Mengenal LIPIA, Lembaga Pendidikan Milik Wahabi No 1 di Indonesia - HWMI.or.id

Wednesday, 22 July 2020

Mengenal LIPIA, Lembaga Pendidikan Milik Wahabi No 1 di Indonesia


Wahabi adalah ideologi keagamaan resmi pemerintah Arab Saudi. Ia secara umum digambarkan sebagai gerakan Islam puritan, fanatik, anti-modern, berorientasi ke masa lalu, literal dan skriptural, dengan indoktrinasi dan intoleransi sebagai cirinya yang menonjol.

Paham Wahabi ini mewakili sekte Islam paling puritan dari ekspansi gerakan dakwah Salafi kontemporer di seluruh dunia. Pada abad 20. berkat melambungnya harga minyak dunia, Arab Saudi kemudian mendukung penuh penyebaran Wahabi di seluruh dunia Islam salah satunya di Indonesia.

Di Indonesia, jantung Salafi-Wahabi adalah LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab), sebuaah institusi pendidikan asing pertama di Indonesia, yang berdiri pada 1980. Pengelolaannya ditangani langsung oleh Universitas Islam Imam Muhammad Ibnu Saud di Riyadh.

LIPIA adalah pos terdepan dari dakwah Saudi di Indonesia yang merupakan salah satu pencapaian terbesar dari era puncak dakwah di seluruh dunia.

Kurikulum LIPIA merupakan duplikasi dari universitas pusatnya. Aliran dana dari Kerajaan Saudi langsung diawasi oleh Kedutaan Saudi di Jakarta. Semua kelas dilakukan dalam bahasa Arab. Hampir tidak ada teks bahasa Indonesia yang terlihat di kampus, bahkan pada papan tanda.

Sudah pasti, buku-buku Muhammad bin Abdu Wahhab pendiri Wahabi selalu menjadi bagian penting dari kurikulum LIPIA. Selain itu di setiap lapis tiga tingkat pendidikan di LIPIA ini ada penggarapan skripsi. Namun judul dan daftar isinya disiapkan oleh para dosen pembimbing.

LIPIA dipimpin direktur berkebangsaan Saudi, Khalid bin Muhammad Al-Deham. Para pengajar LIPIA kebanyakan direkrut dari Arab Saudi, Mesir, Yordania, Sudan, Somalia, dan Indonesia. Dari sana kemudian muncul istilah ‘Pegawai Negeri Saudi’ bagi orang Indonesia yang bekerja di LIPIA.

Situs Universitas ini menarik pelajar dengan memberi biaya pendidikan gratis, juga untuk seragam dan buku serta peluang untuk mengejar gelar sarjana di Arab Saudi. Manajemen kampus juga memberi uang saku pada mahasiswa yang disebut mukafa’ah bulanan. Jumlahnya disesuaikan kurs mata uang riyal.

Bagi pelajar di tingkat persiapan bahasa atau 4 semester I’dad Lughawi, setiap bulan mereka mendapat 100 riyal. Sedangkan para pelajar jenjang pra-universitas atau Takmily yang ditempuh setahun dan tingkat syariah 4 tahun, mereka diberi uang saku 200 riyal.

LIPIA juga menyediakan asrama yang diprioritaskan bagi mahasiswa asal luar negeri dan mahasiswa baru. Untuk mahasiswa laki-laki, letaknya di lantai 2. Sementara asrama mahasiswi di belakang Pejaten Village, salah satu mal di Jakarta Selatan.

Gedung LIPIA terletak di Buncit Raya, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Kedua sayap gedung dipisahkan untuk ruang kuliah khusus laki-laki dan perempuan. Sejak pintu gerbang, sudah ada jalur pemisah bagi laki-laki dan perempuan.

Begitu juga perpustakaan, diatur pemisahan akses mengikuti hari. Hari Senin, Rabu, Jumat, dan Sabtu khusus untuk pelajar laki-laki. Diluar hari tersebut adalah jadwal pelajar perempuan.

Karena keterbatasan gedung, LIPIA harus membagi perkuliahan dalam dua sesi, dari jam 7.00 sampai jam 12.00, sesi lain dari jam 13.00 hingga 18.00. LIPIA sempat membeli tanah di daerah Kampung Rambutan untuk memperluas institusinya. Namun hingga kini belum dibangun.

Pada 1990-an, LIPIA menjadi sarang politik Islam yang berorientasi Ikhwanul Muslimin. Itulah sebabnya universitas itu menjadi tempat perekrutan utama untuk Partai Keadilan Sejahtera (PKS), yang dimodelkan pada Ikhwanul Muslimin. Itu sebabnya Bbberapa alumni LIPIA yang paling berpengaruh adalah anggota PKS modern, termasuk mantan presiden partai Hidayat Nur Wahid.

Evolusi LIPIA akhirnya menjadikannya sebuah mikrokosmos dari proyek dakwah Arab Saudi yang memiliki banyak segi, menampung para politik Islam dan Salafi, serta banyak pelajar miskin yang bersemangat mengambil kesempatan untuk mendapatkan beasiswa.

Sejak tahun 1982 hingga 2013, LIPIA telah menghasilkan 11.535 lulusan, dan kini memiliki cabang berupa Lembaga Khadimul Haramain Al-Syarifain di Banda Aceh, Surabaya, Medan, dan Makassar. Namun lembaga pendidikan dari cabang LIPIA di daerah ini hanya program persiapan bahasa. Untuk tingkat lanjut, mereka tetap harus studi ke kampus Jakarta

Pecihitam.org
www.hwmi.or.id

Bagikan artikel ini

4 comments

  1. 1980 masa keemasan Suharto

    ReplyDelete
  2. Apakah NU sudah ada strategi untuk menyikapi ini min..?

    ReplyDelete
  3. Yg merusak kepercayaan ummat Islam ini / NU bkn dari aliran ldi .LDII Sunni bkn dri syi,ah.bkn dri muhammadiyah. Kecuali semua ini dri aliran Wahabi yg merusaknya.bkn jg dri hilapa

    ReplyDelete
  4. Klo org sok sok an pinternya itu adalah bodoh.Muslim sama Muslim bermusuhan.Islam berbeda aliran dimusuhi.islam berbeda partai politik jg dimusuhi.apa mau hidup sendri.

    ReplyDelete