Meneladani Rekonsiliasi Cucu Nabi Muhammad SAW - HWMI.or.id

Wednesday 30 September 2020

Meneladani Rekonsiliasi Cucu Nabi Muhammad SAW

 MENELADANI REKONSILIASI CUCU NABI



Oleh Ayik Heriansyah

Pemilu 2019 sudah usai, namun sisa-sisa keretakan masyarakat kita masih menganga. Memang tidak sebesar waktu proses Pemilu berlangsung, akan tetapi nuansa perseteruan antara kedua kubu masih ada.

Serangan-serangan virtual dari pihak yang tidak puas dengan hasil Pemilu jika dibiarkan maka berpotensi membesar dan menciptakan kerawanan sosial. Tentu saja hal ini tidak kita harapkan karena Pemilu sebagai hajatan demokrasi terbesar di negara kita justru menjadi pengokoh pilar-pilar kehidupan berbangsa dan bernegara.  

Apalah arti pesta demokrasi apabila menyebabkan masyarakat terpecah belah. Keinginan rekonsiliasi (ishlah) sebagian elit politik adalah jalan damai untuk menuntaskan perseteruan ini. Menyatukan umat kembali. Rekonsiliasi masyarakat mensyaratkan semua pihak membuka hati sebesar-besarnya untuk menerima kenyataan demi kebaikan di masa depan.

Menang kalah dalam sebuah kompetisi hal biasa. Toh Pemilu 2019 di negeri ini bukan Pemilun pertama. Kita sudah berkali-kali mengadakan Pemilu tingkat nasional ditambah Pilkada, Pilkades dan Pemilihan Ketua RW dan RT. Artinya batin kita sudah sangat berpengalaman dalam menjadi pemenang dan menerima kekalahan.

Sejarah umat Islam generasi awal berjalan dinamis, konflik dan rekonsiliasi silih berganti mengisi lembaran-lembaran sejarah umat. Konflik terkait kepemimpinan politik mendapat catatan tebal. Konflik adalah sebuah keniscyaan akibat perbedaan aspirasi. Meskipun demikian konflik harus diimbangi dengan semangat rekonsiliasi karena sudah menjadi fithrah manusia ingin hidup dalam keadaan damai.

Dengan kehidupan yang damai umat Islam bisa melakukan ibadah dengan tenang. Mendekatkan diri kepada Allah Swt, berbakti kepada orang tua, menuntut ilmu, bersedakah, dan amal shaleh lainnya. Bukankah karen alasan untuk beribadah ini Allah Swt menciptakan jin dan manusia, sebagaimana firman Allah Swt:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

"Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyaat: 56).

Memilih pemimpin (nashbul imam) kewajiban politik yang dilandasi oleh kesadaran bahwa aktivitas tersebut merupakan perintah Allah Swt. Demikian pendapat ulama Aswaja. Apapun bentuk negara dan sistem pemerintahannya, umat wajib punya satu pemimpin untuk ditaati.

Pemimpin yang mengatur urusan-urusan mereka, melindungi dan membina keharmonisan masyarakat. Tanpa wujudnya seorang pemimpin, wujud kehidupan pun tidak ada. Kesadaran bahwa memilih pemimpin adalah ibadah membuat Pemilu bukan sekedar momen politik melainkan juga spiritual.

Hal ini dapat membentengi diri kita dari nafsu angkara murka yang tak terkendali. Yang menang tidak jumawa, yang kalah legowo. Yang menang mengayomi, yang kalah menghormati. Suasana batin seperti ini mempermudah dan mempercepat proses rekonsiliasi umat.  

Al-Hasan cucu Nabi Saw memberi contoh teladan yang baik kepada kita. Sejarah menceritakan setelah Khalifah Ali Ra terbunuh, penduduk Kufah membai’at al-Hasan. Kemudian al-Hasan bertolak ke Syam. Ia ingin menemui Mu’awiyah pemimpin di Syam.

Kaum muslimin di Syam sejak pertama kali Ali bin Abi Thalib dibai’at menjadi khalifah sampai wafatnya tidak pernah membai’at Khalifah Ali. Mereka menjadi lawan seteru Khalifah Ali yang sampai puncak terjadi perang Shiffin.

Al-Hasan pecinta perdamaian. Ia menentang keberangkatan ayahnya untuk menyerang pasukan Mu’awiyah (Al-Mushannaf, karya Abdurrazaaq (V/462). Ia ingin berdamai dengan Mu’awiyah.

Imam Hasan al-Bashri berkata: “Ketika al-Hasan bin Ali berangkat bersama pasukannya menemui Mu’awiyah, ‘Amr bin ‘Ash berkata kepada Mu’awiyah: ‘Saya melihat pasukan yang begitu banyak, dan mereka tidak akan kembali sebelum berperang melawan jumlah yang sama."

Imam Hasan al-Basri melanjutkan perkataannya: “Padahal aku mendengar Abu Bakrah berkata: ‘Ketika Rasulullah Saw berkhutbah di atas mimbar, tiba-tiba datanglah al-Hasan. Melihat kedatangannya Nabi Saw bersabda: ‘Anakku ini akan menjadi pemimpin. Semoga dengan keberadaannya, Allah Swt akan memperbaiki hubungan dua kelompok kaum muslimin yang bertikai.” (Shahihul Bukhari, kitab “Fadhailush shahabah”, Bab “Fadhailul Hasan wal Husain no. 3746). 

Az-Zuhri berkata: “Ketika Mu’awiyah mengirim surat kepada al-Hasan yang isinya:’Tulislah di sini apa yang engkau inginkan, maka engkau akan mendapatkanya.’

‘Amr bin ‘Ash berkata: ‘Sebaiknya kita berperang saja dengannya.’ Mu’awiyah menjawab: ‘Jangan terburu-buru, wahai Abu Abdullah, karena engkai tidak akan bisa membunuh mereka sampai penduduk Syam juga terbunuh dengan jumlah yang sama dengan mereka. Lalu apa enaknya hidup setelah itu? Aku tidak akan mengangkat senjata kecuali dalam kondisi terpaksa.’”

Setelah itu Mu’awiyah menemui al-Hasan. Mereka berdialog. Al-Hasan akhirnya mengalah demi persatuan umat. Dia membai’at Mu’awiyah tanda memberikan kekhilafahan kepada Mu’awiyah. Maka Mu’awiyah menjadi Amirul Mukminin.

Peristiwa rekonsilisasi umat ini dikenal dengan “Aamul Jama’ah (Tahun Persatuan). Kemudian al-Hasan pulang. Dia mengisi hari-harinya dengan mengajar, menyebarkan ilmu dan beramal shaleh. Sejak saat itu kehidupan politik umat Islam pulih sedia kala. Ketegangan-ketegangan antar kubu hilang sudah.

Setiap orang dapat mengerjakan tugasnya sebagai hamba Allah Swt, warga negara dan anggota masyarakat dengan aman dan tentram. Pemerintahan Mu’awiyah bisa mengembangkan Islam ke belahan dunia lainnya dengan dakwah dan futuhat. 

Dari fragmen rekonsiliasi al-Hasan dan Mu’awiyah kita mendapat pelajaran (ibrah) bahwa berdamai lebih baik ketimbang berseteru. Harapan Nabi Saw di atas mimbar ketika melihat al-Hasan: “…Anakku ini akan menjadi pemimpin. Semoga dengan keberadaannya, Allah Swt akan memperbaiki hubungan dua kelompok kaum muslimin yang bertikai.”

Menunjukkan Nabi Muhammad Saw menyukai perdamaian terealisir tanpa harus menyalahkan salah satu pihak. Sikap saling menyalahkan akan merembet kepada perbuatan saling membuka aib dan saling menghujat. Lebih parah lagi jika sampai saling menyebarkan berita bohong (hoaks) dan ujaran kebencian. 

Konsep ishlah dalam ajaran Islam menjadi salah satu misi kenabian. Seperti perkataan Nabi Sholeh as yang diabadikan dalam Al-Qur’an berikut ini,

إِنْ أُرِيدُ إِلاَّ الإِصْلاَحَ مَا اسْتَطَعْتُ

"Aku hanya bermaksud (melakukan) perbaikan semampuku.” (QS.Huud:88)

Rekonsiliasi juga bagian dari jalan menuju taqwa kepada Allah Swt.

فَاتَّقُواْ اللّهَ وَأَصْلِحُواْ ذَاتَ بِيْنِكُمْ

"Maka bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu.” (QS.Al-Anfal:1)

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Sesungguhnya orang-orang Mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (QS.Al-Hujurat:10)

 Ahlu Sunnah wal Jama’ah (Aswaja) sepakat, melarang mencela sahabat terkait apa yang terjadi di antara mereka walaupun sudah diterang mana pihak yang benar mana pihan yang salah. Aswaja berprasangka baik, peperangan antar sahabat karena ijtihad mereka.

Sedangkan Allah Swt memaafkan orang yang salah dalam ijtihadnya bahkan tetap dihargai dengan mendapat pahala yang besarnya setengah dari yang diperoleh oleh ijtihad yang benar. Perbedaan pilihan dalam Pemilu anggap saja ijtihad politik pribadi masing-masing. Benar/menang atau salah/kalah semoga mendapat pahala. 

Oleh sebab itu ishlah (rekonsiliasi) pasca Pemilu tanpa syarat harus kita lakukan. Mari bersatu kembali. Berseteru pasca Pemilu tidak ada gunanya. Meniru perkataan Mu’awiyah di atas, “Lalu apa enaknya hidup berseteru setelah Pemilu?”

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda