakukan refleksi, memperbaiki diri, dan kembali kepada nilai-nilai kebenaran.

Al-Qur’an juga mengingatkan bahwa sebelum datangnya ujian besar atau azab, Allah selalu memberikan tanda dan peringatan kepada manusia. Peringatan tersebut dapat datang melalui wahyu, nasihat para ulama, maupun tanda-tanda alam (ayat kauniyah) yang menunjukkan kebesaran Allah SWT kepada manusia.

Pada akhirnya, setiap peristiwa besar dalam sejarah bukan hanya sekadar kejadian politik atau konflik antarnegara, tetapi juga dapat menjadi sarana untuk mengambil pelajaran bagi orang-orang yang beriman. Al-Qur’an mengajak manusia untuk melihat peristiwa dunia dengan hati yang terbuka, mengambil ibrah dari sejarah, serta memperkuat keimanan dalam menghadapi berbagai ujian zaman.

Dengan demikian, pesan utama dari QS Muhammad ayat 38 adalah pengingat bahwa kekuatan sejati umat tidak terletak pada kekuasaan dunia semata, tetapi pada keteguhan iman, keadilan, dan kesediaan untuk menegakkan nilai-nilai kebenaran. Siapa pun yang menjaga nilai-nilai tersebut akan memiliki peran penting dalam perjalanan sejarah umat manusia. Allohu A'lam

Wednesday, 11 March 2026

Mengenal Pemimpin Tertinggi Ketiga Iran : Ayatollah Ali Khamenei

Tepat ketika musuh mengira mereka telah berhasil dipenggal pimpinan puncak Iran, kebangkitan baru terjadi di balik tirai besi.

Media internasional saat ini sedang hangat berbicara tentang salah satu pergeseran kekuatan geopolitis paling bersejarah dalam dekade ini.

Dewan Ahli Pimpinan Republik Islam telah mengadakan rapat darurat di bawah puncak perang, dan mereka telah mencapai keputusan akhir.

Mereka secara resmi menunjuk Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi (Pemimpin Tertinggi) ketiga dalam sejarah negara.

Sosok yang mengambil alih kekuasaan ini, yaitu Mojtaba Khamenei, bukanlah individu.

Lahir pada tahun 1969 ia adalah putra kedua dari mendiang mantan Pemimpin Tertinggi, Ayatollah Ali Khamenei, yang meninggal akibat serangan udara Isbiol dan Amerika Serikat baru-baru ini.

Di panggung internasional dan laporan badan intelijen Barat, Mojtaba sering disebut sebagai 'Pangeran Bayangan' atau 'Pangeran Bayangan'.

Gelar itu diberikan karena selama puluhan tahun, ia bergerak diam-diam dan diam-diam di kantor ayahnya tanpa memegang jabatan politik resmi yang dipilih rakyat.

Meski bergerak dalam bayang-bayang, genggamannya pada pertahanan dan keamanan negara benar-benar mutlak.

Sebuah laporan intelijen mengungkapkan bahwa pengangkatan Mojtaba didukung penuh dan didukung kuat oleh pasukan elit Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Mereka sangat percaya bahwa hanya Mojtaba yang memiliki kualifikasi dan ketegasan yang diperlukan untuk mengarahkan negara keluar dari krisis perang berdarah ini.

Untuk rezim Z yang dipimpin Setan di Tololviv, pengangkatan ini bukanlah berita ucapan selamat.

Mojtaba dikenal sebagai pemimpin 'hardliner' atau sayap kanan jauh yang sangat anti barat dan berpegang teguh pada ideologi perlawanan radikal.

Meskipun demikian, di sini, kita perlu meletakkan garis merah yang sangat jelas dalam mengevaluasi konflik geopolitis ini agar tidak muncul fitnah.

Sebagai umat muslim yang patuh pada akidah Ahli Sunnah Wal Jamaah, kami tidak mendukung, mengizinkan, atau berkompromi dengan pemahaman apapun tentang akidah Syiah.

Dukungan kami untuk Iran hari ini bukan atas dasar kesetaraan sektarian, tetapi dukungan taktis untuk poros perlawanan mereka terhadap kekejaman dan arogansi rezim Z.

Sementara negara Arab lainnya yang ngaku Ahli Sunnah hanya mampu diam, tunduk pada ketakutan, dan menjadi pakur Barat, mereka adalah satu-satunya kekuatan di wilayah yang berani membalas dan mengangkat senjata di hadapan Isbiol.

Subhanallah. Jika kita mengamati roda sejarah ini, upaya musuh untuk merusak kepemimpinan suatu bangsa seringkali akan menghasilkan penerus yang jauh lebih tangguh dan tidak mau berkompromi.

Tuan-tuan, selama kedzaliman masih merajalela di muka bumi ini, poros perlawanan akan terus menghasilkan garis kepemimpinan baru yang siap merespon semua serangan musuh dengan bahasa senjata terlepas dari perbedaannya.

Sunday, 1 March 2026

Syahidnya Ayatullah Ali Khamenei

Ayatullah Ali Khamenei
Ada sebuah kesunyian yang ganjil ketika sebuah nama besar berhenti disebut dalam waktu kini dan berpindah ke dalam tangis sejarah. Di Teheran, mungkin di lorong-lorong pasar yang pengap atau di bawah kubah-kubah pirus yang megah, berita itu merambat seperti kabut musim gugur: 

Ayatullah Ali Khamenei telah wafat. Ia telah menjemput apa yang dalam tradisi kaum beriman disebut sebagai syahadah—sebuah perjuangan yang dibayar dengan seluruh sisa napas.

Di dunia yang makin riuh oleh transaksi dan pengkhianatan, sosok Khamenei berdiri seperti sebuah menara tua yang menolak untuk miring. Ia adalah pewaris Imam Husein, pahlawan Karbala yang mengajarkan bahwa kalah dalam angka bukan berarti kalah dalam kebenaran. 

Bagi Iran, dan mungkin bagi mereka yang mendamba kedaulatan, kematiannya bukan sekadar akhir dari sebuah biografi; ia adalah sebuah apotheosis.

Etika di Tengah Prahara

Kita ingat bagaimana ia memimpin. Bukan dengan gertakan seorang diktator yang haus darah, melainkan dengan tutur kata yang lembut, selembut bait-bait puisi Persia yang ia cintai, namun mengandung ketegasan baja. 

Di bawah bayang-bayang tekanan global, ketika negara-negara lain memilih untuk sujud demi sekerat keamanan ekonomi, ia memilih berdiri.

"Katakan yang benar meskipun itu pahit," begitu pesan Imam Ali bin Abi Thalib yang ia dekap erat hingga akhir.

Pada Oktober 2025, ketika dunia menyaksikan konfrontasi 12 hari yang menggetarkan antara Iran dan Amerika Serikat, kita melihat sesuatu yang melampaui strategi militer. Kita melihat heroisme profetik. 

Di saat itu, Iran bukan hanya sedang mempertahankan wilayah, tapi sedang membuktikan bahwa ilmu pengetahuan dan akhlak bisa menjadi perisai melawan arogansi yang tak tersentuh. Khamenei membuktikan bahwa raksasa bisa goyah jika dihadapi oleh jiwa yang sudah selesai dengan urusan dunia.

Namun, mungkin legasinya yang paling mengharukan—dan yang paling sering disalahpahami—adalah upayanya menjahit luka lama antara Sunni dan Syiah. Simaklah misalnya pada forum-forum Taqrib al-Madzahib al-Islamiyyah, disana ada sebuah getaran ketulusan yang sulit dipalsukan.

Ia bukan pemimpin yang ingin menyeragamkan, melainkan yang ingin mempertemukan. Fatwanya yang mengharamkan penghinaan terhadap Siti Aisyah dan para sahabat Nabi adalah sebuah langkah radikal dalam kebijaksanaan. 

Di tangan pemimpin yang lebih kecil, perbedaan mazhab seringkali dijadikan komoditas kebencian. Tapi di tangan Khamenei, perbedaan itu diubah menjadi ruang dialog, mirip dengan cara Rasulullah SAW mempersaudarakan Muhajirin dan Anshar.

Ia menindak tegas mereka yang menjual caci maki atas nama agama, karena ia tahu bahwa persatuan bukan sekadar retorika politik, melainkan perintah langit.

Kini, sosok yang menjadi penerus api revolusi Imam Khomeini itu telah berpulang. Ia pergi meninggalkan sebuah bangsa yang tidak lagi menunduk. Ia pergi setelah menunjukkan bahwa martabat tidak bisa dibeli dengan sanksi ekonomi.

Kematian seorang martir, dalam kosmologi Islam, bukanlah sebuah kehilangan yang sia-sia. Ia adalah benih. Darah dan air mata yang tumpah hari ini akan menyirami sanubari generasi muda di Mashhad, di Isfahan, hingga ke pelosok dunia Islam lainnya.

Kita kehilangan seorang arsitek perlawanan, seorang pecinta ilmu, dan seorang pembela akhlak. Tapi mungkin, di suatu tempat di keabadian, ia sedang tersenyum, menyambut cahaya yang selama ini ia rindukan di jalan Allah.

Mari kita tundukkan kepala sejenak. Untuk sebuah keteguhan yang tak goyah, untuk sebuah keberanian yang berkata "tidak" pada penindasan, mari kita kirimkan doa, tahlil, dan Al-Fatihah. Kesedihan ini bisa mendalam, tapi harapan yang ia nyalakan akan tetap membara. Wallahu'alam bishawab.

*Catatan; Mendengar berita duka ini, saya berharap tidak benar. Sedih sekali. Sayangnya media-media terpercaya di Iran membenarkan. Subuh tadi kami sudah mendokan, bersama jamaah Masjid Miftahusdhur Karangjati, Kasihan Bantul, dalam qunut dan di tengah pengajin Tafsir Jilani tiap Ahad subuh]

Tulisan dari KH Dr Aguk Irawan Mn Lc

Sunday, 1 February 2026

Menjaga Cahaya

Al Imam Asy Syafii (150--204 H.) merupakan salah satu simbol kecerdasan. Ia berhasil menghafalkan Al Quran di usianya yang ketujuh. Ketika ia mendengar keagungan Imam Malik, ia ingin mempelajari kitab karyanya, Al Muwaththa'. Ia meminjam kitab tersebut dan berhasil menghafalnya dalam 9 malam, sebelum di kemudian hari ia berangkat ke Madinah untuk ngaji langsung kepada pengarangnya.

Setelah di Madinah, ia mendapatkan pesan Yang sangat berharga dari Imam Malik, yakni meninggalkan maksiat agar cahaya dalam hati tidak padam, "Saya melihat Gusti Allah SWT. telah menancapkan cahaya dalam hatimu. Maka, jangan engkau matikan itu dengan gelapnya maksiat. Suatu saat nanti engkau akan memiliki peran begitu penting."

Tahun 184 dan tahun 195 ia ke Baghdad. Di sini, ia bertemu dengan guru-guru yang lain. Yang paling terkenal dan berpengaruh adalah Muhammad Hasan, murid Imam Abu Hanifah nomer wahid saat itu, yakni setelah wafatnya Abu Yusuf. Menurut berbagai sumber, ia juga bertemu dengan Imam Waki' bin Al Jarrah Ar Ru'asiyy. 

Baghdad adalah kota metropolitan dengan segala paradoknya. Di sana ada nilai-nilai spiritual dan juga godaan-godaan material. Ada kekuasaan dan juga ada kezuhudan. Ada keilmuan, tapi juga Ada kebodohan-kebodohan yang terlembagakan.

Di sini, Imam Syafii tertantang untuk mengasah keilmuannya hingga menjadi imam besar di kemudian hari. Akan tetapi, Ada sisi lain di kota ini yang ia tuangkan dalam dua bait syair yang terkenal. Ia merasa bahwa di kota ini ketajaman hafalannya tak lagi seperti dahulu. Mungkin, jika ia menghafalkan Muwatha' sekarang, dan di kota ini, ia tak akan menyelesailannya dengan cepat.

Ia pun matur kepada gurunya, Imam Waki', perihal menurunnya kekuatan hafalannya. Jawabannya mirip dengan apa yang dahulu dipesankan oleh Imam Malik. Ada cahaya dalam hati yang membuatnya gampang menerima ilmu-ilmu yang juga bercahaya. Jaga cahaya hati, maka cahaya ilmu akan senang bersemayam di sana.

شكوت الى وكيع سوء حفظي فأرشدني إلى ترك 

المعاصي

وأخبرني بأن العلم نور ونور الله لا يهدى لعاصي

Saya mengadu kepada Waki' perihal buruknya hafalanku. Maka, ia memberi arahan kepadaku agar meninggalkan maksiat. Ia juga mengabarkan bahwa ilmu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada orang yang bermaksiat.

Semoga hati kita semua bercahaya. Semoga kita semua dijauhkan dari Maksiat.

Keterangan foto:

Alhamdulillah saged ndereake dawuh Simbah Yai Anwar Manshur dan Gus Atha' Lirboyo. Duduk ditemani Gus Ya'lu. Maturnuwun sanget.

Penulis :

KH. Gus Abdul Ghofur Maimoen


Sunday, 25 January 2026

Dusta Meminta Dalil Qur'an-Hadis Ziarah Tabarruk

Ziarah Tabarruk di Makam KH As'ad Syamsul Arifin, salah satu Muassis NU.
Anda percaya mereka akan mengamalkan? Saya tidak percaya. Sama seperti pengakuan mereka minta Dalil Maulid: "Andaikan di zaman Nabi, di zaman Sahabat atau ulama salaf Maulid diamalkan, maka kami akan mengamalkan" klaim mereka. Mari kita buktikan.

Nabi sudah jelas dalam Hadis Sahih mengajarkan doa Tawasul yang diriwayatkan oleh Ahmad, Tirmidzi dan lainnya. Syekh Albani menilai Sahih hingga Syekh Ibnu Taimiyah. Apa mereka mengamalkan? Tidak.

Di masa Sahabat -biasanya mereka mengklaim mengikuti Qur'an dan Sunnah sesuai pemahaman Sahabat- jelas-jelas ada Adzan dua kali sebelum Jumat. Riwayat al-Bukhari lagi. Apa mereka mengamalkan? Tidak.

Malam Nishfu Syaban sudah diamalkan sejak Tabiin. Hadis-hadis yang banyak, sebagian dinilai Sahih oleh Syekh Albani. Bahkan para pengamal Nishfu Syaban juga para perawi Imam Bukhari dan Imam Muslim, seperti Makhul. Apa mereka mengamalkan? Tidak.

Makanya saat diskusi kemarin mereka hanya minta Qur'an dan Hadits, karena mereka tahu bahwa Ulama Salaf banyak yang bertabarruk ke makam. Tapi giliran tema lain yang dijadikan slogan mereka "Ikuti Qur'an dan Hadits sesuai pemahaman Ulama Salaf". Giliran bab seperti ini mereka mengalihkan. Masih percaya sama mereka? Skrinsut bukti-bukti para ahli hadis mencantumkan makam-makam ulama untuk dicari berkahnya saya tampilkan di kolom komentar.

Prinsip Utama Berkah 

Nabi sudah memberi prinsip tegas soal berkah dan mencari berkah. Yakni ketika Nabi diberi mukjizat air yang mengalir dari jari-jari Nabi:

قَالَ « حَىَّ عَلَى الطَّهُورِ الْمُبَارَكِ ، وَالْبَرَكَةُ مِنَ اللَّهِ »

Para Sahabat membawa sebuah wadah yang berisi air sedikit, kemudian Nabi memasuk-kan tangannya ke dalam wadah dan bersabda: “Kemarilah, menuju air yang diberkati. DAN BERKAH ADALAH DARI ALLAH”. Maka sungguh saya melihat air menyumber dari jari-jari Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallama.” (HR al-Bukhari)

Manusia Ada Berkahnya?

Ya, Ada. Yakni tetap Allah yang memberi keberkahan. Sebagaimana diabadikan dalam Qur'an:

وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ 

“... dan Allah menjadikan aku (Isa) seorang yang diberkati di mana saja aku berada...” (Maryam: 31)

Itu kan Nabi. Kalau selain Nabi apa diberi keberkahan? Mau minta berapa dalil soal ini? Berikut Sabda Nabi shalallahu alaihi wasallam:

 «اﻟﺒﺮﻛﺔ ﻣﻊ ﺃﻛﺎﺑﺮﻛﻢ»

"Keberkahan bersama orang-orang tua di antara kalian" (HR Ibnu Hibban dari Ibnu Abbas)

Jangan-jangan Daif? Silakan cek Silsilah Sahihah No Hadis 1778.

Kesahihan Riwayat Sahabat Bertawasul di Makam Nabi 

وَرَوَى اِبْنُ أَبِيْ شَيْبَةَ بِإِسْنَادٍ صَحِيْحٍ مِنْ رِوَايَةِ أَبِيْ صَالِحٍ السَّمَّانِ عَنْ مَالِك الدَّارِيِّ - وَكَانَ خَازِنَ عُمَرَ - قَالَ أَصَابَ النَّاسَ قَحْطٌ فِيْ زَمَنِ عُمَرَ فَجَاءَ رَجُلٌ إِلَى قَبْرِ النَّبِيِّ ﷺ فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ اِسْتَسْقِ لِأُمَّتِكَ فَإِنَّهُمْ قَدْ هَلَكُوْا فَأَتَى الرَّجُلَ فِيْ الْمَنَامِ فَقِيْلَ لَهُ اِئْتِ عُمَرَ ... الْحَدِيْثَ. 

Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan hadis dengan SANAD yang SAHIH dari Abi Shaleh Samman, dari Malik al-Dari (Bendahara Umar), ia berkata: Telah terjadi musim kemarau di masa Umar, kemudia ada seorang laki-laki (Bilal bin Haris al-Muzani) ke makam Rasulullah Saw, ia berkata: Ya Rasullah, mintakanlah hujan untuk umatmu, sebab mereka akan binasa. 

وَقَدْ رَوَى سَيْفٌ فِي الْفُتُوْحِ أَنَّ الَّذِيْ رَأَى الْمَنَامَ الْمَذْكُورَ هُوَ بِلَالُ بْنُ الْحَارِثِ الْمُزَنِيُّ أَحَدُ الصَّحَابَة

Kemudian Rasulullah datang kepada lelaki tadi dalam mimpinya, beliau berkata: Datangilah Umar…. Saif meriwayatkan dalam kitab al-Futuh lelaki tersebut adalah Bilal bin Haris al-Muzani salah satu Sahabat Rasulullah”. (Ibnu Hajar, Fathul Bari, III/441, dan Ibnu 'Asakir, Tarikh Dimasyqi, 56/489)

Ahli hadis dari Salafi Syekh Albani menilai daif, berikut kata beliau:

مالك الدار غير معروف العدالة والضبط 

Malik Ad-Dar tidak dikenal sifat adilnya dan akurasinya (At-Tawassul 1/120)

Anehnya, Syekh Albani menilai Hasan sebuah riwayat yang melalui Malik Ad-Dar ini di kitab At-Tarhib wa Targhib. Bukti kitabnya saya cantumkan di kolom komentar. Beliau memang mengaku tidak tahu siapa Malik Ad-Dar. Anehnya giliran riwayat Tawasul di makam Nabi, beliau menilai daif.

Benarkah beliau tidak diketahui? Berikut penilaian seorang ahli hadis yang bergelar Al-Hafidz, yang tidak belum dimiliki oleh ulama-ulama Salafi:

مالك بن عياض المدني، يعرف بمالك الدار

Malik bin Iyadl Al-Madani, ia dikenal dengan Malik Ad-Dar (Al-Hafidz Adz-Dzahabi, Tarikh Islam, 2/705)

Demikian pula Al-Hafidz Ibnu Hajar, ketika menampilkan cucu Malik Ad-Dar, beliau juga memberi penilaian kakeknya:

يحيى بن عبد الله بن مالك بن عياض الدارمي المعروف جده بمالك الدار مولى عمر  

Yahya bin Abdullah bin Malik bin Iyadl Ad-Darimi, yang KAKEKNYA dikenal dengan Malik Ad-Dar, sosok yang dimerdekakan oleh Umar (Lisan Al Mizan, 7/433)

Adakah Ulama Salaf yang bertabarruk ke Makam? Berikut pengakuan Imam al-Bukhari:°

قَالَ فَلَمَّا طَعِنْتُ فِي ثَمَانِيَ عَشَرَةَ وَصَنَّفْتُ كِتَابَ قَضَايَا الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ ثُمَّ صَنَّفْتُ التَّارِيْخَ فِي الْمَدِيْنَةِ عِنْدَ قَبْرِ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكُنْتُ أَكْتُبُهُ فِي اللَّيَالِي الْمُقْمِرَةِ 

“Ketika saya menginjak usia 18 tahun, saya mengarang kitab himpunan nama sahabat dan tabiin. Kemudian saya mengarang kitab ‘Tarikh’ di Madinah, di dekat makam Nabi Saw, dan saya menulisnya di malam-malam purnama” (Fathul Bari 1/478)

Itu kan tidak secara jelas mengaku bertabarruk? Berikut penjelasan dari pentaqiq kitabnya:

قُلْتُ فَهَذَا مِنْ بَرَكَاتِ جِوَارِ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ حَيْثُ عَمَّ نَفْعُهُ. 

“Saya (Abu al-Wafa’ al-Afghani) katakan: Ini (kitab Bukhari) adalah berkah berada di dekat Nabi Saw, yang manfaat kitabnya telah merata” (pentashih kitab at-Tarikh al-Kabir)

Itu kan penafsiran dia saja? Ya udah, kalau gak mau saya gak maksa.

Begitulah orang Tekstualis. Hanya mau dalil yang sesuai teks. Padahal Dalil ada yang sharih dan istimbath, menggali hukum dalam dalil. Tapi gimana lagi, kalau sudah tidak cocok dengan perkataan Syekhnya meskipun ada istimbath dalil dari para sahabat, ahli hadis, ulama Salaf dan lainnya tetap akan ditolak.

Penulis : KH. Makruf Khozin

Saturday, 18 October 2025

Alasan Kementerian Agama Tidak Mengizinkan/ Mencabut Izin Pesantren Salafi

Konten-konten wahabi-salafy dibuat untuk memperkeruh dan memecah belah, dengan landasan agama yang dangkal 

Di balik ramainya pemberitaan di sebuah televisi tentang pesantren ada beberapa kelompok yang turut menyerang tradisi yang sudah berjalan lama di lingkungan pesantren. Kalau yang mengeritik dari kalangan yang tidak mendalami ilmu Islam bagi saya masih bisa ditolerir.

Tapi rupanya ada aliran Salafi yang turut menabuh genderang kebencian terus-menerus ke pesantren. Membawa dalil sesuai penafsiran sendiri terkait hubungan guru dan santri, sebagaimana mereka sembarangan menafsirkan hadis terkait akidah dan Amaliah.

Baik, kita ulas dalil hadisnya serta cara istidlalnya menurut Ulama Syafi'iyah:

ﻗﺎﻝ ﺃﻧﺲ ﺑﻦ ﻣﺎﻟﻚ ﻗﺎﻝ ﺭﺟﻞ: ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ، ﺃﺣﺪﻧﺎ ﻳﻠﻘﻰ ﺻﺪﻳﻘﻪ ﺃﻳﻨﺤﻨﻲ ﻟﻪ؟ ﻗﺎﻝ: ﻓﻘﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: " ﻻ ". ﻗﺎﻝ: ﻓﻴﻠﺘﺰﻣﻪ ﻭﻳﻘﺒﻠﻪ؟ ﻗﺎﻝ: " ﻻ ". ﻗﺎﻝ: ﻓﻴﺼﺎﻓﺤﻪ؟ ﻗﺎﻝ: " ﻧﻌﻢ ﺇﻥ ﺷﺎء " 

Anas bin Malik berkata bahwa ada seorang Sahabat bertanya jika di antara kami berjumpa apakah menunduk kepadanya? Nabi menjawab: "Jangan". Ia bertanya apakah merangkulnya dan menciumnya? Nabi menjawab "Jangan". Ia bertanya apakah bersalaman dengannya? Nabi menjawab "Ya, jika ia berkenan"

Hadis riwayat Ibnu Majah dan Tirmidzi inilah yang dijadikan dalil larangan menunduk disertai penilaian hadis Hasan dari Syekh Albani. Benarkah? Kita lihat penilaian ulama salafi lain, Syekh Syuaib Arnauth ketika mentakhrij Musnad Ahmad:

ﺇﺳﻨﺎﺩﻩ ﺿﻌﻴﻒ ﻟﻀﻌﻒ ﺣﻨﻈﻠﺔ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ اﻟﻠﻪ اﻟﺴﺪﻭﺳﻲ، ﻭﻗﻴﻞ: اﺑﻦ ﻋﺒﻴﺪ اﻟﻠﻪ، ﻭﻗﻴﻞ: اﺑﻦ ﻋﺒﺪ اﻟﺮﺣﻤﻦ، ﻭﻗﻴﻞ: اﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﺻﻔﻴﺔ، ﻭﻗﺪ اﺳﺘﻨﻜﺮ اﻹﻣﺎﻡ ﺃﺣﻤﺪ ﻟﻪ ﻫﺬا اﻟﺤﺪﻳﺚ ﻛﻤﺎ ﻓﻲ "اﻟﺠﺮﺡ ﻭاﻟﺘﻌﺪﻳﻞ" ٣ /٢٤١

Hadis ini Daif. Sebab perawi yang bernama Handzalah adalah Daif. Imam Ahmad menilai hadis ini Munkar (Jarh wa Ta'dil, 3/241)

Bagaimana penerapan hadis ini menurut Ulama Syafi'iyah yang menjadi rujukan mayoritas pesantren di Indonesia? Ulama Syafi'iyah tidak menghukumi Haram, berikut penjelasan Syaikhul Islam Zakariya Al Anshari dan Syekh Syaubari:

(ﻗﻮﻟﻪ: ﻭﺣﻨﻲ اﻟﻈﻬﺮ ﻣﻜﺮﻭﻩ) ﻗﺎﻝ اﻟﺸﻴﺦ ﻋﺰ اﻟﺪﻳﻦ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ اﻟﺴﻼﻡ ﺗﻨﻜﻴﺲ اﻟﺮءﻭﺱ ﺇﻥ اﻧﺘﻬﻰ ﺇﻟﻰ ﺣﺪ اﻟﺮﻛﻮﻉ ﻓﻼ ﻳﻔﻌﻞ ﻛﺎﻟﺴﺠﻮﺩ ﻭﻻ ﺑﺄﺱ ﺑﻤﺎ ﻳﻨﻘﺺ ﻋﻦ ﺣﺪ اﻟﺮﻛﻮﻉ ﻟﻤﻦ ﻳﻜﺮﻡ ﻣﻦ اﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ 

Menundukkan punggung adalah makruh. Syekh Izzuddin bin Abdissalam berkata: "Menundukkan kepala jika sampai pada batas rukuk, maka jangan lakukan, seperti sujud. Boleh menundukkan kepala jika tidak sampai pada batas rukuk untuk orang yang dimuliakan dari umat Islam" (Asna Al-Mathalib, 4/186)

Kalimat dengan redaksi "Jangan" atau larangan, tidak selalu menunjukkan makna Haram. Ini memerlukan penjelasan panjang, percuma dijelaskan sebab Salafi tidak banyak yang belajar Ushul Fikih. Mengapa jalan menunduk tidak diharamkan? Sebab ada riwayat hadis:

ﻓﻘﺎﻝ: ﺃﻳﻜﻢ اﺑﻦ ﻋﺒﺪ اﻟﻤﻄﻠﺐ؟ ﻓﻘﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: «ﺃﻧﺎ اﺑﻦ ﻋﺒﺪ اﻟﻤﻄﻠﺐ» ﻓﺬﻫﺐ ﻳﻨﺤﻨﻲ ﻋﻠﻰ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ

Ada seorang bertanya: "Siapa di antara kalian cucunya Abdul Muthalib?" Nabi menjawab: "Saya cucu Abdul Muthalib". Ia berjalan menuju Nabi dengan menunduk (HR Baihaqi dalam Dalail Nubuwah)

Menundukkan kepala yang dilakukan para santri di depan kiainya juga sudah menjadi etika para Sahabat ketika bersama Nabi. Berikut adalah dalilnya:

ﻋﻦ ﺑﺮﻳﺪﺓ ﻗﺎﻝ: «ﻛﻨﺎ ﺇﺫا ﻗﻌﺪﻧﺎ ﻋﻨﺪ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻟﻢ ﻧﺮﻓﻊ ﺭءﻭﺳﻨﺎ ﺇﻟﻴﻪ ﺇﻋﻈﺎﻣﺎ ﻟﻪ»

Buraidah berkata "Jika kami duduk di samping Nabi shalallahu alaihi wasallam maka kami tidak mengangkat kepala kami, karena mengagungkan Nabi" (HR Al-Hakim, ia menilai Sahih dan disetujui oleh Adz-Dzahabi)

• Saat saya mendirikan Pps Raudlatul Ulum Suramadu dari Kemenag menyertakan lampiran dan mengisi poin-poin tentang pesantren termasuk keharusan menerima NKRI dan Pancasila. Untuk ke depan sepertinya perlu menambah poin baru kriteria pesantren yang mendapat izin dari negara yaitu "Menghormati perbedaan pendapat sesama Islam". Jika pesantren Salafi selalu bikin ribut kami berharap agar izinnya dicabut sehingga menjadi pesantren terlarang (ilegal) di Indonesia.

Penulis : KH. Ma'ruf Khozin

Tuesday, 24 June 2025

Felix Siauw yang Culas: Membongkar Kesesatan Berfikir Felix Soal Iran dan Palestina

Ada yang lebih menyakitkan dari kebohongan musuh: kekeliruan sahabat. Dan jika kekeliruan itu diulang-ulang, dibingkai dengan dalil, disebarkan dengan percaya diri oleh seorang ustaz, maka ia tak lagi jadi kekeliruan. Ia menjelma jadi ideologi.

Felix Siauw, seorang dai yang dulu menggemakan anti-imperialisme, kini justru meminjam narasi Zionis. Tentang Iran, tentang sejarah Persia, tentang Palestina. Semuanya dibungkus dalam satu kesimpulan: Iran bukan Islam. Dan karenanya, ia bukan bagian dari barisan umat.

Ini bukan sekadar kesalahan, tapi keruntuhan nalar. Ia membaca sejarah dengan mata sebelah. Yang tampak hanyalah mazhab, bukan sikap. Yang terdengar hanyalah perbedaan, bukan perlawanan.

Pertama, mari kita buka lembar sejarah. Iran hari ini adalah Republik Islam yang lahir dari Revolusi 1979. Sebuah revolusi anti-Syah Pahlevi, anti-Amerika, dan anti-Israel. Ia bukan penerus kerajaan api, bukan kelanjutan dari Persia kuno. Ia adalah patahan.

Ayatollah Khomeini memimpin revolusi itu dengan satu semangat: bahwa Islam tidak tunduk pada imperialis. Dan sejak itu, Iran memutus hubungan dengan Israel dan Amerika Serikat. Kedutaan besar Israel di Teheran diubah menjadi kantor perwakilan Palestina. Sebuah simbol.

Pada tahun 1982, Iran mendukung pendirian Hizbullah di Lebanon Selatan sebagai respons atas invasi Israel ke Beirut. Kelompok ini menjadi kekuatan utama perlawanan di kawasan itu, dan hingga kini menjadi sekutu utama Iran di garis depan konfrontasi dengan Israel.

Iran tidak hanya mengutuk, ia membentuk front. Ia tidak hanya berdiri di mimbar, ia hadir di medan perang. Tapi Felix menghapus semua itu hanya dengan satu frase: "Iran menyerang karena diserang."

Lalu mengapa Felix menyeret nama Cyrus Agung ke dalam kritiknya terhadap Iran? Dengan enteng ia berkata: "Cyrus adalah penyembah api, dan ia membangunkan kuil untuk Yahudi." Seolah Iran hari ini adalah reinkarnasi Cyrus. Seolah sejarah berjalan linear, tanpa pertobatan politik.

Apakah benar Cyrus membangun kuil? Tidak. Yang ia lakukan hanyalah memberi izin kepada bangsa Yahudi yang diasingkan di Babilonia untuk kembali ke Yerusalem dan membangun sendiri Bait Suci mereka. Ia tidak ikut membangun. Ia tidak menyembah Tuhan Israel.

Kebijakan Cyrus adalah taktik kekaisaran: memperbolehkan rakyat taklukannya menjalankan agama agar stabilitas terjaga. Itu bukan solidaritas. Itu manajemen kolonial. Dan itu terjadi ratusan tahun sebelum Islam turun.

Menggunakannya untuk menuduh Iran hari ini sebagai pewarisnya adalah lompatan logika yang menyesatkan. Lebih fatal lagi, itu berarti mengadopsi cara pikir para pemimpin Israel: bahwa Iran harus dikembalikan ke era Syah.

Netanyahu dalam berbagai pidatonya selalu mengajak rakyat Iran untuk menumbangkan pemimpin mereka sendiri. Ia mengenang masa lalu saat Israel punya hubungan diplomatik dan dagang dengan Iran. Dan Felix, entah sadar atau tidak, mengulang narasi yang sama.

Padahal, masa Syah adalah masa ketika Mossad bercokol di Teheran. Ketika rakyat Iran dibungkam dan Zionis bersorak. Ketika para ulama dibuang, dan rezim bersulang anggur bersama diplomat Israel.

Iran pasca 1979 adalah kebalikannya. Menolak Israel, menolak Amerika. Memilih blok perlawanan. Memilih jalan sunyi yang disesaki sanksi dan sabotase. Tapi juga jalan yang membawa suara Palestina ke panggung dunia.

Felix menyebut Iran tidak membantu Palestina. Tapi fakta berkata lain. Setiap kali Gaza dibombardir, Iran adalah negara pertama yang menawarkan bantuan medis, keuangan, dan logistik. Bahkan saat dihina oleh sebagian faksi Arab, Iran tetap memberi.

Dalam sebuah wawancara pada 2022, Ismail Haniyeh menyebut Iran sebagai satu-satunya negara yang konsisten mendukung Palestina sejak 1979. Tak ada jeda. Tak ada syarat. Dan saat rudal Fajr-5 menghantam Tel Aviv, itu bukan datang dari doa-doa Arab Saudi. Tapi dari teknologi militer Iran. Dari pabrik kecil yang dibangun diam-diam di terowongan Gaza. Dari keberanian sebuah republik yang terus dijatuhkan oleh embargo.

Jika Iran hanya reaktif, seperti kata Felix, lalu mengapa bantuan itu mengalir bahkan saat Israel belum menyerang? Mengapa pelatihan dilakukan jauh sebelum rudal ditembakkan? Mengapa solidaritas dibangun bahkan saat Palestina sedang "sepi" di media?

Logika Felix runtuh di hadapan fakta. Tapi ia tetap bersandar pada asumsi. Ia berkata, Iran menyerang Israel hanya karena diserang. Bukan karena Palestina. Tapi ia lupa: sejak 1979, Iran menyebut pembebasan Palestina sebagai prinsip negara.

Setiap tahun, di hari Jumat terakhir Ramadhan, Iran memperingati Hari Al-Quds. Bendera Zionis dibakar. Jalan-jalan penuh poster. Bukan sekadar retorika. Tapi pesan: bahwa Palestina bukan isu Arab semata. Ia adalah luka Islam.

Felix bisa saja membenci Syiah. Tapi menyamakan seluruh gerak Iran hari ini dengan masa lalu kerajaan Persia adalah penyederhanaan sejarah yang brutal. Ia menghapus revolusi, menertawakan pengorbanan, dan menyamakan mimbar dengan monarki.

Kita bisa berbeda mazhab. Tapi kita tidak bisa berbeda soal penjajahan. Israel menjajah Palestina. Iran melawan Israel. Maka posisi Iran, suka atau tidak, berada di sisi yang benar.

Felix tak pernah mempertanyakan diamnya negara-negara Sunni. Padahal Saudi, UEA, Bahrain, bahkan Sudan telah menormalisasi hubungan dengan Tel Aviv. Mengapa yang diserang justru negara yang berani menentang? Dan disinilah sangat terlihat wajah sektarianisme Felix: lebih cepat menuduh Syiah daripada menyalahkan kolaborator Zionis. Lebih curiga kepada yang menentang Israel, daripada kepada yang diam dan berdagang.

Iran tidak sempurna. Tapi ia hadir. Ia tidak netral. Ia memihak. Dan di dunia yang bingung oleh kompromi, keberpihakan adalah bentuk tertinggi dari keberanian.

Ketika rudal Israel menghantam Gaza, dan hanya Iran yang merespons lewat Hizbullah dan Yaman, pertanyaannya bukan lagi: apakah Iran Syiah? Tapi: siapa lagi yang masih punya keberanian?

Logika Felix tidak berdiri di atas fakta, tapi di atas ketakutan. Ia takut Syiah memengaruhi umat. Ia takut solidaritas lintas mazhab merusak batas-batas ideologis. Maka ia hancurkan jembatan, dan menggali parit.

Padahal musuh kita bukan Syiah. Bukan Sunni. Tapi Zionis, yang menjajah bumi suci dan mengusir penduduknya. Jika ada satu negara yang berani berkata lantang melawan Israel, mengapa kita malah menyerangnya?

Sejarah tak akan mencatat siapa yang paling lantang menuduh sesat. Tapi ia akan mencatat siapa yang mengirim bantuan saat Gaza terbakar. Dan dalam catatan itu, Iran hadir.

Iran hadir bahkan ketika sekutunya diserang. Ketika pangkalan militernya disabotase. Ketika jenderalnya dibunuh. Dan tetap mengangkat bendera Palestina. Ia hadir di Damaskus, di Baghdad, di Beirut, dan bahkan di pinggiran Sinai, dalam bentuk sinyal, logistik, dan jaringan intelijen. Kehadirannya bukan simbolis. Ia substansial.

Sementara itu, negara-negara yang mengaku pembela Islam sibuk membuka jalur dagang, mencetak visa bisnis, dan membangun hotel bersama pengusaha Tel Aviv.

Felix menyebut Iran bukan Islam. Tapi bagaimana mungkin sebuah negara yang mendirikan Hari Al-Quds secara resmi, yang konstitusinya menolak Israel, yang rakyatnya mengarak bendera Palestina tiap Jumat, disebut di luar barisan umat?

Mungkin karena bagi Felix, Islam bukan soal keberpihakan. Tapi soal warna mazhab. Dan di situlah kesalahannya menjadi luka. Karena umat tak pernah menanyakan kamu Ja'fari atau Syafi'i ketika anak-anak mati di Gaza. Mereka hanya bertanya: siapa yang datang? Siapa yang melawan?

Ia tidak datang dari Riyadh. Tidak dari Abu Dhabi. Tidak dari Amman, apalagi Mesir. Ia datang dari Teheran, Dari Lebanon, dan saat ini dari Yaman, membawa rudal dan doktrin yang tak tunduk.

Bahkan dalam serangan langsung Iran ke Israel pada 2024—yang pertama dalam sejarah modern—alasan utama bukan hanya pembalasan, tapi pesan simbolik bahwa penjajahan tidak akan dibiarkan tanpa jawaban.

Serangan itu, dengan lebih dari 300 drone dan rudal, menjadi alarm paling keras bagi Tel Aviv sejak 1948. Dan itu bukan dari negeri Arab. Itu dari negeri Syiah, yang selalu dikucilkan dari forum-forum Sunni.

Apakah itu bukan pembelaan terhadap Palestina? Apakah itu hanya soal basis militer Iran yang diserang? Jika ya, mengapa serangan diarahkan ke wilayah Israel, bukan hanya fasilitas militer Amerika?

Felix melewatkan ini. Atau memilih melewatkannya. Karena mengakuinya berarti menyamakan musuh bersama. Dan itu terlalu berat bagi agenda sektarian.

Ia menyebut Syiah sebagai musuh, tanpa menyebut normalisasi UEA dan Bahrain. Ia menyebut Teheran sesat, tapi diam atas Riyadh yang menyambut kunjungan Menlu Israel bagai budak menyambut tuannya.

Dan ini lebih dari sekadar bias sejarah, logika yang culas, ini adalah pengkhianatan terhadap kebenaran. Bahwa di antara para penyeru tauhid, ada yang justru membela yang membantai tauhid di tanah suci Palestina.

Kita tak butuh pembela yang setengah-setengah. Kita butuh kejelasan. Bahwa musuh utama umat bukanlah perbedaan mazhab, tapi penjajahan yang terus dibiarkan oleh dunia Islam sendiri.

Dalam buku sejarah yang akan ditulis ulang kelak, nama Felix mungkin tak akan tercantum. Tapi kata-katanya akan tetap menjadi jejak: bahwa pernah ada seorang dai yang lebih percaya pidato Netanyahu ketimbang suara rakyat Gaza.

Dan jika itu bukan ironi paling getir dalam sejarah dakwah modern, entah apa lagi yang lebih layak disebut sebagai kemunduran akal umat.

Barangkali bukan hanya sejarah yang akan menghakimi. Tapi juga para anak yang mati tanpa selimut di Gaza. Mereka tak akan bertanya kamu Syiah atau bukan. Mereka hanya akan bertanya: mengapa kamu diam?

Mereka yang menjawab pertanyaan itu bukanlah mereka yang paling fasih berceramah. Tapi yang datang, mengirim, menolong, dan berdiri di sisi yang tertindas. Dan Iran ada di sana. Seperti yang ditulis Goenawan Mohamad: kadang yang paling terang tak butuh teriak. Ia hanya perlu hadir, ketika yang lain pergi.

Karena kebenaran, pada akhirnya, bukan milik yang paling nyaring. Tapi yang paling konsisten. Dan suara Iran, untuk Palestina, masih tetap terdengar. Meski kadang dari bawah tanah, kadang dari langit malam.

Kita semua akan ditanya kelak, bukan tentang mazhab. Tapi tentang keberpihakan.

***

Di tahun-tahun ketika dunia Arab sibuk membangun pencakar langit dan membungkam suara ulama, Iran diam-diam menyuplai drone ke Gaza. Bukan untuk dipamerkan, tapi untuk bertahan.

Di waktu yang sama, banyak dai memilih diam. Mereka mengutuk Israel tapi memeluk tangan para normalisator. Mereka mengangkat spanduk Palestina, tapi menolak berbicara soal Teheran.

Karena bagi mereka, kebenaran harus datang dari satu mazhab. Selebihnya dianggap ancaman. Selebihnya dianggap bukan bagian dari jamaah.

Tetapi para pejuang di Gaza, di Rafah, di Khan Younis, tak menanyakan itu. Mereka tahu dari mana senjata datang. Mereka tahu siapa yang mengirim sinyal komunikasi saat Israel memutus jaringan.

Dan tak ada satu pun dari mereka yang menyebut Riyadh. Yang mereka sebut adalah nama-nama dari Quds Force, dari Lebanon, dari Damaskus dibawah kepemimpinan Bashar. Dan, mereka semua terhubung dengan Iran.

Felix mungkin belum pernah mendengar bahwa ketika pemimpin Hamas bertemu Ayatollah Khamenei, mereka tak membahas fiqih. Mereka membahas logistik. Mereka bicara perbatasan, bukan perbedaan.

Karena saat peluru menembus dinding rumah, yang dibutuhkan bukan khutbah sektarian, tapi dukungan konkret. Dan itu yang datang dari negeri yang ia sebut bukan bagian dari Islam.

Iran menyuplai sistem navigasi, melatih komunikasi elektronik, mengajari pembuatan drone murah. Dan semua itu berlangsung diam-diam. Tanpa siaran. Tanpa perlu disebut dalam khutbah Jumat.

Sejak 1979, lebih dari 20.000 warga Iran gugur dalam perang melawan Irak yang didukung Amerika dan negara Arab. Tapi Iran tidak berhenti. Ia tetap kirim rudal ke Lebanon. Ia tetap buka jalur rahasia ke Gaza.

Sementara itu, negeri-negeri Sunni sibuk membangun stadion, menyelenggarakan konser, dan menyambut turis Israel. Palestina dijadikan simbol di poster, tapi dikubur di meja perundingan.

Adakah yang lebih kejam dari menuduh orang yang menolong sebagai bukan saudara? Adakah yang lebih culas dari menyamakan penjajah dengan pembebas hanya karena beda doktrin?

Dalam sejarahnya, Iran tidak pernah menjajah negeri Muslim lain. Tapi beberapa yang kini mengklaim Islam justru melapangkan jalan bagi penjajah dengan dalih investasi.

Ketika Qassem Soleimani dibunuh oleh drone Amerika, banyak pejuang di Gaza menangis. Mereka tahu siapa jenderal itu. Mereka tahu siapa yang membuat terowongan mereka tak runtuh.

Felix tidak tahu. Atau pura-pura tak mau tahu. Ia sibuk membaca kitab yang ia putar sesuai kebutuhan, bukan medan yang penuh darah dan serpihan.

Bahkan Presiden Mahmoud Abbas—yang sering dikritik terlalu lunak—pernah mengakui bahwa tanpa Iran, perlawanan bersenjata di Gaza akan lumpuh. Itu pengakuan yang tak keluar dari siapapun. Melainkan dari pemimpin Palestina.

Orang-orang seperti Felix mungkin lebih nyaman bicara bid’ah daripada bicara Zionisme, lebih nyaman membahas negara Islam sebagai cita-cita. Bahkan, mereka lebih seru debat sesat-menyesatkan ketimbang memperdebatkan negara-negara arab melakukan kontrak dagang dengan Israel. 

Dan di antara semua absurditas itu, Felix berdiri, mengutip musuh, menyalahkan kawan, dan menukar keberpihakan dengan propaganda.

Dan sejarah, seperti biasa, tidak akan mencatat semua nama. Tapi ia akan menggarisbawahi beberapa—bukan karena ketokohannya, tapi karena keterlanjurannya. Felix, dalam hal ini, bukan sekadar dai yang keliru. Ia adalah simbol dari betapa rendahnya keberanian intelektual bisa jatuh, ketika nalar lebih memilih sektarianisme daripada kebenaran.

Ia menjadi suara yang menyerang pembela Palestina, dan diam terhadap penjajahnya. Ia mengutip musuh umat untuk menyerang sesama umat. Ia lebih percaya pada propaganda Netanyahu daripada fakta-fakta yang hidup dan berdarah di Gaza. Di situ, Felix tak lagi sekadar keliru. Ia menjadi aib sejarah. Ia menjadi poster dari logika jongkok yang malu mengaku siapa musuh sebenarnya.

Dan entah ia sadar atau tidak, mulutnya kini menjadi corong bagi mereka yang menindas. Ucapan-ucapannya bukan sekadar salah, tapi berbahaya. Karena mengaburkan peta kebenaran di tengah perang yang butuh ketegasan. Ia tidak sedang memperjuangkan Islam, tapi sedang meminjam bendera Islam untuk melawan para pejuangnya. Itu bukan sekadar ironi. Itu tragedi.

Penulis:  M. Fazwan Wasahua