Maulid Kanjeng Nabi dan Kisah Nenek Penyapu Masjid - HWMI.or.id

Monday 26 September 2022

Maulid Kanjeng Nabi dan Kisah Nenek Penyapu Masjid

MAULID KANJENG NABI

Setiap kali membaca Kitab  Maulid Nabi Muhamad  Saw baik itu Maulid Diba' maulid Burdah dll saya teringat dengan kisah seorang wanita tua renta penyapu masjid. Nenek yang tak pernah diketahui asal-usulnya, tapi di setiap pagi sering terlihat menyapu masjid.

Hingga suatu ketika, para jamaah masjid merasa kasihan terhadap nenek tersebut. Mereka sepakat untuk menyapu bersih pekarangan  masjid sebelum nenek itu tiba.

Singkat cerita, nenek itu, seperti biasanya, tiba di masjid dan menemukan pekarangan telah bersih. Mengejutkan, ia bukan bahagia. Sebaliknya, ia menangis tersedu-sedu. Tangisannya menyayat hati dan membuat para jamaah bertanya kepada sang nenek. Namun nenek itu bungkam.

Hingga ajal menjemput si nenek. Rahasia ia menangis kala itu-pun terkuak. Ia sedih saat mendapati pekarangan masjid telah bersih dari daun-daun. Sebab, setiap ia memunguti helai demi helai daun, di saat itu pula ia ber-shalawat kepada Nabi Muhammad Saww.

____________________________

Ada banyak contoh seperti layaknya nenek itu di sekitar kita. Individu-individu yang tak mengerti dan paham mengenai dalil-dalil shahih Alquran dan Hadis mengenai cinta terhadap Nabi Saww. Namun, mereka mewujudkan kecintaannya dengan cara mereka sendiri. Bagi nenek tua pada kisah di atas, ber-shalawat kepada Nabi adalah bentuk terbaik mewujudkan cinta kepada Nabi Saww.

Sama seperti kisah nenek tua, Nenek saya di kampung juga menunjukkan kecintaannya kepada hadirat Nabi Saw. Setiap hari ia senantiasa membaca  shalawat kepada Nabi muhamad saw dan Istiqomah slalu

Berbeda dengan kita. Iya, kita yang mengaku sebagai umatnya dan cinta terhadapnya. Membaca shalawat dan merayakan Maulid Nabi dikecam sebagai perbuatan Bid'ah. Pelakunya diancam dengan siksa neraka yang paling pedih dan niscaya berkumpul dengan para pelaku syirik  tiduhan itu terus para wahabi lontarkan pada kita

Coba anda tanyakan apa itu Bid'ah kepada nenek saya. Ia akan menggeleng tak mengerti. Ia tak paham bahwa mambaca shalawat dan merayakan Maulid adalah Bid'ah. Ia hanya paham bahwa ketika seseorang jatuh cinta, maka ia harus menunjukkan kecintaannya.

Nenek tua penyapu masjid dan nenek saya telah memahami arti cinta kepada Nabi Saw, meski mereka tak paham dalil-dalil shahihnya. Dengan cara sederhana mereka menunjukkan kecintaan kepada Nabi Muhammad Saww. Bandingkan oleh anda dengan orang-orang yang mengecam mereka dan menyatakan perbuatan itu sebagai Bid'ah.

Nenek tua penyapu masjid tak mengantongi ribuan dalil, namun ia tahu satu dalil yang "dipungutnya" dari majelis-majelis pengajian para Kiai, bahwa "Barang Siapa Mencintaiku (Nabi), maka ia akan bersamku di surga". Nenek tua itu tahu, bahwa "Seorang pecinta akan senantiasa bersama dengan orang yang dicintainya".

Menjelang akhir hayat, nenek saya ingin bersama dengan orang yang paling dirindukan dan dicintainya, yakni Nabi Muhammad Saw. Ia tak tahu Bid'ah. Ia hanya ingin bersama dengan Nabi. Ia hanya ingin menunjukkan kecintaan terhadap Nabi. Dan ia menunjukkan dengan cara yang sederhana, yaitu bershalawat, bergembira serta merayakan atas hari kelahiran Nabi Muhammad Saw :'(

Kita yang hampir stiap hari mendengar membaca hadis tentang keutamaan membaca sholawat ,mendengar membaya hadis" tentang Kanjeng nabi tapi Mulut kita tetep saja membisu sangat jarang mengucapkan Sholawat Pada Kanjeng Nabi Muhamad Saw

Muga " di ampura

Sumber: Santri Online

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda