Mewaspadai Radikalisme Agama Di Tubuh Polri - HWMI.or.id

Tuesday, 27 April 2021

Mewaspadai Radikalisme Agama Di Tubuh Polri




Oleh:Makmun Rasyid, Penulis Buku

Belakangan ini, di kota kelahiran saya, Gorontalo, muncul kelompok Polisi Cinta Sunnah. Sebagaimana namanya, kelompok ini beranggotakan para personel kepolisian yang masih aktif, namun memiliki ekspresi keagamaan yang sama.

Dari nama saja sudah menandakan bahwa mereka tidak akan pernah sepaham dengan selain kelompoknya. Istilah "Polisi Cinta Sunnah" menjadi virus tersendiri di internal kepolisian. Sebab yang merasuki jiwa mereka bukanlah paham yang ditradisikan Nahdlatul Ulama maupun Muhammadiyah, tetapi mereka menjadi target sendiri dari kelompok Salafi Haraki dan Salafi Jihadi. Dua kelompok inilah, yang banyak melahirkan teroris-teroris dimana-mana.

Seharusnya Polri menindak tegas perkumpulan sempalan ini. Karena Polri tidak memiliki sayap bernama "Polisi Cinta Sunnah", apalagi memuat di dalamnya ada logo yang mencantumkan tanda Tri Brata, yang identik dengan institusi Polri.

Gambar ilustrasi

Selain perkumpulan Polisi Cinta Sunnah, sebenarnya bibit-bibit eksklusif dalam beragama itu ada juga, misalnya Bhayangkara/ri Hijrah dan tentunya saya menyelidiki perkumpulan sejenis juga bernama Polisi Mengaji.

Polisi maupun militer kerap berbeda secara ideologi pergerakannya dengan Salafi-Wahabi, Ikhwanul Muslimin, Front Pembela Islam hingga Hizbut Tahrir Indonesia. Jadi kalau ada polisi yang ikut gerbong Polisi Cinta Sunnah berarti ada dua kemungkinan: nasionalismenya menurun atau KW, dan dia minim informasi pergerakan keagamaan yang bersifat transnasional. Tentunya ini perlu penataran kembali.


Mereka yang ikut tergabung dalam perkumpulan Polisi Cinta Sunnah adalah kerap belajar agama kepada orang dengan melihat sampulnya, tapi tidak ke kedalaman dan misi gerakannya. Dalam aspek ini, bisa dipastikan. Maka hampir semua polisi yang terpapar ini tidak mengerti sepak terjang Salafi-Wahabi, IM maupun HTI.

Dan di Gorontalo, jangan dianggap orang-orang itu yang ada di dalam foto ini saja. Bahkan tak jarang di antara mereka, ada yang "taqiyyah" (menyembunyikan identitas mereka) dan ada pula yang terang-terangan.


Di lapangan, ketika mereka dihadapkan untuk memilih: antara institusi kepolisian atau gerakan yang diikutinya, maka tak jarang mereka keluar dari institusi kepolisian. Salah satu alasan yang kerap kita temukan di lapangan seperti "jabatan bukan seumur hidup, tapi belajar agama selama-lamanya".

Hal itu terkesan benar padahal salah. Menabrakkan urusan dunia dengan akhirat. Yang pemahaman itu tidak dikenal dalam Ahlussunnah wal Jamaah. Bahkan dalam Bhayangkara/ri ditemukan pula seperti "saya rela dikeluarkan dari institusi kepolisian, yang penting yang hidup dalam bingkai sunnah". Dia membayangkan bahwa pekerjaan polisi tidak bernilai ibadah... What? 


Dan fenomena ini sudah terjadi 3 tahun belakangan. Tentunya, Polri dan segenap elemennya harus tegas. Semakin dibiarkan semakin keropos institusi ini dan bayangkan jika yang memegang sebuah amanah mereka yang berpaham Salafi-Wahabi atau terafiliasi dengan kelompok transnasional lainnya. 

Tinggal menunggu, kapan alarm itu akan berbunyi dan kita pecah-belah...!


Bagikan artikel ini

20 comments

  1. https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=570573193905901&id=100028596758137

    Jangankan di Gorontalo, di Jakarta aja sudah banyak om..wkwkwkw

    Kasihan tulisan ente gak bermutu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sang penulis ini hanya melihat kelompoknya yg benar yg bkn kelompoknya difitnah teroris agar negara ikut memberantasnya sehingga dia dan kelompoknyalah nnti yg eksis direpublik ini padahal apa yg dia tuduhkan kpd kelompok tertentu jauh panggang dari api bulan puasa kok bikin fitnah kok sebegitu bencinya dg saudara seiman

      Delete
  2. Kalau hanya melihat polisi yg cinta sunnah di gorontalo berarti mainmu kurang jauh om

    ReplyDelete
  3. Jangan hanya menuduh boss...coba jelaskan atau tunjukkan bukti kalau salafi Andan anggap menyimpang..

    ReplyDelete
  4. bulan puasa kok yg bikin berita fitnah gini ya..
    itu bukan foto polisi yg cinta sunnah tp foto orang2 sunnah yg cinta polisi.
    saya pernah bertemu dgn organisasi ini.
    anggotanya para ustad dan wiraswata.
    #polisi walaupun cinta sunnah gak akan berjenggot muun..

    tobat..tobaat.. jgn nyebar hoax..

    ReplyDelete
  5. https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=410883806933932&id=101967114492271

    ReplyDelete
  6. Apakah sang penulis mau mengatakan Kerajaan ARAB SAUDI adalah Negara TERORIS Karena Kerjaan ARAB SAUDI berpemahaman MANHAJ SALAF...

    ReplyDelete
  7. BISMILLAH...
    SUBHANALLAH...
    ALLAHU YAHDIK...
    Semoga ALLAH سبحانه و تعالى memberikan kita petunjuk...

    ● SAYA POLISI AKTIF Alhamdulillah setelah saya mengenal *Manhaj salaf* hidup saya lebih terarah lebih mengetahui mana yang *haq mana yang bathil.*
    Di tuduh sebagai *anti adat istiadat* padahal di jelaskan adat yang bertentangan dengan syariat agama di tinggalkan dan adat yang tidak bertentangan dengan syariat agama sikahkan di lestarikan...
    ●Untuk itu perlunya kita memahami makna *TAUHID* Yang sebenarnya mana adat istiadat yang berbau SYIRIK mana yang tidak karena SYIRIK adalah *DOSA BESAR* yang tidak bisa di ampuni sebelum pelaku syirik tersebut bertaubat...

    ●Kerajaan ARAB SAUDI pun di Fitnah sebagai Salafi wahabi karena pemahaman di negeri ARAB SAUDI berada di atas *MANHAJ SALAF...* dan sering di katakan Bahwa *ARAB SAUDI ADALAH NEGERI PARA WAHABI*
    ●Apakah sang penulis juga mau mengatakan bahwa KERAJAAN ARAB SAUDI adalah *NEGARA TERORIS...???*

    ReplyDelete
  8. Tulisan yang tidak bermutu, dan siap" ada kelak di Padang Mahsyar mempertanggungjawabkan semua yang anda tulis ini....

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya seorang anggota POLRI, Alhamdulillah semenjak mengenal MANHAJ SALAF hidup kami sekeluarga menjadi tenang dan memiliki tujuan yang pasti DAN TIDAK ADA TUH KEPIKIRAN MAU MELAKUKAN BOM BUNUH DIRI atau yang sejeni dengan yg ANDA sebutkan di atas, jangan" anda ini SYI'AH ya????!!!

      Delete
  9. https://www.facebook.com/100028596758137/posts/570573193905901/



    penulis mengatakan ustad2 salafy radikal.. sedangkan banyak polisi yg belajar dengan ustad2 salafy ini

    apa penulis mau mengatakan klo penulis lebih faham drpd polisi mengenai ustad2 radikal?
    anda merasa lebih pintar drpd polisi?

    kalo ustad2 ini radikal pasti sdh ditanggap polisi

    ditulisan ini, penulis bukan cuma menyebarkan berita pencemaran nama baik para ustad, tp jg sdh merendahkan polisi yg belajar dgn ustad2 tsb

    hati2 kalau buat tulisan, kita ada UU IT ancamanan berat



    ReplyDelete
  10. Pandangan Pihak Kepolisian terhadap dakwah Sunnah.

    https://www.instagram.com/tv/CORWcp5nmeJ/?igshid=1xv7hqjy6qod7

    ReplyDelete
  11. alhamdulillah sebagai anggota polri sudah hampir 12 th ngaji dengan para ustadz manhaj salaf jadi lebih hati hati dalam bekerja tidak yangmana bertugas dipolri

    ReplyDelete
  12. UU ITE mana ni,, pak polisi tolong donk yg kayak gini dipanggil sudah bikin fitnah, Justru mereka yg sudh mengenal agama Islam yg benar maka mereka akan berusaha utk mnjdi lbh baik rajin bkerja & bertanggung jawab dg pjerjaanny sbg abdi negara, tdk makai narkoba, tdk akan mengkhianati agama & negaranya dg tdk menjadi beking judi, narkoba, tempat hiburan mlm dan sebagainya, berusaha berlaku adil, tidak memberontak dg atasannya,.

    ReplyDelete
  13. masyaAllah melihat dri komen sebagian sahabat, menandakan sunnah sdh mengisi kalbu sebagian besar aparat negara, semoga baldatun toyyibatun warobbun gofur akan tercipta d negri yg kita cintai ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bismillah.

      Alhamdulillah Bang,
      Kita do'a kan In Syaa ALLAH wa Biidznillah ALLAH TA'ALA bukakan pintu hati rekan" aparat lainnya untuk mengenal sunnah dan istiqomah pada manhaj Salaf.

      (Untuk Bro Mumun, jika seseorang sudah mengenal Manhaj Salaf, jangankan mau berbuat Makar pada negara, Demo kepada pemerintahan yg sah saja kami dilarang piye to?)

      Delete
  14. saya polisi,
    saya ngaji dgn ustadz2 salafi, 10tahunan

    Alhamdulillah saya cinta islam, cinta NKRI, dan tdk ada niatan utk memberontak

    mau bolos dan culas curang saat kerja aja mikir puluhan X

    Alloh maha melihat dan maha mengetahui

    ReplyDelete
  15. Argumentasi prematur.

    Terlalu tergesa-gesa dalam menyampaikan opini, yang di adopsi dari masyarakat awam. Literasi nya tidak disertai data-data. Sangat primitif, tidak adak keilmiyahan disini. Pasti penulis sendiri belum pernah duduk di majlis yang katanya radikal. Orang tuh kalau prnasaran yaa duduk di sumber nya! Bukan hanya mendengarkan atau membaca dari satu sudut pandang.

    Ayolah nulis artikel itu yang komprehensif, jangan taqlid pada satu perspektif (plus perspektif nya dari orang orang yang menuduh radikal dan membenci lagi, yaaah jadilah hasilnya literasi tak bermutu yang penuh dengan provokasi)

    ReplyDelete
  16. لَا تَكَلَّمْ بِكَلَامٍ تَعْتَذِرُ مِنْهُ غَدًا Janganlah kamu mengucapkan suatu kalimat yang kamu akan meminta maaf karenanya pada esok harinya
    Dalam wasiat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain kepada Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu anhu أَلاَ أُخْبِرُكَ بِمِلاَكِ ذَلِكَ كُلِّهِ؟ قَالَ: بَلَى يَا نَبِيَّ اللهِ، فَأَخذَ بِلِسَانِ نَفْسِهِ وَقَالَ: كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا، قَالَ: يَا يَا نَبِيَّ اللهِ ، وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُونَ بِمَا نَتَكَلَّمُ بِهِ؟ قَالَ: ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَامُعَاذُ، وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّار عَلَى وُجُوهِهِم، أَو قَالَ: “عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلاَّ حَصَائِدُ أَلسِنَتِهِمْ Maukah engkau aku beritahu kunci dari semua itu? (Mu’adz mengatakan-red) aku mengatakan, “Tentu wahai Rasûlullâh.” Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang lidahnya secara bersabda, “Tahanlah ini!” (Mu’adz mengatakan-red) aku mengatakan, “Wahai Nabi Allâh! Apakah kita akan disiksa dengan sebab ucapan yang kita ucapkan?” Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Wahai Mua’dz, kasihan sekali kamu! Adakah sesuatu yang menyebabkan seseorang tersungkur wajahnya di neraka selain dari ucapan-ucapan lisan mereka [HR. Ahmad, no. 22016; at-Tirmidzi, no. 2616 dan hadits ini dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam kitab Shahihul Jami’, no. 5136]

    وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا


    Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.

    Orang berakal adalah orang yg akan memikirkan akibat dari segala tindakannya termasuk dari ucapan dia...

    ReplyDelete