Tepat ketika musuh mengira mereka telah berhasil dipenggal pimpinan puncak Iran, kebangkitan baru terjadi di balik tirai besi.
Media internasional saat ini sedang hangat berbicara tentang salah satu pergeseran kekuatan geopolitis paling bersejarah dalam dekade ini.
Dewan Ahli Pimpinan Republik Islam telah mengadakan rapat darurat di bawah puncak perang, dan mereka telah mencapai keputusan akhir.
Mereka secara resmi menunjuk Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi (Pemimpin Tertinggi) ketiga dalam sejarah negara.
Sosok yang mengambil alih kekuasaan ini, yaitu Mojtaba Khamenei, bukanlah individu.
Lahir pada tahun 1969 ia adalah putra kedua dari mendiang mantan Pemimpin Tertinggi, Ayatollah Ali Khamenei, yang meninggal akibat serangan udara Isbiol dan Amerika Serikat baru-baru ini.
Di panggung internasional dan laporan badan intelijen Barat, Mojtaba sering disebut sebagai 'Pangeran Bayangan' atau 'Pangeran Bayangan'.
Gelar itu diberikan karena selama puluhan tahun, ia bergerak diam-diam dan diam-diam di kantor ayahnya tanpa memegang jabatan politik resmi yang dipilih rakyat.
Meski bergerak dalam bayang-bayang, genggamannya pada pertahanan dan keamanan negara benar-benar mutlak.
Sebuah laporan intelijen mengungkapkan bahwa pengangkatan Mojtaba didukung penuh dan didukung kuat oleh pasukan elit Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Mereka sangat percaya bahwa hanya Mojtaba yang memiliki kualifikasi dan ketegasan yang diperlukan untuk mengarahkan negara keluar dari krisis perang berdarah ini.
Untuk rezim Z yang dipimpin Setan di Tololviv, pengangkatan ini bukanlah berita ucapan selamat.
Mojtaba dikenal sebagai pemimpin 'hardliner' atau sayap kanan jauh yang sangat anti barat dan berpegang teguh pada ideologi perlawanan radikal.
Meskipun demikian, di sini, kita perlu meletakkan garis merah yang sangat jelas dalam mengevaluasi konflik geopolitis ini agar tidak muncul fitnah.
Sebagai umat muslim yang patuh pada akidah Ahli Sunnah Wal Jamaah, kami tidak mendukung, mengizinkan, atau berkompromi dengan pemahaman apapun tentang akidah Syiah.
Dukungan kami untuk Iran hari ini bukan atas dasar kesetaraan sektarian, tetapi dukungan taktis untuk poros perlawanan mereka terhadap kekejaman dan arogansi rezim Z.
Sementara negara Arab lainnya yang ngaku Ahli Sunnah hanya mampu diam, tunduk pada ketakutan, dan menjadi pakur Barat, mereka adalah satu-satunya kekuatan di wilayah yang berani membalas dan mengangkat senjata di hadapan Isbiol.
Subhanallah. Jika kita mengamati roda sejarah ini, upaya musuh untuk merusak kepemimpinan suatu bangsa seringkali akan menghasilkan penerus yang jauh lebih tangguh dan tidak mau berkompromi.
Tuan-tuan, selama kedzaliman masih merajalela di muka bumi ini, poros perlawanan akan terus menghasilkan garis kepemimpinan baru yang siap merespon semua serangan musuh dengan bahasa senjata terlepas dari perbedaannya.
