Ustad Basalamah dan Otak Bermasalah Salafi-Wahabi - HWMI.or.id

Wednesday, 2 June 2021

Ustad Basalamah dan Otak Bermasalah Salafi-Wahabi

 Ustaz Basalamah dan Otak Bermasalah Salafi-Wahabi

Oleh: Ahmad Khoiri

Ilustrasi. Sumber: Tirto.id

Ustadz Khalid Basalamah. Siapa yang tidak kenal dengan dai kondang satu ini. Ia familiar sebagai tokoh bermazhab Salafi-Wahabi yang menggeluti banyak bidang, dari dakwah hingga bisnis. Ketua Umum Yayasan Ats-Tsabat tersebut sarat dengan penampilan kearaban dan, segala lini kehidupannya, bahkan berbau Arab. Maka ketika mendengar ia melarang menyanyikan lagu Indonesia Raya, yang saat ini tengah viral, saya tidak kaget. Bagi seorang Basalamah, yang tidak beraroma Arab, itu tidak islami.

Sebenarnya video yang beredar adalah video lama, yakni cermahanya tahun 2017 silam di salah satu masjid di Jatinegara. Ustaz Basalamah pun sudah memberikan klarifikasi bahwa statement dirinya dalam rangka menjawab pertanyaan seorang jemaah, bukan dalam rangka membahas hukum menyanyikan Indonesia Raya. Saya, dan boleh jadi kita semua, harus meneladani kesantunannya—tidak pemarah bin biadab seperti Yahya Waloni. Tetapi, bagaimanapun, ada hal-hal yang perlu ditelaah darinya.

Di antara ambiguitas polemik tersebut ialah munculnya kabar bahwa ustaz Basalamah memperbolehkan “syair” Indonesia Raya. Apa bedanya “lagu” dan “syair”? Kenapa ia seperti keberatan menyebut secara gamblang bahwa “Lagu Indonesia Raya itu boleh bahkan wajib untuk meningkatkan kecintaan pada tanah air,” misalnya. Saya melihat bahwa ustaz Basalamah, sebagaimana lumrahnya tokoh Salafi-Wahabi, sedang berkelit. Aslinya mengharamkan, tetapi karena terdesak, lalu berkamuflase.

Ada dua pertanyaan yang saya ingin ajukan di sini: mengapa lagu Indonesia Raya jadi bermasalah bagi seorang Basalamah? Mengapa Salafi-Wahabi, yang ustaz Basalamah termasuk di antaranya, lebih memenangkan hati jemaah dan menguasai manjelis-majelis? Hal lain yang ingin saya uraikan adalah cacat pikir Salafi-Wahabi, otak bermasalah mereka yang salah satu contohnya ada pada polemik Basalamah. Namun, perlu digarisbawahi, ini dalam rangka kontra-Salafi, bukan ad hominem.

Kenapa Salafi-Wahabi Unggul?

Maman Abdurrahman dari PBNU, dalam suatu halaqah, menjelaskan, ada dua alasan kenapa mereka, para Salafi-Wahabi, seolah menguasai medan. Pertama, penafsiran literal terhadap Al-Qur’an, menafsirkan Al-Qur’an secara serampangan. Kedua, kita tidak tegas. Majelis-majelis kalangan moderat itu tidak ada namanya, umum. Tidak ada masjid yang memakai nama NU, misalnya. Sehingga majelis tersebut dimanfaatkan untuk menyebarkan ajaran di luar Aswaja.

Analisis Kiai Maman tentu tidak keliru. Tetapi perlu ditambahkan, bahwa majelis bukan satu-satunya kunci keberhasilan dakwah Salafi-Wahabi. Ustaz Khalid Basalamah laku di pasaran, bahkan lebih laku daripada dai-dai moderat dari NU maupun Muhammadiyah, misalnya, bukan karena ia sering manggung, melainkan karena ia cerdas mengolah materi. Gagasannya tentang pemurnian Islam, betapa pun puritanisme itu buruk sekali, terkemas dengan rapi dan, karenanya, banyak yang tertipu.

Maulid Nabi itu bid’ah, bagi mereka. Tahlil apalagi. Lagu Indonesia Raya pun tidak islami, karena lebih baik baca surah-surah Al-Qur’an. Pandangan-pandangan tersebut seratus persen dalam dalam semua dai Salafi-Wahabi, tetapi mereka mampu menyembunyikan kelicikan siasatnya. Inilah kenapa lagu Indonesia Raya saja mereka permasalahkan, karena memang otak mereka bermasalah. Otak yang bermasalah tersebut terus dicekokkan, sehingga seolah ia menjadi kebenaran yang seharusnya.

Salafi-Wahabi, yang ustaz Basalamah juga termasuk, berusaha melakukan indoktrinasi, tetapi ia juga harus berlindung dari jeratan hukum. Ia bilang, Indonesia Raya tidak boleh, yang boleh syair. Kenapa menggunakan term syair? Karena syair adalah tradisi Arab Jahiliah nenek moyang mereka, atau karena syair inheren dalam sejarah Islam awal. Maka syair mereka perbolehkan, sementara lagu Indonesia Raya? Andai mereka tegas ditanya demikian, jawabannya pasti: haram.

Kamuflase-kamuflase dipakai Salafi-Wahabi untuk menebarkan propaganda. Mereka tidak frontal seperti JI atau JAD, tetapi mereka juga tidak kalah menusuk: mengajarkan puritanisme dan anti-budaya lokal, anti-cinta tanah air, dengan bahasa-bahasa yang memikat. Masabodoh dengan otak yang bermasalah, faktanya banyak selebritas yang  jadi jemaah mereka. Dengan kecerdasan kamuflasenya, mereka pun menjadi lebih unggul daripada dai kalangan moderat.

Cacat Pikir

Lagu Indonesia Raya jelas bukan sesuatu yang harus diperdebatkan. Tetapi bukan Salafi-Wahabi namanya kalau tidak membesarkan masalah yang kecil, dan meribetkan masalah yang sebenarnya sederhana. Tidak suka wiridan dan tahlilan, tidak masalah. Namun bagi mereka, rasanya belum puas kalau tidak dikafirkan, diharamkan, dan sejenisnya. Semua itu adalah cacat pikir paling mendasar yang bercokol di kepala mereka, para Salafi-Wahabi.

Merekalah musuh yang sebenarnya, dan merekalah sejatinya sangai masalah. Dari pandangan-pandangan yang sempit, mereka mengajarkan kebencian kepada orang lain: benci kepada negara dan simbolnya, sistem pemerintahan, sesama Muslim, serta benci kepada siapa pun yang tidak sama dengan dirinya. Yang paling benar dan paling dekat dengan agama adalah mereka sendiri.

Pikiran paling cacat Salafi-Wahabi adalah ketika mereka membandingkan sesuatu yang kenyataannya tidak bisa dibandingkan. Membandingkan lagu Indonesia Raya surah Al-Qur’an, membandingkan Pancasila dengan Al-Qur’an, membandingkan Allah dengan makhluk. Ustaz Khalid Basalamah, mau klarifikasi seperti apa pun, tetap tidak benar jika meminta jemaah yang tidak mau nyanyi lagu Indonesia Raya dengan membaca surah Al-Ikhlas. Tidak sebanding.

Lagi pula, kenapa jemaah bertanya sesuatu yang menjurus pada topik sensitif yang seolah mengkontraskan Islam dengan negara? Jawabannya adalah, karena si jemaah tahu, bahwa yang ada di depannya adalah dai Salafi-Wahabi yang memang anti ke-Indonesia-an. Andai saja dainya adalah non-Salafi, pertanyaan aneh tersebut tidak akan berani dilontarkan. Hanya kepada orang radikal, seseorang bertanya sesuatu yang radikal. Frekuensi mereka sama: sama-sama puritan.

Ada cacat pikir, banyak sekali Salafi-Wahabi yang memiliki otak bermasalah yang entah apakah ustaz Basalamah masuk di antaranya atau tidak. Saya tidak mau menyimpulkan. Lalu bagaimana dengan klarifikasi ustaz Basalamah bahwa ia sangat bangga hidup di Indonesia? Jawabannya jelas bangga karena di sinilah, di negeri ini, mereka para Salafi-Wahabi punya ruang gerak bebas untuk melakukan indoktrinasi di depan jemaah awam yang hanya bisa manggut-manggut.

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

(Harakatuna.com)

Bagikan artikel ini

1 comment

  1. Sudah Tabayyun kah antum podcastnya usadz khalid di Deddy Corbuzier? Tahukah antum beliau Hafizhahullah hanya menyampaikan agama ini berdasarkan dalil dan pendapat para ulama yang berpegang pada jalan salaf. Musik jelas haram dalam Islam, makanya beliau tidak langsung menyebutnya lagu, tetapi bait syair, karena masih di ringankan persoalan ini bila tidak diiringi alat-alat musik. Andaikan pemerintah sudah mewajibkannya, pasti ustadz Khalid tidak akan membantah seruan pemimpin, kita patuh sami'na wa atho'na, dan sabar dan mengingkari segala bentuk keharaman dalam hati apabila terpaksa dan khawatir ada mudharat bila tidak mengerjakan. Wallahua'lam

    ReplyDelete