Kemelut MUI dan Potensi Terorisme HTI - HWMI.or.id

Sunday 21 November 2021

Kemelut MUI dan Potensi Terorisme HTI

Kemelut MUI dan Potensi Terorisme HTI

By: Agus Wedi

Setelah anggota ditangkap, banyak ustaz-ustaz HTI bersuara. Mereka seperti tidak terima. Bahkan menuduh aparat negara sengaja menangkapi beberapa ulama. Karena persoalan politis.

Felix Siauw, juga memberi klaim bahwa tertangkapnya ustaz Farid Okbah  bentuk dari kebencian terhadap ulama. Katanya, “Beliau ustadz @faridokbah_official dikabarkan ditangkap pagi kemarin, innalillahi, bertambah daftar ulama yang diambil dari umatnya,”

Tak mengherankan memang Felix Siauw berkata demikian. Sebab ia selama ini terlihat dekat dengan tokoh-tokoh konservatif yang dalam beberap fakta mereka menjadi teroris. Meski di beberapa pihak ustaz-ustaz yang menjadi teroris itu terlihat sang pendakwah yang sangat ramah, santun, serta anti kekerasan.

HTI Potensi Terorisme

Namun demikian, fakta lain perlu tersingkap. Mengapa ustaz HTI ini mengalami dualisme praktik sosial, keagamaan, dan keumatan? Salah satunya adalah ideologi yang menancap dalam dirinya. Dan beberapa klaim paling benar sendiri tentang keagamaan. Dari itu mereka potensi menjadi terorisme. Seperti FPI.

Di antara pikiran dan praktik yang membuat HTI menjadi terorisme adalah mereka menjalani doktrin-doktrin transnasional. Seperti jihad, thalabun nushrah (kudeta militer) non-Islam, dan mendirikan agama Islam.

HTI meyakini bahwa pemerintah yang sekarang sebenarnya tidak sah, toghut, dan tidak sejalan dengan Islam. Demokrasi adalah sebuah sistem yang kafir. Maka demikian, hanya orang kafir jugalah yang menjalankan sistem kafir itu sendiri. HTI mayakini bahwa sistem kafir, termasuk ekosistemnya harus dimusnahkan.

Selain itu, dalam memandang jihad misalnya. HT(I) meyakini makna jihad adalah perang. Jihad hukumnya fardlu ‘ain, baik sebelum maupun setelah tegaknya khilafah tahririyah. Jihad sebelum khilafah tahririyah tegak  ditujukan kepada pemerintah thaghut dan zalim yang menghalangi perjuangan mereka.

Menurut HT(I), posisi jihad sebagai fardlu ‘ain seperti salat lima waktu dan puasa Ramadan. Jihad perang wajid pelaksanaannya diserahkan kepada individu masing-masing, tidak perlu diperintah dan dikoordinir langsung oleh HT. Aktivis HT dapat berjihad sendiri-sendiri (lone wolf), membuat milisi sesama aktivis HT atau bergabung dengan milisi yang lain. Ini yang dilakukan HT waktu perang sipil di Suriah dan negara lain.

Namun mengapa di Indonesia tidak secara terang-terangan melancarkan serangan? Menurut peneliti, karena HT(I) mempertimbangan politik dan strategi perjuangan, bukan karena faktor ideologi. Ideologi mereka tetap khilafah dan jihad. Tataran ideologi HT(I), jika kita lihat lebih dalam tampak jauh dari ajaran Islam. Itulah mengapa kita wajib tahu sasaran HTI bersifat politis dan ideologi. Dan HTI cenderung bermain pada sikap politik. Agama hanya menjadi bungkus belaka.

Menjalankan Agama Manusia

Manusia tidak akan pernah bisa bicara tentang agama, kecuali dalam konteks manusia. Agama adalah kemanusiaan. Agama yang dikhususkan untuk manusia selaiknya tak (boleh) dilepaskan dari unsur-unsur atau kebutuhan manusia, begitu juga negara tak boleh lepas dari unsur kemanusiaan-kesejahteraan-berkeadilan. Itulah cara beragama dan bernegara kita yang diperoleh dari tuntuan Pancasila.

Poin penting yang harus dilihat pada zaman kacau ini adalah dakwah keagamaan harus selalu mempromosikan wacana toleransi nan santun yang berorentasi pada prinsip dasar Islam cinta dan menegakkan wasathiyya atau umat yang moderat seperti yang digambarkan dalam surah (QS al-Baqarah [2]: 143).

Dengan demikian, etika dakwah Islam bisa didasarkan pada prinsip moderasi, keadilan, dan bersifat rasional. Bukan semata-mata yang hedonistik, utilitarianistik, dan deontologis. Etika dakwah semata-mata harus mendasar ke ragawi yang sejalan pada prinsip Islam dalam surat al-Rahman: 7. “meletakkan neraca keadilan”, sehingga, pemangku agama merasai surga yang dicita-citakan tercipta di dunia, kebahagiaan, kenyamanan, keasyikan, dan kesejahteraan.

Semenetara itu, kita harus terus membangun paradigma demi mengupayakan rekonsilasi perdamaian keagamaan dan persatuan sesama umat manusia, yang hidup di alam semesta yang sama. Supaya cita-cita Islam, “menjunjung tinggi rasa kemanusiaan menjadi nyata”

Sumber: Harakatuna.com

(Hwmi Online)

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda