Semua Akan Maulidan Pada Waktunya - HWMI.or.id

Sunday 9 October 2022

Semua Akan Maulidan Pada Waktunya


Pada akhirnya, semua akan maulidan pada waktunya. Walau skema dan bentuk acaranya berbeda, tapi esensinya sama, yaitu melakukan sebuah acara yang positif untuk mengenang, menunjukkan rasa syukur, serta kegembiraan atas kelaharian nabi besar akhir zaman Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ada yang bentuknya komplit dan formal ; pembacaan ayat suci Qur’an, shalawatan, ceramah, dan di akhiri dengan jamuan makan. 

Ada yang bentuknya ceramah saja dengan mengangkat tema sejarah hidup dan perjuangan nabi, ada yang dengan perayaan, ada yang dengan jalan santai bersama, dan yang lainnya.

Ada yang terang-terangan menggunakan istilah “maulid”, dan ada juga yang masih malu-malu menggunakannya. Biar tidak maenstrem, (sementara) pakai istilah “tabligh akbar” atau “kajian akbar”. Hanya beda kemasan, tapi ‘jerohannya’(intinya) sama, maulidan.

Pada akhirnya semuanya (khususnya yang awalnya anti pati dengan maulid) akan mengakui, bahwa mengenang, bersyukur dan bergembira dengan kelahiran nabi Muhammad Saw dengan melakukan kegiatan-kegiatan positif, merupakan perkara yang diperbolehkan (sebagaimana pendapat jumhur ulama), bahkan dianjurkan.

Sebelum ngulik masalah dalilnya, sebenarnya perkaranya sudah begitu jelas, mudah dan sangat sederhana. Jadi, tidak perlu tinggi-tinggi membahasanya. 

Kalau ingin dalil, juga banyak. Tapi jangan dipikir kalau dalil maulid itu harus dengan redaksi “maulid” juga. Kalau itu bodoh namanya. Dalil itu ada yang spesifik dan ada yang tidak spesifik (umum).

Di masjid Nabawi saja, tema-tema khutbah Jumat di hari-hari ini seputar syamail Muhammadiyyah (perangai/budi pekerti Nabi saw). Diakui atau tidak, ini sebenarnya maulidan dalam versi khutbah jumat. Tidak ada yang kemudian melontarkan atau mencelanya dengan "amalan bidah".

Menurut syekh Prof. Dr. Syarif Hatim, ini merupakan ketetapan Allah yang di dalamnya ada bentuk pertolongan untuk Rasulullah saw dengan adanya rasa cinta di dalam hati setiap orang yang beriman atas kelahiran beliau. 

Hanya ada satu kelompok saja yang membenci moment ini, yaitu orang-orang yang berhizbiyyah dengan selain Rasulullah saw. Na’udzubillah.

Pelajarannya, apa yang kita ingkari di suatu waktu, bisa jadi akan kita amalkan di waktu yang lain. Apa yang kita bidahkan di waktu itu, mungkin akan kita anjurkan di waktu ini. Maka, tidak perlu berlebihan dalam menyikapinya. 

“Sebaik-baik perkara adalah yang paling pertengahan”. Terus belajar saja dengan ikhlas, banyak berguru, dan memperkaya literasi. Insya Allah akan dimudahkan apa yang menjadi harapan kita sekalian.

Allahumma shalli 'ala sayyidina Muhammad wa 'ala ali sayyidina Muhammad.

- Abdullah Jr - 

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda